
Edward tertawa geli. “Tentu saja yang paling kamu sukai, Say. Aku kan ingin menyenangkan dirimu.”
Perasaan Rosemary melambung tinggi bagaikan di awang-awang.
“Gombal, ah,” cetus gadis itu manja. “Kan kamu yang nempatin apartemen itu. Bukan aku.”
Edward cengengesan. Sejenak dielus-elusnya tangan kekasihnya. Diremas-remasnya telapak tangan itu penuh kasih sayang. Si gadis merasa sangat nyaman diperlakukan demikian.
Tak lama kemudian mereka tiba di parkiran apartemen. Begitu turun dari mobil, Edward langsung menggandeng tangan Rosemay. Gadis itu sontak menolaknya.
“Nanti kelihatan orang!” cetusnya beralasan.
Laki-laki itu berseloroh, “Ya biar aja. Memangnya kenapa? Kamu kan cewekku.”
“Tapi kamu kan belum….”
“Tenang saja. Apartemen ini sepi dan privat sekali. Kan nggak ada mal. Orang-orang yang kita kenal nggak mungkin datang kemari.”
“Jangan terlalu percaya diri, Bang. Kalau ketemu beneran gimana?”
“Ya tanganmu langsung kulepas. Beres, kan?”
Rosemary menatap sang kekasih geregetan. “Tapi kan udah telanjur kelihatan….”
“Sudahlah, Sayang,” kata Edward akhirnya. “Kalau kita berdiri terus di sini justru lebih berisiko ketemu orang lain.”
Akhirnya si gadis menurut. Dibiarkannya laki-laki itu menggandeng mesra tangannya. Benar saja. Sepanjang perjalanan menuju ke unit yang dimaksud, mereka sama sekali tak berpapasan dengan orang lain.
Sesampainya di depan pintu apartemen, dada gadis itu berdebar-debar. Aduh, aku akan berduaan saja di sana dengan Bang Edward, batinnya cemas. Jangan-jangan dia nanti….
Selanjutnya gadis itu tercengang saat Edward menyalakan lampu dan mengajaknya masuk. Di depannya terpampang pemandangan paling romantis yang pernah dipersembahkan seseorang kepadanya!
Ruang makan dan ruang keluarga apartemen itu didekorasi dengan aneka bunga dan balon berwarna putih, biru muda, dan merah muda yang kelihatan begitu romantis. Ada spanduk bertuliskan Welcome Home, Rosemary Laurens di dinding apartemen. Di samping itu meja makan sudah tertata rapi dengan satu set Chinese food yang terdiri dari mie goreng tipis kesukaan gadis itu, sup asparagus, cah baby kalian, dan burung dara goreng.
“Bang,” cetus gadis itu dengan kerongkongan tercekat. “Kamu melakukan semua ini untukku?”
Edward mengangguk sambil tersenyum. “Apa sih yang nggak buat kamu, Rosemary Laurens?” bisiknya di sisi telinga sang kekasih.
Rosemary tak tahan lagi. Hatinya benar-benar tersentuh. Dirangkulnya leher manajernya tersebut. Diciuminya bibir laki-laki itu sepenuh hati. Edward membalasnya penuh nafsu. Bibir dan lidah mereka menari-nari dengan lincahnya saling menelusuri satu sama lain.
Beberapa saat kemudian Rosemary mengakhiri ciuman penuh gelora itu. Ditatapnya sang kekasih lekat-lekat. Perasaannya begitu terharu.
“Tahukah kamu, Bang? Ini pertama kalinya aku diperlakukan seromantis ini. Aku merasa benar-benar dikasihi. Terima kasih banyak, ya.”
Edward tersenyum senang. Usahanya untuk mengambil hati gadis ini tak sia-sia. “Kamu pantas mendapatkannya, Sayangku. Ini hadiah karena kamu sudah berhasil memenuhi target yang kuberikan. Juga sebagai bentuk kasih sayangku padamu. Tinggallah di apartemen ini untuk seterusnya, Sayang. Jadi kita bisa bebas bertemu kapanpun juga. Perceraianku sedang diurus. Pengacaraku bilang aku masih harus sering-sering tinggal di rumah demi mendekatkan diri dengan anak-anak. Itu satu-satunya cara untuk memperoleh hak asuh. Kamu nggak keberatan kan, aku bergantian tinggal di sini dan di rumahku sendiri?”
