
Ya, Mama-lah sekarang yang menjadi orang terdekatku. Menggantikan Papa dan Owen, batin gadis itu berbesar hati. Aku butuh dukungan keluarga agar tak mudah patah arang dalam menjalankan bisnis yang terkenal menghadapi banyak penolakan ini.
Gadis itu tiba-tiba terkejut saat merasakan tangan kokoh Edward menepuk-nepuk punggung tangannya di atas meja. Sontak ditariknya tangannya. Pria matang itu pun mengambil posisi mundur. Dia tersenyum penuh kebapakan.
“Jangan kuatir, Rose. Seperti yang Om tadi bilang, kamu takkan dilepas begitu saja. Akan Om pantau. Takkan Om tinggalkan….”
Rosemary menatap nanar laki-laki itu. Dia orang yang baik. Aku tak boleh berburuk sangka, pikirnya berusaha berpikiran positif. Om Edward-lah orang yang pertama kali memberi bantuan padaku semenjak aku tiba di Surabaya hari ini. Siapa tahu dialah juruselamat yang dikirimkan Tuhan untuk menolongku.
Gadis itu lalu mengangguk. “Baiklah, Om. Besok pagi saya akan pulang ke Balikpapan dan menceritakan semuanya pada Mama. Kalau beliau setuju, maka saya takkan ragu-ragu lagi mengikuti jejak Om Edward terjun ke bidang asuransi,” pungkasnya mantap. Hatinya tidak gundah lagi. Pokoknya begitu Mama bilang ok, aku akan langsung jalan tanpa menoleh ke belakang lagi, tekad gadis itu bulat.
“Baiklah kalau begitu, Rose. Om tunggu kabar darimu. Minta nomor ponselmu, dong.”
Rosemary lalu menyebutkan nomor ponselnya. Edward mengetik dan meneleponnya langsung. Terdengar bunyi ponsel berbunyi.
“Nggak usah diangkat,” cegahnya ketika gadis itu menengok ponselnya. “Itu telepon dariku. Kamu simpan nomorku juga ya, Rose.”
Si gadis mengangguk. Diturutinya keinginan pria itu. Lalu terdengar tawaran ramah Edward kepadanya, “Besok pagi kuantar kamu ke bandara, ya? Naik pesawat jam berapa?”
“Eh, nggak usah repot-repot, Om,” tolak Rosemary halus. “Besok saya pergi sendiri saja ke bandara naik taksi online. Om kan sudah capek menemani saya sampai malam begini. Harus beristirahat….”
“Wah, wah, wah…. Kamu perhatian sekali padaku, Rose. Aku senang sekali mendengarnya.”
Rosemary tercenung. Apa aku nggak salah dengar? pikirnya heran. Kata-kata Om Edward barusan kok seperti bernada merayu, ya? Atau…ehm…, rasanya aku sendiri yang terlalu berpikiran negatif pada orang ini, sergah gadis itu berusaha mengenyahkan pemikiran ganjil yang timbul dalam benaknya. Ingatlah, Rose. Kamu sudah berjanji akan selalu berpikiran positif. Demi menyongsong masa depan yang lebih indah!
Beberapa saat kemudian Edward membayar tagihan pesanan mereka dan mengantar Rosemary pulang ke kosnya.
***
Esok paginya Rosemary naik pesawat meninggalkan Surabaya menuju Balikpapan. Sesampainya di bandara kota tersebut, dia langsung naik taksi menuju ke rumah kontrakan ibunya. Martha menyambutnya dengan gembira. Olivia sedang mencuci piring di dapur sementara Nelly sudah berangkat ke sekolah.
Sang ibu percaya saja. Dia tidak tahu bahwa tadi anaknya naik pesawat dengan tarif termurah sehingga cuma mendapatkan snack sepotong roti dan segelas air mineral. Rosemary tadi sempat melirik di atas meja makan hanya terhidang sebuah panci kecil yang entah apa isinya. Gadis itu tak tega mengenyangkan perutnya dengan makan sekarang. Nanti siang saja supaya lebih menghemat pengeluaran, pikirnya getir.
