
“Tapi jadinya kamu dimusuhi sama papanya, Dam. Dikiranya kamu yang mempengaruhi anaknya sampai jadi penyuka sesama jenis.”
“Biar saja orang itu berpikir seperti itu. Tak menjadi masalah buatku. Biarpun namaku sudah dijelek-jelekkan di lingkungan sosialitanya, aku masih bisa mencari nafkah dengan memprospek orang-orang di luar lingkup pergaulannya. No problem.”
Rosemary menatap kagum pemuda itu. Ingin rasanya dia bersikap cuek seperti sahabatnya tersebut. Tapi entah apa dia mampu. Bagaimana jika rahasianya sebagai kekasih gelap Edward terbongkar di hadapan orang lain? Dia tak yakin sanggup bersikap tegar seperti Damian.
“Sudahlah, Rose. Kita datang kemari kan untuk bersenang-senang. Menikmati hasil pencapaian kerja susah payah kita sepanjang tahun lalu. Jangan bersedih terus, ya. Foto bareng di depan gereja, yuk.”
Gadis itu mengangguk setuju. Baiklah, putusnya dalam hati. Aku akan menikmati perjalanan ini. Sebagaimana Bang Edward juga demikian….
***
Malam harinya Rosemary tidak bisa tidur. Padahal hari itu acara tur padat dan melelahkan sekali. Yang diingatnya adalah momen ketika petang itu rombongannya kembali ke hotel dan berpapasan dengan rombongan Edward yang tengah antri di depan lift.
Pria yang tak menyadari kehadiran Rosemary itu tampak asyik bercakap-cakap dengan Inge. Jarak keduanya begitu dekat, seperti bukan teman biasa. Dan ketika pintu lift terbuka, kedua orang itu masuk bersama-sama teman-teman mereka.
Saat itulah Edward melihat Rosemary yang berdiri tepat di depan lift. Pandangan mereka bertautan. Gadis itu dapat merasakan kekasihnya itu tampak terkejut melihatnya. Lalu pintu lift menutup, memisahkan pasangan yang menutupi hubungan mereka di depan umum itu.
Gadis itu tersenyum getir. Dilihatnya tanda bahwa lift yang membawa Edward dan Inge itu berhenti di lantai tujuh, lalu naik lagi ke lantai-lantai berikutnya. Rosemary jadi teringat agen-agen perempuan yang asyik bergunjing di dalam toilet hotel tadi pagi mengatakan bahwa Edward dan Inge tidur sekamar di lantai tujuh.
Haruskah aku memeriksa kebenaran gosip itu? pikir gadis itu bimbang. Lalu kalau memang benar, aku harus bersikap bagaimana? Melabrak Bang Edward yang telah mengkhianatiku? Dan selanjutnya semua orang tahu bahwa aku adalah kekasih gelapnya?
Perasaan Rosemary sungguh gundah. Dia diam saja sepanjang malam itu. Tak digubrisnya Renata yang mengajaknya ngobrol. Bahkan gadis itu menolak ketika diajak menghadiri acara makan malam bersama di restoran hotel.
“Aku capek sekali, Ren. Mau nelepon room service aja buat makan malam. Sori. Kamu makan sama Damian aja nggak apa-apa, ya,” kilahnya beralasan.
Renata mengalah. “Ya sudahlah. Kamu istirahat aja di kamar, Rose. Biar besok kuat ikut tur lagi,” kata gadis itu perhatian.
Rosemary mengangguk. Diteleponnya room service untuk memesan makanan. Sepeninggal Renata, gadis itu menangis sepuas-puasnya.
Ya Tuhan, perjalanan yang seharusnya menyenangkan ini kenapa rasanya justru menyesakkan?! jeritnya dalam hati. Aku sama sekali tak menikmatinya. Mamaaa…, ingin sekali rasanya aku pulang ke Balikpapan saat ini juga. Berkumpul dengan keluarga tercinta. Daripada stress sendirian di sini memikirkan Bang Edward yang tidak peduli lagi padaku!
***
Esok paginya perut Rosemary terasa mual sekali. Dia muntah-muntah di dalam kamar mandi. Renata menatapnya kuatir.
“Kamu sakit ya, Rose? Masuk angin?” tanya gadis itu cemas. Sejak tadi dia tidak bisa mandi karena teman sekamarnya itu bolak-balik keluar-masuk kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.
“Kayaknya begitu, Ren,” jawab Rosemary lemas. Tenaganya sudah habis rasanya. Sepertinya aku nggak akan kuat ikut tur hari ini, batin gadis itu.
