Rosemary's Life Story

Rosemary's Life Story
Setuju Pergi ke Hotel



“Sekarang kita mau pergi ke mana?” tanya Edward. Dia dan Rosemary kini berada di dalam mobil. Mereka telah berpisah dengan Danu dan sekarang berada di dalam parkiran gedung apartemen.


“Terserah Bang Edward saja. Aku nggak ada janji ketemu orang, kok,” jawab agennya polos.


“Aku barusan baca pesan WA dari Indri,” kata Edward kemudian. “Selamat ya, Rose. Kamu lulus ujian. Sekarang udah resmi jadi agen, deh.”


“Wah, iyakah, Bang? Aduh senangnya!” seru gadis itu bersukacita. Secepat kilat atasannya itu mencium keningnya. Rosemary tersipu malu. Jantungnya berdegup kencang.


“Aduh!” cetus laki-laki itu seperti kesakitan. Tangannya memegang lehernya.


“Kenapa, Bang?” tanya Rosemary kaget.


Edward tersenyum kikuk. “Sepertinya leherku kecetit dikit gara-gara tadi mencium keningmu. Hehehe…,” ujarnya malu-malu.


Si gadis menatapnya cemas. “Mau diurutkah?”


“Memang kamu bisa mengurut, Rose?”


“Nggak, sih. Cuma barangkali bisa kutanyakan ibu kos di mana tukang urut yang bagus. Atau sebaiknya pergi ke klinik fisioterapis aja, Bang. Aku tahu klinik yang bagus dekat sini. Biayanya juga nggak mahal.”


“Boleh. Tapi nggak apa-apa nih, kamu mengantarku?”


“Nggak masalah. Oya, Abang masih bisa nyetir?” tanya gadis itu kuatir. Dia siap menggantikan Edward mengemudi seandainya laki-laki itu kewalahan akibat cedera pada lehernya.


Atasannya itu menolak dengan halus. “It’s ok,” jawabnya santai. “Kamu tunjukkan saja arah menuju ke klinik fisioterapis itu, ya.”


“Siap, Bang,” sahut Rosemary mantap.


Gadis itu lalu bertindak sebagai penunjuk arah. Tak lama kemudian mereka sampai di klinik yang dimaksud.


“Sepi, Bang,” komentar gadis itu saat melihat tempat parkir yang hanya terisi dua mobil. “Biasanya banyak mobil yang parkir. Ada baiknya juga. Jadi cedera leher Bang Edward bisa segera ditangani. Nggak usah antri.”


Laki-laki itu tersenyum senang. Dia dapat merasakan kecemasan dari nada suara gadis itu. Mereka lalu masuk ke dalam klinik yang ternyata memang sepi itu. Rosemary menunggu di lobi, sementara manajernya diajak seorang terapis laki-laki masuk ke dalam untuk diperiksa.


Sembari menunggu Edward diterapi, Rosemary mengambil bolpoin dan buku tulis dari dalam tasnya. Di dalam buku tulis itu tercatat data-data klien yang diperolehnya dari pameran.


Daripada menganggur, bukankah lebih baik aku menelepon orang-orang ini satu per satu, ya? pikir gadis itu. Tiba-tiba sebuah ide bagus singgah dalam benaknya. Dia lalu bertanya pada resepsionis apakah di klinik itu tersedia fasilitas wifi atau tidak.


“Ada, Mbak. Ini nama akun dan password-nya,” jawan si resepsionis sambil menyodorkan selembar kertas kecil. Rosemary mengucapkan terima kasih. Dia lalu memasukkan data-data tersebut ke dalam pengaturan ponselnya.


Lebih baik aku menelepon di teras aja, batinnya memutuskan. Sungkan kalau di lobi, kedengaran orang.


Selanjutnya Rosemary berjalan keluar klinik. Dirinya duduk di bangku yang tersedia di taman depan. Karena tidak ada orang, gadis itu berani menelepon satu per satu database yang diperolehnya di pameran kemarin.


Setengah jam kemudian dia meregangkan kedua tangannya ke depan sambil menghela napas panjang.


“Sabar, Non. Memang begitu suka-dukanya mem-follow up database. Lama-lama kamu akan terbiasa, kok. Bukankah yang terakhir mau dibuatin ilustasi? Pintar kamu. Alasannya mau bikin brosur yang lebih lengkap. Hehehe….”