Rosemary lalu mengajak ibunya duduk di atas sofa dan bercerita tentang pertemuannya dengan Edward. Martha mendengarkan dengan seksama penuturan anaknya mulai dari bertemu laki-laki itu di showroom mobil hingga diajak pergi ke kantornya untuk melihat-lihat. Perempuan setengah baya itu dapat merasakan tingginya antusiasme sang putri saat mengungkapkan pertemuannya dengan Teresa dan ketertarikannya terhadap penjelasan agen asuransi senior itu tentang serba-serbi dunia asuransi.
“Mama kenal nggak sama Bu Teresa?” tanya gadis itu kemudian.
Martha menggeleng pelan. “Mama cuma kenal sama Edward. Dia dulu rajin berjalan kaki keliling toko-toko untuk menawarkan asuransi. Orangnya sangat percaya diri, pintar bicara, dan pandai meyakinkan orang. Akhirnya berhasil juga memperoleh nasabah berkat kegigihannya. Klien itulah yang kemudian mengenalkannya dengan pengusaha-pengusaha di kota ini, termasuk papamu. Dengar-dengar dia setiap tahun pasti pergi keluar negeri gratis. Hadiah dari perusahaan akibat prestasinya yang luar biasa. Tapi dari penampilannya memang kelihatan dia semakin sukses kok, Rose. Dulu waktu awal-awal kenal Papa, Edward itu penampilannya memang rapi tapi nggak wah. Setahun kemudian Mama kaget melihatnya, Badan tambah gede, muka semakin kinclong, dan pakaiannya semakin keren. Terus mulai bawa mobil juga dari Surabaya. Katanya sekalian mutar-mutar nemuin nasabah-nasabahnya di penjuru Kalimantan. Hebat, ya?”
“Rose kemarin lupa nanya, Ma. Kok Om Edward bisa sampai memprospek di Balikpapan. Apa dia punya saudara di kota ini, Ma?” tanya Rosemary penasaran.
Martha mengangguk. “Seingat Mama, dia dulu bilang ada saudara sepupu istrinya tinggal di sini. Jadi Edward menginap di rumahnya selama beberapa hari. Cuma mungkin lama-lama sungkan ya pinjam kendaraan orang itu terus. Akhirnya setelah lebih mapan, dia mulai membawa mobil sendiri dari Surabaya,” paparnya panjang-lebar.
Rosemary manggut-manggut mendengar penjelasan ibunya. Kelihatan sekali Martha menyukai Edward. “Seandainya Rose menjadi agen asuransi seperti Om Edward, gimana Ma?” tanya gadis itu meminta pendapat.
Martha tersenyum. “Nggak masalah, Rose. Karena Mama tahu betul Edward itu pekerja keras. Dia pasti bisa membimbingmu menjadi agen yang berhasil seperti dirinya,” katanya mendukung. “Malah Mama pernah dengar kalau fokus beneran di bisnis asuransi, duitnya bisa ngalah-ngalahin pekerjaan kantoran, lho.”
Memang, sih, batin putrinya setuju. Kalau dari penjelasan Bu Teresa kemarin, komisi dua tahun pertama saja sudah tiga puluh persen, lalu masih ada bonus lima belas persen lagi. Jadi total pendapatanku empat puluh lima persen dari omzet! Gede lho, itu. Nggak pakai modal banyak pula. Cuma pulsa HP sama biaya transportasi aja. Mana ada kerjaan lain yang kayak gitu!
“Baiklah, Ma,” ujar gadis itu memutuskan. “Rose akan coba fokus jadi agen asuransi. Cuma Rose minta izin tinggal di Surabaya, ya. Supaya lebih dekat sama Om Edward dan kantor. Jadi kalau ada apa-apa bisa cepat dibantu.”
“Nggak masalah, Nak. Mama percaya kamu akan baik-baik saja dibimbing oleh Edward. Tapi apa kamu nggak terpikir untuk sesekali prospek asuransi di kota ini? Edward saja sampai jauh-jauh merantau kemari untuk mencari nasabah. Berarti di Surabaya sudah sulit, kan?”
Rosemary menggeleng. “Rose sudah lama nggak berhubungan dengan teman-teman di sini, Ma. Sedangkan sanak-saudara kita sendiri nggak bisa terlalu diharapkan, bukan?”
Martha tersenyum getir. Apa yang dikatakan putrinya ini benar. Sanak-saudara dari pihaknya maupun pihak mendiang suaminya tak mau berurusan terlalu dalam dengan mereka. Usut punya usut ternyata Lukman dulu banyak berhutang pada orang-orang itu dan belum lunas hingga akhir hayatnya.