Renata menyentuh dahi kawannya itu. Lalu dilanjutkan dengan lehernya. “Kamu meriang, Rose. Mau kerokan? Aku bawa koin sama minyak kayu putih.”
Rosemary mengangguk pasrah. Dia sebenarnya tidak kuat menahan rasa sakit akibat dikerok. Tapi kondisinya saat ini memang membutuhkan terapi tradisional nusantara itu.
“Leherku tolong dikerok juga ya, Ren,” pinta Rosemary pelan.
“Ok. Kamu kuat juga ya nahan sakit, Rose. Sama sekali nggak bersuara waktu dikerok,” komentar Renata sambil terus melanjutkan aktivitasnya.
“Biasanya aku nggak kuat nahan sakit, Ren. Tapi nggak tahu kerokanmu ini kok nggak terasa sakit, ya.”
“Berarti kamu sakitnya parah, Rose. Tapi nggak panas, kok. Cuma meriang aja. Kecapekan kali, ya.”
“Mungkin, Ren.”
Beberapa saat kemudian leher jenjang Rosemary sudah dipenuhi garis-garis yang tak kalah merah tuanya dengan yang kelihatan di bagian punggung.
Renata mendesah. “Kasihan kamu, Rose. Waktunya senang-senang kok malah sakit. Jadi kamu nggak ikut tur hari ini? Mau istirahat di kamar aja? Tapi ikut breakfast, kan?” tanya gadis itu bertubi-tubi.
Kawan sekamarnya menggeleng. “Aku order room service lagi aja, Ren. Makan di kamar lebih nyaman rasanya. Kalau breakfast di luar, aku mesti dandan lagi. Males, ah.”
“Ya udah. Kamu istirahat yang cukup ya, Rose. Sebenarnya sayang banget, lho. Hari ini kan acaranya mengunjungi Buckingham Palace, tempat tinggal Ratu Elizabeth. Kapan lagi bisa kita bisa ke sana barengan kayak gini?”
Rosemary tersenyum. “Sori ya, Ren,” sesalnya sedih. “Aku beneran nggak kuat jalan kaki lama. Daripada nanti di sana pingsan dan bikin repot orang-orang, lebih baik aku nggak pergi.”
“Ok deh, kalau gitu. Nanti kukirim foto-fotoku di sana, ya. Hehehe….”
“Siap, Sis.”
Demikianlah sepanjang hari itu dihabiskan Rosemary di dalam kamar hotel. Dia tidur-tiduran sambil menonton televisi. Sesekali gadis itu membalas pesan WA dari keluarganya di Balikpapan. Rosemary berusaha membalas pesan-pesan dari Martha, Olivia, dan Nelly dengan ceria. Dia menceritakan tempat-tempat wisata yang dikunjunginya selama berada di London. Dikirimkannya foto-fotonya bersama Damian, Renata, dan beberapa teman lainnya pada ibu dan kedua adiknya.
[Edward kok nggak kelihatan, Rose? Dia ikut juga ke London, kan?]
Rosemary tertegun membaca pesan WA ibunya itu. Dia mengomel kesal, “Orang kepercayaan Mama itu sudah nggak peduli lagi sama Rosemary. Dia lagi lengket-lengketnya sama cewek lain yang lebih modis dan berani daripada Rose, Ma.”
Tiba-tiba air matanya menetes. Perjalanan yang kukira akan menyenangkan ini ternyata membuat hatiku merana, keluh gadis itu dalam hati. Sepulang dari sini aku akan memastikan masa depan hubunganku dengan Bang Edward. Capek aku digantung terus-terusan begini!
Kemudian dia mulai membalas pesan WA Martha tadi.
[Bang Edward ikut rombongan manajer yang levelnya sama dengan dia, Ma. Sudah diatur begitu sama panitia acara. Jadi kami jarang ketemu.]
Tiba-tiba gadis itu tersadar. Kalau memang Edward benar-benar ada hubungan spesial dengan Inge, kok dia nggak takut ketahuan istrinya, ya? Padahal sudah ada beberapa agen yang tahu. Tapi berhubungan sama aku kok ditutupinya rapat sekali seolah-olah aku ini tak layak buat dirinya….
Perut Rosemary seketika meronta-ronta minta dikeluarkan isinya. Gadis itu langsung berlari menuju ke kamar mandi dan melakukan ritual yang sejak pagi tadi dilakukannya.
“Aduh, sakit apa sih, aku ini?” gerutunya kesal sehabis muntah-muntah. “Nggak biasanya muntah-muntah begini kalau masuk angin. Menderita sekali rasanya.”