
Hari pertama tur di London berjalan dengan lancar. Di dalam bis yang ditumpanginya Rosemary duduk di samping Damian, sedangkan Martha dan Nelly duduk di belakang mereka.
Ketika sedang asyik menikmati pemandangan ibukota Inggris melalui jendela, Rosemary tiba-tiba dikejutkan dengan senggolan siku Damian pada lengannya.
“Oh my God,” cetus pria itu seketika. “ Coba lihat group chat manajer di HP-mu, Rose. Ada video viral. Kamu pasti kaget sekali kalau melihatnya!”
Rosemary mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Di-kliknya group chat WA sesama manajer kantornya. Rupanya salah seorang manajer senior mengirimkan sebuah cuplikan video yang berisi berita gosip.
Seorang artis wanita terkenal ibukota berinisial CA diduga terlibat praktik prostitusi online. Dia digerebek pihak yang berwajib sedang berduaan bersama seorang pria di dalam sebuah kamar hotel bintang lima di Jakarta Selatan. Kedua orang itu dalam keadaan hampir tanpa busana. Pria setengah baya yang diduga sebagai klien CA itu berinisial EF. Ia diketahui merupakan profesional yang bekerja di sebuah perusahaan keuangan ternama di tanah air.
Cuplikan video itu menunjukkan foto tampak depan si artis dan orang yang diduga adalah kliennya. Rosemary terperangah. Dia bagaikan melihat hantu.
Laki-laki itu adalah Edward Fandi! Meskipun dia tampak tertunduk lesu dan berusaha menghindari sorotan kamera video, tapi orang-orang yang mengenalnya tak bisa dikelabui. Apalagi dalam berita itu disebutkan jelas bahwa inisial namanya adalah EF!
Rosemary sontak menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan tangan. Oh, Tuhan. Orang ini rupanya tidak ada kapok-kapoknya sama sekali, kecam wanita itu dalam hati. Suka sekali berpetualang dari bunga yang satu ke bunga yang lain. Tapi dia sekarang sudah naik level. Berani membayar seorang artis demi kenikmatan sesaat di atas ranjang!
“Haiz…,” cetus wanita itu sambil geleng-geleng kepala. “Kok bisa-bisanya dia sampai menyewa artis terkenal ya, Dam? Berarti penghasilannya sekarang jauh meroket dibanding waktu masih bekerja di kantor kita.”
“I think so,” komentar pria itu. “Di berita tadi kan disebutkan bahwa tarif sekali kencan dengan artis berinisial CA itu seratus juta per satu kali booking. Berarti income mantan manajermu itu berlipat-lipat dari tarif artis itu. Sayang sekali, ya.”
Sahabatnya menatap laki-laki itu tak mengerti. “Sayang kenapa?”
Damian menghela napas panjang. “Bang Edward sudah dianugerahi karir yang bagus, harta yang melimpah, dan keluarga yang harmonis. Tapi dia rupanya masih saja terjebak oleh hal sepele seperti ini. Hal kecil yang pada akhirnya ketahuan dan berisiko mengancam kelanjutan karirnya.”
Rosemary manggut-manggut mengerti. Tiba-tiba ingatannya kembali ke masa lalu. Saat dirinya diajak Edward Fandi untuk bergabung di bisnis asuransi. Dibimbing dengan tegas namun penuh perhatian. Hingga akhirnya dirinya merasa kagum dan jatuh cinta pada manajernya yang kharismatik itu. Dan kehormatannya sebagai wanita pun diserahkannya dengan sukarela. Hingga ia setuju menempati apartemen yang disewa laki-laki itu dan mereka semakin bebas melakukan hubungan suami-istri….
Kenangan masa lalunya itu membuat Rosemary seketika merasa mual. Dia merasa jijik pada dirinya sendiri. Dulu dia menjadi kekasih simpanan manajernya. Seorang pria yang telah beristri. Dan ternyata laki-laki yang dicintainya setulus hati itu hanya memanfaatkannya belaka. Di belakang Rosemary dia masih menjalin hubungan dengan perempuan lain.
Lalu aku hamil! jerit wanita itu dalam hati. Kemudian dia dengan tanpa perasaan membujukku untuk melakukan aborsi. Dan…dan…aku menyetujuinya….
