
Edward diam seribu bahasa mendengar penuturan si dokter. Terselip perasaan bersalah yang teramat mendalam pada sanubarinya.
Maafkan aku, Rosemary, sesalnya dalam hati. Tak pernah sedikitpun terpikir dalam benakku untuk membuatmu menderita seperti ini. Tapi aku hanyalah manusia biasa yang punya kelemahan. Dan keinginan untuk memiliki dirmu selama beberapa waktu adalah salah satu bentuk kelemahanku.
Menyaksikan kawannya diam saja tak bereaksi, si dokter melanjutkan ucapannya, “Waktu itu aku cuma tersenyum dan berkata…Berdoalah Nona Rosemary. Mintalah hikmat pada Tuhan dengan sungguh-sungguh. Maka hal itu akan diberikanNya pada Nona….”
Sementara itu Rosemary yang masih tertidur di dalam ruang operasi bermimpi. Dia seolah-olah melihat seorang malaikat kecil bersayap dan berjubah putih terbang tinggi meninggalkan dirinya yang berlinang air mata….
***
Setelah melalui masa observasi selama dua jam di rumah sakit, Rosemary akhirnya diperbolehkan pulang. Seorang perawat membekalinya obat, vitamin, dan daftar makanan sehat yang sebaiknya dikonsumsi selama satu minggu ke depan demi mempercepat pemulihannya. Setelah itu gadis itu diminta untuk datang kembali ke tempat praktik Dokter Agus untuk kontrol.
“Terima kasih banyak, Suster,” ucap si pasien datar. Dia lalu menoleh pada Edward yang berdiri menunggunya. “Mari kita pulang sekarang.”
Pria itu mengangguk. Ketika dia bermaksud membimbing Rosemary, gadis itu langsung menolak. “Nggak usah. Aku bisa berjalan sendiri,” katanya tegas.
Edward menuruti saja kata-kata mantan kekasihnya tersebut. Mereka lalu berjalan beriringan meninggalkan ruangan observasi.
Selama dalam perjalanan, kedua insan itu diam saja. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya terdengar alunan lagu-lagu romantis yang diputar dalam mobil Edward. Lagu-lagu romantis yang dulu menjadi saksi kemesraan mereka berdua….
***
“Tinggalkan aku sendiri. Aku butuh istirahat yang cukup,” kata Rosemary ketus begitu dia dan Edward tiba di apartemen. Laki-laki itu tak tahan lagi diperlakukan secara tak hormat oleh gadis itu.
Dia lalu berkata, “Kamu belum sehat betul, Rose. Biarkan aku menginap dua-tiga hari di sini untuk merawatmu. Siapa yang akan menyiapkan makanan untukmu nanti?”
“Aku bisa nelepon salah satu depot di bawah dan minta diantarkan ke lobi,” jawab Rosemary bersikeras.
“Tapi kan, kamu harus berjalan keluar apartemen dan turun lewat lift. Kalau ada apa-apa gimana?”
Rosemary menatap dingin laki-laki yang dulu sangat dicintainya itu. “Apa lagi yang bisa membuatku takut setelah semua pengalaman buruk yang menimpaku?”
Kalimat pedas gadis itu membuat Edward tak berkutik. Ia pun mengalah. “Ya sudah. Aku pulang dulu. Nanti kalau perlu sesuatu, silakan menghubungiku. Jangan sungkan-sungkan,” ucapnya sepenuh hati.
Gadis di hadapannya tersenyum sinis. Lalu dengan santai dia membalikkan badannya dan berjalan pelan menuju ke kamar tidur. Dirinya sudah tak lagi mempedulikan apapun. Hanya ingin membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menangis sepuas-puasnya. Menangis karena telah melakukan dosa yang mungkin tak terampuni seumur hidupnya. Yaitu melenyapkan darah dagingnya sendiri….
***
“Ada hal penting yang perlu kuberitahukan padamu, Rose…,” kata laki-laki itu serius. Si gadis yang tengah duduk di sofa acuh tak acuh menanggapinya. Baginya apapun yang keluar dari mulut Edward Fandi sekarang tak ada yang penting.
