Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
The Big Boss



Gadis itu menggeleng. “Saya dulu cuma pernah diajak Papa pergi sekeluarga ke Singapore dan Malaysia, Om,” akunya terus terang. “Karena dekat dan nggak butuh waktu lama mengunjungi tempat-tempat wisata di sana. Papa nggak suka ninggalin tokonya lama-lama.”


Edward terkekeh. “Kelak kamu akan mendapatkan kesempatan berekreasi ke negara manapun yang kamu mau, Rose. Percayalah,” ucap pria itu penuh teka-teki.


Rosemary jadi penasaran dibuatnya. Dia spontan bertanya, “Oya? Gimana caranya, Om?”


Pertanyaan gadis itu tak terjawab oleh Edward karena tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan menyapa laki-laki itu, “Halo, Ward. Wah, baru balik dari Tiongkok sudah langsung aktif lagi. Hebat!”


“Halo, Bu Tere. Iya, saya hari ini baru aktif lagi. Tadi siang habis mampir ke tempat nasabah yang mau nambah polis. Eh, nggak sengaja ketemu sama anak mantan klien saya ini. Rosemary, kenalkan. Ini Bu Teresa, orang nomor satu di kantor ini. The big boss! Hehehe….”


Teresa terkekeh. Wanita berambut pendek sekali seperti laki-laki itu tersenyum sambil mengangguk pada Rosemary. Gadis itu tersipu malu, Dia merasa rendah diri berhadapan dengan Teresa yang aura kewibawaannya terpancar sangat kuat itu.


“Perkenalkan. Saya Rosemary, Bu Teresa,” katanya sembari mengulurkan tangannya. Wanita di hadapannya itu mengangguk dan menjabat tangan gadis itu. “Selamat datang di kantor kami, Rosemary. Namamu bagus sekali. Seperti nama bunga,” ucapnya ramah.


“Betul, Bu. Kata Mama, nama saya memang diambil dari nama bunga.”


“Dari logat bicaramu, sepertinya kamu bukan orang asli Surabaya, Rose? Maaf, saya panggil Rose aja nggak apa-apa, ya?”


“Nggak apa-apa, Bu. Memang itu nama panggilan saya. Saya berasal dari Balikpapan. Cuma sejak kuliah sudah nge-kos di Surabaya. Sempat bekerja di kota ini juga.”


“Sempat? Berarti sekarang sedang dalam posisi tidak bekerja?”


Rosemary termangu mendengar pertanyaan menyelidik wanita yang umurnya kira-kira sebaya dengan Edward itu. Luar biasa, orang ini jeli sekali mencermati kata-kata lawan bicaranya, puji gadis itu dalam hati. Pantas dia bisa sukses dan memiliki kantor sebesar ini!


“Ehm…, betul. Saya diberhentikan dari pekerjaan sebagai sekretaris akibat terlalu lama dirawat di rumah sakit, Bu. Anu…, saya mengalami kecelakaan lalu lintas di Balikpapan dan terluka parah….”


Teresa menunjukkan sikap berempati. Ia berkata dengan nada suara lebih rendah, “Kasihan sekali kamu, Rose. Begitulah risikonya kalau bekerja digaji oleh perusahaan. Begitu dianggap tak menguntungkan langsung didepak. Padahal namanya musibah, siapa yang minta?”


“Betul, Bu. Saya juga tidak menyangka….”


“Kalau begitu, kamu sebentar lagi ikut kelas saya saja jam enam. Di ruangan yang ujung itu. Nanti akan saya jabarkan secara jelas benefit apa saja yang akan kamu dapatkan kalau bergabung sebagai agen di kantor ini. Ward, apakah kamu sudah menjelaskan sedikit pada Rosemary?” tanya Teresa kepada anak buahnya.


Laki-laki itu menggeleng. “Saya rasa sebagai sesama kaum wanita, Bu Tere lebih bisa menyampaikannya secara tepat pada Rosemary,” ujarnya berusaha menyenangkan hati atasannya. “Saya sudah bilang sama Rose, agar tidak sungkan-sungkan bertanya kalau nanti ada penjelasan Bu Tere yang tak dimengertinya.”


Teresa tersenyum senang. Dia lalu berpaling kembali pada Rosemary. “Kamu beruntung sekali, Rose. Punya manajer sebaik Edward. Dia ini sabar dan telaten sekali membimbing agen baru, lho. Nanti dia pasti menungguimu di luar sampai kelas selesai. Terus mengantarmu pulang. Oya, apakah sampai sekarang kamu masih tinggal di kos?”


