Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Pengungkapan



Sore itu Rosemary berbaring dengan pandangan menerawang di ruang praktik Doker Mirna. Wanita itu mencurahkan segenap isi hatinya. Diceritakannya dengan terus terang goresan hitam kehidupannya di masa lalu.


Bahwa dirinya pernah menjadi kekasih simpanan manajernya sendiri. Orang yang dipercayai ibunya untuk menjaga dan membimbingnya agar menjadi seorang agen asuransi yang sukses. Tak dinyana pria yang telah berkeluarga itu malah membuatnya jatuh cinta hingga menyerahkan kehormatannya sebagai wanita.


Setelah menjalin hubungan secara diam-diam selama satu tahun lebih, terkuaklah bahwa laki-laki itu sama sekali tak mencintainya, melainkan hanya bermaksud memanfaatkan dirinya semata.  Buah hasil dari hubungan terlarang mereka digugurkan Rosemary berdasarkan anjuran pria tak bertanggung jawab tersebut. Hal itu terpaksa dilakukannya karena hubungan mereka tak mempunyai masa depan dan dia tak sanggup mengecewakan keluarga yang telah menaruh harapan besar pada dirinya.


“Mendiang papa saya dulu berselingkuh, Dokter. Perbuatannya itu menggiringnya pada perjudian dan menghancurkan keluarga kami. Karenanya mama saya sangat membenci pelakor. Saya tak sanggup membayangkan bagaimana seandainya beliau tahu bahwa anak yang selama ini dibangga-banggakannya ternyata juga pernah menjadi pelakor….”


Air mata penyesalan jatuh bercucuran membasahi wajah Rosemary. Pandangannya masih menerawang ke langit-langit ruangan. Tak berani dirinya menatap mata psikiaternya. Takut mendapatkan penghakiman atas perbuatannya yang tak terpuji di masa lalu.


“Nasabah saya yang datang ke kantor tadi memaki-maki pelakor yang merebut suaminya. Dia mengatakan perempuan itu tidak tahu malu. Tega berbahagia di atas penderitaan orang lain. Saat itulah kerongkongan saya menjadi panas dan menyengat sekali, seperti terbakar. Rasa terbakar itu baru berkurang banyak setelah saya menghabiskan satu gelas air mineral….”


Dokter Mirna diam saja mendengarkan penuturan pasiennya. Dia tahu selama ini ada hal penting yang disembunyikan oleh Rosemary. Hal yang sebenarnya merupakan akar dari gangguan psikosomatis yang dialaminya.


Namun sebagai seorang dokter jiwa, Dokter Mirna tidak bisa menanyakan secara langsung seperti polisi yang menginvestigasi tersangka. Itu sama sekali bukan kapasitasnya. Tugasnya sebagai pakar kejiwaan adalah menggiring pasiennya untuk menceritakan sendiri persoalan-persoalan yang dialaminya sehingga bisa ditarik benang merah apa yang sebenarnya menjadi penyebab utama dari gangguan jiwa yang dideritanya.


Wanita setengah baya itu memberikan dua helai tisu pada pasiennya guna menghapus air matanya. Dia juga menyodorkan sebotol air mineral berukuran tanggung pada Rosemary. Ketika pasiennya itu menerima botol itu, tatapan mereka bertautan.


“Apakah kini Dokter beranggapan saya adalah seorang perempuan yang kotor? Perebut suami orang? Tuna susila?” tanya Rosemary bertubi-tubi.


Yang membuatnya heran, dokter di hadapannya menggelengkan kepala. Wanita itu bahkan tersenyum bijaksana. Sorot matanya yang hangat membuat hati Rosemary merasa tenteram. Dia lalu membuka tutup botol air mineral dan meneguk isinya sampai tinggal separuh.


Setelah menutup kembali botol tersebut dan menaruhnya di atas meja yang terletak persis di samping pembaringannya, si pasien melanjutkan curahan hatinya.


Rosemary menghela napas dalam-dalam. Terbayang dalam benaknya sosok laki-laki kharismatik yang dulu benar-benar membuatnya mabuk asmara. Edward Fandi, gambaran sosok ideal pria dambaan kaum hawa. Sukses dalam karir, bergelimang harta, mempunyai reputasi baik, dan secara fisik sangat mempesona.


