
Rosemary berusaha mencerna baik-baik perkataan pria yang usianya lima belas tahun lebih tua darinya itu. Jadi tugasku sekarang adalah menabur, pikir gadis itu kemudian. Memberikan edukasi tentang pentingnya asuransi pada sebanyak mungkin orang yang kutemui. Kedengarannya sederhana. Tapi waktu dilaksanakan, aduh. Benar-benar latihan mental yang berat!
“Bang…,” ucap gadis itu lirih. Sepasang mata beningnya menatap Edward ragu-ragu.
“Bagaimana kalau setelah menabur sekian lama, aku masih belum berhasil mendapatkan nasabah?”
Lagu lama, komentar laki-laki itu sinis dalam hati. Pertanyaan yang sudah basi saking seringnya diucapkan agen-agen baru!
Namun dia menutupi perasaannya itu dengan berkata lembut pada Rosemary, “Kamu harus menetapkan target. Selama tiga hari ini kamu sudah memprospek berapa orang?”
“Ya lima orang sehari. Sesuai petunjuk Bang Edward, kan?”
“Bagus. Kalau begitu mulai besok targetmu ditingkatkan lagi menjadi delapan orang per hari!”
“What?! Yang benar aja, Bang! Mana mungkin?” pekik Rosemary histeris.
“Why not? Apa masalahnya?” balas laki-laki itu sambil mengerutkan dahi. “Kan cuma menambah tiga orang lagi per hari untuk mendengarkanmu presentasi.”
“Ya ampun, Bang!” seru gadis itu panik. Dia kelihatan begitu risau. Membuat sang manajer geregetan melihat ekpresi wajahnya. “Bikin lima orang itu mau konsentrasi mendengarkanku presentasi saja sulitnya nggak ketulungan. Apalagi sekarang targetnya ditambah jadi delapan orang! Nggak masuk akal. Yang kutemui tiap hari itu sebenarnya lebih dari lima orang lho, Bang. Itu kan cuma dihitung yang mau mendengarkanku saja. Sisanya banyak yang menghindar, menolak dengan halus maupun kasar!”
“Jangan buru-buru sewot begitu, dong,” cetus Edward sembari menyentuh dagu gadis itu. “Kamu jadi berkurang cantiknya.”
Rosemary melongo. Oh, my God! Aku kok jadi gemetaran gini ya, keluhnya dalam hati. Bang Edward juga semakin berani menyentuhku. Tapi aku suka….
Hati laki-laki itu merasa puas menyaksikan agen barunya itu mati kutu diperlakukan demikian. Selanjutnya dilepaskannya dagu mungil nan mempesona itu. Tahan dulu, Bro, batinnya menenangkan diri. Tarik-ulur saja supaya gadis ini penasaran denganmu. Kamu harus bisa mengatur ritme yang baik antara aktivitas tebar pesona dan membangkitkan semangat Rosemary untuk bekerja terus pantang mundur!
Edward lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya yang bidang. Ditatapnya gadis di depannya dengan serius. Hati Rosemary bagaikan roller coaster dipandang sedemikian rupa. Tegang, penasaran, dan…bersukacita.
“Kamu kan sudah merasakan cara memprospek orang dengan metode presentasi pakai kertas dan alat tulis. Iya, kan?” tanya laki-laki itu kemudian.
Gadis di hadapannya mengangguk. Lidahnya terasa kelu. Tak sanggup berkata-kata. Perasaannya saja yang berbicara bahwa dia semakin menyukai manajernya ini.
“Nah, sekarang akan kuajari kamu cara memprospek orang dengan metode bercerita. Jadi kertas dan alat tulismu disimpan saja dulu. Keluarkan kalau memang orang itu kelihatan tertarik dan minta dijelaskan lebih lanjut.”
Gadis itu manggut-manggut. Dia lalu berkonsentrasi mendengarkan penjelasan atasannya. Edward benar-benar seorang pemimpin yang baik. Dirinya mampu memaparkan dengan detil cara-cara yang halus dan tak kentara untuk membuka percakapan dengan orang lain lalu menggiringnya ke topik asuransi.
“Camkan satu hal ini, Rose. Jangan sebut-sebut istilah asuransi sampai orang itu sendiri yang mengucapkannya. Jadi kamu ganti saja dengan kata-kata perlindungan, proteksi, atau arisan. Untuk mempermudah cara pendekatan ke klien aja. Supaya dia nggak membentengi dirinya duluan.”
