Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Pacar Baru Edward



“Damian itu masih single ya, Rose?” tanya gadis itu lagi. Matanya menatap kawan sekamarnya penuh rasa ingin tahu.


Mana aku tahu, Ren? respon Rosemary dalam hati. Namun di hadapan gadis itu dia terpaksa mengangguk. Sorot mata lawan bicaranya langsung berbinar-binar.


“Kenalin, dong. Aku ngebet nih, sama dia. Hehehe….”


Aduh, sebaiknya cari orang lain aja, Ren, komentar Rosemary lagi-lagi dalam hati. Dia tak tega mengecewakan perasaan teman barunya itu, namun juga tak sanggup membuka rahasia jati diri Damian yang sebenarnya.


Namun demi menjaga hubungan pertemanannya dengan Renata, gadis itu terpaksa mengangguk lagi.


“Besok waktu breakfast kamu kukenalin sama dia, deh. Tenang aja,” katanya sambil tersenyum.


“Really? Wah, thank you so much, Rose!”


“Your welcome.”


Renata gadis yang baik, puji Rosemary dalam hati. Sebenarnya aku hepi-hepi aja kalau dia dan Damian bisa jadian. Tapi…apa itu mungkin, ya?


Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benak gadis itu. Sementara itu Renata masih asyik bertanya-tanya tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan Damian. Rosemary berusaha menjawab sebisanya demi menyenangkan hati kawan yang belum lama dikenalnya itu.


***


“Dam, kenalin. Ini Renata, teman sekamarku. Agen dari Yogya,” kata Rosemary memperkenalkan Damian pada gadis yang mencari informasi tentangnya sepanjang malam kemarin.


Pemuda itu tersenyum. Ia mengulurkan tangannya pada Renata. “Halo, aku Damian. Teman sekantor Rosemary,” sapanya ramah.


Gadis berambut keriting di depannya menerima uluran tangannya dengan hangat dan menjawab tak kalah ramah, “Aku Renata.”


Rosemary tersenyum simpul. Dia merasa geli sendiri berperan sebagai mak comblang bagi kedua orang tersebut. Spontan gadis itu berkata, “Kamu duduk di sini aja sama kita, Dam. Sarapan sama-sama. Belum dapat tempat duduk, kan?”


Sahabatnya itu mengangguk. Dia lalu permisi mau memilih-milih makanan terlebih dahulu. Rosemary dan Renata mempersilakan. Mereka berdua memang tiba lebih dulu di tempat prasmanan itu dan sudah mengambil hidangan untuk sarapan.


“Aduh, Rose,” cetus Renata setelah Damian berlalu meninggalkan mereka.


“Ada apa, Ren?” tanya Rosemary heran.


“Temanmu itu…ternyata lebih cakep kalau dilihat dari dekat. Tatapan matanya itu lho, meruntuhkan jiwa….”


Rosemary terkekeh. “Udah puas nih, sekarang? Bisa kenalan sama Damian. Hehehe….”


Renata mengangguk. “Tapi beneran kamu nggak ada perasaan sama dia, Rose?”


“Nope,” jawab lawan bicaranya mantap.


“Jadi kukejar dia nggak apa-apa, ya?”


“No problem. Tapi….”


“Tapi kenapa?”


Rosemary berdeham pelan. Ditatapnya kawannya sungguh-sungguh. “Tugasku cuma ngenalin kalian aja ya, Ren. Untuk selanjutnya aku nggak bisa mengusahakan Damian suka sama kamu. Karena terus terang meskipun hubungan kami dekat, tapi dia nggak pernah menyinggung-nyinggung tentang hubungan percintaan….”


Apa yang dikatakan gadis itu jujur adanya. Dia dan Damian memang bisa berbicara mengenai segala macam hal, kecuali topik yang satu itu.


Renata manggut-manggut mengerti. Sudah diperkenalkan dengan pemuda pujaan hatinya saja dia sudah bersyukur sekali.


Kedua gadis itu lalu menikmati sarapan mereka. Tak lama kemudian terdengar sebuah suara yang mereka kenal, “Wah, breakfast hari ini kelihatannya enak sekali, ya. Aku sampai hampir kehabisan.”


Rosemary mendongak. Dilihatnya Damian sudah muncul kembali di hadapan mereka. Tangan kirinya membawa sebuah piring ceper berisi dua buah telur mata sapi, beberapa potong sosis dan bacon, roti, dan semangkuk kecil sup. Tangan kanannya memegang gelas berisi orange juice.


