Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Memberitahu Damian



Rosemary merenungkan kata-kata dokter tersebut. Dia menghela napas panjang. “Hanya Tuhan yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dari informasi yang terakhir kudengar, istri Edward masih setia mendampingi suaminya meskipun laki-laki itu sudah kehilangan pekerjaan dan nama baik. Alangkah mulianya hati wanita itu. Aku benar-benar merasa malu karena dulu telah menyakitinya. Entah dia menyadarinya atau tidak….”


“Lalu apa gunanya kamu memikirkannya sekarang?” tukas Christopher tegas. “Nggak ada hal yang bisa kamu lakukan demi kebahagiaan wanita itu.”


“Ada,” sela Rosemary sembari tersenyum lebar. “Kuikuti saja anjuranmu tadi untuk mendoakan kebahagiaannya. Hehehe….”


Christopher menyeringai senang. “Kalau begitu, tunggu apa lagi?” cetusnya sembari bangkit berdiri. “Lupakan masa lalu yang tidak menyenangkan, Rosemary. Sekarang mari kutemani kamu beradaptasi dengan para ABK di sini. Kita mulai dari level yang paling kecil dulu, yaitu kelompok bermain. Sebentar lagi bel tanda istirahat selesai akan berbunyi. Ayo kita masuk dulu ke dalam kelas.”


Rosemary menyetujui ajakan mentornya itu. Ya, ini adalah awal yang baik bagiku untuk memulai hidup baru, batin wanita itu penuh semangat.


***


Dua minggu kemudian barulah Rosemary muncul di kantornya. Dia berbicara berdua dengan Indri di dalam ruangan tertutup di lantai satu. Tiba-tiba terdengar pintu kaca diketuk dari luar. Kedua wanita itu menoleh. Mereka tersenyum melihat tampang Damian yang cengar-cengir di depan pintu.


“Ayo masuk, Dam,” seru Rosemary sembari melambaikan tangannya. “Aku sudah mau selesai sama Mbak Indri, kok.”


Sahabatnya itu lalu mendorong pintu kaca sambil menyapa dua orang perempuan di hadapannya. Harum parfumnya yang semerbak memenuhi segenap penjuru ruangan. Rosemary berpura-pura bersin untuk menggoda kawan baiknya itu.


“Parfummu ini baunya kelewatan, Bro. Kalah wangi parfum cewek,” sindirnya sambil meringis.


Damian yang tak terima diejek langsung menyahut, “Ini keluaran terbaru merek kesukaanku, Rose. Aku beli di Inggris kemarin. Limited edition pula. Nggak masuk Indonesia, lho.”


“Kalau limited edition kenapa dipakai buat kerja? Apa nggak sayang?” celetuk sahabatnya menggoda.


“Sesekali kan, nggak apa-apa. Hidup itu harus dinikmati, Sis. Oya, kamu kok tiba-tiba ngilang, sih? Digosipin orang-orang, lho. Sama sekali nggak produksi, sering bolos meeting, di-WA balasnya lama banget, ditelepon sering nggak diangkat, macam-macam deh. Seakan-akan mau menghilang di bisnis asuransi!”


Suara tawa Rosemary terdengar membahana memenuhi ruangan tersebut. Dia lalu berbicara sebentar dengan Indri. Tak lama kemudian sekretarisnya itu membereskan berkas-berkasnya lalu melangkah meninggalkan ruangan.


Rosemary menatap Damian dengan sorot mata berbinar-binar. “Banyak hal yang mau kuceritakan padamu, Bro,” katanya dengan wajah berseri-seri.


“Sure!” cetus laki-laki itu mantap. “Pasti ada hal luar biasa yang membuat Rosemary Laurens menghilang tanpa kabar selama dua minggu. Lalu muncul kembali dengan penuh sukacita seperti ini.”


Selanjutnya wanita itu bercerita tentang aktivitas barunya di panti asuhan ABK milik adik kandung psikiaternya. Betapa di sana untuk pertama kalinya dia bersinggungan langsung dengan berbagai jenis ABK yang biasanya hanya dilihatnya di TV. Rosemary juga menyebut-nyebut dokter internisnya dulu, yaitu Christopher, yang menjadi mentornya dalam menyesuaikan diri dengan komunitas ABK di panti tersebut.


