
“Kamu kenapa marah-marah begini? Nggak enak badankah?” tanya laki-laki itu dengan suara selembut mungkin.
“Aku hamil!” tukas Rosemary ketus.
“Hah?!”
Mendengar reaksi spontan kekasihnya, gadis itu langsung bangkit berdiri dari pangkuan Edward. Dia pindah duduk di sebelah pria itu dan mulai mengoceh, “Aku hamil sejak kita berada di London, Bang. Waktu itu tubuhku tiba-tiba meriang, mual, dan muntah-muntah. Sampai beberapa acara di sana tidak bisa kuikuti. Kamu tentu saja nggak memperhatikan karena terlalu asyik dengan pacar barumu!”
Kalimat terakhir Rosemary yang begitu menyudutkan dirinya membuat Edward terperangah.
“Apa katamu tadi, Rose? Kenapa kamu tega menuduhku seperti itu? Kamu kan tahu aku ini orangnya seperti apa. Nggak mungkin aku tega mengkhianatimu,” kata pria itu berdalih. Namun dalam hati dia penasaran bagaimana kekasihnya ini bisa tahu tentang hal itu.
Rosemary semakin emosional.
“Kamu yang tega nggak mempedulikanku sama sekali waktu kita berada di London. Malah asyik-asyikan sama teman-temanmu sendiri. Juga nempel terus sama si Inge, janda kembang itu!” cetus gadis itu dengan nada suara semakin tinggi.
Edward tersentak. Rosemary tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya kamu nggak bisa mengelak lagi, Bang. Ekspresi wajahmu sudah menyatakan kebenarannya….
Laki-laki itu terdiam selama beberapa saat. Lalu dia tersenyum tenang dan berkata, “Kamu seperti nggak tahu saja pergaulan sesama agen asuransi, Rose. Dari luar kelihatan akrab. Foto-foto bersama, kumpul-kumpul, hepi-hepi bareng. Tapi di balik semua itu belum tentu kita benar-benar dekat secara personal. Itu buat kamuflase saja. Sekadar pelampiasan karena sudah lelah bekerja mengurus nasabah di lapangan sekaligus agen-agen di bawah kita….”
“Lalu kenapa bisa ada gosip kamu tidur sekamar sama Inge di kamar hotel lantai tujuh? Aku baru tahu ternyata manajer-manajer level atas bisa request sama panitia acara untuk ditempatkan di kamar hotel sama siapa, duduk bareng siapa di pesawat, dan macam-macam. Makanya aku selalu duduk bersebelahan dengan Damian selama perjalanan itu. Jangan-jangan Bang Edward yang sudah mengaturnya sama panitia acara!”
Edward terperanjat. Tak diduganya belangnya bisa ketahuan oleh gadis yang selama ini naif dan selalu mempercayai apapun yang dikatakannya. Rosemary sudah pintar sekarang, batinnya mengakui. Barangkali sudah waktunya aku melepaskan gadis ini. Sudah nggak fun lagi main-main dengannya. Sebentar lagi dia akan berani menuntut ini-itu.
Sementara itu Rosemary justru merasa geregetan menyaksikan sikap kekasihnya yang diam saja. Emosinya memuncak.
“Aku sudah capek berhubungan diam-diam denganmu seperti ini, Bang. Apalagi aku sekarang sudah hamil. Gimana kalau perutku besar dan jadi pergunjingan orang-orang?”
“Gugurkan saja kalau begitu.”
Jawaban enteng kekasihnya membuat gadis itu terbelalak. Dia sungguh tak mempercayai pendengarannya.
“Apa…apa maksudmu, Bang? Kamu suruh aku menggugurkan anak kita?”
What?! Orang ini sungguh tak berperasaan. Mana bisa dia berkata seenaknya seperti itu setelah setahun lebih berasyik-masyuk denganku di apartemen ini?! batin Rosemary tak terima.
Seketika napasnya terasa sesak. Air matanya jatuh bercucuran. Tak disangkanya kekasih yang dicintai dan dipercayainya sepenuh hati ini ternyata seorang laki-laki yang tak bertanggung jawab!
“Bang…,” tanya gadis itu dengan suara serak. “Apakah selama ini kamu nggak pernah mencintaiku? Hanya menganggap diriku sebagai pelampiasan nafsu belaka?”
Edward tertawa keras mendengar pertanyaan yang dianggapnya dungu itu. Bulu kuduk Rosemary berdiri. Tawa yang terdengar melecehkan itu sudah menjawab pertanyaan yang diajukannya.