Rosemary kaget. Dia langsung menoleh ke arah suara yang bersangkutan. Dilihatnya Edward yang berdiri tegak dan tersenyum lebar memandangnya. Wajah tampannya tampak begitu mempesona. Hati gadis itu runtuh seketika.


“Sudah selesai terapinya, Bang? Gimana rasanya lehermu sekarang?” tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Sip. Jauh lebih enakan. Thank you sudah mengantarkanku ke klinik ini, Rose.”


Lawan bicaranya tersenyum risih. Ia merasa malu ketahuan mem-follow up klien-kliennya selama menunggu. Terus terang gadis itu belum percaya diri dengan gaya bicaranya di telepon memprospek calon nasabah.


“Kamu rajin sekali, Rose,” puji manajernya sepenuh hati. “Kelak pasti bisa menjadi agen yang sukses. Percayalah.”


“Terima kasih, Bang,” jawab gadis itu pelan. Pipinya merona merah. Edward gemas sekali melihatnya.


Kemudian laki-laki itu mulai menjalankan rencananya. Ditatapnya Rosemary dengan sungguh-sungguh. “Rose, bagaimana kalau kamu kudampingi untuk membuat ilustrasi yang pertama ini? Sekalian kuajari cara mempresentasikannya dengan menarik,” katanya lembut. “Meskipun belum tentu closing, tapi setidaknya kamu dapat menunjukkan kemampuan terbaikmu di depan klien.”


Anak buahnya mengangguk setuju. Siapa agen baru yang akan menolak ditutori langsung oleh atasannya sebelum menghadapi calon nasabah? pikir gadis itu logis. Tentu saja dia menyetujui tawaran manajernya tersebut.


“Kalau begitu, ayo kita pergi membeli makanan sekarang,” ajak Edward seketika.


Rosemary menatapnya keheranan. “Buat apa, Bang?” tanyanya tak mengerti. Mau mengajari bikin ilustrasi kok beli makanan dulu.


Edward menjawab lugas, “Buat kita nanti makan malam bersama di kamar hotelku.”


Rosemary terbelalak. What?! Ngapain makan berdua di kamar hotelnya? pekik gadis itu dalam hati. Matanya terbelalak lebar.


Atasannya buru-buru menjelaskan panjang lebar, “Printer-ku ada di sana soalnya, Rose. Jadi sesudah kita bikin ilustrasinya di Ipad-ku, bisa langsung di-print . Kamu bawa print out-nya supaya lebih enak menjelaskannya pada klien. Kamu kan juga belum punya tablet, Rose. Bikin ilustrasi pakai aplikasi di HP itu repot. Terlalu kecil tulisannya. Jadi nanti kita akan berdiskusi sambil sekalian makan malam. Kalau sudah selesai, kamu kuantar pulang ke kos.”


Anak buahnya diam saja. Dia berpikir kenapa mereka tidak membuat ilustrasi di kantor saja. Bukankah tempat itu buka sampai malam hari?


“Kantor hari ini tutup sore, Rose,” ujar Edward seperti dapat membaca isi hati gadis itu. “Office boy cuti sakit. Jadi resepsionis yang menutup kantor sesuai jam kerja. Nggak bisa lembur seperti biasanya.”


Rosemary tak berkutik. Tapi dia juga tak tahu harus bereaksi bagaimana.


Manajernya dengan lihai berkata, “Jangan kuatir, Rose. Kita benar-benar akan bekerja nanti. Tapi kalau kamu ragu-ragu, ya sudah. Tidak apa-apa. Nanti ilustrasinya kamu coba buat sendiri di kos. Lalu kirimkan padaku lewat email. Akan kuperiksa dulu. Kalau ada yang kurang, akan kujelaskan lewat telepon atau kukirim email balasan. Bagaimana?”


Kok jadi ribet begini, ya? pikir si gadis pusing. Padahal aku sudah berjanji untuk menemui klien itu di kantornya pukul sembilan pagi besok sebelum dia meeting.


Akhirnya Rosemary menjawab pasrah, “Ya sudah. Aku ikut saran Abang saja. Kalau diskusinya jauh-jauhan, takut nggak maksimal nanti hasilnya.”


Kelinci sudah masuk perangkap! batin pria itu bersorak-sorai dalam hati. Tenang, Rosemary Laurens. Aku akan pelan-pelan sekali hingga tak terlalu menyakitimu. Kau gadis yang manis. Akan kuperlakukan dengan sangat lembut. Hahaha….