Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Aku Akan Bercerai



“Asal kamu melakukannya dengan ramah. Terus-terusan senyum kayak tadi, Nggak masalah, kok.”


“Oh, My God! Mukamu nggak kaku-kah, Dam, tersenyum terus begitu?”


“Kalau demi mendapatkan nasabah, nggak ada istilah muka kaku karena tersenyum terus, Rose!”


Sontak agen-agen lain tertawa terbahak-bahak mendengar seloroh Damian barusan. Rosemary jadi terbawa suasana. Perasaannya juga plong karena telah berhasil memperoleh satu database, meskipun belum tentu akan mengambil asuransi darinya. Yang penting kedatangannya ke pameran ini tidak sia-sia. Dia telah mendapatkan ilmu canvassing yang sangat berharga dari Damian.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Tertera nama Edward pada layar. Mata gadis itu langsung berbinar-binar.


“Halo, Bang. Aku lagi berada di pameran,” sahutnya ceria. Raut wajahnya tampak gembira sekali. Dia tak menyadari Damian tengah memperhatikannya dengan serius. Adapun agen-agen lainnya mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing mendekati para pengunjung mal.


Rosemary mendengarkan peneleponnya berbicara sebentar. Perlahan gadis itu berjalan menjauhi Damian. Edward barusan memberitahunya suatu hal yang sensitif. Yaitu bahwa dia kemarin bertengkar hebat dengan istrinya sehingga terpaksa angkat kaki dari rumah.


“Tadi malam aku mengemasi barang-barang pribadiku dan menginap di hotel,” ujar pria itu dengan nada sedih.


Gadis yang diteleponnya diam saja. Dia merasa turut prihatin, tapi tak tahu bagaimana cara menghibur atasannya.


“Perkawinan kami di ujung tanduk, Rose,” keluh Edward. “Istriku akan menggugat cerai.”


“Hah?!” seru Rosemary spontan. Dia tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Pria yang disukainya akan bercerai? Apa aku tidak salah dengar? Benarkah hal ini terjadi?


“Benar, Rose,” kata laki-laki itu seolah-olah dapat membaca pikiran agennya. “Dina sudah tak mencintaiku lagi. Katanya aku terlalu mengutamakan karir daripada keluarga. Meskipun hidup sangat berkecukupan, tapi dia merasa kehilangan kehangatan seorang suami. Dia…dia…akhirnya menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya sewaktu SMA….”


Dor! Jantung Rosemary bagaikan ditembak senjata api. Sakit sekali rasanya. Dia tiba-tiba teringat mendiang ayahnya yang berselingkuh dengan perempuan lain. Walaupun gadis itu tak pernah bertemu apalagi mengenal wanita itu, namun hatinya tetap terluka. Dia merasa dikhianati. Karena itulah dia sekarang dapat memahami perasaan manajernya yang dikhianati sang istri tercinta.


“Yang tabah ya, Bang,” ucapnya penuh empati. “Bang Edward orang baik. Tuhan pasti membukakan jalan yang terbaik untuk Abang.”


“Terima kasih, Rose,” sahut suara di seberang sana lega. “Terus terang aku nggak tahu mesti bercerita sama siapa. Kamulah satu-satunya orang yang terpikir olehku….”


Dada gadis itu berdebar-debar. Ya, Tuhan! jeritnya dalam hati. Apa artinya ini? Masa aku berbahagia di atas kehancuran rumah tangga atasanku?


“Rose, bisa aku minta tolong?” tanya Edward sendu. Nada suaranya yang terdengar memelas membuat hati agennya terenyuh.


Sontak gadis itu mengangguk dan menjawab dengan sepenuh hati, “Tentu saja, Bang. Apa yang bisa kubantu?”


“Besok pagi kamu ujian lisensi keagenan, kan?”


“Betul, Bang.”


“Habis ujian kamu ngapain?”


“Ke mal lagi, Bang. Ikut pameran.”


“Bisakah kamu pulang aja ke kos sehabis ujian besok? Akan kujemput kamu di sana. Aku butuh pendapatmu untuk memilih apartemen….”


“Apartemen?” balas Rosemary tak mengerti. “Buat apa, Bang?”


“Buat kutempati, Rose,” jawab Edward menjelaskan. “Aku nggak mungkin tinggal di hotel terus-terusan. Lebih baik kusewa apartemen saja. Maukah kamu menemaniku untuk memilih unit yang cocok? Broker properti yang kuhubungi akan menunjukkan stok-stoknya padaku besok siang.”


Kenapa aku yang kau ajak memilih apartemen? batin gadis itu tak mengerti. Aku kan cuma agen baru bawahanmu.


