
“Selamat pagi, Bu Farida. Saya Rosemary, pasien Dokter Mirna,” kata Rosemary memperkenalkan dirinya pada adik kandung psikiaternya itu ketika esok paginya dia datang mengunjungi panti asuhan anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) milik wanita itu.
“Selamat pagi, Nona Rosemary,” jawab wanita berambut pendek dan bertubuh tinggi ramping itu sopan. “Saya sudah diberitahu kakak saya mengenai maksud Nona untuk sesekali bekerja membantu di panti ini secara sukarela. Terima kasih banyak sebelumnya. Akan tetapi sebaiknya saya perlihatkan terlebih dahulu kondisi tempat ini sebelum Nona memulai. Bagaimana?”
Tamunya mengangguk penuh semangat. “Panggil saya Rosemary saja, Bu Farida. Tidak usah pakai sebutan Nona. Dokter Mirna juga memanggil saya begitu,” pintanya bersungguh-sungguh.
Farida mengangguk setuju. Dia menyukai sikap rendah hati yang terpancar dari pembawaan perempuan muda ini. “Baiklah kalau begitu, Rosemary. Sekarang mari saya antar melihat-lihat, ya. Mumpung masih pagi.”
“Siap, Bu Farida.”
Rosemary beranjak mengikuti langkah pemilik panti tersebut meninggalkan ruang tamu. Mereka melewati lorong panjang yang terdiri dari beberapa ruangan. “Ini adalah ruangan kelas-kelas untuk para ABK bersekolah. Dimulai dari pukul setengah delapan pagi sampai dua belas siang,” kata Farida menjelaskan.
Wanita itu lalu mengetuk salah satu pintu. Terdengar suara dari dalam mempersilakan masuk. Selanjutnya Farida membuka pintu di depannya.
“Selamat pagi, Bu Ivon dan Bu Anita,” ucapnya ramah menyapa guru-guru yang tengah mengajar di kelas itu. Keduanya masih muda dan mengenakan jilbab. Mereka ditaksir Rosemary berusia sekitar akhir dua puluhan. Para pengajar itu membalas sapaan Farida dengan hormat.
Sang pemilik panti lalu melanjutkan, “Kita sedang kedatangan tamu istimewa. Namanya Rosemary. Selamat pagi, Anak-anak. Sapa Bu Rosemary, dong.”
Tiga orang remaja di dalam ruangan itu mengikuti instruksi tersebut. Sisanya diam saja. Rosemary terpana. Di hadapannya tampak sekitar enam orang remaja laki-laki dan perempuan duduk di bangku masing-masing. Mereka mengenakan seragam yang bertuliskan SMA Cinta Kasih.
“Selamat pagi, Anak-anak. Senang sekali Ibu berada di sini. Kalian sedang belajar, ya?” sapa Rosemary ramah.
Hatinya tergetar menyaksikan empat di antara remaja itu mempunyai paras yang serupa, yaitu mongoloid. Mereka inilah yang disebut penyandang down syndromme, batinnya yakin. Tipe wajahnya serupa. Tapi sorot mata mereka tidak kosong sebagaimana yang biasa kulihat di TV. Apa karena anak-anak ini mendapatkan pelatihan yang baik di sini, ya? pikirnya heran.
Seorang remaja perempuan bertampang seperti anak biasa menjawab lugu, “Iya. Kami sedang sekolah. Ibu Rosemary mau ikutan juga?”
Sontak Rosemary, Farida, Ivon, dan Anita tertawa bersamaan. Farida lalu menjelaskan, “Bu Rosemary baru pertama kali ini datang kemari, Livy. Mungkin kelak kalau ada kesempatan beliau bisa sesekali ikut kelas ini.”
“Asyik!” seru gadis berkacamata dan berambut lurus yang diikat ala ekor kuda itu. “Kelas kita pasti tambah ramai jadinya. Hehehe….”
Setelah berbasa-basi sejenak, Farida kemudian mengajak Rosemary meninggalkan ruangan kelas itu. Setelah pintu ditutup dan keduanya berjalan beberapa langkah, sang tamu memberanikan diri untuk bertanya, “Maaf Bu Farida, itu tadi murid SMA kelas berapa?”
“Kelas satu sampai tiga,” jawab lawan bicaranya tenang.
Rosemary terkejut. “Oh, dijadikan satu semua? Kenapa begitu? Tapi memang saya lihat tadi sepertinya mereka tidak seumuran.”
