Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Firasat Teresa



Lalu dia menggoda seniornya itu, “Kamu kok selalu bisa dapetin agen cantik dan mulus kayak gitu sih, Bang? Pintar banget! Kelihatannya dia gadis yang lugu.”


“Jam terbang, Bro. Jam terbang,” seloroh Edward sambil terkekeh geli. Dia memang beberapa kali merekrut gadis-gadis muda nan menawan seperti Rosemary. Namun belum ada yang berhasil mengikuti jejaknya menduduki level manajer puncak. Cuma dua orang yang akhirnya mencapai posisi manajer level 2. Sisanya mundur teratur setelah menjual beberapa polis. Ada juga yang sempat berprestasi dan mendapatkan trip gratis ke luar negeri selama satu-dua tahun pertama. Namun akhirnya menghilang juga dari bisnis asuransi karena tak berhasil mempertahankan prestasinya.


“Aku mempunyai firasat yang baik tentang Rosemary, Ward,” cetus Teresa bersungguh-sungguh. Edward senang sekali mendengarnya. Berdasarkan pengalamannya, firasat big boss seringkali menjadi kenyataan. “Menurut Ibu, Rose bisa berhasil di bisnis ini?” tanya pria itu memastikan.


Atasannya itu mengangguk. “Dia mengingatkanku pada seorang gadis seumurannya dulu sewaktu baru terjun ke bisnis ini. Lugu, suka belajar, dan pantang menyerah. Tetapi kamu harus membinanya dengan baik, Ward. Tarik-ulur dia. Jangan terlalu dibantu, tapi juga jangan dilepas begitu saja. Kepercayaan dirinya masih kurang. Padahal potensinya besar sekali,” sarannya panjang-lebar.


“Siap, Bu. Terima kasih atas masukannya. Akan saya jalankan dengan baik,” sahut anak buahnya itu puas. “Kalau boleh tahu, siapa gadis yang Ibu ceritakan tadi?”


Teresa meringis. Dijawabnya pertanyaan itu dengan lugas, “Aku sendiri.”


Selanjutnya wanita berpenampilan tomboy itu melangkah dengan gagah menuju ruangan kelas tempatnya akan mengajar. Kedua anak buahnya memandangnya takjub dari belakang.


“Wow! Keren banget big boss ya, Bang?” timpal Damian mengomentari.


“Definitely!” tegas Edward sependapat. “Dia satu-satunya manajer asuransi perempuan yang berhasil mengembangkan kantor sebesar ini di Pulau Jawa. Mentalnya kuat, nyalinya besar, dan jiwa kepemimpinannya luar biasa!”


“Kelihatannya dia akan segera mempunyai penerus,” cetus Damian kemudian.


“Oya? Siapa?” tanya lawan bicaranya tertarik. Pria itu memandang rekan yuniornya itu penasaran.


Damian tertawa, “Hahaha…. Bukankah Bu Teresa tadi menyebutkan nama gadis yang mirip dengannya dulu ketika baru masuk dunia asuransi, Bang? Ya agen barumu itu. Siapa namanya? Rosemary?”


Edward terkekeh. “Semoga saja memang begitu,” ujarnya penuh harap. Diperhatikannya Rosemary yang tengah duduk di bangku kelas bersama agen-agen baru rekrutan Damian. Gadis itu kelihatan serius sekali memperhatikan Teresa berbicara.


Rosemary Laurens..., gumam pria itu dalam hati. Benar-benar pertemuan yang tak terduga hari ini! Mudah-mudahan apa yang dikatakan big boss tadi akan menjadi kenyataan. Sudah lama sekali rasanya aku tidak membimbing agen baru yang berniat serius menerjuni bisnis ini. Orang-orang yang kurekrut silih-berganti menghilang tak ada kabarnya karena putus asa mendapatkan penolakan di sana-sini. Sedangkan dua agen andalanku sudah menjadi manajer level 2. Mereka sekarang sudah mandiri mengurus tim masing-masing. Kini saatnya aku mengasah bibit unggul lagi.


Sementara Edward tengah mengawasi Rosemary yang berkonsentrasi mengikuti kelas, Damian sebaliknya memperhatikan seniornya itu dengan sorot mata penuh kekaguman. Tampan dan gagah sekali orang ini, pujinya dalam hati. Sayang sekali aku direkrut oleh big boss langsung. Seandainya memungkinkan, aku bersedia bertukar tempat dengan Rosemary untuk menjadi agen rekrutan Bang Edward!


