
Edward yang menyaksikan agennya mematung lalu berkomentar, “Kamu kenapa diam begitu, Rose? Berubah pikirankah? Aku udah bayar tiket online-nya, lho. Nggak bisa di-refund.”
“Oh, nggak…nggak kok, Bang,” sahut agennya gelagapan. “Ok deh, kita jadi nonton. Sekarang aku pulang ke kos dulu, ya.”
Manajernya tersenyum dan memandangnya penuh arti. “Mandi dan dandan yang cantik ya, Rose. Biar kamu merasa segar dan rileks. Segala kegundahanmu akibat kejadian batal closing hari ini akan lenyap. Beneran,” ujar laki-laki itu bersungguh-sungguh.
Rosemary tak tahu harus bersikap bagaimana. Dia hanya tersenyum kikuk, mengangguk pelan, kemudian membalikkan badannya meninggalkan ruangan tersebut.
Edward memperhatikan sosok agennya itu sampai tak kelihatan lagi. Setelah itu dia tergelak sendiri. “Tak kuduga, secepat ini aku berkencan dengan Rosemary!” cetusnya bangga. “Tarik-ulur ya, Bro. Biarkan dia penasaran. Jangan asal nyosor aja.”
Selanjutnya dia meraih ponselnya untuk menghubungi istri tercinta di rumah. “Halo, Ma,” sapanya dengan suara semanis madu. “Sori, Papa pulang agak malam hari ini. Karena ada agen baru yang mesti ditemani untuk memprospek bos besar. Kalau dia melakukannya sendiri takutnya bisa salah ngomong dan nggak jadi closing. Papa harus menemaninya sekaligus memberi contoh bagaimana cara melakukan pendekatan yang tepat dengan orang kaya.”
Pria itu lalu diam sejenak. Ia memberi kesempatan lawan bicaranya di seberang sana untuk mengemukakan pendapat. Sesekali dijawabnya dengan tenang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan wanita yang telah belasan tahun dinikahinya tersebut. Tak berapa lama kemudian pembicaraan di telepon pun berakhir. Edward meletakkan ponselnya kembali di atas meja.
“Well done!” cetusnya puas. “Rupanya keberuntungan sedang berada di pihakku. Istriku nggak curiga sama sekali. Dia malah berpesan supaya aku nggak telat makan. Ok, Rosemary Laurens. Waktuku menjemputmu di kos sekarang. Akan kubuat malam ini menjadi kencan pertama kita yang tak terlupakan bagimu. Ya…,bagimu! Hahaha….”
***
Edward berdecak kagum melihat penampilan Rosemary yang menunggunya di teras kos. Gadis itu langsung mengenali mobil New Camry milik manajernya itu. Dia berjalan cepat menuju mobil itu dan membuka pintu depan.
“Kamu cantik sekali pakai gaun pink ini,” puji laki-laki itu begitu agennya sudah berada di dalam mobil. “Kelihatan feminin. Rambutmu juga natural banget diurai begini.”
Rosemary tersenyum canggung menanggapi pujian-pujian atasannya. “Terima kasih, Bang,” ujarnya singkat.
Dadanya berdebar-debar sekali. Badannya panas-dingin tak karuan. Gaun merah muda tanpa lengan yang dikenakannya memang sangat girly modelnya. Bagian dalamnya polos dan melekat pas pada tubuhnya yang ramping. Bagian bawah agak melebar dan panjangnya pas menutupi lutut. Kain sifon berwarna senada dengan motif bunga-bunga kecil berwarna merah muda kombinasi putih menutupi kain polos tersebut. Membuat modelnya kelihatan lebih modern dan feminin.
Hampir dua puluh menit gadis itu tadi memilih-milih baju yang akan dipakainya untuk pergi menonton bioskop bersama sang manajer. Entah kenapa dia merasa bahwa kepergian mereka kali ini sangat spesial. Rosemary ingin menunjukkan penampilan terbaiknya di depan pria yang kini menjadi orang paling dekat dengannya itu.
Rambutnya yang biasanya diikat karena naik sepeda motor kini dibiarkan terurai. Tadi dia cepat-cepat keramas dan mengeringkan rambut dengan hair dryer. Syukurlah rambut hitam legamnya itu tergolong mudah diatur. Tidak usah di-blow sudah terurai indah alami.
Selama perjalanan menuju mal tempat mereka akan menonton bioskop, Edward mengajaknya bercakap-cakap tentang hal-hal yang ringan. Sama sekali tak menyebut-nyebut tentang asuransi. Rosemary merasa rileks. Dia jadi tidak merasa terbebani. Mereka membicarakan hobi, makanan kesukaan, jenis lagu favorit, dan impian yang belum tercapai.
