
Selanjutnya dia berkata, “Ternyata saya salah. Tuhan tidak tidur. Edward Fandi akhirnya kena batunya. Dia baru-baru ini terkena kasus prostitusi online yang melibatkan artis terkenal berinisial CA. Dokter pasti sudah mendengar berita yang viral di media sosial itu.”
Sang psikiater mengangguk. Kasus itu memang masih bergulir hingga kini. Artis CA bahkan sudah ditetapkan sebagai tersangka di pengadilan. Namun kliennya entah mengapa menghilang bagaikan ditelan bumi.
Dan seingatku pengguna jasa prostitusi itu berinisial EF. Dia merupakan seorang profesional di sebuah perusahaan asuransi, batin dokter tersebut. Rupanya orang itulah yang menjadi sumber gangguan psikosomatis yang dialami pasienku ini. Dunia benar-benar sempit.
“Dokter,” ucap Rosemary lirih. “Apakah dosa-dosa saya dulu itu masih bisa diampuni Tuhan? Saya merasa diri ini begitu kotor dan hina dina. Sampai-sampai tak berani memohon ampun kepadaNya. Semenjak saya menjalin hubungan dengan Edward Fandi, tak pernah sekalipun saya melangkahkan kaki masuk ke dalam gereja. Bahkan kalau ada undangan pernikahan pun, saya sengaja cuma hadir di acara resepsi saja. Saya merasa diri ini tak layak masuk ke dalam rumah Tuhan yang suci….”
Kalimat-kalimat itu diutarakannya dengan getir, namun tanpa air mata. Rasa penyesalan yang teramat dalam terpancar dari ekspresi wajahnya. Psikiaternya menghela napas panjang. Ditepuk-tepuknya pungung tangan pasiennya tersebut.
“Tempat ibadah itu justru dibangun untuk menerima kehadiran orang-orang yang berdosa, Rosemary,” kata Dokter Mirna bijaksana. “Selama kita menyadari kesalahan dan benar-benar mau bertobat, pengampunan selalu diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Asalkan kita sungguh-sungguh menjaga agar kelak tidak melakukan perbuatan dosa yang sama lagi.”
Petuah wanita setengah baya itu membuat hati pasiennya terasa sejuk. Rosemary lalu melanjutkan kata-katanya, “Setelah mendengar tentang kasus penggerebekan Edward Fandi di hotel dengan artis CA itu, saya jadi berpikir kenapa dulu saya tak pernah kepergok sedang berduaan di dalam apartemen dengan laki-laki itu. Padahal kami menjalin hubungan spesial selama satu tahun lebih. Bisa saja ada orang yang curiga dan memberitahu istrinya. Tapi hal itu tak pernah terjadi.”
“Tuhan Maha Baik, Rosemary. Dia selalu mempunyai cara-cara tersendiri untuk membuat umatNya bertobat. Barangkali Tuhan menganggap kalau kalian putus atas dasar kesadaran masing-masing, maka persoalannya benar-benar tuntas. Kamu juga jadi dapat menilai sendiri kualitas laki-laki itu dan berhati-hati supaya kelak tidak jatuh lagi ke dalam lubang yang sama. Entah itu CLBK dengannya atau menjalin hubungan dengan pria lain yang sudah beristri….”
Sang pasien berusaha mencerna penuturan psikiaternya dalam-dalam. “Tuhan punya cara sendiri,” cetusnya kemudian. “Cara sendiri…. Hmm, lalu apa yang harus saya lakukan selanjutnya, Dokter? Setelah menceritakan masa lalu saya yang kelam, hati ini rasanya jauh lebih lega. Tapi saya juga jadi tidak tahu lagi harus bagaimana ke depannya….”
Wanita itu meraih kembali botol air mineral di samping pembaringannya. Diminumnya sedikit lalu ditutupnya dan diletakkan kembali di atas meja.
“Saran saya, datanglah ke rumah Tuhan terlebih dahulu, Rosemary. Curahkanlah segenap isi hatimu terhadap Sang Pencipta. Jangan lupa memohon hikmat dariNya. Dengan demikian kamu akan tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Dia akan memberikan jawabanNya melalui hati nuranimu….”
Sang pasien tercenung selama beberapa saat lamanya. Datang ke rumah Tuhan, batinnya kecut. Lalu dia mengaku pada psikiaternya, “Saya takut dihakimi, Dokter….”
