
Rosemary terperangah. Jadi itulah alasannya big boss masih bertahan di bisnis ini? Karena tak punya pegangan lain dalam hidupnya saat ibu kandungnya tiada nanti? Sungguh sebuah pernyataan tak terduga dari seorang pemilik kantor asuransi yang begitu besar dan dipuja-puja banyak orang.
Ekspresi prihatin wanita itu tak luput dari perhatian Teresa. Pemimpin yang selalu tampak berwibawa itu tersenyum getir. “Aku juga tak mengira bisa sesukses sekarang, Rosemary,” katanya melanjutkan. “Dulu aku hanya berjuang semaksimal yang kubisa. Demi membuktikan pada orang-orang yang merendahkanku bahwa diriku mampu sukses dengan jerih payah sendiri. Tak disangka kerja kerasku membuahkan hasil yang luar biasa. Akan tetapi harga yang harus dibayar juga sangat mahal, yaitu kegagalan rumah tanggaku. Yah, laki-laki mana yang tahan mempunyai istri yang meluangkan waktunya jauh lebih banyak dengan nasabah, agen, rekan-rekan sejawat, dan pejabat-pejabat penting asuransi dibandingkan dengan suaminya sendiri?! Aku tak menyalahkan dirinya sama sekali. Akulah yang paling berkontribusi terhadap hancurnya perkawinan kami. Dia sekarang sudah berkeluarga lagi. Istrinya seorang ibu rumah tangga yang mampu menghadirkan kehangatan setiap kali ssuaminya pulang ke rumah. Bertolak-belakang denganku yang dulu jauh lebih banyak berada di luaran….”
Tersirat kegetiran dari kalimat-kalimat yang dilontarkan Teresa barusan. Rosemary turut merasa prihatin. Tak pernah terpikir olehnya bahwa kondisi big boss sebenarnya tidak enak. Maju tidak bisa, mundur apalagi. Aku masih beruntung, pikirnya. Mampu mengambil keputusan untuk keluar dari bisnis yang sudah tak kunikmati lagi.
“Bu Teresa,” ujarnya lirih. “Terima kasih banyak atas dukungan Ibu terhadap pengunduran diri saya. Sungguh tak disangka….”
“Kamu pikir aku akan menghalang-halangimu, Rosemary?” cetus big boss sambil terkekeh. Wanita itu menggeleng berkali-kali. “Di depan umum aku memang selalu mengobar-ngobarkan semangat para agen agar maju terus pantang mundur di bisnis ini. Kubangga-banggakan profesiku setinggi langit. Karena itulah cara yang paling ampuh untuk merekrut agen baru maupun memotivasi mereka agar tak mudah patang arang dalam menghadapi kendala yang terjadi di lapangan. Tapi kalau berbicara dengan agen senior yang sudah malang-melintang seperti dirimu…kurasa akan lebih bijaksana kalau aku mengatakan yang sejujurnya, bukan? Toh, kita sedikit-banyak juga merasakan kejenuhan yang sama. Cuma bedanya, kamu berani bakar kapal dan terjun ke laut mencari pengalaman baru. Sedangkan aku tidak….”
Wanita ini memang luar biasa, puji Rosemary dalam hati. Begitu bijak. Juga menghargai orang lain yang mengambil langkah berbeda dengan dirinya. Benar-benar seorang pemimpin yang layak diteladani!
“Aku menerima pengunduran dirimu, Rosemary Laurens,” kata big boss setulus hati. Diraihnya surat pengunduran anak buahnya itu di atas meja. “Semoga langkahmu ke depan semakin diberkati Tuhan. Oya, bagaimana nasib polis-polis nasabahmu selanjutnya?”
“Akan saya alihkan semuanya pada Damian, Bu,” jawab sang anak buah mantap. “Dia sudah setuju. Terus terang saya tidak punya kandidat lain. Hanya dia yang saya percaya sanggup menangani nasabah-nasabah saya dengan baik.”
“Aku percaya pada pilihanmu. Damian is very good,” puji Teresa sepenuh hati. “Dan aku akan mempersiapkan acara perpisahan yang tak terlupakan di kantor ini bagimu. Pasti banyak pihak yang akan menyayangkan keputusanmu ini. Apalagi jika tahu tujuanmu ke depannya untuk bekerja sosial. Tapi saranku, acuhkan saja komentar-komentar yang tak membangun. Ikuti saja apa yang hati nuranimu katakan. Itu yang terbaik.”
“Terima kasih banyak, Bu Teresa,” sahut Rosemary terharu. “Budi baik Ibu takkan pernah saya lupakan. Anda benar-benar orang yang berjiwa besar.”
“Nggak kelihatan ya, selama ini? Hehehe….”
