
Keesokan paginya, pukul sepuluh kurang lima belas menit Rosemary telah berada di rumah Sarita, klien yang diperolehnya dari pameran. Ibu muda berusia awal tiga puluhan itu menyambut kedatangannya dengan hangat. Kedua anak Sarita yang duduk di bangku SD sudah berangkat ke sekolah.
“Sebenarnya kalau untuk proteksi kesehatan, kami sekeluarga sudah ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan tempat suami saya bekerja, Mbak Rosemary,” kata perempuan cantik berjilbab itu terus terang. "Jadi kami saat ini lebih membutuhkan tabungan pendidikan.”
Dalam hati Rosemary merasa lega. Dia kemarin sudah membuatkan ilustrasi tabungan pendidikan untuk kedua anak kliennya ini di kantor. Dengan bantuan Edward tentunya. Dikeluarkannya dua set ilustrasi tersebut lalu dijelaskannya dengan bahasa yang mudah dipahami orang awam.
Sarita menanyakan beberapa hal kepada tamunya. Si agen asuransi menjawabnya dengan lancar, tanpa kendala yang berarti. Pertanyaan ibu rumah tangga seperti Bu Sarita ini lebih mudah dihadapi dibandingkan pertanyaan klien sekelas Bapak Tedja kemarin, batin Rosemary mengambil kesimpulan. Dia senang sekali bisa belajar banyak mengenai karakter orang lain. Pekerjaan ini membuat sikap dan perilakunya lebih luwes dan fleksibel dibandingkan sewaktu masih menjadi sekretaris dulu.
“Jadi proposal-proposal ini sudah cocok ya, Bu Sarita?” tanya gadis itu setelah mereka berbincang-bincang dalam waktu yang cukup lama. “Bisakah saya bantu proseskan sekarang? Cuma butuh KTP Ibu, akte lahir anak-anak, Kartu Keluarga, serta kartu kredit. Nanti saya foto semuanya dan kita bisa langsung proses pengajuan ke Jakarta.”
Gadis itu tersenyum manis sekali. Bukan hanya bibirnya yang menyunggingkan senyuman. Sorot matanya pun tampak berseri-seri, membuat hati kliennya tersentuh.
“Maaf, Mbak Rose,” ujar si nyonya rumah membuat hati si agen jatuh seketika. “Saya sih, setuju saja dengan perhitungan yang Mbak sudah buat. Bagus dan cocok buat anak-anak. Tapi saya harus minta persetujuan suami dulu. Karena beliau adalah kepala rumah tangga, pencari nafkah keluarga kami.”
Sambil mempertahankan senyumannya, Rosemary berkata ramah, “Oh, tidak apa-apa, Bu Sarita. Memang sebaiknya begitu. Sebagai istri yang baik memang harus terbuka pada suami, terutama jika menyangkut urusan keuangan.”
Sarita mengangguk lega. Dia senang tamunya ini bisa mengerti. “Mbak, Bolehkah saya bawa dulu proposal-proposal ini? Nanti malam saya rundingkan sama suami. Paling besok atau lusa saya bisa kabari Mbak Rose,” katanya sopan.
“Boleh, Bu,” jawab si agen antusias. “Bahkan seandainya Ibu membutuhkan bantuan saya untuk berbicara dengan Bapak, saya siap datang lagi kemari. Malam juga nggak apa-apa. Bapak biasanya pulang kantor jam berapa, Bu Sarita?”
“Jam setengah enam sore, Mbak. Tapi nggak usahlah, Mbak Rose datang jauh-jauh kemari kalau belum ada kepastian dari suami saya,” sahut sang nyonya rumah sungkan. Dia merasa tidak enak kalau gadis itu datang ke rumahnya lagi tanpa hasil.
Rosemary semakin mempermanis senyumannya. “Nggak apa-apa, Bu. Ini kan memang kewajiban saya memberikan informasi tentang program-program yang bagus demi masa depan anak-anak. Seandainya Bu Sarita mempunyai saudara, teman, atau tetangga yang bisa saya beri informasi juga, jangan sungkan-sungkan memberitahu Rosemary, ya.”
Ayo beri aku referensi, batin gadis itu sangat mendamba. Begitulah cara yang diajarkan Edward kemarin untuk minta dikenalkan dengan kerabat ataupun kenalan kliennya.
“Daripada kamu pontang-panting terus mencari nasabah baru, kan lebih mudah membaik-baiki klien yang sudah ada sekalian minta referensi.”
