Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Sahabat Terbaik



“Sudah pernah kukatakan pada mamaku tempo hari, Dam. Supaya beliau bisa mengatur pengeluaran dengan lebih bijak.”


“Lalu tanggapannya gimana?”


Rosemary menghela napas panjang. “Yah, Mama kaget, sih. Apalagi waktu aku bilang mau berhenti dari pekerjaanku sebagai agen asuransi,” jawabnya terus terang.


Damian tersenyum penuh kemenangan. “Apa kataku? Semua orang pasti menyayangkan keputusanmu itu, Rose.”


“Tapi sampai kapan aku melakukan segala sesuatu demi menyenangkan hati orang lain? Ini kan hidupku, Dam. Akulah yang berhak memutuskan apa yang mau dan tak mau kulakukan.”


“Kamu keras kepala sekali, Rosemary Laurens!”


“Makanya cuma kamu yang sanggup bertahan menjadi sahabat baikku!”


Kedua insan berlainan jenis itu berpandang-pandangan. Sesaat kemudian tawa mereka terdengar membahana memenuhi ruangan.


Damian lalu mendekatkan kursinya pada Rosemary. Dipeluknya kawan baiknya itu erat-erat. Sungguh dia menyayangi wanita ini dengan sepenuh hati. Berada di lingkungan kantor yang penuh dengan intrik dari rekan-rekan kerja sendiri membuatnya menyadari bahwa mendapatkan sahabat yang tulus seperti Rosemary Laurens sangatlah langka.


Sama halnya juga dengan wanita itu sendiri. Dia juga merasa beruntung memperoleh Damian sebagai kawan baik yang selalu mendukungnya di tengah-tengah rekan-rekan sekantor yang kelihatannya manis di depan tapi ternyata aslinya bermuka dua.


“Sudah, ah,” kata Rosemary melepaskan dirinya dari pelukan laki-laki itu. “Kalau ada yang lihat nanti dikira kita pacaran. Hahaha….”


Damian menatapnya dengan perasaan sayang. “Barangkali kalau kamu mau menerima keadaanku apa adanya, kita bisa pacaran, Rose. Hahaha….”


“Ogah, ah.”


“Kenapa?”


“Karena aku bisa bersolek secantik mungkin. Tapi nggak sanggup berdandan sebagai cowok ganteng. Hahaha….”


Begitulah mereka berdua kalau sudah saling mengolok-olok tanpa kehadiran orang lain. Damian pun tak merasa tersinggung dengan celetukan-celetukan yang sebenarnya sensitif itu. Tawanya malah lebih keras dari Rosemary.


“Oya, Bro,” kata wanita itu kemudian. “Soal mamaku, biar aku yang urus. Cepat-lambat dia pasti bisa menerima kenyataan. Sebagaimana dulu Mama juga akhirnya mampu beradaptasi ketika Papa  meninggal dunia dan usahanya bangkrut. Sekarang ada hal penting yang mau kubicarakan denganmu, Dam.”


“Apaan? Kok kelihatannya serius sekali,” komentar sahabatnya menanggapi.


“Exactly,” tandas Rosemary tegas. “It’s very important, Bro. Aku mau minta tolong….”


“Kamu tahu aku jarang sekali menolak permintaanmu,” sela Damian memotong kata-kata wanita itu.


“Yes. Dan aku merasa sangat bersyukur karenanya,” sahut wanita itu sungguh-sungguh. “Anu, Dam. Maukah kamu  mengambil-alih semua nasabahku sebelum aku mengundurkan diri? Kupikir  kasihan sekali kalau sampai mereka tidak punya agen lagi dan harus menghubungi customer service kantor pusat Jakarta kalau butuh sesuatu.”


Kesungguhan Rosemary membuat laki-laki itu tak berkutik. “Jadi sudah kamu pikirkan matang-matang keputusanmu untuk mengundurkan diri?” tanyanya memastikan lagi.


Hatinya sebenarnya masih kecewa dengan keputusan sahabatnya tersebut. Namun pria itu tahu kalau Rosemary Laurens telah mengambil keputusan, susah sekali untuk dirubah. Sebagai orang dekat, dirinya hanya dapat memberikan dukungan selama tindakan wanita itu tidak membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain.


“Untuk sementara pendapatanku ya dari hasil sewa ruko-ruko dan investasi reksa dana itu, Bro,” aku wanita itu terus terang.


