
Gadis itu baru saja kembali ke booth pameran untuk mengambil brosur lagi. Puluhan brosur yang dipegangnya sudah habis dibagi-bagikan kepada pengunjung mal.
“Beginilah kalau orang kepepet butuh uang, Dam,” celetuk Rosemary sambil tersenyum pahit. “Kerjanya kudu semangat kayak kuda. Mumpung masih muda. Hahaha….”
Damian dapat merasakan kegetiran dari nada suara gadis itu. Pemuda itu lalu mengalihkan pembicaraan. “Kemarin kok nggak datang kemari? Follow up database, ya?”
“Yes,” jawab Rosemary mengiyakan. “Paginya aku ujian lisensi keagenan. Syukur lulus.”
“Wah, selamat, ya,” ucap kawannya itu dengan wajah berseri-seri. “Semoga lekas pecah telor.”
“Amin,” sahut gadis itu singkat. “Brosur-brosurnya masih banyak, kan? Punyaku habis. Boleh minta lagi?”
“Siap, Madam.”
Kemudian pemuda itu mengeluarkan sebuah kardus dari bawah meja pameran yang ditutupi kain panjang. Dikeluarkannya segebok brosur berukuran A5. “Kamu butuh berapa?” tanya Damian.
“Sebanyak mungkin yang bisa kubawa,” jawab Rosemary mantap.
“Hah?!” seru pemuda itu terperanjat.
“Kenapa?” tanya si gadis heran. “Memangnya tiap agen dibatasi minta brosur, ya?”
“Nggak, sih. Cuma brosur itu kalau bisa jangan disebar-sebarkan begitu saja. Harus ada timbal-baliknya,” jawab Damian menerangkan.
“Data calon nasabah kan, maksudmu?” tanya lawan bicaranya. Lalu dia membuka notesnya dan menunjukkan jumlah database yang telah diperolehnya hari itu.
Rekannya terbelalak. Busyet, dah. Sudah enam belas database! cetus pemuda itu dalam hati. Padahal hari masih sore. Kok bisa cewek ini mendapatkan calon nasabah sebanyak itu!
“Gimana? Boleh nggak aku ambil brosurnya?” tanya Rosemary membuyarkan lamunan pemuda itu.
Damian tersentak. Dia lalu berkata, “Hmm…, kamu bawa segini dulu, ya. Nanti kalau habis, bisa minta lagi. Takutnya anak-anak lain nggak kebagian.”
“Ok. Thanks ya, Dam,” ucap si gadis seraya menerima sekitar tiga puluhan brosur dari pemuda itu. “Nanti aku pasti minta lagi. Karena aku jaga pameran sampai mal tutup.”
“What?!” seru Damian tak percaya. “Energimu besar sekali, Rosemary Laurens! Datang sejak mal buka dan sampai sekarang kerja terus nggak ada istirahatnya. Kamu belum makan siang, kan? Udah sore ini. Ayo makan sama aku sekarang.”
Rosemary menatapnya keheranan. “Bukankah kamu tadi sudah makan siang di foodcourt sama teman-teman? Kok mau makan lagi?” tanyanya tak mengerti.
Damian nyengir. “Itu kan makan besar, Non. Sekarang aku mau makan kecil. Ngemil pentol, gorengan, es campur, atau apalah di foodcourt. Ayo ikut. Mobil aja kalau kelamaan gerak harus diisi bensin. Apalagi kamu yang mondar-mandir terus sejak tadi!”
Rosemary tak kuasa menolak. Diakuinya perutnya sudah lapar. Namun dia berusaha menahannya dengan cara membagi-bagikan brosur pada orang-orang yang dianggapnya prospek untuk dijadikan klien.
Akhirnya dia mengiyakan ajakan rekannya itu. Mereka bersama-sama meninggalkan booth pameran, kemudian naik lift menuju ke foodcourt yang terletak di lantai paling atas mal tersebut.
***
Malam itu Rosemary letih sekali. Pundak dan punggungnya terasa penat. Kedua kakinya tak kalah lelahnya. Inilah dampak dari mondar-mandir tiada habis-habisnya di pameran seharian. Untung tadi sore dia mau diajak Damian makan di foodcourt.
Lalu malamnya Teresa datang ke booth untuk memantau kinerja anak-anak buahnya di pameran. The big boss membawakan dua kotak besar pizza untuk cemilan para agen.
