
“Selamat pagi, Nona Rosemary. Anda tepat waktu sekali,” komentar Tedja, klien si agen asuransi ramah. Diulurkannya tangannya yang langsung disambut hangat oleh gadis itu.
“Selamat pagi, Pak Tedja. Terima kasih sudah menerima kedatangan saya,” jawab Rosemary tak kalah ramah. Bibirnya menyungging senyuman manis. Gadis itu lalu dipersilakan duduk persis di hadapan laki-laki paruh baya itu.
Selanjutnya mereka terlibat pembicaraan yang serius namun rileks tentang program asuransi yang dikehendaki si klien. Tedja mendengarkan dengan seksama penjelasan Rosemary tentang ilustrasi yang telah dibuatnya.
“Menarik,” kata laki-laki itu sambil mengangguk-angguk. “Tapi nominal premi yang Anda ajukan terlalu besar buat saya saat ini. Anak kembar saya akan masuk perguruan tinggi tahun depan. Uang pangkalnya sudah harus lunas dalam tiga bulan ke depan. Anda tahu kan, betapa besarnya biaya masuk universitas sekarang ini?”
Rosemary mengangguk mengiyakan. Tiba-tiba dia melihat celah yang dapat dimasukinya. “Jadi anak Pak Tedja kembar? Kebetulan manajer saya juga punya anak kembar. Tiga malah. Dua perempuan dan satu laki-laki. Hasil program bayi tabung. Apakah Bapak juga melakukannya?” tanya gadis itu mengalihkan pembicaraan.
Tedja menggeleng. “Kebetulan dalam silsilah keluarga istri saya ada riwayat anak kembar. Rupanya itu menurun pada anak-anak kami. Anak-anak saya cowok semua,” jawabnya sambil tersenyum.
“Wah, pasti pintar seperti bapaknya. Hehehe…. Ngomong-ngomong, kuliahnya nanti ambil jurusan apa, Pak Tedja?” tanya si agen lagi.
“Yang satu jurusan arsitek, sedangkan satunya lagi jurusan teknik sipil. Ya keduanya nanti bisa saling berkolaborasi kalau bekerja nanti,” sahut Bobby dengan nada bangga. Ekspresi wajahnya tampak berseri-seri menjawab pertanyaan Rosemary tadi.
Si gadis manggut-manggut. Dia kemudian mengeluarkan ilustrasi yang kedua. “Begini, Pak Tedja. Kebetulan kemarin Rose membuat alternatif ilustrasi lain. Mudah-mudahan yang ini lebih sesuai dengan kebutuhan Bapak. Preminya lebih terjangkau dan manfaatnya sedikit lebih kecil, namun tetap sesuai dengan profil Pak Tedja sebagai manajer produksi di perusahaan garmen ini.”
Kemudian Rosemary menjelaskan isi ilustrasi tersebut dengan bahasa yang mudah dimengerti orang awam. Kliennya sesekali mengajukan pertanyaan, yang dijawab gadis itu dengan percaya diri.
Tiba-tiba pintu ruangan itu diketuk dari luar. Tedja mempersilakan orang tersebut masuk. Muncullah seorang gadis sebaya Rosemary. Dia berkata sopan, “Maaf mengganggu. Pak Tedja sudah ditunggu manajer-manajer lain di ruang meeting.”
“Ok,” jawab si manajer produksi singkat. “Tolong katakan saya masih ada tamu dan sepuluh menit lagi akan hadir di ruang meeting.”
“Siap, Pak. Saya permisi.”
Gadis itu tersenyum lalu membalikkan badan dan melangkah ke luar ruangan.
Tedja menatap tamunya sambil tersenyum. “Mohon maaf, Nona Rosemary. Saya terpaksa mengakhiri pertemuan ini. Tapi kedua ilustrasi yang Anda ajukan sudah saya pahami sepenuhnya. Bisakah ditinggal di sini untuk saya pelajari lagi sembari mendiskusikannya pada istri di rumah?” cetus manajer produksi itu sopan.
Gadis di hadapannya mengangguk. “Silakan, Pak Tedja. Terima kasih atas waktunya. Semoga meeting-nya berjalan lancar.”
Rosemary berdiri dan mengulurkan tangannya pada pria bertubuh gemuk itu. Tedja menyalaminya sembari berkata akan memberi kabar pada gadis itu dua-tiga hari lagi.
Demikianlah agen asuransi yang masih yunior itu meninggalkan klien pertamanya dengan hati penuh harapan.