“Nah, sudah paham kan, sekarang? Cara pendekatan yang halus, seperti sedang mengobrol biasa?” tanya laki-laki itu sambil tersenyum.
Hati agennya meleleh seketika. Aduh, senyuman Bang Edward kenapa semakin mempesona, ya? keluhnya dalam hati. Sadar, Rose. Sadar! Orang ini atasanmu. Sudah beristri pula. Masa kamu mau menjadikan dirimu pelakor? Lantas, apa bedanya dirimu dengan perempuan simpanan Papa yang telah menjerumuskan keluarga kalian dalam kebangkrutan?!
“Apa yang kaupikirkan, Rose?”
Pertanyaan sang manajer membuyarkan gadis naif itu dari lamunannya. Ditatapnya Edward putus asa.
Pria tampan itu terkekeh. “Tenang saja, Anak Manis. Apa yang kamu alami di lapangan itu bukanlah hal baru bagi agen yunior. Bahkan agen yang sudah berpengalaman pun masih bisa mengalami hal yang sama. Dihindari dan ditolak klien itu hal biasa. Makanan sehari-hari. Tapi….”
Edward menghentikan kalimatnya. Tangan kokohnya kembali maju dan mengelus-elus punggung tangan Rosemary di atas meja. Perasaan gadis itu kacau balau tak karuan. Antara merasa senang mendapat perlakuan selembut itu, sekaligus merasa tak enak karena orang yang menyentuh tangannya adalah suami perempuan lain.
“Tapi apa, Bang?” tanya gadis itu tak sabar. Ia ingin segera pergi dari tempat itu. Agar perasaannya pada manajernya itu tidak ketahuan. Agar dia tidak semakin terpukau dengan pesona pria yang telah menolongnya itu. Agar….
“Tapi kelak saat kamu telah berhasil menduduki posisi yang tinggi seperti aku, atau bahkan posisi puncak seperti Bu Teresa, dirimu akan tertawa setiap kali mengingat kesusahan yang kauhadapi saat ini. Percayalah, itu akan terjadi. Karena aku yakin kamu akan menjadi agen yang sukses, Rosemary Laurens!”
Gadis itu merinding mendengar perkataan manajernya barusan. Benarkah demikian? pikirnya tak percaya. Aku kelak akan membanggakan keluargaku dengan menjadi agen asuransi yang berhasil dan punya banyak uang?
“Kamu akan mengangkat harkat dan martabat keluargamu yang sekarang terpuruk menjadi keluarga Laurens yang dihormati kembali seperti dulu. Bahkan lebih! Dan seperti janjiku padamu tempo hari, aku takkan pernah meninggalkan dirimu. Akan terus kupantau gerak-langkahmu sampai kamu berhasil meraih cita-citamu.”
Gadis itu merasa terharu. Matanya berkaca-kaca. “Terima kasih banyak atas support-nya, Bang,” ucapnya tulus. “Aku berjanji takkan mengecewakan Bang Edward yang sudah banyak membantuku selama ini. Aku…aku sungguh belum pernah menemukan pimpinan sebaik Abang….”
Air mata Rosemary merebak seketika. Buru-buru dihapusnya dengan tisu yang tersedia di meja. Dia jadi malu sekali bersikap cengeng seperti itu. Edward menatapnya dengan sorot mata penuh penyesalan.
“Maafkan aku sudah mengungkit-ungkit soal keluargamu, ya. Tak kusangka dirimu akan sedih hingga menangis seperti ini. I’m so sorry, Rose,” ucap pria itu semanis madu.
Agennya menggeleng pelan. “Bang Edward nggak bersalah. Justru itulah yang harus menjadi cambuk bagiku agar tidak mudah putus asa. Baiklah. Mulai sekarang aku akan mengurangi berkeluh-kesah. Akan kuikuti cara-cara yang Abang ajarkan tadi. Juga memprospek delapan orang setiap hari,” tekad gadis itu bulat. Keteguhan mulai terpancar dari wajahnya yang memerah karena menangis.
Edward tersenyum penuh kemenangan. Sudah kutekan tombol kelemahannya, batin pria itu puas. Aku yakin Rosemary akan melaksanakan ucapannya dengan sungguh-sungguh. Dan begitu tiba waktunya gadis ini menuai apa yang ditaburnya, aku pun akan menuai apa yang telah kutanam!
Demikianlah si gadis lugu yang belum banyak merasakan intrik keji dunia kerja itu semakin terjerumus ke dalam perangkap pimpinannya. Pria berpengalaman yang selama ini dianggapnya sebagai orang baik hati dan tak mungkin menyakitinya….
***