
Penjelasan Farida itu membuat Rosemary manggut-manggut. Dia merasa masih harus banyak belajar tentang ABK. Sejauh ini dirinya cukup antusias memperoleh pengetahuan tentang anak-anak spesial yang selama ini lebih banyak dilihatnya di televisi.
Selanjutnya dia diajak melihat-lihat kelas SMP, SD, TK, dan kelompok bermain. Tingkat SMP sama halnya dengan SMA, terdiri dari satu kelas saja. Sedangkan level SD terdiri dari dua kelas. Lalu level TK maupun kelompok bermain sama-sama terdiri dari satu kelas.
Tiap kelas tersebut jumlah muridnya tidak sampai sepuluh orang. Pun jumlah guru yang mengajar bisa berjumlah dua hingga tiga orang. Pada kelas kelompok bermain, Rosemary tertarik pada seorang anak laki-laki yang kakinya kecil dan kurus sekali. Dia duduk di atas matras di lantai.
“Halo,” sapa wanita itu sambil tersenyum ramah. Ia berjongkok agar mudah bertatapan muka dengan bocah yang masih balita itu. “Namamu siapa, Nak?” tanyanya ingin tahu.
Bocah bermata bulat dengan bulu mata lentik itu diam saja tak menjawab. Rosemary mengelus-elus rambut ikalnya yang lucu. Anak itu masih diam saja. Cuma sinar matanya berubah menjadi lebih hangat menatap wanita itu.
“Dia ini namanya Joseph. Umur empat tahun. Menderita gangguan cerebral palsy atau yang biasa disingkat dengan sebutan CP,” terang Farida lamat-lamat.
“Kalau saya tidak salah, itu sejenis gangguan pada saraf ya, Bu?” tanya Rosemary memastikan.
Lawan bicaranya mengangguk. “Betul. Biasanya menyerang otak, kemampuan motorik, dan kemampuan berbicara. Dalam kasus Joseph, gangguannya lebih banyak terdapat pada fungsi kaki, tangan, dan wicara. Otot-ototnya lemah sekali. Tapi kemampuan berpikirnya bisa diadu dengan anak normal atau yang biasa disebut anak tipikal,” jelasnya mendetil.
Wah, banyak sekali yang harus aku pelajari tentang anak-anak berkebutuhan khusus, pikir Rosemary. Kasihan sekali mereka ini sebenarnya. Dilahirkan ke dunia ini dalam kondisi yang berbeda.
“Joseph ini sejak umur berapa tinggal di sini, Bu Farida?” tanyanya penasaran.
“Semenjak umur dua tahun,” jawab pemilik panti itu singkat. “Mari kita pergi melihat-lihat lagi, Rosemary.”
“Siap, Bu,” jawab si tamu sembari berpamitan pada Joseph. Anak laki-laki itu tiba-tiba tersenyum manis kepadanya. Hati Rosemary tersentuh sekali melihatnya.
Sesampainya di luar kelas, Farida bercerita tentang hal-ikhwal Joseph bergabung di panti asuhan itu. “Dua tahun yang lalu salah seorang pegawai panti menemukan Joseph ditaruh di dalam kereta bayi di depan pagar. Ada sebuah surat di dalam kereta itu. Isinya menyatakan bahwa anak ini adalah hasil dari hubungan di luar nikah. Ayahnya tidak mau bertanggung jawab dan lari meninggalkan ibu Joseph yang tengah mengandung. Semula si ibu bermaksud mengasuh Joseph sendiri, namun ternyata dia hanya sanggup bertahan selama dua tahun. Katanya dia dijodohkan orang tuanya dengan orang lain. Pria itu rupanya tak bersedia menerima kehadiran anak yang tak sempurna dalam keluarganya. Akhirnya Joseph dibawa kemari dan ibunya menjalani hidup baru dengan pria pilihan orang tuanya….”
“Kejam sekali!” seru Rosemary spontan. “Padahal anak ini sudah lahir ke dunia dan diasuh selama dua tahun! Hati ibu mana yang….”
Tiba-tiba wanita itu terdiam. Dia teringat akan tindakannya dulu yang juga begitu tega melenyapkan darah dagingnya sendiri.
