
Hari sudah menjelang malam ketika Kiara keluar dari kamarnya dalam balutan dress hitam sebatas lutut yang pas membalut tubuhnya sehingga memperlihat kan lekuk-lekuk tubuhnya.
Tak lupa dengan stiletto merah setinggi tujuh senti meter. Gadis itu terlihat menawan dan Vano bahkan tak dapat menyembunyikan senyumnya tatkala maniknya jatuh pada bayang Kiara.
“Kau terlihat cantik,” ujar Vano.
“Kita pergi sekarang?”
Kiara mengangguk dan menerima uluran tangan Vano lantas segera menautkan jemari mereka bersama. Ia baru saja mendengar pujian pertama Vano setelah berbulan-bulan mereka bertemu lagi dan hal tersebut mampu membuatnya terbang hingga ke langit ke tujuh.
Vano ternyata membawa Kiara ke sebuah restoran ternama di Incheon dan mengantar gadis itu menuju ke bagian atas restoran yang ternyata telah dipesan hanya untuk mereka berdua.
Latar belakang dari tempat mereka adalah lautan luas dengan kerlap-kerlip lampu di pesisirnya. Indah, itulah yang pertama kali diucapkan benak Kiara kala ia menginjakkan kakinya untuk pertama kali ke dalam tempat tersebut.
Meja mereka yang dihiaskan lilin menambah kesan romantis untuk tempat itu. Setelah melahap menu yang telah Vano pesan sebelumnya—yang merupakan kesukaan Kiara—mereka pun dibiarkan berdua di atas tempat teratas restoran tersebut dengan alunan music jazz dari pengeras suara.
“Dari mana kau mengetahui tempat ini, Myung?” Tanya Kiara.
Vano hanya bisa tersenyum menjawabnya, tak ingin membocorkan bagaimana ia mengatur semua ini hanya untuk gadis itu.
Kiara kemudian bangkit dari duduknya dan bergerak mendekati pagar besi untuk dapat melihat pemandangan di luar dengan lebih jelas. Setelah sampai di sana, ia bergumam sendiri, mengatakan betapa indah nya ini, betapa indahnya itu, dan lain sebagainya seperti seorang anak kecil yang baru diajak pergi mendaki gunung dan melihat pemandangan indah dari atasnya.
Tiba-tiba saja sebuah lengan menelusup di antara pinggang gadis itu dari belakang dan Sooji merasakan sebuah dagu mendarat di bahu kanannya sementara telinganya bisa merasakan napas seseorang.
“Van, Vano…,” Kiara berujar lirih kepada sang pemeluknya.
“Hm?” Kiara bisa mendengar suara gumaman Vano dengan lebih keras di telinga kanannya. Dan itu membuat jantungnya berdegup teramat sangat kencang.
“Banyak orang—“
“Tidak ada orang di sini. Hanya kita berdua,” potongnya.
Kiara menelan ludah. Ia berusaha menikmati dekapan Vano. Untuk sesaat, mereka berdiam diri dengan Vano mendekapnya dari belakang.
Namun, lama kelamaan, Kiara dapat merasakan keganjilan pada diri Vano. Bagaimana beberapa kali Kiara mendengar napasnya tercekat, bagaimana Kiara merasakan jantung Vano berdegup sangat cepat melalui punggungnya, bagaimana ia merasa dekapan tersebut sebagai dekapan perpisahan.
“Van, ada yang ingin kau katakan padaku?”
Vano terdiam. Barangkali terkejut atau juga tidak. Kiara bisa merasakan Vano setengah tersenyum.
“Terima kasih, Kiara. Atas segalanya. Terima kasih telah memaafkanku berulang kali dan menerimaku berulang kali pula meskipun aku tahu aku tak pantas mendapatkan hal itu.”
“Ayolah Van, itu bukan masalah besar! Kau mengatakan hal-hal seperti itu seolah-olah kau mau pergi saja!” Kiara tertawa.
“Maaf, maaf karena telah terlalu banyak menyakiti hatimu. Seharusnya kau bisa lebih bahagia tanpaku, bukan? Maaf karena terus menerus membuatmu menderita dan terus menerus membuatmu memaafkanku,” lanjut Vano.
Kali ini Kiar terdiam. Gadis itu bersumpah merasakan setetes air jatuh ke atas bahunya yang terbuka. Tunggu, apakah Vano baru saja menangis?
“Van, kau kenapa?” Tanya Kiara benar-benar khawatir.
Sebentar lagi aku akan menyakiti hatimu lagi, Kiara. Dan untuk kali ini saja, aku mengizinkanmu untuk tidak memaafkanku. Batin Vano.
