Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Memberitahu Big Boss



Laki-laki di hadapannya bertepuk tangan. “Hebat sekali, Rosemary Laurens. Baru dua minggu melakukan pelayanan, tapi pengetahuannya tentang ABK sudah begitu mendalam,” pujinya.


Rosemary langsung menanggapi, “Itu belum seberapa, Dam. Kamu belum pernah mendengar tentang usus berpori atau bocor….”


“Sudah, sudah,” sela Damian sambil menutup kedua telinganya. “Stop bicara hal-hal yang mengerikan tentang ABK. Kamu ajak aja aku langsung ke sana.”


“Ok. Nanti kukabari ya bisanya kapan. Aku mesti bikin janji dulu sama Chris….”


“Chris? Si dokter internis itu maksudmu?”


“He-eh.”


“Kenapa mesti nunggu dia? Kamu aja kan udah cukup buat nemenin aku.”


“Yaaa…supaya kamu bisa sekalian kenalan sama dia. Orangnya baik, kok. Enak diajak ngobrol.”


“Ya kuprospek asuransi aja kalau gitu. Siapa tahu nembus. Bisa buka polis dengan premi gede. Dokter spesialis gitu. lho! Hahaha….”


Rosemary menatap Damian sewot. “Chris itu orang baik, Dam. Dia termasuk donatur tetap panti. Jangan sampai karena kamu manipulasi dia supaya ambil premi gede terus suatu saat dia kewalahan bayar asuransi sehingga mengurangi donasinya pada panti,” katanya memperingatkan.


Damian geleng-geleng kepala mendengar teguran wanita itu. Sepertinya Rosemary sudah tak bisa dipisahkan dari panti asuhan itu. Aku jadi penasaran. Seperti apa sih, tempat yang berhasil menyentuh hatinya itu? batinnya penasaran.


Sementara itu Rosemary mulai membereskan barang-barangnya. Damian menatapnya heran. “Mau kemana, Rose? Kok beres-beres?”


“Aku mau naik ke atas untuk menemui Bu Teresa. Mau mengajukan surat pengunduran diri.”


“Hah?! Cepat banget.”


“Yah, kamu kan tahu, Dam. Aku paling nggak suka menunda-nunda pekerjaan. Apalagi proses mengundurkan diri sebagai agen itu butuh waktu. Kasih suratnya ke bos sekarang. Terus kalau udah ok, masih harus kirim surat lagi ke kantor pusat Jakarta. Buat mengalihkan semua nasabahku ke kamu. Total butuh waktu sekitar dua bulan untuk prosesnya. Bukankah begitu?”


Damian mengangguk mengiyakan. “Kudoakan semoga kamu bisa berbicara dengan lancar di hadapan big boss. Semoga dia nggak akan mencecarmu dengan berbagai pertanyaan.”


“Masa, sih? Memangnya semua orang yang mengundurkan diri diperlakukan begitu olehnya?”


“Tergantung,” jawab Damian sambil nyengir. “Kalau alasan pengunduran dirinya  masuk akal, seperti pindah ke kantor asuransi lain dengan tawaran yang lebih baik atau buka kantor sendiri, atau alasan lainnya yang mentereng, kujamin seribu persen nggak akan ditanyai macam-macam. Tapi kalau malah downgrade jadi pekerja sosial yang tidak dibayar di sebuah panti asuhan anak-anak berkebutuhan khusus…well…siap-siap saja kamu diinterogasi berjam-jam di dalam ruangan big boss!”


“Akan kuambil risiko itu. Asalkan aku bisa segera menapaki kehidupan baruku dengan tenang,” ujarnya penuh keyakinan.


Damian terkekeh. “Rosemary…Rosemary, kamu dari dulu nggak pernah berubah. Selalu teguh kalau sudah punya kemauan. Good luck, Girl.”


“Thanks a lot, Bro,” jawab wanita itu mantap. Sekarang waktunya aku melangkah ke tahap selanjutnya, batinnya penuh percaya diri. Mengucapkan selamat tinggal pada big boss!


***


Ruangan kerja orang nomor satu di kantor asuransi itu tampak lengang. Kedua wanita yang duduk berhadapan di dalam ruangan tersebut tampak berdiam diri. Mereka saling bertatapan, namun dengan makna yang berbeda.


Rosemary dengan sorot matanya yang berbinar-binar dan penuh percaya diri seolah-olah hendak menegaskan keputusannya untuk mengundurkan diri sudah final. Surat pengunduran dirinya sudah diletakkannya di atas meja. Tepat di hadapan big boss. Namun atasannya itu tak juga menyentuhnya. Seakan-akan takut tangannya akan tercemar bila bersentuhan dengan surat yang merupakan akhir dari perjalanan Rosemary Laurens di kantor miliknya.