“Aku ingin membuka kantor pemasaran sendiri seperti Bu Teresa, Rose,” aku Edward jujur. Sambil mengemudikan mobilnya dengan santai, dia bercerita bahwa jika mempunyai kantor sendiri maka akan dikembangkannya mati-matian agar menjadi yang terbesar di seluruh Pulau Jawa.
“Kenapa kau memandangku dengan keheranan seperti itu, Rose? Nggak nyangka ya, aku punya impian sebesar ini?” seloroh pria itu sembari melirik gadis yang duduk di sebelahnya. Dia terpesona menyaksikan kemolekan Rosemary dalam balutan gaun pink yang dikenakannya. Ingin sekali diputarnya mobilnya menuju ke hotel dan membawa gadis lugu ini ke tempat tidur!
Sabar, Bro. Sabar, batinnya mengingatkan dirinya sendiri. Waktunya belum tiba. Ini masih acara pendekatan. Ambil hatinya, buat dia tak mampu melupakanmu, hingga akhirnya dia pasrah diapa-apakan olehmu!
“Maaf, Bang,” ucap Rosemary membuyarkan lamunan manajernya. “Selama ini kukira Bang Edward sudah merasa nyaman bernaung di bawah kantor pimpinan Bu Teresa. Tak disangka Abang mempunyai sebuah impian yang terpendam. Tapi ya nggak apa-apa, sih. Namanya juga manusia, pasti ingin meraih sesuatu yang lebih baik….”
“Benar, Rose. Kalau kamu sendiri bagaimana?” balas pria itu balik bertanya. Tatapan matanya masih lurus ke depan memperhatikan jalan. Hari sudah semakin gelap.
“Aku? Maksudnya gimana, Bang?” tanya si gadis tak mengerti.
“Apa impian terpendammu?”
“Apa, ya?”
Rosemary kemudian teringat pada Owen yang telah tiada. Dia menggigit bibirnya. Dulu aku bermimpi kelak akan menjadi istri yang baik bagi Owen dan melahirkan anak-anak kami yang sehat, lucu, dan pintar, batin gadis itu perih. Tapi impian itu sudah menghilang bersama kenanganku terhadap Owen. Selanjutnya aku tak berani bermimpi lagi….
“Kamu harus mempunyai mimpi yang kuat, Rose,” nasihat manajernya kemudian. “Mimpi itulah yang akan mengantarkanmu pada kesuksesan. Setiap kali kamu menghadapi rintangan dan patah arang, kekuatan mimpimu itulah yang akan mencegahmu mundur. Hal itu juga terjadi padaku dan manajer-manajer lainnya. Kami semua pernah mengalami kesakitan dan keletihan yang kamu rasakan saat ini, Rose. Percayalah, di dunia ini tidak ada cara yang mudah dan gratis untuk mencapai kesuksesan. Semua harus dibayar! Apapun itu caranya. Bisa dengan peluh, air mata, sakit fisik maupun batin. Mengertikah kau, Rose?”
Gadis di sebelahnya termangu. Jadi inilah maksud atasannya ini mengajaknya menonton bioskop hari ini. Supaya dirinya rileks sejenak. Lalu kembali bekerja keras demi mencapai impiannya? Tiba-tiba Rosemary menyadari apa yang sebenarnya diimpikannya.
“Terima kasih banyak, Bang,” ucapnya lirih. Bibirnya mengulas senyuman hangat. Perasaannya sudah tidak gundah lagi. Dia berjanji dalam hati akan lanjut memprospek database-nya lagi besok. Delapan orang per hari, Rosemary Laurens, tekadnya bulat. Delapan orang per hari….
“Untuk apa berterima kasih padaku?” tanya Edward tak mengerti.
“Abang telah mengajarkan padaku mengenai betapa pentingnya impian. Aku sekarang paham. Mimpiku yang sebenarnya adalah meningkatkan taraf hidup keluargaku. Mencukupi kehidupan mereka, membelikan rumah dan kendaraan, mengajak rekreasi ke tempat-tempat yang indah…. Ya, itulah impianku, Bang. Akan kuwujudkan dengan bekerja semaksimal mungkin. Tolong support aku terus ya, Bang.”
Mobil berhenti. Rupanya Edward telah memarkir kendaraannya itu. Dia mematikan mesin lalu memalingkan wajahnya pada Rosemary. Pria itu berkata lembut, “Seperti janjiku padamu, aku takkan pernah meninggalkanmu sampai dirimu mencapai kesuksesan, Rosemary Laurens.”
Dan…hati gadis itu serasa melayang-layang ke angkasa tatkala sebuah kecupan hangat singgah di dahinya yang putih mulus.