“Oh, nggak apa-apa kok, Bang,” tandas Rosemary. “Ok deh, kutemani besok. Jam berapa, ya?”


“Jam dua belas kujemput di kos, ya. Kita makan siang dulu. Terus baru ketemu broker properti.”


“Ok, Bang. Sampai ketemu besok.”


“Thank you, Rose.”


“Your welcome,” jawab si gadis setulus hati. “Oya, Bang…anu…ehm….”


“Ada apa, Rose?”


Gadis itu menelan ludah. Diberanikannya dirinya berkata, “Apapun yang terjadi, Abang jangan putus asa, ya. Rosemary akan selalu mendukung….”


Yes! teriak Edward dalam hati. Pria itu sangat puas telah berhasil mengambil hati anak buahnya tersebut. Tinggal sedikit lagi gadis ini akan menjadi milikku. Hahaha….


“Aku lega mendengarnya, Rose. Ternyata masih ada orang yang perhatian pada diriku,” ucap laki-laki don juan itu semanis madu. Dia dapat membayangkan betapa tersipunya wajah gadis itu mendengarnya berkata demikian. Edward jadi merasa gemas sendiri.


Sementara itu si gadis berusaha menekan perasaannya. Tenang, Rosemary. Tenang, batinnya berkali-kali. Orang yang kausukai sedang dalam keadaan terpuruk. Jadi wajar saja kalau dia merasa tersentuh dengan perhatianmu. Jangan berpikir apalagi berani berharap yang tidak-tidak, ya….


Tiba-tiba Rosemary merasakan firasat yang tidak enak. Dia lalu membalikkan badan ke arah booth pameran. Alangkah terkejutnya gadis itu melihat Damian tengah menatapnya dengan tajam. Pandangan kedua orang itu pun beradu. Anehnya, pemuda itu sama sekali tak bergeming. Malah Rosemary yang merasa canggung.


“Bang, sori. Pameran sedang ramai pengunjung. Aku kerja lagi ya, sekarang. Sampai ketemu besok. Bye,” kata gadis itu berbohong pada peneleponnya.


“Bye, Rose. Semangat terus, ya,” sahut manajernya di seberang sana.


Gadis itu mematikan sambungan telepon.


Tiba-tiba terdengar sebuah suara, “Lama sekali kamu ngobrol di telepon, Rose? Penting, ya? Sampai jalan jauh ke sini.”


Rosemary terkejut sekali. Di hadapannya telah berdiri Damian yang tersenyum penuh arti. Jantung gadis itu berdegup kencang. Dirinya tak mampu berkata-kata. Lidahnya terasa kelu.


“Bang Edward ya, yang nelepon tadi?” tanya pemuda itu menyelidik. Hati Rosemary merasa tak enak.


Karena lawan bicaranya diam saja, Damian melanjutkan, “Kamu kelihatannya dekat sekali sama manajermu, Rose. Sampai nonton bioskop berduaan tempo hari. Kamu tahu kan, dia sudah punya istri?”


Rosemary tersentak. Dia merasa tak suka disudutkan seperti ini. Ditatapnya pemuda itu dengan garang, “Memangnya kenapa, Dam? Kami kan tidak ngapa-ngapain. Cuma refreshing aja karena aku sumpek prospek berkali-kali tanpa hasil,” kata gadis itu beralasan. Padahal dalam hati dia merasa malu ketahuan berkencan dengan pria yang telah beristri.


“Sori, aku bukannya bermaksud mencampuri urusanmu,” ucap sang pemuda mengalah. “Aku tahu kamu gadis baik-baik, Rose. Bahkan cenderung naif. Jangan sampai kamu dimanfaatkan orang lain.”


“Jadi aku ini dimanfaatkan oleh manajerku sendiri? Begitukah maksudmu?” balas Rosemary ketus. Ekspresi wajahnya semakin tidak enak.


Pemuda di hadapannya menghela napas panjang. Aduh, bagaimana cara menjelaskan maksudku yang sebenarnya pada gadis ini, ya? pikirnya bingung. Kalau kuberitahu hal yang sebenarnya tentang Bang Edward, nanti dipikirnya mengadu domba. Tapi kalau tidak kukatakan, aku kok merasa kasihan pada gadis lugu ini!


“Rosemary,” kata Damian akhirnya. “Maafkan kalau aku nggak sengaja menyinggung perasaanmu. Barangkali aku yang nggak mahir berkata-kata. Ya sudahlah. Anggap saja aku tadi tidak bertanya apa-apa padamu. Tapi….”


Kata-kata pemuda itu terhenti. Ditatapnya Rosemary ragu-ragu.