Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Diajak Nonton Bioskop



“Hahaha…!”


Edward tertawa keras mendengarkan curahan hati Rosemary tentang Dessy yang sebenarnya tertarik mengambil asuransi darinya tapi terganjal dana akibat sudah telanjur mengambil tabungan berjangka di bank.


Gadis itu tadi langsung meneleponnya begitu keluar dari kos-kosan temannya tersebut. Air matanya hampir mengalir sewaktu mendengar suara manajernya di telepon. Edward dengan sabar menenangkannya. Kemudian dimintanya gadis itu untuk datang ke kantor menemuinya.


“Kok ketawa sih, Bang?” tanya Rosemary jengkel. “Aku tadi mau nangis lho, waktu keluar dari kos-kosan Dessy. Kedengeran kan, nada suaraku di telepon tadi nggak enak?”


“Iya,” jawab manajernya masih memasang wajah sumringah. “Nada suaramu parau, makanya langsung kuminta datang ke sini. Biar kuhibur.”


Agennya cemberut. Dia tidak jadi menangis saking dongkolnya ditertawakan oleh atasannya sendiri. Orang yang seharusnya memberikan semangat kepadanya. Bukan malah mengejeknya dan membuat hatinya sebal seperti ini.


“Gimana rasanya memprospek hampir lima puluh orang dalam satu minggu?” tanya pria berusia empat puluh tahun itu kepada gadis yang duduk di hadapannya. Mereka sedang berada di salah satu ruangan kosong yang biasa dipergunakan untuk konsultasi di lantai satu.


Rosemary mendengus. Edward tertawa lagi. Dicubitnya lembut hidung mancung agen kesayangannya itu. Dan seperti biasa gadis itu berteriak lebay mengeluh kesakitan.


“Sudah, jangan lebay gitu. Nanti kedengaran orang-orang di luar. Nanti dikira mereka aku ngapa-ngapain kamu,” tegur sang manajer tegas.


Agennya menurut. Meskipun sering bersikap manja, namun dia tetap menghormati orang yang jauh lebih tua darinya itu. Gadis itu mendesah sejenak, lalu berkata, “Ternyata profesi sebagai marketing itu susahnya minta ampun, ya. Aku baru menyadari setelah menjalaninya sendiri, Bang. Jadi nyesel kenapa dulu begitu cuek sama marketing kartu kredit. Bahkan seringkali menganggap mereka merepotkan. Kayak nggak ada kerjaan lain yang lebih berguna. Tapi sekarang, aku malah kecemplung jadi agen asuransi, jualan produk yang jauh lebih susah!”


Edward manggut-manggut setuju. “Memang kalau nggak pernah menjalaninya sendiri, kita nggak akan menghargai profesi tenaga pemasaran. Bahkan cenderung merendahkan. Aku dulu juga melakukan hal yang sama kok, Rose. Barangkali itu sebabnya Tuhan memberiku pelajaran dengan menceburkanku sebagai agen asuransi. Hahaha….”


“Terus selanjutnya aku mesti gimana, Bang?” tanya si gadis gelisah. “Udah empat puluh tujuh orang lho, kuprospek. Capek lahir-batin aku. Tapi masa mau berhenti? Udah kadung beli sepeda motor juga. Dan seminggu lagi waktuku menjalani ujian untuk mendapatkan lisensi sebagai agen asuransi. Masa abis lulus ujian nggak setor case sama sekali? Malu aku, Bang.”


“Gaya, kamu!” cetus Edward mengolok-olok. “Siapa bilang abis lulus ujian wajib setor case?”


“Yaaa…, memang nggak, sih. Tapi waktu itu trainer-nya bilang kalau setor maka akan dikasih hadiah.”


“Hadiah apaan?”


Rosemary mengangkat bahunya tanda tidak tahu. Edward terkekeh. Dia lalu bertanya, “Kamu ingin sekali mendapatkan hadiah itu, Rose?”


“Hmm…, nggak juga sih, Bang. Cuma buat pembuktian aja kalau aku mampu setor case. Dan bahwa aku sungguh-sungguh menerapkan apa yang diajarkan waktu training.”


Terdengar suara manajernya bertepuk tangan. Dia bangga sekali dengan agen barunya ini. Semangatnya tinggi dan pantang menyerah. Cuma mungkin karena seorang perempuan, jadi ya ada kalanya suka galau sendiri kalau keseringan ditolak calon nasabah.