“Lho, lalu bagaimana caramu nanti memprospek klien asuransi kalau tinggal berjauhan dengan manajermu di sini?”


Sorot mata tajam Teresa membuat Rosemary diam seribu bahasa. Dia mati kutu, tak sanggup berkata apa-apa.


Edward dengan sigap berusaha mencairkan suasana. “Rose ini baru beberapa hari yang lalu keluar dari rumah sakit, Bu,” jelasnya kemudian. “Dia tiga bulan dirawat karena luka-lukanya benar-benar parah. Tadi siang saya tak sengaja bertemu dengannya di showroom mobil bekas milik nasabah saya. Kami ngobrol sebentar. Lalu dia saya ajak datang kemari. Rose masih ingin melihat-lihat dulu situasi kerja di kantor ini seperti apa dan apa bisnis asuransi itu sebenarnya. Setelah itu dia akan merundingkannya dengan keluarganya di Balikpapan.”


“Oh, I see,” sahut atasannya itu mengerti. “Memang seharusnya begitu, Rose. Minta dukungan keluarga lebih dulu. Karena kamu anak perempuan. Bisnis asuransi memang penuh tantangan. Tapi kalau kamu fokus dan konsisten, saya jamin apapun yang kamu impikan dapat tercapai dalam jangka waktu yang tak lama.”


Ketegasan sikap wanita itu membuat semangat Rosemary timbul seketika. Rasa percaya dirinya mulai tumbuh.


Tiba-tiba terdengar suara langkah-langkah kaki naik tangga. Beberapa orang pemuda dan gadis muncul kemudian. Seorang pemuda menyapa Teresa dan Edward. Dia lalu bertanya apakah si bos jadi mengajar kelas hari ini.


“Jadi, dong!” tegas Teresa. “Mereka semua ini rekrutanmu?”


“Yes, Big Boss,” jawab orang itu sambil tersenyum lebar. “Saya minta mereka semua menunggu di dalam kelas, ya.”


“Boleh. Lima menit lagi tepat jam enam. Rose silakan menunggu di dalam juga, ya,” kata Teresa sembari berpaling pada gadis itu.


Rosemary mengangguk. Dia lalu berpamitan pada Edward dan pemuda yang baru datang itu. Selanjutnya orang itu meminta anak-anak muda rekrutannya masuk ke dalam kelas mengikuti Rosemary.


Lalu dia berbicara dengan nada suara rendah pada Teresa dan Edward, “Anak-anak muda itu lulusan kuliah S1 manajemen. Mereka satu geng dan curhat kok susah cari kerja. Akhirnya aku ketemu dengan kepala gengnya. Kukompori dia untuk mengajak teman-temannya ikut kelas pengenalan bisnis asuransi. Untung hari ini Big Boss yang ngajar! Aku pede mereka semua bakalan bersedia jadi agen.”


“Aku pesimis mereka semua bisa awet di sini, Dam,” komentar Teresa tanpa tedeng aling-aling. Begitulah sifatnya kalau berhadapan dengan anak buahnya sendiri. To the point dan apa adanya. Jauh berbeda kalau berhadapan dengan klien. Mulutnya manis bagai madu.


“Memangnya kenapa, Bu? Apa yang kurang dari mereka?” tanya anak buahnya yang bernama Damian itu penasaran. Pemuda berusia dua puluh tujuh tahun itu baru setahun bergabung di bawah tim Teresa, Prestasinya biasa-biasa saja. Insting bisnisnya belum sekuat Teresa yang sudah dua puluh tahun berkecimpung di industri asuransi.


“Kulihat sepintas lalu jiwa mereka masih kekanak-kanakkan. Belum siap untuk bekerja penuh tantangan seperti bisnis kita ini. Mereka anak-anak orang mampu, kan?” tanyanya penuh selidik.


Damian mengangguk. “Betul, Bu. Tapi setidaknya mereka bisa memprospek sanak-saudara yang sama-sama berduit, kan?” timpalnya.


Bosnya mengangguk. “Ya, paling sedikit itu yang bisa kita capai. Tak apalah. Buat menambah-nambah omzet tim-mu.”


Sang pemuda mengangguk. “Lalu bagaimana dengan rekrutan Bang Edward tadi?” tanyanya.