Dengan sepenuh hati Rosemary menganggukkan kepalanya. Pria di hadapannya tersenyum lega. Secepat kilat digendongnya tubuh gadis itu. Rosemary berseru kaget.
Dan Rosemary pasrah saja saat pria yang dicintainya itu melucuti pakaiannya di dalam kamar mandi. Dengan tubuh sama-sama polos tanpa sehelai benang pun, pasangan selingkuh tersebut bermesraan penuh gelora di bawah guyuran air shower.
Gadis itu mendesah lembut saat bibir Edward mencumbui lehernya. Kedua tangannya bergerak tak kalah lincahnya. Yang satu menyentuh area bukit kembar Rosemary, yang lainnya menstimulasi organ intim gadis itu.
Ya Tuhan, aku sungguh tak berdaya, batin gadis itu pasrah. Bang Edward sungguh membuatku takluk. Hati dan tubuhku seratus persen adalah miliknya….
***
Setelah puas berasyik-masyuk, pasangan itu keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan tubuh terbalut handuk.
Edward membuka lemari pakaian. Dikeluarkannya kaos putih yang sangat tipis dan celana jins yang pendek sekali.
“Coba pakai ini, Sayang. Aku beli baru dan sudah ku-laundry. Semoga cukup buatmu. Tapi nggak usah pakai bra, ya. Hehehe….”
Rosemary melongo. Apa-apaan ini? pikirnya heran. Kok permintaan Bang Edward mulai aneh begini?
“Kaos ini terlalu tipis, Bang. Celananya juga kelewat pendek. Aku nggak biasa pakai baju kayak gini,” aku gadis itu jujur.
Edward berusaha membujuknya, “Coba aja dulu, Say. Kalau jelek, kamu nggak jadi pakai nggak apa-apa, kok. Mau kan, kamu membuatku senang?”
Kata-kata manis laki-laki itu membuat Rosemary tak berkutik. Diterimanya kaos dan celana itu dari tangan sang kekasih. Kemudian gadis itu berbalik menuju ke kamar mandi kembali.
Edward mencegahnya, “Ngapain pakai di kamar mandi. Di sini aja kan bisa.”
“Celana dalamku ada di kamar mandi, Bang.”
“Ok, deh. Kutunggu di sini, ya.”
Rosemary mengangguk. Dia lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Ditutupnya pintu dan dia mulai melepaskan handuk yang menutupi tubuhnya. Selanjutnya handuk itu dipakainya untuk membalut rambutnya yang masih basah.
Gadis itu memperhatikan bagian atas tubuhnya yang terpantul di cermin. Dia mendesah. Banyak sekali jejak merah yang ditinggalkan Edward. Terutama di area sekitar bukit kembarnya.
Ah, apakah karena umurnya sudah empat puluh tahun, ya? pikir Rosemary penuh tanda tanya. Waktunya mengalami puber kedua. Jadi libido Bang Edward meningkat kembali seperti anak remaja.
Tapi dia memang hebat sekali bercinta, puji gadis itu dalam hati. Aku benar-benar menikmati setiap momen dia menyentuhku. Mungkin ini bedanya menjalin hubungan dengan pria yang telah berpengalaman dalam membina rumah tangga dibanding dengan pemuda sebayaku seperti Owen.
Rosemary lalu mengenakan ****** ******** yang kemudian dilanjutkan dengan celana jins super pendek yang diberikan Edward tadi.
“Hmm…, pas sekali,” gumamnya sambil menggerak-gerakkan kedua kakinya. “Bahan jins-nya nyaman sekali dan lembut banget di kulit. Pasti mahal harganya. Ini celana terpendek yang pernah kupakai. Ya ampun!”
Selanjutnya dilepaskannya handuk yang membalut rambutnya. Kini dia memasukkan kepalanya pada bagian leher kaos oblong putih tipis itu. Begitu selesai memakainya, Rosemary melotot di depan cermin bagaikan melihat hantu!
“Aduh, Abangku tercinta,” cetusnya sambil nyengir. “Kamu ini udah termasuk fetish, deh. Memintaku memakai kaos yang tipis dan ketat banget tanpa bra begini. Ccck…cck…, Edward Fandi, Edward Fandi.”
Memang Rosemary kelihatan seksi sekali berpenampilan demikian. Kedua bukit kembarnya membusung dengan ujung-ujungnya yang tampak jelas menembus kaos putih tipis yang membalut tubuhnya. Pria manapun pasti akan tergoda melihat penampilannya. Sangat seksi dan menggairahkan.