Begitulah nasihat manajer sekaligus kekasihnya itu. Rosemary merasa perkataan Edward sangat masuk akal. Karena itu dia langsung mempraktikkannya pada Sarita.
“Siap, Mbak Rose. Nanti kalau ada yang tertarik, saya hubungi Mbak, ya,” jawab perempuan itu sambil tersenyum.
And…done? pikir sang tamu kecewa. Aku belum berhasil closing juga hari ini?
“Silakan diminum tehnya, Mbak Rosemary,” kata Sarita mempersilakan.
“Terima kasih, Bu,” sahut si agen sopan. Disentuhnya cangkir yang berisi teh manis hangat di hadapannya. Diteguknya dengan perasaan gundah. Aduh, sepertinya waktuku memang sudah selesai di sini, keluh gadis itu dalam hati. Perasaannya sangat muram karena lagi-lagi keluar dari tempat klien tanpa hasil.
“Mbak Rosemary suka sama tehnya, ya?” tanya si nyonya rumah begitu melihat teh manis buatannya langsung dihabiskan si tamu. “Saya buatkan lagi, ya.”
Gadis di hadapannya terkejut. Tanpa sadar dia telah meneguk habis minuman itu untuk mengisi perutnya yang sudah terasa lapar. Seperti biasa, Rosemary cuma minum air putih pagi ini. Dia memang mencanangkan untuk makan sehari dua kali saja. Demi menghemat pengeluaran.
“Jangan repot-repot, Bu Sarita,” tolak gadis itu halus. “Saya masih ada keperluan. Harus segera pergi. Terima kasih banyak ya, Bu. Beberapa hari lagi saya hubungi, ya.”
“Oh, biar saya saja yang menghubungi Mbak Rosemary. Kalau nggak besok ya lusa,” cetus si ibu cantik mantap.
Si agen asuransi mengangguk. Tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak. Sepertinya ini kode penolakan halus dari Bu Sarita, pikirnya menduga-duga. Dia tak ingin kuhubungi lagi.
Apa mau dikata. Tak ada lagi yang bisa dilakukan Rosemary selain berdiri dan berpamitan pada sang nyonya rumah.
Selanjutnya gadis itu mengendarai motornya menuju ke mal untuk ikut pameran lagi. Di sanalah satu-satunya tempat yang nyaman baginya untuk mencari calon nasabah apabila tidak ada janji temu.
Aduh, pekerjaan ini ternyata tidak mudah! cetusnya dalam hati. Benar-benar butuh kesabaran dan kegigihan. Aku salut sekali dengan agen-agen yang berhasil seperti Bang Edward dan Bu Teresa. Mental mereka luar biasa hebat. Entah sudah berapa ratus kali orang-orang itu mendapatkan harapan palsu ataupun penolakan dari klien!
Rosemary tercenung. Aku nggak bisa terus-terusan bekerja tanpa hasil begini, putusnya dalam hati. Harus ada target. Kalau dalam waktu enam bulan sama sekali nol, aku akan keluar. Barangkali aku sebenarnya tidak berjodoh dengan bisnis ini….
***
Sementara itu tanpa sepengetahuan Rosemary, Edward berjumpa dengan Danu siang harinya di kantor notaris. Dia dipertemukan dengan pemilik apartemen untuk menandatangani perjanjian sewa-menyewa.
Kemarin setelah Rosemary menyatakan kesediaannya untuk mengasuh ketiga anak kembarnya jika menikah dengan Edward, laki-laki itu semakin yakin akan ketulusan cinta gadis itu kepadanya. Gadis itu pantas dipertahankan untuk waktu yang lama, putusnya dalam hati.
Begitu Rosemary pergi meninggalkannya di kantor, pria don juan itu langsung menelepon Danu untuk menawar apartemen yang diminatinya. Penawaran tersebut langsung disampaikan si broker properti pada pemilik apartemen. Ternyata kliennya itu lalu menghendaki harga tengah-tengah antara nominal yang diinginkannya dengan yang diajukan Edward. Kekasih Rosemary itu menyanggupi.
Deal! batin Danu bersorak-sorai dalam hati. Dengan sigap dimintanya data-data kedua kliennya untuk segera diproses di kantor notaris. Dan jadilah kedua belah pihak hari ini menuntaskan transaksi mereka di depan pejabat yang berwenang.