
Pria di hadapannya tersenyum lebar. Terlihat deretan gigi yang putih bersih menawan, Benar-benar kinclong Om Edward ini, puji gadis itu dalam hati. Dia benar-benar merawat dirinya dengan baik dari ujung rambut sampai ke ujung kaki!
“Agen-agen senior atau yang sudah menjadi manajer biasanya tak sabaran menunggu proses administrasi diselesaikan oleh pegawai resmi kantor ini. Karena harus menunggu sesuai antrian. Tidak bisa langsung beres. Karena itu kalau sudah mencapai tingkat pendapatan tertentu mereka biasanya mempekerjakan sekretaris sendiri, khusus untuk mengurus administrasi tim mereka.”
Rosemary terperangah.”Digaji sendiri, Om?” tanyanya spontan.
Edward mengangguk. “Betul,” jawab laki-laki itu membenarkan. “Sekretaris itu digaji sendiri oleh agen senior atau manajer yang bersangkutan. Bu Teresa cuma menyediakan ruangan kerja, fasilitas listrik, dan wifi untuk kelancaran pekerjaan mereka. Itu ruangan khusus para sekretaris. Persis di sebelah ruang administrasi. Ayo kita ke sana melihat-lihat.”
Gadis itu melongo menyaksikan banyaknya sekretaris yang bekerja di ruangan tersebut. Semuanya perempuan, berusia antara dua puluhan hingga empat puluh tahun. Ada lima belas sekretaris, batin Rosemary menghitung jumlah mereka. Terus masih ada lima meja dan kursi kosong. Apakah itu diperuntukkan bagi calon sekretaris berikutnya?
“Kenapa bengong begitu, Rose?” tanya Edward sambil tersenyum geli. Gadis ini benar-benar masih polos, batin pria itu. Maklum, pengalaman kerjanya masih sedikit. Dia juga dulunya anak orang kaya. Belum banyak makan asam-garam kehidupan.
“Saya…saya bingung, Om,” aku lawan bicaranya terus terang. “Kok mau-maunya para manajer atau agen senior itu menggaji sekretaris untuk tim mereka sendiri? Mestinya itu kan tugas perusahaan untuk menyediakan karyawan administrasi yang cukup buat melayani para agen yang job desc-nya sebagai marketing dan merekrut anggota-anggota baru.”
Edward lalu menjelaskan. “Begitulah sistem yang berlaku di sebagian besar kantor asuransi, Rose. Agen dianggap sebagai partner bisnis pemilik kantor. Agen tidak digaji, melainkan memperoleh pendapatan dari komisi dan bonus dari penjualan pribadi dan tim. Jadi penghasilannya tak terbatas. Semakin besar income-nya, maka hal-hal administratif yagn diurusi pun semakin banyak. Kantor manapun takkan sanggup menanganinya. Karena itulah sebagai partner bisnis pemilik kantor, agen senior atau manajer diberikan kebebasan untuk menggaji sekretaris pribadi demi kelancaran kerja tim kami sendiri. Kantor berpartisipasi menyediakan sarana dasar yang diperlukan, yaitu ruangan kerja, meja, kursi, listrik, mesin fotokopi, scanner, dan kertas. Sedangkan gaji sekretaris, laptop, printer dan tintanya, ditanggung oleh manajer yang bersangkutan beserta anggota-anggota timnya.”
“Hah?!” sergah Rosemary semakin terkejut. “”Jadi para anggota tim juga ikut urunan membiayai semua itu, Om?” Parasnya memucat seketika. Bagaimana kalau dia nanti juga diwajibkan ikut urunan menggaji sekretaris? Sudah kerja tidak digaji, malah harus keluar uang duluan!
“Hehehe…, jangan kuatir, Rose. Anggota tim-ku yang masih berstatus agen biasa sampai manajer level 1 sama sekali tidak kutarik iuran, kok. Manajer level 2 keatas-lah yang kuminta ikut urunan. Tentunya dengan persentase yang jauh lebih kecil dariku. Pendapatannya sendiri kan sudah meningkat. Anggota timnya sendiri juga bertambah banyak. Akibatnya pekerjaan sekretaris juga bertambah. Wajar kan, kalau aku meminta sedikit kontribusi untuk membayar gaji sekretaris?”
Rosemary manggut-manggut mengerti. Benar juga, pikirnya setuju. Kalau pekerjaannya tambah banyak, si sekretaris juga bakalan minta naik gaji, dong. Kalau ditanggung sendiri oleh Om Edward, tentu memberatkan sekali. Namanya juga partner bisnis. Harus saling berbagi.