Farida mengangguk. “Kami di sini membagi kelas berdasarkan kemampuan dan kematangan mental anak. Mereka tadi umurnya antara enam belas sampai dua puluh tahun. Kami masukkan dalam kelas yang sama supaya bisa bersosialisasi. Nanti pelajaran akademiknya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Bu Ivon dan Bu Anita adalah terapis-terapis ABK yang sudah dibekali kemampuan untuk mengajar akademik sampai level SMA.”
“Oh, begitu. Lalu Livy itu kendalanya di mana, Bu? Kelihatannya dia yang kemampuan sosialnya paling baik di antara teman-teman sekelasnya, ya?” tanya Rosemary penasaran.
“Betul. Livy itu penyandang autisme yang pintar sekali. Umurnya sekarang tujuh belas tahun. Dia dulunya anak orang berada. Jadi sempat mengenyam pendidikan, pelatihan, dan terapi yang berkualitas selama bertahun-tahun. Dia anak tunggal. Orang tuanya sangat menyayanginya, Sayangnya dua tahun yang lalu mereka meninggal dunia akibat kecelakaan mobil di jalan tol. Livy satu-satunya korban yang selamat. Dia cuma terkena luka-luka luar yang tidak parah.”
“Oh, kasihan sekali,” cetus Rosemary menaruh empati.
Dia kembali teringat pada kecelakaan mobil yang menimpanya sepuluh tahun yang lalu. Dirinya selamat sedangkan Owen, kekasihnya, meninggal dunia. Tak dinyana dia sekarang dipertemukan dengan gadis yang senasib dengan dirinya. Rencana Tuhan sungguh tak terduga.
Farida menghembuskan napas panjang. Ekspresi wajahnya menampakkan keprihatinan yang mendalam.
“Sebenarnya Livy itu anak didik saya ketika dulu masih menjadi terapis ABK. Setelah saya menikah dan berhenti bekerja, mamanya Livy masih suka kontak-kontak saya. Kami menjadi kawan baik. Ketika beliau dan suaminya meninggal dunia, saudara-saudara mereka saling berebut harta warisan. Tapi tak seorang pun yang sudi mengasuh Livy. Salah seorang di antara mereka mengetahui saya menjalankan panti asuhan ini. Dia kemudian menitipkan Livy untuk tinggal di sini dan berjanji akan membayar pengeluaran setiap bulannya. Tapi saya menolaknya….”
“Kenapa, Bu Farida? Bukankah pengeluaran untuk ABK tidak kecil?”
“Betul. Tapi tujuan saya membuka tempat ini bukan untuk mencari uang. Saya sudah hidup berkecukupan dengan harta warisan mendiang suami saya. Kalau ada donatur yang dengan tulus hati mau berkontribusi terhadap panti ini, niat baiknya akan saya terima dengan lapang dada. Tapi kalau menitipkan ABK karena tidak sudi merawatnya…ah, lebih baik saya asuh saja di sini secara sukarela. Itu akan lebih membawa berkah….”
Pernyataan pemilik panti tersebut direnungkan secara mendalam oleh Rosemary. Jadi orang ini tidak bermaksud mengkomersilkan tempat ini, duganya dalam hati. Dia murni menjalankan panti asuhan ini semata-mata demi perikemanusiaan saja.
“ABK yang saya terima di panti ini adalah mereka yang sudah menjadi yatim piatu. Kalaupun masih ada salah satu orang tuanya yang hidup, bisa tetap saya terima dengan persyaratan tertentu. Misalnya karena kondisi ekonominya pas-pasan. Orang tuanya yang tinggal satu itu harus bekerja meninggalkan rumah dan tak ada orang lain yang bisa mengurus anaknya. Itupun akan dilakukan investigasi terlebih dahulu oleh tim saya. Jadi tidak sepenuhnya percaya pada cerita si orang tua. Di panti ini ada tim investigator yang mampu melacak tempat tinggal orang itu, kebenaran ceritanya, dan lain-lain. Setelah semua fakta diperoleh, barulah saya memutuskan apakah ABK itu layak atau tidak diterima tinggal di panti ini. Karena bagaimanapun juga keluarga adalah support system terbesar dari kerberhasilan masa depan seorang ABK. Bukan panti, sekolah, maupun tempat terapi….”