Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Menjadi Kekasih



Rosemary adalah gadis perawan kedua yang pernah ditidurinya. Yang pertama adalah Dina, istrinya. Selanjutnya yang pernah bercinta dengannya adalah perempuan-perempuan yang memang membuka dirinya untuk bersenang-senang tanpa ikatan apapun.


Diciuminya rambut harum gadis itu. Rosemary yang berbaring membelakanginya menjauh. Edward tersentak. Gadis itu bangkit berdiri dengan tubuh terbalut selimut. Dia mengambil pakaiannya yang tercecer di lantai lalu melangkah menuju ke kamar mandi.


Edward terkekeh geli. Dasar gadis ingusan! umpatnya dalam hati. Tadi saja belingsatan nggak karuan bercinta denganku. Sekarang berlagak dingin. Langsung menghindar begitu hendak kusentuh. Hahaha….


Sementara itu di dalam kamar mandi Rosemary melepas selimutnya. Dipandanginya tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun di depan cermin. Air mata menitik membasahi pipinya yang halus. Semakin lama semakin deras. Dia menangis sesenggukan. Kehormatannya sebagai seorang wanita musnah sudah.


Apa kata Mama kalau tahu aku bersetubuh dengan Bang Edward, manajerku sendiri! Pria yang masih terikat perkawinan dengan perempuan lain! jerit gadis itu dalam hati. Aku sudah kotor. Hina dina. Mengerikan sekali!


Tangisannya yang semakin keras rupanya terdengar oleh Edward. Pria itu jadi merasa cemas. Gawat kalau dia sampai menceritakan hal ini pada orang lain! pikirnya. Reputasiku sebagai manajer bisa hancur. Karena yang kurenggut kehormatannya adalah anak buahku sendiri. Masih perawan pula!


Diketuknya pintu kamar mandi. “Rose, kamu tidak apa-apa?” tanyanya panik. Diputarnya handle pintu. Lalu dia mendesah kecewa. Rupanya pintu itu dikunci dari dalam.


“Rose, kamu menangis, ya? Jangan kuatir, Sayang. Aku takkan meninggalkanmu. Aku mencintaimu, Rose.”


Suara tangisan itu tak terdengar lagi. Berganti dengan suara air shower yang mengucur deras. Edward menghela napas panjang. Barangkali dia ingin menenangkan perasaannya dulu, batinnya mengira-ngira. Ya sudahlah. Yang penting Rosemary tidak apa-apa. Akan kutunggu dia sampai keluar dari dalam kamar mandi. Akan kuhibur dia supaya tidak bersedih lagi. Akan kuyakinkan dia bahwa aku takkan meninggalkannya….


Pria don juan itu tersenyum licik. Ya, tentu saja takkan kutinggalkan gadis semanis Rosemary Laurens, batinnya lagi. Sampai…aku jenuh dan menemukan gadis lain yang lebih menarik. Hahaha….


Sementara itu di bawah guyuran air shower, Rosemary duduk memeluk kedua kakinya di lantai sambil menangis tersedu-sedu….


***


Hampir satu jam kemudian, Rosemary keluar dari kamar mandi dengan mata sembab akibat kebanyakan menangis. Dilihatnya kamar itu sudah bersih dari kaleng bir dan sisa-sisa makanan. Edward langsung mendekati gadis itu. Dia sudah memakai kaos oblong dan celana santainya.


“Kamu tidak apa-apa, Rose?” tanyanya prihatin. Dilihatnya gadis itu sudah rapi dan segar karena habis mandi keramas. Rambutnya sudah dikeringkan dengan hair dryer dan tertata rapi. Penampilan Rosemary seperti sudah siap berangkat kerja. Hanya kurang polesan bedak dan lipstick untuk mempercantik wajahnya.


“Aku mau pulang, Bang,” jawab gadis itu tegas.


“Biar kuantar,” ujar lawan bicaranya menawarkan diri.


“Nggak usah. Sudah hampir jam sebelas malam. Kamu istirahat saja.”


“Kamu marah padaku, Rose?”


Gadis itu menggeleng. “Aku cuma nggak mau petugas sekuriti di kos bertanya-tanya kalau melihatku diantar pulang olehmu malam-malam,” jawabnya datar.


Edward berkelit, “Tapi aku tak tega melihatmu pulang sendirian malam-malam begini. Bahaya, Sayang.”


Dia mulai terbiasa memanggilku dengan sebutan Sayang, batin Rosemary perih. Akupun menyayangimu, Bang. Tapi….