Celetukan atasannya itu membuat Rosemary tersenyum geli. Lalu Teresa menanyakan suatu hal yang sangat penting, “Oya, Rosemary. Gimana dengan kondisi kesehatanmu sekarang? Kulihat ekspresi wajahmu senang sekali, seakan-akan sudah tak merasakan gangguan-gangguan lidah pahit, perut mual, dan kerongkongan panas.”
“Sebenarnya yang lebih tepat adalah…,” jawab anak buahnya dengan sorot mata berbinar-binar. “Saya berusaha tak merasakan gangguan-gangguan itu lagi, Bu. Saya mematuhi saran psikiater untuk menerima kondisi-kondisi yang tak nyaman itu sebagai hal yang lumrah dan merupakan bagian dari tubuh saya.”
“Oh, jadi kamu sebenarnya belum sembuh, Rose?”
“Bisa dibilang begitu. Tapi saya sudah tak menganggapnya sebagai gangguan. Jadi tetap bisa beraktivitas seperti biasa tanpa perasaan menderita seperti dulu.”
Pujian pimpinannya barusan membuat Rosemary tersipu. Akhirnya selesai juga tahap yang kukira akan mengerikan ini. Barangkali tahap selanjutnya justru jauh lebih sulit, batin wanita itu was-was. Yaitu mengungkapkan pengunduran diriku pada Mama!
***
“Kamu tega sekali sama Mama, Rose. Tega!”
Martha tak mampu menahan emosinya begitu malam itu mendengar pengakuan sang putri tentang pengunduran dirinya. Kalau sekarang bosnya sendiri bahkan sudah menerima keputusan anakku itu, lalu apa lagi yang bisa kulakukan?! batin perempuan separuh baya itu putus asa.
Tak sanggup dirinya membayangkan komentar-komentar pedas dari sanak-saudaranya di Balikpapan maupun teman-teman sosialitanya di Surabaya kalau tahu betapa putri yang selalu dibangga-banggakannya ini memutuskan untuk berhenti sebagai agen asuransi. Profesi yang membuat fotonya selalu masuk koran nasional setiap tahun akibat prestasinya yang luar biasa. Profesi yang membuatnya berhasil mengangkat kembali harkat dan martabat keluarganya dari lembah kemiskinan. Profesi yang mampu membuat ibu dan adik-adiknya hidup enak kembali seperti waktu dulu ayahnya masih hidup dan bergelimang harta….
“Mama nggak usah kuatir. Kita masih bisa hidup berkecukupan, kok,” kata sang putri berusaha menenangkan ibunya. “Tabungan Rose dan pendapatan dari sewa ruko-ruko mampu membiayai kehidupan kita sehari-hari. Cuma memang kita sekarang sudah nggak bisa bersikap borju lagi. Tolong Mama atur pengeluaran dengan lebih bijak. Nggak beli barang-barang yang kurang perlu….”
“Terus kamu mau bekerja apa, Rose? Mendapatkan penghasilan dari mana? Masa cuma mengandalkan dari investasi saja? Mama merasa itu kurang terjamin.”
Rosemary lalu berkata bahwa untuk sementara waktu akan fokus melakukan pelayanan di panti asuhan anak-anak berkebutuhan khusus milik adik kandung psikiaternya.
“Tapi itu kan bekerja secara sukarela, Nak!” sergah Martha tak terima. “Kapasitas yang kamu punya jauh di atas itu. Kamu ini Rosemary Laurens. Agen asuransi terbaik se-Indonesia Timur! Masa mau downgrade jadi pekerja sosial!”
“Hatiku merasa tenteram melakukannya, Ma. Lagipula siapa tahu ini merupakan batu loncatan bagiku untuk mencari nafkah di bidang lain. Kita lihat saja nanti perkembangannya gimana, Ma.”
“Pokoknya Mama nggak setuju! Kamu selama ini baik-baik saja menjalani pekerjaanmu. Nggak pernah terjadi hal-hal yang merugikan. Buat apa berhenti demi melakukan sesuatu yang nggak jelas ujung-pangkalnya!”
“Apa maksud Mama dengan nggak jelas ujung-pangkalnya? Aku nggak ngerti.”
“Ya nggak jelas. Kerja sukarela. Pelayanan. Nggak ada penghargaannya sama sekali baik dari segi reputasi, materi, maupun prestasi. Buat apa, Rosemary? Apa tujuanmu sebenarnya?”
Sang putri menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Dilakukannya hal itu beberapa kali untuk menenangkan dirinya. Ada rahasia yang akan segera diungkapkannya pada ibunya ini. Rahasia yang bisa membuat Martha kaget, marah, kecewa, bahkan mungkin mengutuknya habis-habisan!