
Keesokan harinya Rosemary datang kembali ke kantor. Dia sengaja datang pagi-pagi sekali agar tak bertemu dengan Jeslyn. Wanita itu tahu bahwa manajer senior yang seangkatan dengannya itu jarang sekali datang ke kantor di pagi hari.
Dan benarlah, sama sekali tak kelihatan batang hidung perempuan bawel itu di sana. Bahkan kantor termasuk sepi sekali. Hanya terlihat karyawan-karyawan bagian administrasi yang masuk. Agen maupun manajer asuransi sama sekali belum datang.
Setelah bertemu dengan Indri dan mendiskusikan berbagai hal mengenai klaim-klaim nasabah seperti rawat inap, kondisi kritis, dan meninggal dunia, Rosemary beranjak hendak meninggalkan kantor tersebut. Dia ingin pergi ke toko buku yang baru buka di Surabaya Pusat.
Tak dinyana di depan pintu utama perempuan itu berpapasan dengan Teresa. Big boss rupanya mempunyai hal penting yang harus diurus sehingga datang ke kantor pagi-pagi sekali.
“Selamat pagi, Bu Teresa,” sapa Rosemary ramah. Dia selalu mengagumi Teresa sejak dulu. Di matanya wanita itu merupakan sosok pemimpin yang sempurna. Pintar menjual asuransi sekaligus membina tim yang besar dan solid.
Atasannya itu mengangguk dan balas menyapanya, “Halo, Rosemary. Lama nggak kelihatan. Kemana aja?”
“Hehehe…, kemarin saya udah datang ke kantor kok, Bu,” kilah si anak buah. “Cuma pas nggak ketemu Ibu.”
“Oh, gitu,” sahut Teresa singkat. “Kalau begitu bisakah kamu datang ke ruanganku lima belas menit lagi? Ada hal penting yang mau kubicarakan. Kecuali kalau kamu sudah ada keperluan lain yang urgent.”
Rosemary jadi merasa was-was. Dia buru-buru menggeleng. “Saya belum ada jadwal penting hari ini kok, Bu. Cuma iseng mau pergi ke toko buku yang baru buka di Surabaya Pusat. Mau melihat-lihat.”
“Oh, jadi kamu sama sekali belum ada jadwal kerja hari ini?” tanyanya memastikan.
Anak buahnya itu jadi merasa tidak enak hati. Memangnya aku ini agen baru yang masih harus dipantau terus aktivitasnya setiap hari? batin Rosemary agak tersinggung. Namun demi menghormati si pemilik kantor ini, dia berusaha tersenyum semanis mungkin.
“Iya, Bu. Saya belum ada janji ketemu nasabah hari ini. Jadi bisa leluasa ngobrol sama Ibu di atas nanti. Lima belas menit lagi ya, saya naik?” tanya wanita itu berbasa-basi.
Teresa mengangguk tegas. Selanjutnya dia melangkah dengan gagah meninggalkan anak buahnya itu.
Mati aku! keluh Rosemary dalam hati. Firasatku kok terasa nggak enak, ya? Mau ngomong apa sih, big boss sama aku nanti? Haiz….
“Kuperhatikan semenjak kembali dari tur keliling Eropa, kamu sama sekali belum menghasilkan omzet baru, Rosemary.”
Deg! Ucapan berwibawa Teresa barusan membuat jantung bawahannya itu hampir copot.
Ya Tuhan! keluh gadis itu dalam hati. Baru dua bulan aku nggak closing, kok orang-orang meributkannya seakan-akan itu adalah masalah yang luar biasa! Memangnya hidupku ini semata-mata untuk menghasilkan omzet asuransi sajakah? Masa aku nggak punya hak untuk rehat sebentar dan menikmati hidup sesuai keinginanku sendiri?!
“Apa ada masalah yang kamu hadapi, Rose? Sampai-sampai dua bulan terakhir omzetmu nol,” kata Teresa lagi.
Wanita berambut cepak dan berpenampilan tomboy itu menatap anak buahnya dalam-dalam. Dia memang heran sekali dengan penurunan kinerja Rosemary yang begitu drastis. Selama ini perempuan matang yang masih lajang itu dikenal tak pernah absen menambah omzet minimal seminggu sekali. Sekecil apapun itu omzetnya.