Damian terbelalak mendengar pengakuan polos kawan baiknya tersebut. “Kamu gila! Masa nggak ada rencana kerja apa yang menghasilkan gitu. Sampai kapan mau makan dari penghasilan dari investasi properti dan reksa dana yang nggak pasti nilainya? Sudahlah, gini aja. Sekarang kamu tunjukkan padaku berapa nominal rata-rata penghasilanmu dari asuransi tiap bulan. Supaya bisa kucarikan solusi yang ok.”


“Maksudnya gimana sih, Bro?” tanya sahabatnya tak mengerti. “Apa hubungannya penghasilanku tiap bulan dengan solusi yang mau kamu carikan buatku?”


“Sudahlah, jangan cerewet,” tandas laki-laki itu tak sabar. “Cepat buka akun keagenanmu dan tunjukkan rata-rata income-mu tiap bulan padaku. Buruan. Kalau nggak, akan kutolak pengalihan nasabah-nasabahmu, lho.”


“Ok, ok,” sahut Rosemary cepat. Dia kuatir juga kalau ancaman sahabatnya itu menjadi kenyataan. Wah, bisa dimaki-maki dia oleh nasabah-nasabahnya karena mengundurkan diri begitu saja tanpa mencarikan pengganti dirinya!


Selama beberapa menit agen senior itu mengutak-atik akun keagenan digitalnya pada Ipad-nya. Setelah nominal penghasilannya selama satu tahun terakhir terpampang pada layar gadget-nya itu, ditunjukkannya kepada Damian.


Pria itu memperhatikan dengan seksama. Lalu dia berkata, “Ya sudahlah. Demi men-support keputusanmu untuk mengundurkan diri, maka aku akan mentransfer separuh dari penghasilanmu setiap bulan ke rekening pribadimu….”


“Hah?! Gila kamu, Dam,” seru lawan bicaranya tak percaya. “Buat apa?”


“Supaya kamu nggak kaget. Udah biasa megang uang banyak terus tiba-tiba nol!”


“Tapi….”


“Sudah, nggak usah cerewet. Aku belum selesai ngomong. Pembagian penghasilanmu itu cuma berlaku selama satu tahun terhitung semenjak semua nasabahmu resmi dialihkan padaku secara sistem. Setelah itu aku nggak akan mentransfermu lagi. Kecuali kalau kamu dalam keadaan kesulitan keuangan. Akan kupinjamkan uang padamu tapi tentu saja dengan bunga yang besar….”


Air mata Rosemary tak tertahankan lagi. Dia merasa sangat bersyukur mempunyai sahabat sebaik Damian. Kali ini giliran dirinya yang memeluk erat tubuh kekar laki-laki itu.


“Thanks a lot, Bro. Kamu benar-benar sahabat yang terbaik. Selalu ada di saat aku membutuhkan.”


“Dan dilupakan saat kamu hepi.”


“Ah, nggak, kok.”


“Masa? Terus kenapa aku nggak pernah diajak ke panti asuhan ABK itu? Aku sesekali kan juga mau melakukan pelayanan.”


“Are you serious? Kuajak beneran lho, setiap hari.”


Damian tergelak. “Nggak, kok. Aku cuma pengen tahu seperti apa tempat yang sudah menyentuh hatimu itu. Juga mau kenalan sama mentormu yang internis itu,” kilahnya terus terang.


“Oh, Christopher? Dia baik dan sabar orangnya. Tapi bisa tegas juga sih, menghadapi ABK yang susah dibilangin. Dia ngajarin aku banyak hal tentang ABK. Anak autis misalnya. Mereka itu ternyata mengalami kekurangan enzim dalam tubuhnya. Jadi kalau mengkonsumsi makanan yang mengandung tepung, susu sapi, dan gula, tidak tercerna dengan baik dalam usus. Akibatnya zat-zat itu masuk ke dalam pembuluh darah hingga sampai ke otak. Lalu di otak dianggap sebagai benda asing dan mengakibatkan alergi. Alerginya itu berdampak pada timbulnya perilaku anak autis yang suka tertawa-tawa sendiri, tantrum tanpa sebab, memukuli dirinya sendiri, bahkan membentur-benturkan kepalanya pada tembok. Kasihan sekali, kan?”


Ekspresi wajah Damian tampak ngeri mendengar penjelasan tersebut. Rosemary segera melanjutkan kata-katanya, “Tapi hal itu ternyata bisa diatasi, kok. Caranya dengan mengkonsumsi suplemen yang mengandung enzim sebelum makan. Juga rutin memberikan terapi Sensori Integrasi guna memperbaiki kemampuan sensori anak autis sehingga mampu merasakan sakit sebagaimana anak normal yang disebut dengan istilah anak tipikal.”