Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Edward Menyusul ke Balikpapan



Dalam hatinya wanita itu tak menyalahkan sanak saudara yang menjauh dari mereka. Dia mendesah. Ditatapnya Rosemary sendu, “Di Surabaya nanti kamu mau memprospek siapa, Nak?” tanyanya ingin tahu.


Sang putri tersenyum. “Rose bisa memprospek teman-teman di kos, ibu kos, teman-teman kuliah, dan rekan-rekan kerja dulu, Ma. Selain itu Rose juga bisa keliling-keliling toko seperti yang dulu dilakukan Om Edward. Nasabah-nasabahnya lho, tidak semua diperoleh dari keluarga ataupun referensi. Banyak yang dari orang tak dikenal juga,” papar gadis itu penuh percaya diri.


Ibunya tersenyum. Dia senang anaknya yang baru pulih dari sakit parah ini mulai bersemangat kembali menata hidupnya. “Baiklah, Rose. Mama percaya kamu bisa menjaga diri. Sudah bertahun-tahun juga kamu hidup mandiri di Surabaya. Mama support kamu sepenuhnya untuk menjadi agen asuransi. Doa Mama selalu besertamu, Nak,” pungkas wanita itu dengan besar hati.


“Terima kasih banyak, Ma,” sahut Rosemary senang. Dia merasa lega sudah mendapat dukungan dari ibunya. Selanjutnya dia akan memberitahu kabar baik ini pada Edward.


Baru saja wajah pria tampan itu berkelebat dalam benaknya, tiba-tiba ponsel gadis itu berbunyi. Terlihat olehnya nama Edward terpampang di layar ponsel. “Om Edward menelepon, Ma. Benar-benar panjang umur dia,” seloroh gadis itu lalu cepat-cepat menerima telepon tak terduga tersebut.


“Halo, Om. Saya sudah sampai di Balikpapan,” ujarnya memberitahu. Entah kenapa hatinya berbunga-bunga diperhatikan sedemikian rupa oleh pria itu. Wajahnya tampak berseri-seri. Untuk beberapa saat gadis itu mendengarkan ucapan peneleponnya dengan seksama. Kemudian terdengar suaranya berkata, “Baiklah, Om. Nanti saya WA-kan alamat lengkap saya di Balikpapan. Atau besok pagi Om mau saya jemput saja di bandara?”


Gadis itu kembali terdiam. Ia fokus mendengarkan jawaban dari pria di seberang sana. Lalu dia manggut-manggut dan menyahut sopan, “Ok deh, kalau begitu. Sampai jumpa besok siang. Hati-hati di jalan ya, Om Edward. Selamat siang.”


Pembicaraan pun berakhir. Martha menatap putrinya penuh tanda tanya. “Ngomong apa Edward barusan, Rose?” tanya wanita itu penasaran. Belum lama orang itu diperbincangkan, eh tiba-tiba menelepon! Barangkali memang jodoh anakku harus bekerja di bawah bimbingannya, batin Martha menduga-duga.


Rosemary tersenyum “Dia besok mau datang ke Balikpapan, Ma. Ada nasabah besarnya mau ngasih berkas-berkas untuk klaim rawat jalan sekalian nambah dua polis lagi untuk anak-anaknya yang belum punya asuransi. Hebat ya, Om Edward. Gampang banget nambah omzet!” serunya kagum.


“Dia sudah lama berkecimpung di bidang ini, Nak. Kelak kamu juga bisa jadi itu. Percayalah,” ujar Martha memberi semangat. “Terus dia sekalian mau datang kemari?”


Sang putri mengangguk mengiyakan. “Om Edward nanya alamat lengkap rumah kita, Ma. Besok siang dia mau datang untuk bersilaturahmi sama Mama. Rose tadi menawari untuk menjemputnya di bandara. Tapi dia bilang mau langsung pergi ke toko nasabahnya itu biar cepat beres urusannya. Sehabis dari sana, baru dia datang sendiri ke sini naik taksi,” jelasnya.


“Edward pasti kaget sekali melihat keadaan kita sekarang, Rose,” ucap Martha rendah diri. “Mama ingat dia dulu pernah sekali mampir ke rumah kita. Orang itu pasti akan miris membandingkan keadaannya dengan rumah kontrakan ini….”


