Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Pecah Telor



“Sama Mbak Rini,” jawab Boy lugas. “Tapi terus Mbak Rini hilang. Mama juga.”


“Oh, gitu. Tadi terakhir kali Boy melihat Mama di mana?”


Sebelum si bocah menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya, tiba-tiba terdengar suara keras seseorang memanggil namanya.


“Boy!” seru orang itu yang ternyata adalah seorang wanita muda. “Aduh, Nak. Kamu pergi ke mana saja? Mama bingung sekali mencarimu. Mbak Rini dihubungi juga nggak bisa.”


“Mama!”


Kedua ibu dan anak itu saling berpelukan. Rosemary tersenyum lega. Syukurlah mamanya Boy aktif mencari anaknya kemana-mana. Jadi cepat ketemu, cetusnya dalam hati.


“Mbak Rini mana, Boy? Kok nggak sama kamu?” tanya si mama celingukan mencari-cari pengasuh anaknya. Sayang sekali orang yang hendak ditegurnya itu tak dilihatnya. Pandangannya lalu terpaut pada Rosemary. Gadis itu sudah bangkit berdiri dari tempat duduknya. Dia tersenyum sambil mengulurkan tangan kanannya.


“Saya Rosemary, Bu. Tadi saya melihat anak Ibu menangis sendirian di depan sana. Lalu saya ajak kemari untuk minum sebentar,” katanya menjelaskan.


“Oh, terima kasih, Mbak Rosemary. Kenalkan, saya Sisil,” sahutnya sembari menyambut uluran tangan lawan bicaranya.


“Mama, Tante ini baik sekali sama Boy,” celetuk si bocah tiba-tiba. “Boy diajak ngobrol, diberi minum….”


Ibu muda yang tampil elegan dengan jilbab satin berwarna merah kombinasi hitam itu memperhatikan Rosemary sejenak.


Kemudian dia bertanya, “Maaf, Mbak Rosemary. Berarti tadi anak saya Mbak temukan dalam kondisi sendirian tanpa pengasuhnya, ya? Mbak Rini namanya. Masih muda. Umurnya dua puluh lima tahun, tinggi langsing, dan kulitnya kuning langsat. Pakaian dan jilbabnya serba merah muda.”


Gadis yang ditanya menggeleng. “Saya sama sekali tidak melihat orang dengan ciri-ciri seperti itu sejak tadi, Bu Sisil. Boy saya temukan menangis sendirian tadi,” jelasnya lagi.


Sisil menghela napas panjang. Ekspresi wajahnya tampak sangat kecewa. “Mbak Rini itu bekerja ikut kami hampir satu tahun. Pekerjaannya biasanya baik, sih. Tapi sejak punya pacar, mulai suka teledor. Haizzz….”


Selanjutnya wanita itu berpaling pada anaknya. “Kamu nggak apa-apa kan, Nak? Tadi Mbak Rini menghilang begitu saja tanpa pamit?” tanya wanita itu pada putranya.


Boy menggeleng polos. Ibunya mendesah. “Tadi saya sedang tanya-tanya tentang program tabungan untuk naik haji di sana, Mbak Rose,” ucapnya sembari menunjuk ke arah stand pameran yang terletak agak jauh dari booth pameran Rosemary. “Saya sudah bilang sama Mbak Rini supaya jaga Boy baik-baik. Jangan pergi jauh-jauh. Eh, waktu saya sudah selesai kok mereka nggak kelihatan. Saya telepon Mbak Rini nggak masuk terus. Saya chat WA centang satu. Langsung panik saya.”


Rosemary mengerutkan dahinya. “Kok bisa Mbak Rini hilang mendadak, Bu?” tanyanya heran.


Sisil menjawab dongkol, “Saya curiga pacarnya datang ke mal ini diam-diam untuk menemuinya. Jadinya dia lalai menjaga Boy. Ya sudahlah, saya nggak akan cari orang itu lagi. Kalau dia kembali ke rumah, lebih baik saya berhentikan saja. Takut kan mempercayakan anak sendiri pada orang yang nggak bertanggung jawab seperti itu.”


Gadis di hadapannya manggut-manggut mengerti. Tiba-tiba pandangan Sisil terpaku pada standing banner di depan booth.


“Program proteksi kesehatan, tabungan pendidikan, dan tabungan hari tua…,” cetus ibu kandung Boy itu membaca judul standing banner. “Lho, apa Mbak Rose jualan produk-produk ini? Saya sudah lama mencari-cari produk seperti ini untuk keluarga….” tanya perempuan cantik itu sambil memandang lawan bicaranya penasaran.