Terdengar suara Rosemary berdeham pelan untuk mencairkan suasana yang diliputi ketegangan. “Saya berterima kasih atas bimbingan Bu Teresa selama ini. Tak terasa sudah hampir sepuluh tahun saya berkecimpung dalam bisnis asuransi. Banyak hal yang saya dapatkan dari profesi ini. Peningkatan wawasan, pengetahuan, kesejahteraan hidup….”


“Sudahkah kau pikirkan baik-baik keputusanmu ini, Rosemary?” sela Teresa memotong ucapan-ucapan anak buahnya itu. “Tidakkah kamu merasa sayang meninggalkan semua jerih payahmu selama bertahun-tahun? Aku tahu perjuanganmu di bisnis ini dimulai dari nol. Dengan susah payah sekali. Dan sekarang setelah impianmu tercapai, akan kamu tinggalkan semuanya demi bekerja sosial di sebuah panti asuhan secara sukarela?”


Damian benar, keluh Rosemary dalam hati. Big boss sudah mulai menginterogasiku. Kalau tidak kuhentikan, aku bisa ditahan di dalam ruangannya ini selama berjam-jam!


Wanita itu mengambil keputusan untuk menunjukkan sikap tegas agar semuanya segera selesai. “Betul, Bu Teresa. Impian saya untuk membuat keluarga hidup sejahtera sudah tercapai. Jadi kini saya mempunyai impian lain demi hidup saya sendiri.”


“Apa itu?” tanya sang atasan ingin tahu. Sorot matanya begitu serius menatap anak buahnya tersebut.


Rosemary mendesah. Dia lalu berkata dengan jujur, “Selama ini saya menolerir apapun yang terjadi di sekeliling saya demi melancarkan tujuan saya menjadi agen terbaik. Karena gelar itu menandakan peningkatan income yang luar biasa sehingga berdampak positif terhadap kesejahteraan keluarga saya. Tapi ternyata setelah prestasi, materi, dan reputasi baik berhasil saya capai, jiwa ini terasa kosong. Akhirnya saya menyadari bahwa semua yang saya lakukan selama ini bukan keluar dari hati nurani saya sendiri. Melainkan terpaksa demi kebahagiaan orang lain, yaitu keluarga saya. Oleh karena itulah, sekarang saya merasa sudah waktunya fokus pada kebahagiaan diri sendiri. Hal itu saya dapatkan ketika sedang bersama-sama dengan para anak kebutuhan khusus di panti asuhan yang saya ceritakan tadi. Kejujuran dan kemurnian sikap anak-anak itu begitu menyentuh hati. Saya jadi bebas berekspresi tanpa perlu mempersoalkan penilaian orang lain terhadap saya. Diri saya dihargai seutuhnya sebagai seorang manusia. Bukan karena prestasi dan reputasi yang saya miliki….”


Teresa menghela napas panjang. Wanita separuh baya berpenampilan tomboy itu lalu berkata, “Beruntunglah kamu yang sudah menemukan jalan menuju kebahagiaan sejati, Rosemary. Tak disangka kamu menemukannya lebih cepat dariku.”


Anak buahnya terkejut mendengar pernyataan wanita yang pernah sangat dikaguminya itu. “Mohon maaf. Saya tidak mengerti maksud Bu Teresa. Apa yang saya temukan lebih cepat dari Ibu?” tanyanya penasaran.


“Jalan menuju kebahagiaan sejati,” kata Teresa mengulangi ucapannya tadi. “Tahukah kamu, Rose. Dulu kupikir kamu yang akan menggantikanku memimpin kantor ini begitu aku terpanggil melakukan hal lain. Tak dinyana malah kamu yang keluar duluan dan aku bertahan di kantor ini karena tak tahu apa yang akan kulakukan bila kutinggalkan pekerjaanku.”


Dahi Rosemary berkerut. Dia berusaha mencerna kata-kata bosnya itu. Bertahan di kantor ini karena tak tahu apa yang akan dilakukan bila meninggalkan pekerjaannya? pikirnya penuh tanda tanya.


“Seperti yang kamu tahu, aku ini seorang janda cerai yang tidak mempunyai anak. Aku tinggal berdua dengan mamaku. Beliaulah motivasi hidupku. Seandainya Mama dipanggil pulang oleh Sang Pencipta, aku pasti sedih sekali. Kantor inilah yang menguatkanku untuk tetap melanjutkan kehidupan. Kamu tidak tahu betapa aku pun sebenarnya sudah jenuh sekali dengan semua intrik di bisnis asuransi. Tapi apa lagi yang bisa kulakukan? Sudah terlalu lama aku berkecimpung dalam bisnis ini sehingga tak berani melangkah keluar meninggalkannya….”