Rosemary berpikir sejenak. Lalu dia mendesah. Ditatapnya manajernya sungguh-sungguh.


“Bang…,” ucapnya lirih. “Benarkah Abang sudah tak mungkin rujuk kembali dengan Mbak Dina?”


Pria yang ditanya mengangguk mantap. Gadis itu menghela napas lega. Dia memberanikan diri untuk bertanya, “Lalu…bagaimana dengan kita berdua, Bang? Apakah aku boleh berharap lebih?”


Kena kau! batin Edward kegirangan. Disentuhnya pipi mulus di depannya. Dilancarkannya rayuan mautnya, “Kamu kekasihku, Rosemary Sayang. Satu-satunya wanita yang menempati posisi istimewa dalam hatiku saat ini. Dina sudah menjadi masa lalu bagiku. Percayalah padaku.”


Direngkuhnya gadis naif itu dalam pelukannya. Dibelai-belainya rambut halus hitam legam itu. “Tahukah kamu, Rose? Semangat hidupku bangkit kembali begitu tahu ada orang yang mencintaiku setulus dirimu. Aku dapat merasakannya saat kita bercinta tadi. Kamu benar-benar menyerahkan dirimu seutuhnya padaku. Terima kasih, Sayang. Aku takkan menyia-nyiakan dirimu. Mulai saat ini, kita akan bersama. Kamu milikku, demikian pula diriku. Menjadi milikmu seutuhnya….”


Kalimat-kalimat manis Edward benar-benar meruntuhkan hati Rosemary. Tanpa sadar gadis itu berkata, “I love you, Bang Edward. Please…. Jangan tinggalkan aku, ya.”


Tanpa diketahuinya, pria itu menyeringai sinis. “I love you too, Rosemary Laurens. Aku takkan pernah meninggalkanmu…,” ucapnya begitu manis bagai madu. Dieratkannya pelukannya pada gadis polos itu.


Selama dirimu masih dapat memberikan kesenangan padaku, takkan mungkin kusia-siakan dirimu, Sayang, tambah pria hidung belang itu dalam hati.


Si gadis lugu mengangguk-angguk penuh keharuan. Terima kasih, Tuhan, batinnya penuh rasa syukur. Akhirnya Kau kirimkan pengganti Papa dan Owen dalam hidupku. Semoga hubunganku dengan Bang Edward bisa langgeng sampai ke jenjang perkawinan. Amin.


Rosemary tidak tahu bahwa ponselnya mati sejak tadi akibat kehabisan baterai. Ibunya di Balikpapan berusaha menghubunginya tetapi selalu gagal. Wanita itu tiba-tiba merasakan sebuah firasat yang tidak enak mengenai putri sulungnya.


“Ya, Tuhan. Kumohon lindungilah Rosemary dari marabahaya,” doa Martha cemas. “Seharusnya dia memberitahuku tentang lulus tidaknya ujian lisensi keagenan. Tapi mengapa ponselnya justru tidak bisa dihubungi? Apa yang sedang terjadi pada anakku ya, Tuhan?


Ibu tiga anak itu tidak tahu bahwa putri sulung yang kini menjadi tulang punggung keluarga itu terperosok semakin dalam pada jurang yang akan disesalinya seumur hidup.


***


Malam itu Rosemary menginap di kamar hotel. Dia tidur berdampingan dengan Edward tapi sudah tak bersentuhan lagi. Manajer yang kini menjadi kekasihnya itu menghargai keinginannya untuk tidur agak berjauhan.


Gadis itu bangun pagi-pagi sekali. Ia meninggalkan sang kekasih dalam keadaan masih tidur pulas. Dengan perasaan takut Rosemary keluar dari dalam kamar. Dia berjalan cepat menuju lift. Gadis itu berdoa semoga tak bertemu dengan orang yang mengenal dirinya.


Doa Rosemary terkabul. Dia keluar meninggalkan hotel naik taksi tanpa dikenali siapapun.


Sesampainya di kos, gadis itu langsung mandi. Dia mau bersiap-siap pergi ke kantor kliennya. Dipelajarinya sejenak ilustrasi-ilustrasi hasil diskusinya kemarin dengan Edward.


“Semoga closing ya, Tuhan. Amin,” doa gadis itu berserah. Selanjutnya Rosemary membuat tanda salib di dada yang semakin menguatkan hatinya.


Dengan langkah mantap, sang agen asuransi keluar meninggalkan kamarnya. Beberapa saat kemudian dia sudah meluncur dengan sepeda motornya menuju ke kantor klien yang akan diprospeknya hari itu.


***