Rosemary mengangguk mengiyakan. “Betul, Bu Sisil. Ini brosur kami kalau mau lihat….”


Selanjutnya dengan luwes gadis itu langsung memanfaatkan kesempatan memprospek ibu yang hampir saja kehilangan anaknya itu. Damian yang sedari tadi memperhatikan diam-diam tersenyum simpul.


***


Dua hari kemudian, sore hari, Rosemary menerima telepon dari Edward.


“Sayangku, selamat, ya. Kudengar dari Indri kamu sudah pecah telor. Langsung tiga polis untuk satu keluarga. Ccck, ccck, ccck… Pacarku memang hebat!” cetus kekasihnya itu dengan nada gembira.


Rosemary tersenyum. Dia memang sengaja tidak memberitahu kekasih sekaligus manajernya itu karena ingin memberi kejutan. Gadis itu tahu Indri sebagai sekretaris tim mereka pasti akan memberitahu Edward tentang keberhasilannya menutup transaksi pertamanya berupa tiga pengajuan polis sekaligus.


Karena didaftarkan secara digital oleh Indri, maka hanya dalam waktu dua jam pengajuan tersebut disetujui oleh kantor pusat Jakarta. Hati Rosemary berbunga-bunga sekali ketika diberitahu gadis berjilbab itu melalui chat WA beberapa menit yang lalu. Dan sekarang giliran Edward yang memberinya ucapan selamat.


Terima kasih, Tuhan, batin gadis itu penuh rasa syukur. Kau benar-benar tidak tidur. Kau melihat jerih-payahku mencari-cari nasabah selama ini. Dan akhirnya aku diberkati dengan closing-an yang tak terduga. Amin.


“Say, kamu lagi ada di mana sekarang?” tanya Edward lembut. Tiba-tiba Rosemary merasa kangen sekali pada pria itu. Dia lalu menjawab sedang berada di kos. Kebetulan sudah tidak ada janji temu lagi dengan klien.


Dengan antusias, manajernya berkata, “Kalau begitu kamu akan kujemput setengah jam lagi, ya. Kita rayakan keberhasilanmu pecah telor sekaligus closing dari pameran. Hebat, Rose. Padahal aku memberimu waktu dua bulan dihitung sejak pameran berakhir. Tapi ini malah kamu berhasil memenuhinya di saat pameran masih berjalan. Very great, Honey.”


Gadis yang tengah terbuai benih-benih asmara itu setuju saja. Dia segera mandi lalu berdandan secantik mungkin demi menunjukkan penampilan yang prima di hadapan pria terkasih.


***


“Wow, kamu seksi sekali, Say!” komentar Edward memuji saat menjemput gadis itu di depan kosnya. Rosemary mengenakan gaun tanpa lengan berwarna hitam polos yang melekat pas pada tubuhnya yang langsing dan panjangnya tepat di tengah-tengah lutut.


Gadis itu mengerutkan dahinya. “Apanya yang seksi, Bang?” tanyanya heran. “Cuma baju item polos kutungan gini aja, kok.”


Sang kekasih menyeringai. Dia lalu berkata, “Gaunmu ini membuat lekuk-lekuk tubuhmu terlihat begitu menggoda, Sayangku. Aku senang sekali melihatnya. Sering-sering ya pakai baju seperti ini kalau pergi sama aku. Nanti kamu kutransfer uang untuk membelinya.”


Hah?! batin Rosemary kaget. Kok sampai segitunya? Aku ini kekasih atau simpanannya?


Berbagai pemikiran negatif mulai merasuk dalam benak gadis itu. Diperhatikannya baik-baik pria yang tengah fokus menyetir di sampingnya. Apakah dia benar-benar mencintaiku, ya? tanyanya dalam hati. Perasaan ragu memang beberapa kali singgah dalam benak Rosemary. Namun pada akhirnya dia selalu mengenyahkannya jauh-jauh.


Bagaimanapun juga Bang Edward adalah orang yang telah banyak menolongku di masa aku susah. Tak sepantasnya aku menaruh syak-wasangkan terhadapnya, putus gadis itu dalam hati.


“Kita mau pergi ke mana sebenarnya, Bang?” tanya Rosemary penasaran.


“Ke apartemenku,” jawab Edward santai.


Kekasih sekaligus anak buahnya itu kaget mendengarnya. “Apa? Jadi kamu sudah menyewa apartemen? Yang mana?” tanya gadis itu bertubi-tubi.


Edward tertawa geli. “Tentu saja yang paling kamu sukai, Say. Aku kan ingin menyenangkanmu.”


Perasaan Rosemary melambung tinggi bagaikan di awang-awang.