Pria itu lalu duduk di sofa satunya. Letaknya di sisi serong sebelah kanan sofa tempat Rosemary duduk. Setelah menghela napas panjang, Edward mulai bertutur, “Sewaktu keliling Inggris dan Perancis selama dua minggu kemarin, aku memperoleh tawaran yang sangat menarik dari salah seorang manajer senior di Jakarta. Dia direkrut oleh sebuah perusahaan asuransi asing yang dalam waktu dekat akan masuk ke pasar Indonesia. Langsung diberi jabatan CEO. Orang itu lalu mengajakku untuk turut bergabung di perusahaan itu. Aku tak perlu lagi menjual asuransi dan merekrut agen seperti sekarang. Tugasku adalah di belakang layar untuk memikirkan pengembangan perusahaan tersebut di negeri ini. Gaji, bonus, dan fasilitas yang ditawarkan sangat menggiurkan. Tiga kali lipat dari penghasilan terakhirku di perusahaan kita….”
Rosemary tertegun mendengar kabar mengejutkan itu. Ya Tuhan, kenapa hidup orang ini selalu dipenuhi keberuntungan? Harta, tahta, dan wanita diperolehnya tanpa kesulitan yang berarti. Baru tiga hari yang lalu dia menemaniku mengaborsi darah daging kami. Lalu sekarang…dengan tanpa perasaan dia memamerkan perkembangan karirnya yang luar biasa di hadapanku! Manusia macam apa ini? Manusia berhati serigala!
Gadis itu merasa terpukul sekali sampai dadanya terasa sesak. Tiba-tiba dia teringat petuah Dokter Dewi, psikiater yang dulu merawatnya di Balikpapan. Ditariknya napas dalam-dalam lalu dihembuskannya pelan-pelan. Dilakukannya selam tiga kali berturut-turut. Perasaannya kini menjadi lebih tenang.
“Kamu nggak apa-apa, Rose?” tanya Edward cemas.
Rosemary berpaling kepadanya. Ditatapnya laki-laki itu dalam-dalam. Entah kenapa perasaan cintanya pada Edward seperti sudah menguap entah ke mana. Di matanya pria itu kini cuma seperti orang kebanyakan yang tidak mempunyai arti penting dalam kehidupannya.
“Jadi kamu menerima tawaran itu?” tanya gadis itu tenang.
Edward mengangguk mantap. “Dua bulan lagi akan kuboyong seluruh anggota keluargaku pindah ke ibukota. Aku sudah mengajukan surat pengunduran diri pada Bu Teresa. Beliau sempat menahanku. Tapi tentu saja aku lebih memilih jabatan yang tinggi di perusahaan baru itu.”
“Selamat atas perkembangan karirmu yang luar biasa,” ucap gadis itu tetap tenang. Tapi dia sama sekali tidak tersenyum ataupun mengulurkan tangannya seperti kebiasaan orang memberikan ucapan selamat.
Mantan kekasihnya mendesah lalu menjawab, “Terima kasih banyak, Rose. Kudoakan karirmu juga akan berkembang pesat di bawah bimbingan big boss langsung.”
“Oh, jadi aku selanjutnya akan berada langsung di bawah tim Bu Teresa?”
“Betul, Rose. Karena aku dulu direkrut langsung oleh beliau. Jadi kamu nanti bisa sering-sering ketemu Damian. Dia kan juga berada dalam tim Bu Teresa.”
“Terima kasih. Lagi-lagi kamu sudah merencanakan segala sesuatunya dengan baik. Di London tempo hari juga begitu. Aku jadi nggak kesepian karena ditemani Damian terus,” sindir Rosemary tajam.
Edward tersenyum simpul. Memang dia yang tempo hari mengatur agar selama tur ke London Rosemary selalu diberi tempat duduk bersama-sama dengan sahabatnya itu. Edward tahu bahwa gadis itu tidak mudah membuka diri terhadap kawan baru. Berbeda halnya kalau memprospek orang yang baru dikenal sebagai klien. Rosemary jago sekali dalam hal itu. Karena tujuannya adalah untuk mencari nafkah semata, bukan untuk menjalin hubungan persahabatan.
“Oya, Rose. Maukah kamu menerima pengalihan seluruh nasabahku? Jadi semua komisi dan bonus yang biasanya aku dapatkan akan berpindah ke tanganmu. Pekerjaanmu jadinya juga akan lebih ringan, karena tidak perlu mencari-cari nasabah baru lagi. Cukup menjaga hubungan baik saja dengan nasabah-nasabahku dan menawari mereka produk-produk baru….”
“Alihkan saja semua nasabahmu pada agen lain. Aku tidak membutuhkannya!”