“Saya sekarang paham, Om,” tegas gadis itu. “Lalu itu meja-meja dan kursi-kursi kosong di sana buat apa?”
“Kritis sekali pertanyaanmu, Rose,” puji Edward. “Meja-meja dan kursi-kursi kosong itu disediakan buat calon sekretaris selanjutnya. Misalnya begini. Agenku kalau sudah naik ke manajer level empat, yaitu level tertinggi sepertiku, maka akan kuminta untuk keluar dari tim dan mencari sekretaris sendiri buat timnya. Satu orang sekretaris takkan sanggup menangani urusan administrasi dua tim manajer level tertinggi sekaligus.”
“Ehm…, saya jadi semakin paham sekarang, Om.”
Edward lalu memanggil orang yang dimaksud. Seorang gadis berjilbab biru muda dan berkacamata langsung menoleh. Dia segera bangkit berdiri dari tempat duduknya dan melangkah mendekati bosnya yang berdiri tepat di depan pintu.
“Bisa dibantu, Pak Edward?” tanyanya sopan. Rosemary langsung teringat pada dirinya dulu ketika masih bekerja sebagai sekretaris. Cara Indri berbicara kepada atasan persis seperti dirinya waktu itu.
“Ini kenalkan calon agen baruku, Ndri. Rosemary namanya. Hari ini dia akan mengikuti kelas pengenalan bisnis untuk agen baru. Tolong kelak kamu bantu-bantu dia, ya,” jawab bosnya manis namun tegas.
“Siap, Pak,” jawab Indri sambil mengangguk. Dia tersenyum ramah sambil mengulurkan tangannya pada Rosemary. “Nama saya Indri, Mbak Rosemary. Silakan hubungi saya kalau butuh sesuatu.”
Rosemary merasa tersentuh. Belum-belum kehadirannya sudah disambut dengan baik di sini. Dijabatnya tangan gadis itu. “Terima kasih banyak, Mbak Indri. Mohon maaf kalau kelak banyak merepotkan.”
“Tidak apa-apa, Mbak. Sudah menjadi tugas dan kewajiban saya, kok,” sahut Indri ramah. “Semoga Mbak Rosemary betah di sini.”
Kata-kata yang sama persis dengan Mbak Indah, resepsionis yang di depan tadi, pikir Rosemary heran. Memangnya ada apa, ya? Apakah banyak orang yang tidak betah menjadi agen di kantor ini?
Pertanyaan itu masih terngiang-ngiang dalam benaknya hingga dia diajak naik ke lantai dua oleh Edward. Di sana gadis itu melihat empat buah ruangan berukuran agak besar yang didesain seperti kelas. Dalam tiap-tiap ruangan tersebut tersedia papan tulis putih dan bangku-bangku seperti yang biasa kelihatan di kampus-kampus.
“Ruangan-ruangan ini dipakai sebagai kelas untuk membimbing para agen yang membutuhkan pengetahuan dasar tentang asuransi. Ada kelas yang membahas tentang pengenalan bisnis asuransi, produk-produk asuransi yang dijual perusahaan kita, kiat-kiat memprospek klien, dan solusi menangani keberatan klien. Kelas-kelas tersebut biasanya diadakan bersamaan seminggu sekali, yaitu setiap hari Jumat petang.”
“Yaitu hari ini, Om,” tandas Rosemary.
“Betul, Rose. Hari ini. Cuma karena Selasa kemarin kami baru kembali dari trip selama tiga minggu mengelilingi negeri Tiongkok, tampaknya para manajer masih belum siap mengajar kelas hari ini. Jadinya cuma satu kelas yang diadakan nanti jam enam, yaitu kelas pengenalan bisnis untuk agen baru. Bu Teresa yang terjun langsung mengajar. Kuat sekali dia. Padahal dia juga baru kembali dari Tiongkok, lho.”
“Om Edward juga ikut trip itu?”
Pria yang ditanya mengangguk. “Iya, aku ikut juga. Kami sebenarnya cuma mendapatkan trip gratis ke Beijing selama lima hari dari kantor pusat Jakarta. Tapi terus para manajer mengompori kenapa nggak sekalian keliling negeri itu saja. Sekalian refreshing. Akhirnya kami menambah biaya perjalanan sendiri ke Manzhouli, Xi An, Shanghai, dan Guangzhou. Kamu pernah mengunjungi kota-kota itu, Rose?”