Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Takluk



“Bu Martha bisa saja. Maaf ya, mengganggu datang siang-siang begini. Semoga Ibu tidak sibuk. Lho, ini Olivia, adiknya Rosemary? Sudah besar….”


Gadis yang disebut namanya mengangguk. Dia tersenyum manis. Diulurkannya tangannya pada sang tamu. “Benar, Om. Saya Olivia, adik di bawah Kak Rosemary langsung. Adik bungsu kami, Nelly, masih belum pulang sekolah,” sahutnya lugu.


Olivia ini pembawaannya seperti mamanya, komentar Edward dalam hati. Tipe ibu rumah tangga sejati. Bukan wanita karir seperti kakaknya. Barangkali kalau keluarganya masih kaya, gadis ini tidak berada di rumah siang-siang begini, melainkan menemani mamanya shopping di mal!


“Silakan duduk, Om,” ucap Rosemary sopan. “Silakan diminum. Maaf, cuma ada air mineral.”


“Hehehe…, memang itu yang Om butuhkan, Rose. Air mineral biar sehat. Terima kasih.”


Setelah meminum air mineralnya sedikit, laki-laki tampan yang pandai menempatkan diri itu lalu membuka pembicaraan. “Seperti yang saya katakan kemarin di telepon sama Rosemary, kedatangan saya ke Balikpapan ini untuk mengurus klaim nasabah, Bu Martha. Lalu saya pikir kenapa tidak sekalian mengunjungi Ibu sekeluarga? Mohon maaf, saya tidak sempat bertandang saat Pak Lukman meninggal dunia. Saya terlambat mengetahui musibah itu dari nasabah….”


“Tidak apa-apa, Edward,” kata Martha memaklumi. “Kamu kan tidak berada di kota ini waktu itu. Jadi pasti tidak update berita terbaru. Pertolonganmu pada Rosemary kemarin waktu menjual mobil saja sudah membuat kami semua merasa berterimakasih.”


“Ah, itu bukan apa-apa, Bu Martha,” jawab agen asuransi tersebut sambil tersenyum lebar. “Sudah kewajiban saya membantu anak Ibu. Pak Lukman semasa hidupnya baik sekali orangnya. Beliau mempercayakan perlindungan jiwa dan kesehatan keluarganya pada perusahaan asuransi kami. Saya merasa terhormat mendapat kepercayaan sebesar itu.”


Jawaban diplomatis tamunya membuat Martha tersentuh. Wanita itu semakin yakin bahwa Edward dapat membimbing Rosemary meraih kesuksesan sebagaimana dirinya sendiri. Mereka lalu berbicara ngalor-ngidul tentang kondisi kota Balikpapan saat ini. Sesekali Edward mencetuskan gurauan-gurauan yang membuat ketiga wanita di hadapannya tertawa terbahak-bahak saking lucunya.


Kemudian tibalah laki-laki itu mengutarakan maksudnya untuk mengajak Rosemary bergabung sebagai agen asuransi di dalam timnya.


“Saya sama sekali tidak merasa keberatan, Edward,” cetus Martha cepat. Matanya berbinar-binar. Membuat tamunya merasa menang satu langkah. Calon penghalang utama sudah takluk, batinnya puas. Sekarang tinggal langkah selanjutnya, yaitu meyakinkan Rosemary untuk ikut pergi bersamaku ke Surabaya!


“Terima kasih atas kepercayaan Bu Martha pada Edward,” sahut pria itu sambil tersenyum manis. “Restu dari orang tua akan membuat Rosemary lebih bersemangat menekuni profesi barunya. Benar kan, Rose?”


Gadis yang ditanya mengangguk setuju. Perasaannya sudah plong sekarang. Dia siap melangkah ke tahap berikutnya. “Lalu apa yang harus Rose lakukan selanjutnya, Om? Kalau tidak salah, Bu Teresa bilang Rose harus mengikuti training di kantor perwakilan Surabaya selama 3 hari berturut-turut lalu mendaftar untuk ujian, ya? Kalau lulus, nanti baru bisa resmi menjual asuransi.”


Edward mengangguk menbenarkan. “Yes. Memang itu prosedur awal untuk menjadi agen. Tapi sembari menunggu ujian, kamu bisa mulai mencoba-coba memprospek orang. Nanti bisa ikut kelas Prospek di kantor dan Om bimbing lagi secara pribadi. Jangan takut ditolak. Itu sudah biasa. Yang penting kamu rutin bercerita tentang pentingnya perlindungan jiwa, aset, dan kesehatan pada orang lain. Dan konsisten berkonsultasi pada Om. Lama-lama kamu akan mendapatkan ritme kerja yang sesuai dengan dirimu.”