“Rosemary Laurens, kamu ini memang manis sekali. Tapi dulu. Ya, dulu. Ketika kamu masih polos bagaikan kertas putih yang bersih tanpa noda. Menjalin hubungan denganmu sangat menyenangkan. Aku merasa begitu dipercaya dan dipuja-puja. Nyaman sekali memperoleh perlakuan seperti itu di usiaku yang sudah semakin matang ini….”
Air mata si gadis mengucur semakin deras. Orang ini benar-benar mengerikan, batinnya patah hati. Ternyata perasaanku selama ini hanya dipermainkan saja olehnya. Sungguh jahat kamu, Edward Fandi. Jahat sekali!
Laki-laki yang sudah tak peduli belangnya ketahuan itu menyeringai licik. Dia lalu melanjutkan kata-katanya, “Ketahuilah, selama ini tak pernah terpikir sedikitpun dalam benakku untuk bercerai dari Dina. Dia adalah istri yang telah mendukungku semenjak aku masih nol. Setelah aku berhasil seperti sekarang pun dia tak pernah berubah. Sangat setia meskipun aku jarang berada di rumah. Dia merasa pekerjaanku ini sangat berat dan butuh support system yang baik dari keluarga. Sedikitpun dia tak pernah mencurigaiku berbuat serong di belakangnya. Alasan-alasanku untuk pulang terlambat ataupun tidak pulang sama sekali selalu diterimanya dengan baik. Pergi memprospek klien sampai larut-lah, menjadi pembicara di acara-acara kantor lain-lah, mengikuti training di luar kota-lah, membimbing agen sampai malam-lah, dan lain sebagainya. Dina nggak pernah mengecek kebenarannya di kantor. Kalaupun dia sampai melakukannya, aku sudah menyiapkan jawaban untuk mem-backing alasanku sebelumnya….”
Rosemary terperanjat. “Ja…jadi Mbak Dina nggak pernah berselingkuh dengan pria lain? Ka…kalian sama sekali nggak mengurus perceraian?” tanyanya dengan suara terbata-bata.
“Hahaha…. Rosemary, Rosemary…. Kamu ini entah naif entah tolol. Aku sungguh nggak dapat membedakannya. Atau barangkali mungkin kamu ini cinta buta terhadap pria mapan seperti diriku? Sampai-sampai tak terpikir olehmu, perceraian macam apa yang satu tahun lebih diurus belum juga selesai!”
Dada gadis itu terasa sakit sekali. Bagaikan ada sebilah pedang tajam yang menembusnya. Napasnya sampai tersengal-sengal. Orang ini…orang ini seperti setan! makinya dalam hati. Tega-teganya mempermainkan perasaanku dengan kebohongan dan tipu daya! Padahal…padahal dia sudah berjanji di depan Mama akan menjagaku dengan baik. Ternyata apa yang dikatakannya itu palsu belaka. Aku hanya dimanfaatkan sebagai pemuas nafsunya belaka!
“Nggak perlu menatapku seperti itu, Sayang,” cetus Edward sambil terkekeh. “Aku memang penipu. Tapi bukan berarti aku memanfaatkanmu dengan cuma-cuma. Lihatlah dirimu sekarang. Rosemary Laurens, seorang manajer level satu di perusahaan asuransi ternama. Punya mobil baru. Menempati apartemen yang tenang dan fasilitasnya cukup bagus. Setiap bulan mendapatkan uang belanja lebih dari cukup dari manajernya. Aku cukup murah hati kan, terhadap perempuan yang kupelihara sebagai simpananku….”
“Simpanan?!” teriak Rosemary garang. Dia sudah tak tahan lagi mendengar kata-kata laki-laki itu. “Jadi selama ini kamu menganggapku tak lebih dari seorang simpanan?!”
Tawa pria di hadapannya semakin keras. “Lalu kamu pikir siapa kamu ini, Rosemary Laurens? Tanyalah pada dirimu sendiri. Seorang perempuan yang mau diajak berhubungan intim tanpa dinikahi, disewakan apartemen, diberi uang belanja setiap bulan, dan dibelikan mobil baru…. Apa itu namanya kalau bukan simpanan?”
Plaaakkk!
Kejadian itu begitu cepat dan sangat tak terduga. Edward meraba pipinya yang terasa pedih sekali akibat tamparan sang kekasih. Emosinya meluap. Ditamparnya balik gadis itu.