“Semula aku berencana setiap hari ke panti, Dam. Tapi ternyata susah dilakukan. Ada saja nasabah-nasabah yang menghubungiku minta dibantu urus klaim asuransi, narik dana investasinya, dan macam-macam lainnya. Juga ada yang minta di-upgrade manfaat rawat inapnya. Jadinya omzetku naik sedikit tanpa kuusahakan sendiri. Tapi aku jadi nggak bisa fokus seratus persen melakukan pelayanan di panti. Karena masih harus menemui nasabah. Dokumen-dokumen yang perlu kusetor ke Indri biasanya kukirim kemari via ojek online, sih. Jadi aku nggak perlu repot-repot sering datang ke kantor….”


Damian mengernyitkan dahi mendengar penuturan wanita itu. “Rosemary,” ucapnya sungguh-sungguh. “Kamu sadar nggak dengan apa yang kamu katakan tadi? Kamu lebih mementingkan pelayanan di panti asuhan ABK daripada karirmu sendiri! Nggak salah, nih?”


Lawan bicaranya menggeleng. “Aku sudah memutuskan untuk meninggalkan bisnis asuransi, Bro. Aku memilih fokus menjalankan pelayanan di panti asuhan ABK,” ucap wanita itu tenang.


“What?! Don’t be silly, Rosemary Laurens!”


“Silly katamu? Aku kekanak-kanakkan? Kok bisa?”


“Iya. Kamu seperti baru menemukan mainan baru jadi excited setengah mati dengan pelayananmu itu. Tapi lihat saja satu sampai dua bulan kemudian. Kamu mulai bosan dan kembali menjadi agen asuransi!”


“Nope! Aku serius mau berhenti. Ini sudah kukatakan pada Mama sebelum aku tahu tentang panti asuhan ABK itu.”


Damian menyeringai mendengarnya. “Kurasa Tante Martha nggak akan menyetujui keputusanmu itu, Rose,” katanya terus terang. “Mamamu itu sangat bangga pada dirimu, lho. Terlihat benar waktu dia ikut denganmu tur keliling Eropa tempo hari. Ekspresi wajahnya yang bahagia saat orang-orang memuji-muji prestasimu di hadapannya. Juga saat kalian berfoto bertiga dengan Nelly setelah kamu menerima penghargaan sebagai agen terbaik se-Indonesia Timur. Kamu tega mengecewakan hatinya dengan meninggalkan pekerjaan yang telah terbukti memberikan kesejahteraan bagi keluargamu?”


Rosemary tersenyum sinis. Ternyata Damian tak ada bedanya dengan orang-orang lain di kantor ini. Hedonis sekali! Segala sesuatu selalu diukur dengan materi, prestasi, dan reputasi. Nggak capek apa hidup terus-terusan sesuai pendapat orang lain? Aku capek. Capek setengah mati!


“Pikirkanlah baik-baik keputusanmu itu, Rose. Kamu dulu kan, semangat sekali bekerja demi membahagiakan keluarga. Sekarang sudah tercapai kok malah kendor. Apa nggak sayang dengan jerih payahmu selama ini? Setiap tahun kamu masuk koran nasional lho, sebagai agen asuransi yang berprestasi. Masa hanya karena jenuh, kamu nekad meninggalkan dunia yang membesarkan namamu!”


“Justru karena tujuanku membahagiakan keluarga sudah tercapai, kini waktunya aku  membahagiakan diriku sendiri, Dam.”


Laki-laki itu terperangah. Jadi selama ini sahabatnya ini tidak bahagia dengan segala pencapaian fantastisnya yang membuat banyak orang kagum sekaligus iri hati?


“Dam,” kata Rosemary lembut. “Keluargaku sekarang sudah hidup enak secara finansial. Mereka bahagia. Tugasku sudah selesai. Kamu ingat dua ruko yang dulu kubeli masih dalam bentuk gambar? Ruko-ruko itu sudah selesai dibangun dan laku disewa orang. Uang sewanya kuinvestasikan dalam bentuk reksa dana. Jadi kewajibanku sekarang cuma membayar angsuran rumahku sampai dua tahun ke depan serta membiayai kehidupanku sama Mama sehari-hari. Nelly sudah mempunyai uang sendiri dari hasil kerjanya. So, aku merasa sudah tak ada gunanya aku jungkir-balik mencari uang seperti dulu….”


“Sampai kapan uang hasil sewa ruko-rukomu itu sanggup membiayai kehidupanmu dan mamamu, Rose? Realistislah. Tante Martha sudah terbiasa hidup enak sejak kamu sukses menjadi agen asuransi. Barang-barangnya branded, bahkan melebihi barang-barangmu sendiri. Suka makan enak-enak. Seleranya sudah seperti kaum sosialita. Masa kamu mau minta mamamu sendiri men-downgrade gaya hidupnya?”