“Baiklah kalau begitu. Lalu kapan saya bisa mulai, Om?” tanya gadis itu antusias.


“Rose tinggal di sana lagi saja, Om. Supaya bisa memprospek teman-teman dan ibu kos. Bukankah katanya lebih mudah menjual asuransi pada orang-orang yang sudah dikenal, Om? Karena lebih dipercaya. Tapi Rose juga mau mencoba memprospek orang-orang tak dikenal, sih. Nanti Om ajari caranya, ya.”


“Beres, Rose. No problem.”


Martha belum-belum sudah merasa kehilangan putri sulungnya. “Ward, bagaimana kalau beberapa hari lagi Rose baru berangkat ke Surabaya? Dia kan baru sembuh dari sakit parah akibat kecelakaan. Saya dan adik-adiknya masih belum puas bercengkerama dengannya. Kali ini dia akan menetap di Surabaya lama sekali, kan? Seperti waktu kuliah dan bekerja dulu.”


Edward mengangguk. Aku sudah menang. Tak ada salahnya mengalah sedikit demi menyenangkan hati mamanya Rosemary ini, putusnya dalam hati. Supaya hatinya tak diliputi keraguan mempercayakan putrinya tercinta padaku.


“Tidak masalah, Bu Martha,” jawab laki-laki itu semanis madu. “Saya mengerti tak mudah melepaskan anak perempuan merantau seorang diri ke tempat yang jauh. Bagaimana kalau tiga hari lagi saja saya bersama Rosemary berangkat ke Surabaya?”


Martha terkejut. “Lho, kamu mau menunggu Rose tiga hari lagi, Ward? Maksud saya, kalau kamu memang sudah tidak ada kepentingan di kota ini, tidak apa-apa balik duluan ke Surabaya. Nanti biar Rose menyusul sendiri ke sana.”


Aku bisa dimaki-maki sama big boss kalau kembali tanpa hasil, batin pria itu sinis. Wanita itu mengultimatum diriku agar pulang ke Surabaya dengan membawa Rosemary, gadis yang menurut penerawangannya bermasa depan cerah di bisnis asuransi!


Sambil mengeluarkan jurus ampuhnya, yaitu senyuman ceria nan mempesona, Edward berkata, “Saya bisa memanfaatkan waktu di Balikpapan ini dengan mengunjungi nasabah-nasabah lama untuk bersilaturahmi. Siapa tahu mereka tergerak untuk mereferensikan calon-calon nasabah baru pada saya. Jadi nggak masalah, Bu. Puas-puaskan saja waktu tiga hari ini untuk kangen-kangenan sama Rosemary. Setelah itu, kami berdua akan berangkat ke Surabaya demi menjemput impian Rose meraih masa depan yang lebih baik.”


Rosemary mengangguk mantap. “Baiklah, Om. Tiga hari lagi saya akan ikut Om Edward ke Surabaya. Saya pesankan tiket sekarang, ya. Mau naik pesawat jam berapa?”


“Eh, sabar dulu, Non,” sela si agen asuransi. “Biar Om yang pesan tiket buat kita berdua nanti.”


“Oh, kalau begitu Rose nanti transfer uangnya ke rekening Om, ya. Berapa nomor rekening Om Edward?” tanya gadis itu buru-buru.


Lawan bicaranya geleng-geleng kepala. Dia senang dengan antusiasme gadis itu. Pantas big boss menyukainya, pikir Edward maklum. Rosemary kalau sudah memutuskan sesuatu, semangatnya besar sekali!


“Untuk saat ini, biar Om yang membelikan tiket pesawat untukmu,” cetusnya kemudian. “Nanti kalau kamu sudah memperoleh penghasilan yang lumayan sebagai agen, jangan lupa traktir Om makan enak, ya.”


Rosemary termangu. Hatinya merasa tak enak menerima kebaikan laki-laki ini terus-menerus. Ditatapnya sang ibu memohon petunjuk. Saat dilihatnya Martha menganggukkan kepalanya, gadis itu tak berkutik lagi. Dia akhirnya mengucapkan terima kasih pada Edward.