***


“Gimana tadi kelasnya? Pahamkah kamu dengan penjelasan Bu Teresa tentang bisnis asuransi?” tanya Edward pada Rosemary. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam lebih lima belas menit. Mereka kini berada di dalam mobil Edward. Pria itu menyetir sambil memperhatikan sekelilingnya mencari tempat untuk makan malam.


“Paham, Om,” jawab si gadis apa adanya. “Tapi rasanya kok agak muluk-muluk, ya?”


“Muluk-muluk gimana?”


“Yah, masa kerja cuma setahun sudah bisa mengangsur mobil?”


Edward terkekeh geli. “Bisalah. Tergantung mobilnya apa dulu. Kalau sekadar Sigra, Calya, Brio, sangat memungkinkan. Bayar DP, terus tinggal angsur sisanya tiga sampai lima tahun. Di kelas tadi sudah dijelaskan perincian komisi sama bonus sebagai agen, kan?” cetusnya kemudian.


“Kalau nggak mendapatkan nasabah yaaa…, nggak dapat komisi dan bonus.”


“Kerja bakti dong, Om?”


“Iya. Makanya kalau mau berhasil, kamu mesti mengikuti sistem yang sudah terbukti ampuh dijalankan di kantor selama ini.”


“Fokus belajar, konsisten memprospek, rutin konsultasi dengan manajer, dan pantang menyerah. Gitu kata Bu Teresa tadi, Om.”


“Lha, udah pinter gitu lho, kamu. Benar-benar calon agen agen hebat! Hehehe….”


Rosemary tersipu malu mendengar pujian Edward. Padahal dia tadi cuma sekadar menirukan ucapan Teresa di kelas.


“Mau makan apa nih, Rose? Kamu lihat banyak rumah makan di sepanjang jalan ini. Buruan kamu pilih, gih. Keburu tutup. Udah jam setengah sembilan, lho,” kata pria itu mengingatkan. “Kali ini jangan bilang terserah aku ya, Rose. Ayo gantian. Sekarang giliran kamu yang menentukan pilihan.”


Gadis itu mendesah. “Aduh, makan apa ya, Om? Rose juga bingung ini.”


“Kamu lapar, nggak?”


“Hehehe…, iya, sih.”


“Ya udah. Ayo cepat pilih.”


Pandangan Rosemary terpaut pada rumah makan ayam penyet yang sebentar lagi akan mereka lewati. Ya makan di situ aja, kali, batinnya memutuskan. Masakan kayak gitu kan penyajiannya cepat. Jadi nggak sampai nunggu lama dan bisa cepat pulang. Aku capek sekali hari ini. Mau cepat beristirahat!


“Ehm…, kalau makan ayam penyet saja gimana, Om?” tanya gadis itu sungkan. Dia kuatir Edward tidak menyukai makanan pedas.


“Ok. Yang di depan itu, kan?”


“Betul, Om.”


“Siap, Nona Rosemary.”


Selanjutnya laki-laki itu menyalakan lampu sen sebelah kiri untuk memberi tanda mobil di belakangnya. Dia lalu membelokkan mobilnya ke lahan parkir rumah makan ayam penyet yang cukup luas.


Beberapa menit kemudian pasangan berbeda generasi itu sudah duduk berhadapan di dalam rumah makan bernuansa tradisional Jawa tersebut. Seorang pelayan laki-laki mendekati mereka. Diberikannya daftar menu kepada kedua tamunya yang baru datang. Dengan cekatan dicatatnya makanan dan minuman yang dipesan. Setelah selesai, pemuda itu berkata bahwa hidangan akan siap selambatnya lima belas menit kemudian.


“Nah, sekarang apa ada hal-hal yang ingin kamu tanyakan tentang bisnis asuransi, Rose?” tanya Edward pada Rosemary begitu pelayan tadi telah meninggalkan mereka.


Rosemary menatapnya ragu-ragu. Lalu dia memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya, “Saya sudah memahami penjelasan Bu Teresa di kelas tadi, Om. Cuma saya penasaran dengan pengalaman Om Edward waktu pertama kali terjun ke bisnis ini. Bagaimana cara Om dulu mengawalinya? Latar belakang pekerjaan Om sebelumnya apa?”