Sang gadis melongo. “Kok tepuk tangan sih, Bang? Ngeledeknya udahan, dong!” protesnya semakin dongkol. Bibirny membentuk kerucut. Edward gemas sekali melihatnya. Tak tahan rasanya ingin mengecup bibir mungil nan menggoda itu!


Rosemary tersentak. Tak diduganya kalimat-kalimat itu akan keluar dari mulut manajernya. “Aku kan datang ke sini tanpa hasil, Bang,” ujarnya tak mengerti. “Cuma kabar tentang penolakan-penolakan orang-orang yang kuprospek. Apanya yang bikin bangga?”


“Segala sesuatu itu jangan melulu dilihat hasilnya, Rose. Yang lebih penting itu prosesnya. Berdasarkan pengalamanku selama sepuluh tahun berkecimpung di dunia asuransi, justru nasabah yang langsung ambil polis dari agen tanpa bertele-tele itu biasanya berisiko tidak bertahan lama.”


“Tidak bertahan lama? Maksudnya gimana, Bang?” tanya agennya meminta penjelasan lebih lanjut.


“Hanya bayar premi beberapa bulan lalu berhenti total. Bahkan minta ditutup. Malah ada yang cuma bayar premi sekali karena sungkan sama agen yang nawarin,” terang Edward kemudian.


Rosemary terbelalak. “Kan rugi, Bang? Kasihan nasabahnya, dong,” komentarnya spontan.


“Agennya juga kasihan,” tandas manajernya. “Hatinya sempat berbunga-bunga berhasil memperoleh omzet. Eh, tiba-tiba omzetnya turun lagi karena polis nasabahnya nggak dilanjutkan pembayarannya.”


“Tapi nasabah kan lebih rugi, Bang,” sergah gadis itu. “Duitnya nggak balik sedangkan si agen masih memperoleh komisi dari premi yang sempat dibayarkan sebelumnya. Dihitung-hitung ya kerugian terbesar ada di pihak nasabah.”


“Betul. Kamu tambah pinter berlogika, lho. Benar-benar kemajuan pesat!”


Rosemary nyengir. Hatinya sudah tidak gundah lagi. Edward memang manajer yang handal. Dia selalu punya cara untuk meringankan perasaan galau anak-anak buahnya. Ditatapnya agen barunya itu penuh kasih sayang. Rosemary jadi agak kikuk karenanya.


“Nonton, yuk,” cetus pria itu tiba-tiba. Sorot matanya menatap penuh harap. Gadis itu jadi tak sampai hati menolaknya. Tapi kok aneh rasanya menonton bioskop dengan pria yang sudah beristri, batin Rosemary ragu-ragu. Meskipun orang itu atasanku sendiri.


Menyaksikan keragu-raguan gadis di hadapannya, pria itu akhirnya berkata, “Di bioskop lagi main filmnya Jet Li, aktor favoritku. Aku sering menonton filmnya sendirian. Istriku nggak suka film-film Asia. Dia fanatik film-film Barat. Minggu ini kebetulan baru main filmnya Jet Li yang syuting di Hongkong. Kalau kamu keberatan menemaniku nonton, ya nggak apa-apa aku pergi sendiri….”


“Eh, nggak apa-apa, Bang. Aku mau!” seru Rosemary tiba-tiba. Seketika paras ayunya memerah. Malu rasanya bersemangat sekali menonton bioskop berdua dengan manajernya.


Edward tersenyum simpul. Hatinya melonjak kegirangan. Well done, Edward, batinnya memuji diri sendiri. Tinggal sedikit lagi gadis lugu ini jatuh ke dalam pelukanmu!


“Ok, deh. Aku order tiket online dulu, ya. Wait,” ucap laki-laki itu sembari meraih ponselnya. Dipesannya dua tiket bioskop melalui aplikasi. Dia langsung memilih posisi tempat duduk tanpa menanyakannya terlebih dulu pada agennya. Dada Rosemary berdegup kencang membayangkan dirinya berduaan di dalam bioskop yang gelap dengan sang manajer.


Aduh, keluh gadis itu dalam hati. Aku kok kayak anak SMA lagi jatuh cinta, ya. Sadar, Rose. Sadar! Orang ini manajermu sendiri. Atasanmu di kantor. Bukan cowok yang lagi pendekatan denganmu!


“Done!” seru Edward mengagetkan agennya. “Filmnya main jam tujuh malam. Sekarang masih jam setengah empat sore. Kamu pulang dulu ke kos, gih. Keburu macet kena jam pulang kantor. Nanti kujemput di kos.”


Rosemary ternganga. Cepat sekali waktu berjalan. Jantungnya deg-degan.