Rosemary mendesah. Dia lalu bercerita tentang gangguan kesehatan yang dialaminya. Raut wajah atasannya tampak semakin serius. Dada Rosemary berdebar-debar. Hanya di depan big boss, dia bisa merasa secanggung ini. Entah karena wanita itu merupakan pemilik kantor ini atau karena karakternya yang begitu kuat sehingga membuat Rosemary merasa tak berdaya di hadapannya.
“Gangguan yang kamu alami itu harus segera dicarikan solusinya, Rose,” saran Teresa sungguh-sungguh. “Karena sudah terbukti membawa pengaruh buruk pada kinerjamu. Rosemary Laurens dikenal selalu meningkat prestasinya setiap tahun. Bahkan tahun ini berhasil memborong tiga tiket gratis sekaligus untuk keliling Eropa selama dua minggu! Itu berarti tahun depan kamu setidaknya berhasil meraih tiga tiket gratis keliling Amerika selama tiga minggu…untuk menunjukkan peningkatan prestasi.”
Rosemary mendelik mendengar pernyataan pimpinannya. Orang ini benar-benar sudah nggak waras! kecamnya dalam hati. Dia memperlakukan diriku bagai sapi perahan. Memangnya dia yang menggajiku apa? Aku kan memperoleh komisi dan bonus dari penjualan yang kuperoleh sendiri. Bukan dari kantor ini!
“Kenapa kamu sampai kaget seperti itu, Rosemary?” komentar Teresa sambil tersenyum simpul. “Kamu kan bukan orang baru di bisnis asuransi. Pasti tahu kalau mengalami penurunan prestasi maka banyak orang yang akan mengecam dirimu. Umurmu masih muda, Rose. Kesempatan di hadapanmu terbentang luas. Jangan disia-siakan begitu saja. Bukankah kamu selalu ingin meningkatkan taraf hidup keluargamu? Dan sudah terbukti kan, kerja kerasmu berhasil memberikan kehidupan nyaman buat mama dan adik-adikmu?”
Memang benar, aku Rosemary dalam hati. Aku sudah berhasil membuat Mama dan Nelly hidup enak. Bahkan Oliv yang sudah mempunyai suami kaya pun terkadang masih menerima transferan uang dariku. Karena beberapa kali tercetus dari mulutnya bahwa suaminya itu meskipun kaya tapi cenderung hemat hidupnya. Tidak suka membeli barang-barang yang bersifat kemewahan semata tanpa mempunyai nilai manfaat lebih. Oliv yang karakternya persis seperti Mama, suka mendandani dirinya dengan pakaian dan aksesoris mewah, terpaksa menahan keinginannya itu karena tidak didukung sang suami. Akulah yang akhirnya berinisiatif mentransfer uang padanya supaya dia bisa sesekali menyenangkan dirinya sendiri.
Big boss yang menyaksikan anak buahnya tak berkomentar apapun justru semakin percaya diri melanjutkan wejangannya, “Satu hal lagi yang dulu pernah kukatakan kepadamu, Rose. Jangan hanya berjualan asuransi. Rekrutlah agen sebanyak mungkin. Didiklah mereka agar bisa menghasilkan uang bagimu. Kamu lihat Damian. Penjualan pribadinya berada jauh di bawahmu. Tapi dia bisa memperoleh hadiah yang sama persis denganmu dari company! Prestasimu memang diakui sebagai agen dengan penjualan pribadi terbesar. Tapi…Damian meraih penghargaan sebagai manajer dengan penjualan tim terbesar. Kamu bisa melihat perbedaannya, kan? Seandainya Damian sekarang berada pada posisimu…mengalami gangguan kesehatan dan tidak bisa bekerja…omzetnya tetap meningkat karena anak-anak buahnya-lah yang bekerja. Sedangkan kamu? Rosemary Laurens selalu single fighter. Jumlah nasabah yang ditangani semakin banyak sedangkan tangan dan kakimu masing-masing cuma dua. Beda jauh dengan Damian yang punya tangan dan kaki banyak di bawahnya! Siap untuk bekerja mencari uang untuknya. Damian pada akhirnya akan dikejar-kejar uang, Rose. Sedangkan kamu selalu hidup mengejar-ngejar uang di bisnis asuransi!”
Pernyataan-pernyataan pedas yang dilontarkan Teresa itu sungguh melukai hati Rosemary. Perempuan itu bukannya tidak memahami akan kunci keberhasilan permanen bisnis yang digelutinya selama hampir sepuluh tahun ini. Rekrut, rekrut, dan rekrut! Namun pada praktiknya dia sudah berkali-kali gagal membina agen-agen di bawahnya.