“Seandainya waktu dapat diulang kembali…,” kata wanita itu kemudian. “Saya akan memilih untuk mencari pekerjaan di Balikpapan. Tinggal bersama keluarga tercinta. Hal itu setidaknya dapat mencegah saya melakukan perbuatan yang tercela dan mencoreng nama baik keluarga. Waktu itu reputasi keluarga kami sudah hancur akibat perbuatan mendiang Papa yang suka berjudi dan menyebabkan bisnisnya bangkrut. Hutangnya ada di mana-mana. Kondisi itu mengakibatkan istri dan anak-anak yang ditinggalkannya hidup dalam keprihatinan. Jadi saya pikir seandainya saya bertahan di Balikpapan, saya pasti jauh lebih berhati-hati dalam melangkah. Tidak sampai  merasa kesepian. Tidak mudah putus asa. Dan berbagai perasaan lain yang menjerumuskan saya pada hubungan terlarang dengan pria beristri. Bahkan sampai tega menggugurkan darah daging saya sendiri. Dosa-dosa saya begitu besar….”


Kemudian Rosemary memejamkan matanya. Dibayangkannya masa lalunya. Saat-saat bahagianya memadu kasih bersama Edward di apartemen, melayani hasrat seksualnya yang kurang tersalurkan dengan istrinya sendiri, memakai kostum-kostum seksi yang disukai laki-laki itu. Wanita itu mendesah. Disadarinya kini betapa kekanak-kanakkannya dirinya waktu itu. Menyangka Edward Fandi benar-benar mencintainya. Padahal dia hanya dieksploitasi untuk memuaskan fantasi seksual pria itu semata.


Selanjutnya terkenang olehnya hari ulang tahunnya yang tak terlupakan bersama laki-laki yang pandai sekali merayu itu. Makan malam yang romantis di apartemen.  Lalu hadiah mobil baru. Dan tentu saja diakhiri dengan hidangan penutup hubungan intim penuh gairah.


Lalu kehidupan indahnya bersama Edward Fandi musnah begitu Rosemary mengetahui perselingkuhan kekasihnya itu dengan Inge, agen asuransi dari kantor lain. Perselingkuhan yang ketahuan waktu mereka menjalani tur wisata ke London.


Dan yang paling menyakitkan adalah reaksi laki-laki itu begitu diberitahu Rosemary mengandung. Dengan tanpa perasaan dia langsung menganjurkan agar janin itu sebaiknya diaborsi. Sang kekasih yang sudah kecewa dengan perselingkuhan Edward, ditambah dengan pengakuannya bahwa selama ini tak pernah mencintai perempuan manapun selain istrinya sendiri, akhirnya menyerah. Aborsi pun dilakukan dan berjalan lancar.


Akan tetapi hal itu ternyata menimbulkan luka yang membekas selama bertahun-tahun dalam batin Rosemary. Perasaan berdosa dan tak berharga sebagai seorang wanita membuat dirinya menutup diri dan melampiaskannya pada pekerjaan. Namun ternyata hal itu tak bertahan lama.


Berita tentang Edward Fandi yang terlibat kasus prostitusi online mengingatkan Rosemary akan masa lalunya yang tak terhormat dengan laki-laki itu. Gunung berapi yang selama ini diam dalam dirinya mulai bergolak. Perut mual, lidah pahit, dan kerongkongan panas merupakan bentuk ledakan dari tekanan batin yang selama ini menghimpit dirinya.


“Di mana laki-laki itu sekarang, Rosemary?” tanya Dokter Mirna tiba-tiba.


Pasiennya tersadar. Dia membuka mata dan menjawab dengan jujur, “Tak ada yang tahu dimana dia sekarang berada, Dokter. Tak lama setelah aborsi itu, dia membawa keluarganya pindah ke Jakarta. Ada tawaran pekerjaan yang bagus di sana. Waktu itu saya sempat merasa tidak terima. Kenapa nasibnya selalu beruntung. Sayalah yang dirugikan. Kehormatan hilang. Anak pun lenyap….”


Dokter Mirna menepuk-nepuk tangan pasiennya, berusaha untuk menenangkan. Tak dinyana Rosemary malah tertawa sinis.