Selanjutnya Rosemary berusaha membuka percakapan sehingga suasana tidak terasa kaku. Ketika dilihatnya Renata sudah mulai merasa nyaman berbincang-bincang dengan Damian, gadis itu permisi pergi ke toilet.


“Mau kutemani, Rose?” ujar Renata menawari.


Kawannya menggeleng. “Nggak usah. Aku bisa sendiri, kok. Kamu terusin aja makannya. Sarapanku sudah selesai.”


Selanjutnya Rosemary bangkit berdiri dan berjalan menuju ke toilet. Beberapa saat kemudian diam-diam gadis itu menoleh ke arah kawan-kawan yang baru saja ditinggalkannya. Tampak Damian dan Renata masih menyantap sarapan sambil asyik bercakap-cakap. Keduanya tampak akrab seperti kawan yang sudah lama mengenal.


Rosemary tersenyum senang. Dia lalu berbalik dan melanjutkan langkah kakinya menuju ke kamar kecil.


***


“Sekali mata keranjang ya tetap mata keranjang!”


“Heh?! Siapa sih yang kamu maksud?”


“Itu, si Edward.”


“Edward yang mana?”


“Edward Fandi, manajer top dari Surabaya. Masa nggak tahu, sih?”


“Oh, itu. Memang cakep dan tajir kan, dia. Wajarlah kalau mata keranjang! Hehehe….”


“Yang aku heran, istrinya kok nggak pernah curiga kalau suaminya itu petualang cinta.”


“Edward pintar ngerayu, kali. Dia kan manajer top. Pasti pinter ngomong, bersilat lidah, membuat alasan, bla-bla-bla….”


“Padahal istrinya cantik dan masih kelihatan muda lho, ya. Cuma ya salahnya sendiri. Jarang nemenin suaminya ikut acara-acara kayak gini. Edward jadi serasa bujangan lagi, deh.”


“Memangnya orang itu sekarang lagi jalan sama siapa, sih?”


“Itu… agen yang baru dipromosikan jadi manajer tahun ini. Dia juga dapet bonus trip ke London ini. Orangnya masih muda sekali. Umurnya jauh di bawah Edward, lho.”


Deg! Jantung Rosemary hampir copot rasanya mendengarkan kasak-kusuk agen-agen perempuan yang berada di dalam toilet. Dia sendiri baru selesai buang air kecil di dalam salah satu bilik. Saat mau keluar, gadis itu tertegun mendengar nama kekasihnya disebut-sebut oleh perempuan-perempuan itu. Rosemary akhirnya memutuskan tidak jadi keluar bilik supaya bisa mendengarkan pembicaraan mereka sampai selesai.


Ya Tuhan, benarkah apa yang mereka katakan tadi? Bang Edward itu petualang cinta? Masa iya, sih? Lalu dari mana mereka tahu kalau dia sekarang menjalin hubungan denganku? pikir gadis itu panik. Keringat dingin mengalir keluar dari pelipisnya.


“Oh, manajer baru itukah? Yang dari Surabaya juga. Siapa namanya? Lupa aku.”


“Inge!”


Roh Rosemary seakan-akan keluar dari raganya mendengar nama itu. Inge? Kok bisa? pikirnya keheranan. Salah. Salah besar kalian! Bukan Inge yang menjadi kekasih Bang Edward. Tapi aku, Rosemary Laurens!


“Yes, benar. Inge si janda kembang itu.”


“Eh, masa dia sudah janda? Masih muda sekali gitu. Umurnya belum sampai tiga puluh, kan?”


“Justru karena udah janda, makanya Edward mau. Jadi nggak terikat. Dia kan terkenal nggak tahan lama kalau pacaran. Makanya setiap ikut trip besar begini selalu gonta-ganti pasangannya. Dia sama Inge lho, tidur sekamar di lantai tujuh. Kamar paling pojok dan terpisah dari agen-agen lainnya.”


“Hush! Jangan keras-keras. Nggak enak kalau kedengaran orang yang kenal sama Edward atau Inge. Dikiranya kita mata-matain nanti.”


“Ah, di sini kan cuma ada kita-kita aja. Nggak ada orang lain.”


Ada aku…, cetus Rosemary dalam hati. Inge, aku tahu cewek itu. Kukira dia juga masih gadis. Ternyata sudah janda. Orangnya cantik dan modis sekali. Rambutnya ikal panjang dan dicat warna burgundy. Kami berdiri di atas panggung yang sama waktu dilantik sebagai manajer level pertama tahun ini. Meskipun tak berkenalan secara resmi, tapi kami sempat saling tersenyum dan mengangguk tanda menyapa….