Sepasang mata indah Rosemary berkaca-kaca. Damian berusaha menghiburnya.
Sahabatnya tak menggubris kata-kata Damian barusan. Wanita itu segera mengeluarkan sebotol kecil minyak kayu putih yang selalu dibawanya kemana-mana. Dioleskannya benda cair tersebut ke bagian bahu, dada, dan perutnya.
Ini untuk yang kedua kalinya aku datang ke London, batin wanita itu sendu. Dan sebagaimana kedatangan pertamaku delapan tahun yang lalu, aku dihantam berita buruk yang membuatku merasa mual. Ya Tuhan! Kenapa aku selalu sial saat berada di kota yang sebenarnya sangat indah ini?! sesalnya dalam hati.
***
Berita mengenai Edward yang digerebek polisi di hotel segera tersebar luas di antara rombongan tur. Rosemary sampai jenuh mendengar kasak-kusuk tentang mantan kekasihnya itu. Dimanapun dirinya berada selalu ada saja orang yang membahas mengenai isu tersebut. Di dalam bis, tempat wisata, restoran, bahkan di dalam toilet pun tak henti-hentinya berita skandal itu diperbincangkan!
Bukankah aku dulu mengetahui tentang Inge yang menjadi kekasih Edward Fandi juga saat sedang berada di dalam toilet? pikir wanita itu terkenang masa lalunya lagi. Haiz…, sejarah terulang kembali. Pelakunya lagi-lagi Edward Fandi. Tapi kali ini skalanya jauh lebih besar dan menghebohkan sentero nusantara!
Tiba-tiba Rosemary bergidik. Ya Tuhan, bagaimana kalau dulu aku yang digerebek polisi di dalam apartemen bersama laki-laki itu? Atau di dalam hotel sewaktu dia pertama kali menyentuhku?! batin wanita itu panik. Sampai saat ini tak seorang pun yang mengetahui bahwa dirinya sempat selama satu tahun lebih menjadi gadis peliharaan Edward di sebuah apartemen.
Pun Damian sendiri tak diberitahunya. Sahabatnya itu memang mempunyai firasat sendiri tentang hubungan spesial antara Rosemary dengan Edward. Perempuan itu pun tak menampiknya. Namun tak pernah sekalipun Damian kepo mencari tahu sampai sejauh mana hubungan percintaan diantara kedua orang itu.
Dan rupanya tak sedikit manajer senior yang ingat akan status Rosemary dulu sebagai agen binaan Edward. Beberapa dari mereka bahkan berani menanyakan pendapatnya tentang berita yang tengah viral itu.
“Hebat mantan manajermu itu, Rose. Bisa-bisanya mem-booking artis sengetop CA. Mahal banget lho, dia! Nggak sayang apa buang seratus juta hanya untuk dipuaskan semalam saja?!”
“Kok bisa si Edward sampai kecolongan seperti ini, Rose? Jangan-jangan dia dijebak sama salah satu perempuan yang pernah disakitinya.”
“Bukan Edward yang dijebak. Tapi si artis yang biasanya dijebak sama saingannya di dunia entertainment. Istilahnya cepu, kan?”
“Aduh, gimana nasib karir Edward nanti, ya? Kasihan banget. Kamu sama sekali udah nggak pernah kontak dia, Rose? Kalian dulu kan dekat sekali sebagai manajer dan agen.”
“Memangnya Edward dari dulu suka main perempuan ya, Rose? Terus sama agen-agennya yang cewek gimana? Masa nakal juga? Kamu dulu nggak diapa-apain, kan?”
Perut Rosemary kembali terasa mual mendengar pertanyaan yang terakhir itu. Aku bukan sekadar diapa-apain, pikirnya sewot. Aku bahkan dibuat hamil dan melakukan aborsi!
Perempuan yang kini tidak senaif dulu itu berusaha menjawab semua pertanyaan itu dengan santai. Padahal dirinya merasa muak sekali. Muak pada orang-orang kepo itu yang suka ikut campur urusan orang lain. Muak pada perilaku tidak senonoh Edward Fandi yang semakin menjadi-jadi. Muak pada dirinya sendiri yang dulu begitu bodoh sampai terjerat oleh cinta palsu pria mesum itu!