Dalam hati Rosemary bersyukur sekali. Dia jadi tak perlu mengeluarkan uang untuk mengisi perutnya yang mulai keroncongan. Gadis itu memang semakin menghemat pengeluaran. Karena dia tak tahu kapan akan menghasilkan rupiah dari pekerjaan barunya ini.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Tertera nama Edward pada layar. Diangkat nggak, ya? pikir gadis itu bingung. Seharian ini ada lima miscall darinya. Tapi aku enggan mengangkatnya. Membaca chat WA-nya saja malas.
Gadis itu mengecilkan suara ponselnya sampai tak terdengar sama sekali. Lalu dimatikannya lampu kamar kosnya. Dia ingin segera beristirahat. Karena besok pagi akan pergi ke kantor untuk menghubungi orang-orang yang diprospeknya di mal beberapa hari ini melalui telepon. Di sana ada fasilitas wifi sehingga dia bisa menghemat kuota. Juga ada ruangan tertutup yang membuatnya tenang dan percaya diri menelepon.
***
“Ya ampun, Rose! Kamu ada di sini rupanya,” seru Edward tatkala melihat Rosemary di kantor esok paginya. Gadis itu sedang sibuk menelepon klien-kliennya di ruangan tertutup lantai satu yang letaknya paling belakang.
Dia merasa nyaman di sana, karena takkan ada orang yang mendengar suaranya memprospek klien lewat telepon. Entah kenapa, selama belum pecah telor mendapatkan nasabah, dirinya merasa rendah diri.
Gadis itu sendiri terkejut melihat kedatangan manajer sekaligus kekasihnya itu. Dia lalu memberi kode dengan tangan agar pria itu diam karena dirinya sedang berbicara dengan klien di telepon. Edward langsung mengerti. Pria itu tak bersuara lagi. Selanjutnya direbahkannya tubuh atletisnya pada kursi yang terletak persis di samping agennya tersebut.
Dielus-elusnya paha Rosemary yang tertutup celana panjang kain berwarna hitam. Pria hidung belang itu tersenyum menggoda. Konsentrasi gadis itu berbicara di telepon jadi buyar seketika. Dipelototinya Edward penuh rasa jengkel. Laki-laki itu justru semakin berani. Perlahan jari-jemarinya bergerak mendekati **** ********** gadis itu.
Rosemary menghindar seketika. Dia lalu berkata pada kliennya di telepon, “Baiklah kalau begitu, Bu Sarita. Jadi besok pukul sepuluh pagi saya datang berkunjung ke rumah Ibu sambil membawa brosur perlindungan kesehatan yang lebih lengkap. Terima kasih, Bu. Selamat beraktivitas.”
Begitu pembicaran berakhir dan sambungan telepon dimatikan, emosi gadis itu langsung meledak. Namun dia berusaha menahan suaranya agar tidak terlalu keras. Takut terdengar orang lain yang kebetulan lewat di depan ruangan itu.
“Apa-apaan sih, tadi? Iseng banget. Aku kan lagi memprospek calon nasabah. Kamu nggak pengen aku cepat-cepat pecah telor apa?!”
Dimarahi anak buahnya seperti itu sang manajer bukannya tersinggung, tapi malah tertawa terbahak-bahak. Baginya ekspresi Rosemary lucu sekali kalau sedang kalap begitu.
“Dasar manajer geblek!” umpat gadis itu semakin berani. “Dimarahi kok malah ketawa.”
“Abis yang marahi aku lucu dan cantik, sih,” balas Edward sembari tetap tertawa. Rosemary jadi bingung sendiri sekarang. Dipasangnya wajah cemberut. Gadis itu benar-benar ingin menunjukkan bahwa dia marah sekali atas sikap kurang ajar pria itu tadi.
Edward akhirnya mengalah. “Sudahlah, Sayang. Jangan cemberut begitu. Aku mengaku salah, sudah mengganggumu waktu nelepon klien tadi. Sori, ya,” ucapnya dengan suara selembut mungkin.
Hati kekasihnya jadi luluh. Dia pun mengangguk. Suasana menjadi lengang. Rosemary menundukkan wajahnya. Tak berani menatap manajernya lagi. Dia bingung harus bersikap bagaimana. Mengingat dua hari yang lalu mereka bermesraan di kamar hotel, namun keesokan harinya dirinya menghilang dan sulit sekali dihubungi.