Menyaksikan perubahan sikap tamunya, Farida memutuskan untuk tak melanjutkan topik tentang Joseph lagi. Rosemary diajaknya melihat-lihat halaman belakang. Tamunya itu takjub menyaksikan kebun yang ditanami sayur-sayuran seperti kangkung, buncis, selada, bayam, dan sebagainya. Selain itu juga ada kolam ikan kecil, kendang kelinci, dan kandang burung.
“Wah, panti asuhan ini benar-benar dipersiapkan dengan matang ya, Bu Farida,” puji Rosemary tulus. “Anak-anak pasti senang melihat-lihat tanaman dan hewan-hewan peliharaan di sini.”
“Mereka juga diajari cara untuk merawatnya,” celetuk lawan bicaranya dengan nada bangga. “Kami semua di sini berusaha membina para ABK agar kelak bisa hidup mandiri. Kalaupun mereka masih tinggal di sini saat dewasa, setidaknya dapat membina para ABK yang masih yunior agar bisa mandiri juga. Ya menjadi semacam asisten gurulah, seperti itu.”
Rosemary memandang wanita di hadapannya dengan perasaan kagum. “Bu Farida benar-benar mendedikasikan hidup ini demi kemajuan ABK. Saya salut sekali. Kalau boleh tahu, apa yang sebenarnya menjadi motivasi Ibu dalam melakukan semua ini?” tanya wanita itu penasaran.
Lawan bicaranya tersenyum arif. Dia lalu menuturkan isi hatinya, “Saya bersyukur sekali selama ini tak pernah mengalami pergolakan hidup yang berarti. Latar belakang keluarga saya baik. Demikian juga halnya dengan almarhum suami. Akan tetapi sepeninggal beliau, saya merasakan kesepian yang mendalam. Seakan-akan saya hidup sebatang kara di dunia ini. Perkawinan kami memang tidak dikaruniai anak. Lalu terbersit dalam hati ini untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat dengan segala hal yang saya miliki. Dari doa yang saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, akhirnya hati ini tergerak untuk mendirikan panti asuhan ABK yang sekaligus memiliki fasilitas sekolah dan terapi. Hal ini sejalan dengan background pekerjaan saya dulu sebagai terapis ABK….”
“Jadi semuanya berakar dari doa ya, Bu?”
“Betul, Rosemary. Doa yang dipanjatkan dengan sungguh-sungguh itu dahsyat sekali kuasanya. Jadi begitu sudah ada jawabannya dalam hati kecil kita, segeralah dilaksanakan. Tuhan senang sekali kalau umatNya cepat tanggap dalam memahami petunjuk yang diberikan olehNya.”
Dokter Mirna, Bu Farida…. Tuhan baik sekali mempertemukanku dengan orang-orang istimewa seperti mereka, batin Rosemary penuh rasa syukur. Aku merasa nyaman sekali bertukar pikiran dengan orang-orang ini. Hati mereka tulus dan tak menghakimi.
Selanjutnya wanita itu diajak naik ke lantai dua. Di sana terdapat beberapa bilik untuk tempat para ABK tidur. Dibagi-bagi sesuai rentang usia dan jenis kelamin mereka. Juga ada kamar tidur untuk guru-guru serta Farida sendiri. Selain itu ada sebuah ruangan besar yang digunakan sebagai ruang makan bagi semua penghuni panti asuhan.
“Sarapan, makan siang, snack time, dan makan malam dilakukan di ruangan ini, Rosemary. Kalau sudah selesai makan, meja-meja dan kursi-kursi dilipat semua lalu diminggirkan. Diganti dengan alas lantai sehingga semua orang bisa duduk bersantai sambil menonton TV, mendengarkan guru bercerita, atau melakukan aktivitas yang santai seperti merajut, menyulam, art and craft….”
Kemudian Farida menunjukkan bilik-bilik kamar mandi di lantai dua tersebut. Dipisahkan antara laki-laki dan perempuan.
“Guru-guru dan pegawai lain yang tinggal di panti ini perempuan semua,” jelasnya. “Tapi kami mempunyai dua orang terapis pria dewasa yang setiap hari datang kemari untuk menerapi remaja laki-laki sekaligus mengajari mereka tentang pendidikan ****.”
“Dimana tempat terapinya, Bu?” tanya Rosemary penasaran.