Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Martha Murka



“Sebenarnya selama ini Rosemary tidak sepenuhnya baik-baik saja menjalani pekerjaan ini, Ma,” ucapnya lirih.


“Ada berbagai kendala yang sulit sekali dihadapi di lapangan….”


“Dan kamu selalu berhasil mengatasinya, Nak!” sela Martha memotong kalimat putrinya. “Bukankah itu pertanda bahwa kamu memang berjodoh dengan pekerjaanmu dan layak untuk diperjuangkan selamanya?”


Rosemary menggeleng berkali-kali. “Selama ini Rose mempertahankan pekerjaan ini demi mencari nafkah sebanyak mungkin agar bisa menyenangkan hati Mama dan adik-adik! Agar kita sekeluarga bisa hidup nyaman dan tidak dihina orang lagi. Impian itu sudah tercapai sekarang. Boleh kan, aku sekarang hidup tenang dan tidak ngoyo bekerja mati-matian lagi? Boleh kan, aku bekerja sesuai dengan minat baruku untuk melayani orang lain tanpa mengejar materi? Apalagi Mama sesungguhnya tidak pernah tahu betul kepahitan apa saja yang sudah aku alami selama menjalani industri ini!”


“Kepahitan?” sergah sang ibu tak percaya. “Apa maksudmu, Nak? Mama nggak ngerti.”


Rosemary menatap ibunya dalam-dalam. “Rose sudah mengalami sesuatu yang traumatis, Ma. Itupun akibat kesalahanku sendiri. Kenaifanku, Kebodohanku!”


Selanjutnya diceritakannya kisah hidupnya yang dulu pernah menjadi kekasih gelap manajernya sendiri. Bahkan dia sampai mengandung dan terpaksa menggugurkan janinnya akibat laki-laki itu menolak untuk bertanggung jawab.


Martha terpukul sekali mendengar pengakuan putri kebanggaannya itu. Dia marah, menangis, dan bahkan berteriak-teriak histeris. Dituding-tudingnya Rosemary bagaikan seorang pendosa yang tak layak mendapatkan pengampunan.


“Kamu…kamu bukan anakku! Sungguh memalukan, Rosemary Laurens. Papamu…papamu dulu berselingkuh hingga keluarga kita hancur. Kamu sudah tahu kenyataan itu. Tapi kenapa masih menjadi perempuan penghibur bagi suami orang?!”


Kalimat-kalimat pedas ibu kandungnya itu membuat hati Rosemary terluka. Perempuan penghibur, batinnya sedih. Di mata Mama aku ternyata serendah itu. Padahal…padahal aku mati-mati bertahan dalam pekerjaanku agar bisa memberikan hidup enak untuknya. Seandainya bisa memilih, akan kutinggalkan bisnis asuransi begitu lepas dari Edward Fandi! Begitu banyak kenanganku bersamanya di kantor. Tapi semua derita itu kutahan dengan susah payah demi mencari nafkah sebanyak mungkin buat keluargaku!


Ekspresi wajah putrinya yang tegang akibat tak terima dimaki-maki membuat emosi Martha semakin naik. Diumpatnya Rosemary dengan kata-kata yang semakin kasar. Pelacur, pelakor, perempuan tidak tahu malu, hina-dina, dan lain sebagainya. Tanpa tedeng aling-aling, dilampiaskannya kekecewaannya yang luar biasa pada putri yang sebelumnya selalu dibangga-banggakannya itu.


Rosemary menguatkan hatinya. Dia diam saja dihujat sedemikian rupa oleh ibu kandungnya sendiri. Bagi dirinya tak ada gunanya melawan Martha yang sedang naik darah. Apalagi wanita itu adalah perempuan yang melahirkannya ke dunia ini. Apapun alasannya, seorang anak akan dianggap bersalah jika menentang orang tuanya sendiri. Karena anak itu berada pada posisi yang lemah. Kalah usia, kalah hierarki.


Ini adalah hukuman yang harus kuterima karena telah mengecewakan Mama, batinnya berusaha berlapang dada. Dicobanya untuk melembutkan sorot matanya agar ibunya tidak marah terus-terusan. Dia memahami Martha adalah tipe orang yang suka menghakimi orang lain yang dianggap bersalah kepadanya. Memaki-maki orang itu adalah salah satu caranya untuk melampiaskan kekesalan. Dan apabila lawannya itu memohon maaf dengan rendah hati, wanita itu cenderung lebih mudah memaafkan.


“Rose mengaku bersalah, Ma. Sudah menjadi anak yang sangat mengecewakan orang tua. Maafkan aku ya, Ma,” pinta Rosemary lirih.