***
“Halo, Mama. Maaf Rose baru nelepon. Batere HP-ku kemarin mati, lupa nge-charge. Tapi tadi aku sempat balas chat WA Mama. Mama udah baca, kan?” ujar Rosemary cemas.
Gadis itu sedang berada di resto cepat saji dekat perusahaan garmen tadi. Dinikmatinya bubur ayam untuk sarapan.
“Halo, Rose. Mama kuatir sekali lho, kamu kemarin malam susah banget dihubungi. Perasaan Mama jadi nggak enak….”
“Rose, kenapa diam? Kamu sakit?” tanya Martha panik.
Anak gadisnya buru-buru menjawab, “Nggak kok, Ma. Rose baik-baik saja. Oya, ada kabar baik. Aku udah lulus ujian dan baru saja memprospek klien pertama. Namanya Pak Tedja, manajer produksi sebuah perusahaan garmen. Orangnya sih, kelihatan baik. Mudah-mudahan closing ya, Ma.”
“Mama di sini selalu mendoakan keberhasilanmu, Nak,” jawab sang ibu bijaksana. “Ngomong-ngomong, kamu kenal orang itu dari mana?”
“Dari pameran di mal, Ma. Kantorku ikut acara pameran bersama perusahaan-perusahaan keuangan lainnya. Selama dua minggu. Ini sudah berjalan beberapa hari. Rose nawarin pengunjung-pengunjung mal. Banyak database yang terkumpul, Ma. Jadi tinggal di-follow up.”
“Oh, begitu. Kamu kedengarannya menikmati pekerjaan ini, Rose,” komentar Martha senang. “Apakah rekan-rekan kerjamu baik? Edward gimana?”
Dia sekarang menjadi kekasihku, Ma, jawab Rosemary dalam hati. Namun lidahnya berkata, “Bang Edward baik sekali sama Rose. Dia banyak mengajarkan cara-cara melakukan pendekatan yang baik pada calon nasabah. Aku banyak belajar darinya.”
“Kenapa kamu sekarang memanggilnya dengan sebutan Bang Edward, Rose? Bukankah dulu kamu memanggilanya Om Edward?” tanya ibunya heran. Sebuah perasaan ganjil singgah dalam hati perempuan setengah baya itu.
Rosemary yang menjadi gelagapan berusaha menjelaskannya, “ Hmm…anu Ma. Rose cuma mengikuti anak-anak di kantor memanggilnya dengan sebutan Bang Edward. Nggak enak rasanya kalau cuma aku sendiri yang memanggilnya Om. Jadinya malah kelihatan kalau aku masih cupu di bisnis ini.”
Ya, Tuhan. Mudah-mudahan Mama percaya dengan alasanku yang konyol ini! doa gadis itu dalam hati. Tak terpikir olehnya alasan lain untuk meyakinkan ibu kandungnya.
“Ya sudahlah, kalau begitu. Yang penting kamu baik-baik di sana, ya. Ingat Rose. Kamu ini anak gadis dan bekerja merantau sendirian. Jauh dari keluarga. Hanya kamu yang dapat mendapat menjaga dirimu sendiri. Kalau dulu kan ada Owen yang menjagamu….”
Mata Rosemary berkaca-kaca. Betapa rindunya dia pada mendiang kekasihnya itu. Juga Lukman, almarhum ayahnya.
“Jangan kuatir, Ma. Rose bisa menjaga diri baik-baik. Oya, aku sekarang lagi sarapan bubur ayam di luar. Kulanjutin makan dulu ya, Ma. Selamat pagi.”
“Selamat pagi, Nak. God bless you.”
“God bless you too, Mama.”
Begitu meletakkan ponselnya, air mata Rosemary mengucur deras. Dia tak peduli sedang berada di tempat umum. Mama…, batinnya merana. Seandainya dirimu tahu apa yang terjadi pada anakmu ini malam kemari, Mama pasti kecewa sekali.
Disilangkannya kedua tangannya di atas meja. Lalu gadis itu menelungkupkan wajahnya dan menangis dalam diam.
***
Sepanjang hari itu Rosemary tak menghubungi Edward sama sekali. Dihabiskannya waktunya untuk mencari database di pameran. Semangat kerjanya luar biasa. Tak henti-hentinya gadis itu mendekati pengunjung mal dan mencatat data mereka dalam notesnya.
Rekan-rekan kerjanya, termasuk Damian, sampai geleng-geleng kepala melihat antusiasme rekan kerja mereka itu. Staminanya luar biasa. Ekspresi wajahnya selalu ceria menghadapi pengunjung mal yang bermacam-macam karakternya.
“Kamu hebat sekali hari ini,” celetuk Damian memuji Rosemary.