“Tidak apa-apa,” alhasil itulah yang keluar dari bibir Vano.
“Tapi lain kali, jika aku melakukan kesalahan yang benar-benar menyakitimu lagi, kau boleh untuk tidak memaafkanku, Kiara.”
Kiara mengernyitkan keningnya mendengar pernyataan yang Vano katakana sambil tersenyum saat itu.
____
Esok hari adalah penghujung tahun sekaligus peresmian pertunangan mereka dan penanda tanganan kontrak perjanjian merger dua perusahaan. Ini adalah hari penting. Akan ada banyak orang yang hadir, khususnya para pemegang saham. Beberapa media juga akan turut hadir karena tak mau melewa tkan momen berharga bergabung nya dua buah perusahaan besar.
Tapi jauh sebelum pesta tersebut bergulir, kekacauan terjadi.
Vano tak bisa ditemukan di mana pun.
Beberapa kali Sean menelepon Kiara, menanyakan apakah Vano sedang bersamanya atau tidak, namun Kiara menepisnya. Ia ingat sekali mereka berpisah di depan villa keluarganya tadi malam. Tidak mungkin tiba-tiba saja Vano bermalam di rumahnya.
Ponsel pria itu tidak aktif, ketika Kiara menghubungi setiap orang yang merupakan teman dekat Vano, semuanya tidak mengetahui keberadaan pria itu.
Vano seolah menghilang. Tanpa bekas.
Kiara tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ia akhirnya teringat kata-kata pria itu semalam dan menyadari bahwa ini adalah ‘kesalahan lainnya’ yang pria itu katakan.
Tapi kenapa pria itu menghilang di saat-saat penting hubungan mereka seperti ini? Apa ia tidak mencintainya? Apa selama ini ia hanya mengalami cinta yang bertepuk sebelah tangan?
Tidak. Tidak mungkin. Jika Vano tidak mencintainya, pria itu tidak akan terus mendatangi rumahnya, tidak akan menggenggam tangannya, tidak akan memeluknya, dan tidak akan menciumnya.
Kepala Kiara mendadak pening. Ia pun memilih pergi ke dalam kamar lalu segera mengambil tasnya untuk mengeluarkan obat-obatannya dari sana. Namun ketika ia tengah memasukkan tangannya ke dalam tas, tangan nya menemukan sesuatu yang aneh. Dan ia pun mendapatkan sebuah surat di dalam tasnya. Dalam keadaan pening dan hati yang mulai sedikit demi sedikit terluka, Kiara membuka surat tersebut.
Dari Vano yang entah kapan dimasukkan ke dalam tasnya.
Kiara, aku tahu apa yang kulakukan adalah suatu kesalahan besar. Mungkin menurutmu begitu, tapi menurutku ini adalah hal yang benar. Jika kau menemukan surat ini, itu artinya aku telah menghilang secara mendadak dari kehidupanmu. Aku memiliki alasanku tersendiri tentang mengapa aku melakukan hal ini, tapi kau boleh memikirkan apa yang kau pikirkan.
Jangan memaafkanku, Kiara. Maka dengan itu kau akan lebih mudah melupakanku.
Sejujurnya mengetahui seseorang akan melupakanku agaknya sedikit menakutkan. Apakah dulu kau juga merasa seperti ini?
Mulai saat ini aku akan menghilang dari kehidupanmu. Entah sampai kapan. Jika saja takdir mengizinkan, aku pasti akan berani menampakkan keeksisanku di hadapanmu lagi. Dan jika takdir mengizinkanku untuk bertemu denganmu lagi, akan kupastikan bahwa akulah yang akan menemukanmu dan mengejarmu.
Lupakan aku, Kiara. Aku hanya ingin menyelamatkanmu dan keluargamu.
Meskipun aku tidak boleh mengatakan ‘aku mencintaimu’, tapi… aku mencintaimu. Sungguh.
~ V.A
Tanpa sadar, air mata Kiara sudah mengalir. Hatinya terasa seperti ditusuk-tusuk oleh ribuan pedang, terlebih ketika ia menemukan sesuatu yang lain dari dalam amplop surat tersebut, sebuah cincin. Cincin perak yang menjadi cincin bukti pertunangan mereka.
Vano Alexander memang benar-benar gila. Ia tahu benar bagaimana membuatnya seolah terbang ke langit lantas membiarkannya terjun bebas ke atas tanah. Membuatnya menggilainya, lalu sekarang menyuruhnya untuk melupakannya? Gila!
Kemudian, tangis Kiara benar-benar pecah dengan air mata yang membanjiri kedua matanya bak riak sungai.
...****************...