Didekatinya sang ibu. Wanita itu bermaksud memeluk Martha. Namun tangannya ditepis begitu saja oleh ibunya tersebut.


“Jangan berani menyentuhku, Rosemary Laurens. Kamu perempuan yang kotor. Menjijikkan sekali! Aku tak sudi disentuh tanganmu yang penuh noda itu.”


Rosemary menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan. Kerongkongannya yang akhir-akhir ini sudah agak membaik mulai terasa lagi panasnya. Sebelum membara bagaikan terbakar api, wanita itu meneguk sebotol air mineral  berukuran besar yang memang sudah disiapkannya tadi sebelum mengajak Martha berbicara di dalam kamarnya.


“Sabar, sabar,” ucapnya menenangkan dirinya sendiri. “Semuanya akan baik-baik saja. Hai, kerongkonganku. Kamu jangan terlalu sensitif, ya. Sikap Mama tadi tidak akan berlangsung lama. Ini cuma untuk sementara saja. Percayalah. Sementara saja….”


Demikianlah Rosemary berusaha mendoktrin tubuhnya sendiri agar tenang menghadapi hal-hal yang tak menyenangkan. Dia mengikuti anjuran Dokter Mirna untuk berusaha mengontrol jiwa raganya menghadapi hal-hal apapun yang tidak sesuai harapannya.


“Menjadi bahagia itu merupakan sebuah keputusan, Rosemary. Kalau kamu memilih untuk bahagia meskipun seluruh orang di dunia ini menghujat dirimu, maka itulah yang akan kamu peroleh. Jangan menaruh kebahagiaanmu di atas pengharapan orang lain. Kita tak mungkin bisa memuaskan semua orang di dunia ini. Selalu ada saja pihak yang tidak suka dengan sikap dan perbuatan kita. Tapi asalkan kita menyadari bahwa apa yang kita lakukan itu tidak merugikan orang lain, just go on.”


Dokter Mirna benar, pikir Rosemary. Menjadi bahagia itu adalah keputusanku sendiri. Bukan orang lain. Aku memang berdosa besar dulu telah menjalin hubungan dengan pria beristri dan bahkan menggugurkan anak kami. Tapi itu adalah masa lalu. Aku telah mendapatkan upah dari dosa-dosaku. Sekarang waktunya untuk berdamai dengan diriku sendiri dan meraih kebahagiaan sejati….


Tok, tok, tok!


Wanita itu terkejut. Ada orang mengetuk pintu kamarnya dari luar. Dia lalu berkata agak keras mempersilakan orang itu masuk. Dan Rosemary terpana menyaksikan Nelly muncul dengan ekspresi wajah yang…campur-aduk. Antara sedih, kaget, dan prihatin.


Rosemary langsung menyadari bahwa adik bungsunya itu telah mengetahui semuanya. Barangkali gadis itu tadi menguping di depan pintu kamar sewaktu ibu mereka berteriak-teriak histeris memaki-maki kakaknya.


“Kamu sepertinya sudah mendengar percakapanku dengan Mama tadi, Nelly,” ucap Rosemary tenang. “Duduklah. Ada beberapa hal yang perlu kuperjelas sehingga kamu mampu memahami kenapa aku sanggup melakukan perbuatan-perbuatan yang tak terpuji itu.”


Nelly mengangguk. Diturutinya perkataan kakaknya. Dia sudah dewasa sekarang. Mampu diajak berbicara serius mengenai kehidupan. Gadis itu sangat menyayangi dan memuja kakak sulungnya. Terutama sejak dirinya terjun ke dunia kerja yang pelik dan penuh intrik. Dia yakin Rosemary mempunyai alasan kenapa dulu bisa terjerumus ke dalam perbuatan yang dianggap sangat rendah oleh kaum hawa itu.


***


“Maafkanlah Kak Rose, Ma,” pinta Nelly pada ibunya beberapa hari kemudian.


Saat itu hari Minggu. Mereka berdua baru selesai mengikuti misa pagi di gereja. Nelly sengaja mengajak ibunya pergi makan bubur ayam kesukaannya di rumah makan yang tak jauh dari tempat ibadah tersebut. Gadis itu memilih tempat duduk di pojokan yang sepi agar lebih leluasa mengajak Martha berbicara dari hati ke hati.


Sang ibu menatap nanar putri bungsunya. Dia seperti tak percaya dengan apa yang dikatakan gadis itu barusan. Bagaimana mungkin dia memaafkan Rosemary yang selama ini dianggapnya sebagai putri yang baik dan patut diteladani adik-adiknya? Sungguh tak disangkanya anaknya itu ternyata tak ada bedanya dengan perempuan hina-dina yang dulu telah menghancurkan rumah tangganya!