Rosemary merangkul ibunya penuh kasih sayang. “Sudahlah, Ma. Jangan berkata seperti itu. Namanya hidup pasti ada naik-turunnya, seperti roda berputar. Dulu kita berada di atas, sekarang turun ke bawah. Dan Rose janji akan berusaha sekuatnya agar posisi keluarga kita berada di atas lagi,” ucap gadis itu sepenuh hati.


Mata ibunya mulai berkaca-kaca. Terima kasih, Tuhan. Di saat kondisiku terpuruk seperti ini, anak-anakku tak ada yang mengeluh. Bahkan selalu mendukungku dengan cara mereka masing-masing, batin wanita itu penuh rasa syukur. Nelly mulai bersikap mandiri dan rajin belajar. Oliv sering membantuku menuntaskan pekerjaan rumah tangga yang tak mampu kuselesaikan. Dan Rosemary…anak sulungku ini menunjukkan baktinya dengan mengambil-alih peran tulang punggung keluarga. Betapa aku masih Kau berkati di balik musibah yang datang silih-berganti!


Sementara itu nun jauh di kota Surabaya, Edward sedang berada di dalam ruangan kantor Teresa. Mereka duduk berhadapan dan tampak berbicara dengan serius.


“Gimana, Ward?” tanya Teresa ingin tahu. “Besok pagi kamu jadi berangkat ke Balikpapan?”


“Siap, Bos!” jawab anak buah sembari mendekatkan telapak tangan kanannya pada alis tebalnya mengambil sikap menghormat. “Besok pagi aku naik pesawat ke Balikpapan. Dari bandara iseng-iseng mampir ke toko-toko klien di sana sebentar. Siapa tahu ada yang bisa dicumi-cumi untuk nambah asuransi. Hehehe…. Terus baru mengunjungi rumah Rosemary sesuai ide Bos.”


“Nah, gitu dong!” cetus Teresa puas. “Dekati terus gadis itu, Ward. Dia sangat potensial. Orang-orang yang lagi dalam kondisi susah seperti Rosemary akan mudah sekali di-brainwash untuk bekerja keras di bisnis ini. Apalagi orangnya berpendidikan. Pertanyaan-pertanyaannya kritis sekali waktu kemarin ikut kelasku. Agen-agen baru rekrutan Damian malah tak satu pun yang kusuka. Masih main-main mereka kayaknya. Beda dengan Rosemary. Mentalnya sudah siap. Hanya perlu diasah sedikit. Itu tugasmu sebagai manajernya!”


Edward manggut-manggut mengerti. Begitulah the big boss ini kalau sudah menginginkan sesuatu. Sebisa mungkin harus tercapai, pikir pria itu maklum. Dirinya sampai dipaksa untuk menyusul Rosemary ke kampung halamannya demi mencegah gadis itu mendapat godaan peluang kerja lainnya. Padahal Edward sebenarnya tak mempunyai kepentingan di Balikpapan. Dia tadi terpaksa berbohong pada Rosemary agar gadis itu tidak mencurigai kedatangannya yang tiba-tiba.


Rosemary Laurens…, pikir pria itu kemudian. Kalau aku sampai tak berhasil menjadikanmu agen asuransi yang sukses, aku bakal dimaki the big boss habis-habisan!


***


Keesokkan siangnya Edward muncul di depan rumah kontrakan Martha dengan penampilan yang berbeda. Tidak lagi formal seperti kemarin waktu bertemu Rosemary. Kali ini dia mengenakan kaos polo berwarna biru polos dengan motif garis-garis putih dan hitam di bagian kerah serta lengan. Dari logo yang terpampang pada bagian dada sebelah kiri, Rosemary langsung tahu bahwa kaos yang dikenakan Edward merupakan merek ternama luar negeri.


Harganya bisa jutaan! pikir gadis itu takjub. Pantas potongannya pas sekali melekat di tubuh kekar Om Edward. Jadi tambah keren aja.


Celana panjang berbahan denim warna hitam yang dikenakan laki-laki itu juga kelihatan elegan. Sepatu casual hitam bertali yang dipakainya merupakan model terbaru. Penampilan Edward hari ini kelihatan fresh, eksklusif, dan bergaya muda. Tidak kelihatan sama sekali bahwa pria itu sudah berumur empat puluh tahun!


“Halo, Bu Martha. Apa kabar?” sapa pria itu ramah kepada nyonya rumah.


Martha tersenyum senang. Diterimanya uluran tangan mantan agen asuransinya itu. “Baik, Edward. Wah, kamu tambah keren ya, sekarang. Awet muda dan kelihatan semakin gaul. Hehehe….”