Psikiaternya tersenyum arif. “Rosemary, bukankah Tuhan itu Maha Kuasa? Kalaupun kamu tidak masuk ke dalam rumahNya, Dia dapat menghakimimu di mana saja. Oleh karena itu, selama kita masih diberi kekuatan untuk datang dengan rendah hati ke tempat kediamanNya demi mengakui dosa-dosa kita dan memohon pengampunanNya, segera lakukanlah. Ini sama halnya dengan dengan penjahat yang menyerahkan diri ke kantor polisi. Hukumannya akan jauh lebih ringan karena dianggap kooperatif. Pahamkah kamu dengan analogi yang saya katakan barusan, Rosemary?”
Pasiennya manggut-manggut tanda mengerti. “Dokter Mirna benar,” ucapnya lirih. “Gangguan psikosomatis yang saya alami ini mungkin merupakan teguran dari Sang Pencipta agar saya kembali ingat padaNya. Baiklah, Dokter. Sepulang dari sini saya akan langsung pergi mengunjungi gereja yang terdekat dengan rumah saya. Semoga Tuhan memberikan pengampunanNya….”
Sang dokter mengangguk setuju. Dia merasa lega pasiennya ini mulai melangkah maju untuk memperbaiki hidupnya.
***
Diparkirnya mobilnya di halaman depan tempat ibadah yang buka dua puluh empat jam itu. Jantungnya berdegup kencang. Rosemary ragu-ragu untuk turun dari dalam mobil. Dihelanya napas panjang. Setelah itu dikuatkatkannya hatinya. Dipaksanya tangannya untuk membuka pintu mobil dan melangkah turun.
Begitu menutup pintu mobil, pandangan wanita itu mengarah pada bangunan kuno yang menjulang tinggi di hadapannya. Hatinya bergetar. “Akhirnya aku datang kembali ke rumahMu, Tuhan,” ucapnya lirih.
Dia termangu selama beberapa saat di depan bangunan yang tampak megah di keremangan malam itu. Perasaannya berkecamuk tak karuan. Antara mengagumi tempat suci tersebut dan sekaligus takut masuk ke dalamnya.
“Nona mau masuk ke dalam gereja?” tanya sebuah suara tiba-tiba membuyarkan lamunannya.
Rosemary mendongak. Dilihatnya seorang pria kurus berkumis tipis menatap ramah kepadanya. Orang itu mengenakan seragam berwarna hitam putih khas petugas sekuriti. Wanita itu mengangguk.
Sang petugas melanjutkan kata-katanya, “Kalau sudah diatas jam tujuh malam, pintu utama gereja ditutup. Tapi Nona masih bisa masuk melalui pintu samping. Letaknya setelah gua Maria di sebelah sana.”
Rosemary mengangguk lagi. Dia mengucapkan terima kasih lalu beranjak menuju gua Maria yang ditunjukkan petugas itu tadi.
Sesampainya di dalam gua, tak terlihat ada orang sama sekali. Hanya ada patung Bunda Maria yang berdiri dengan anggun tepat di tengah-tengah gua. Di depannya tampak berbagai bunga hidup aneka warna yang biasa disediakan umat sebagai bentuk penghormatan terhadap wanita yang diakui sebagai ibu kandung Yesus Kristus tersebut.
Rosemary mendekati tempat lilin yang terletak sekitar dua meter di depan bunga-bunga itu. Diambilnya sebuah lilin yang masih baru. Dinyalakannya dengan api yang sudah menyala pada lilin lainnya. Diberdirikannya lilinnya tersebut ke dalam lubang yang masih kosong. Senyum sukacita tersungging dari bibirnya tatkala lilinnya sudah berdiri bersama lilin-lilin lainnya untuk menerangi gua itu. Hatinya terasa damai melihatnya.
“Bundaku yang Maha Kudus, aku datang kembali ke tempat ini. Terima kasih masih menerima kehadiranku….”
Selanjutnya Rosemary duduk di atas bangku yang tersedia dan mulai berdoa dalam hati. Beberapa menit kemudian dia membuka mata dan tersenyum memandang patung Bunda Maria yang tampak arif bijaksana. Perasaannya semakin terasa damai. Ia siap melangkah ke tahap selanjutnya, yaitu bertemu putra Bunda yang Maha Kudus…Tuhan Yesus Kristus.
***