Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Rekomendasi Dokter Mirna



Selesai berdoa di gua Maria, Rosemary beranjak menuju ke pintu samping gereja. Didorongnya handle pintu berwarna coklat tua di depannya hingga terbuka. Ketika dia masuk ke dalam ruangan tempat ibadah yang terang benderang oleh pencahayaan warna kuning itu, Rosemary menghembuskan napas lega. Dirinya merasa takjub dengan pemandangan di hadapannya.


Altar gereja yang megah seolah menyapa kehadirannya. Di bagian atas altar itu terdapat patung salib Tuhan Yesus. Posisi Isa Almasih yang tampak menderita disalib itu membuat hati Rosemary  terenyuh.


Tuhanku yang tidak berdosa saja bersedia menderita tanpa mengeluh, batinnya terharu. Sedangkan aku yang sudah berkali-kali melakukan kesalahan masih saja berani berkeluh-kesah. Ampuni aku, Tuhan. Ampuni aku….


Disentuhkannya jari telunjuknya pada air suci yang terletak di dinding ruangan. Dibuatnya tanda salib pada dahi dan dadanya dengan air tersebut. Selanjutnya ia berjalan perlahan-lahan menuju ke bangku paling depan yang terletak tepat di hadapan altar. Wanita itu membungkuk dan membuat tanda salib di hadapan patung salib Tuhan Yesus. Kemudian dirinya mengambil posisi berlutut di atas bantalan pada bagian tengah bangku.


Air matanya mengalir deras. “Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin,” ucapnya lirih. “Ya Tuhan, aku kembali datang ke hadiratMu. Setelah bertahun-tahun aku tak berani hadir di rumahMu ini. Aku merasa diriku begitu hina dan tak layak datang menghadapMu lagi. Tapi ternyata Engkau tidak membiarkan Rosemary Laurens ini melangkah terlalu jauh meninggalkan diriMu. Terima kasih Kau telah membiarkan lidahku terasa pahit, perutku mual, dan kerongkonganku merasakan panas yang tak terhingga….”


Demikianlah di hadapan Sang Penciptanya, Rosemary mencurahkan segenap isi hatinya. Penyesalannya, pertobatannya, rasa syukurnya, serta permohonannya akan hikmat agar dia dapat menentukan langkah ke depan yang sesuai kehendakNya.


***


Keesokan harinya, Rosemary muncul kembali di tempat praktik Dokter Mirna. Ekspresi    wajahnya segar sekali. Senyuman kebahagiaan kerap tersungging di bibirnya. Sorot matanya berseri-seri. Seakan-akan semua beban dalam hatinya menghilang tanpa bekas.


“Kemarin malam saya sudah membuka diri sepenuhnya di hadapan Tuhan. Rasanya lega sekali. Saya seperti mulai dapat berdamai dengan kesalahan-kesalahan di masa lalu. Sekarang saya mengerti. Apa yang sudah terjadi dulu jangan sampai menghantui kehidupan kita di masa ini dan masa depan. Kesalahan di masa lalu biarlah menjadi pelajaran agar tak terulang lagi di masa yang akan depan. Terima kasih banyak, Dokter Mirna. Hati saya sekarang jauh lebih lapang.”


Sang dokter tersenyum. “Lalu bagaimana dengan kondisi lidah, perut, dan kerongkonganmu sekarang, Rosemary. Apakah ada perkembangan?” tanyanya lembut.


Pasiennya menggeleng pelan. Namun raut wajahnya tidak tampak bersedih. “Masih tetap rasanya, Dokter. Tapi saya sudah tidak mempersoalkannya lagi. Saya datang kemari selain untuk menceritakan perasaan saya saat ini, juga untuk meminta tolong pada Dokter,” katanya dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya.


Psikiater di hadapannya manggut-manggut. Ia lalu bertanya, “Ada hal apa lagi yang bisa saya bantu, Rosemary?”


“Tiba-tiba tadi malam terbersit dalam benak saya untuk melakukan kegiatan sosial secara rutin, Dok. Bukan sekadar menyumbang materi, tapi juga tenaga. Barangkali Dokter Mirna tahu tempat mana yang sesuai untuk saya bantu. Biasanya psikiater kan punya rekomendasi tentang yayasan-yayasan sosial yang membutuhkan uluran tangan donatur.”


Pasiennya menjelaskan, “Kemarin malam saya berdoa agar diberikan hikmat tentang langkah apa yang harus saya lakukan ke depannya. Yah, sesuai masukan dari Dokter Mirna. Lalu entah kenapa sebelum tidur, tiba-tiba saya terpikir untuk melakukan hal-hal yang berbeda dengan yang saya kerjakan selama ini. Hal-hal yang membuat saya bersemangat melakukannya tapi bukan karena mengejar materi. Melainkan demi membantu orang lain. Dan satu-satunya yang terpikirkan adalah kegiatan sosial. Cuma sayangnya saya tidak punya link….”


Psikiaternya manggut-manggut mengerti. “Jadi kamu memutuskan untuk mencoba menjalankan kegiatan sosial? Lalu bagaimana dengan profesimu sebagai agen asuransi?” tanyanya hati-hati.


“Cepat-lambat profesi itu akan saya tinggalkan, Dok,” jawab pasiennya mantap. “Hati saya sudah tidak berada di sana lagi. Tujuan saya sudah tercapai. Hidup keluarga saya sekarang sudah terjamin secara finansial. Rumah sudah ada. Mobil dan tabungan juga. Kali ini saya ingn melakukan kegiatan yang menenteramkan hati.”


“Lalu bagaimana kalau hatimu sudah tenteram, Rosemary? Apakah kegiatan sosial itu akan kamu tinggalkan juga dan berganti dengan kegiatan lainnya?” cecar Dokter Mirna. Dia menatap pasiennya dengan serius.


“Terus terang saya belum tahu, Dokter,” aku wanita itu apa adanya. “Tapi saya merasa itulah jawaban Tuhan waktu saya memohon hikmat kemarin. Dan ingin segera saya laksanakan tanpa pikir panjang. Karena saya mau bersikap taat padaNya. Saya percaya Tuhan akan membimbing perlahan-lahan seiring dengan berjalannya waktu. Yang perlu saya lakukan saat ini adalah berani mengambil langkah pertama, yaitu melakukan kegiatan sosial….”


Keteguhan hati Rosemary membuat psikiaternya tak mampu menyanggah lagi. Dia menghembuskan napas panjang dan mengangguk berulang-kali.


“Baiklah, Rosemary. Kalau itu yang memang kamu inginkan, akan saya bantu. Saya mempunyai seorang adik perempuan bernama Farida. Dia mempunyai sebuah panti asuhan anak-anak berkebutuhan khusus atau disingkat ABK. Yang dimaksud di sini adalah anak-anak yang mengalami gangguan bawaan sejak lahir. Seperti down-syndromme, autis, cerebral palsy, dan lain sebagainya. Adik saya itu dulunya seorang terapis ABK. Kemudian dia menikah dengan orang kaya tapi tidak dikaruniai anak. Ketika suaminya meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat terbang, adik saya menjual seluruh kekayaan almarhum dan mendirikan sebuah panti asuhan yang merawat ABK. Anak-anak itu diasuh, diberi pelatihan dan pendidikan agar kelak mampu hidup mandiri. Barangkali kamu mau datang ke sana untuk melihat-lihat, Rosemary. Akan saya berikan nomor WA adik saya agar kamu bisa membuat janji bertemu dengannya. Sebelumnya tentu saja akan saya beritahu dia dulu tentang dirimu. Tapi percayalah, saya hanya akan bilang bahwa kamu adalah pasien saya. Dia juga tahu diri. Takkan bertanya apa-apa padamu.”


Penuturan panjang lebar Dokter Mirna membuat hati Rosemary semakin yakin bahwa inilah jalan yang dikehendaki Tuhan baginya. Tanpa berpikir panjang, wanita itu setuju.


“Terima kasih banyak, Dokter. Akan segera saya hubungi adik dokter begitu saya mendapatkan nomor WA-nya. Saya sudah tidak sabar sekali ingin seger mengunjungi panti asuhan itu,” ujarnya penuh semangat.


Psikiaternya terkekeh. “Just calm down, Rosemary. Ini baru permulaan. Barangkali kamu akan kaget melihat keadaan di sana dan malah tak berminat meneruskan niatmu. Tidak apa-apa. Saya masih ada rekomendasi panti asuhan lain yang mungkin lebih sesuai dengan kriteriamu.”


“Saya tidak punya kriteria, Dokter,” cetus kliennya tegas. “Saya sudah berjanji akan menaati jalan yang dibukakan Tuhan sebagai bentuk pertobatan saya. Jadi akan saya patuhi dan jalankan dengan setulus hati….”


***