REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Part 53



Ketika Vano pergi meninggalkannya untuk kembali memulai pemotretan, Kiara membiarkan senyumnya mengembang seperti orang gila. Ia mendekati gembok yang baru saja dipasang dan memperhatikannya dengan seksama. Terdapat tulisan sederhana di dua gembok tersebut.


Vano dan Kiara.


Hanya itu.


Tunggu, hanya itu?!


Kening Kiara mengerut dan kembali membalik gembok tersebut, mencoba mencari tulisan lain di sana, namun hasilnya  nihil. Tidak tambahan seperti harapan mereka di sana, tidak ada sebutan-sebutan konyol yang biasa dituliskan para pasangan di gembok mereka masing-masing. Tidak ada apa pun! Pada akhirnya, Kiara hanya bisa mendengus sembari berdecak.


“Benar-benar tidak romantis.” Putusnya.


 ____


 


Mereka selesai tepat ketika matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat. Sambil menunggu para kru membereskan properti dan membawanya ke mobil mereka di bawah menara Namsan, Kiara terus menerus melirik jam tangannya. Merasa gelisah karena waktunya bertemu dengan designer Choi itu semakin dekat. Kaki Kiara bahkan terus bergerak tanpa disadari. Itu karena ia gugup.


“Kerja bagus, Kiara, kau tidak akan bergabung dengan kami malam ini?” Tanya seorang staff designer yang dikenalnya.


Kiara tersenyum simpul sambil mengangguk. “Ehm, aku ada beberapa urusan.”


“Apa kau akan bertemu dengan seorang pria?”


“Apa?”


“Ah… Karena itu kau berdandan? Aku bisa memakluminya.” Ujar staff itu lagi.


“Ah, tapi jangan sampai kau berpaling dari Vano. Sepertinya ia seram jika sedang marah.”


Kiara tertawa sambil menganggukkan kepala lalu staff itu pun pergi meninggalkannya. Ia mencari sosok Vano dan mendapati pria itu tengah sibuk berbicara dengan kru ligthing-nya lalu mendesah sembari mengulum senyum. Ia pernah melihat pria itu marah. Dan ya, ia juga memiliki pikiran yang sama dengan staff tadi. Pria itu menyeramkan jika sedang marah.


Ketika Vano selesai berdiskusi dengan beberapa kru lainnya, barulah pria itu menghampiri Kiara yang sudah menunggu di depan lift sejak tadi. Vano mendesah sebelum akhirnya mengajak gadis itu masuk ke dalam lift. Setelah menaiki kereta gantung untuk sampai di bawah menara Namsan dan menaiki mobil mereka untuk menuju ke jembatan Banpo.


“Ah, Kiara, tadi manajer Yang meneleponku. Ia mengatakan bahwa acara makan malammu dengan si Choi itu akan berlangsung jam 6 di restoran H&G di daerah Banpo. Dan itu artinya… 15 menit lagi. Aku akan mengantarmu.”


Kiara mengangguk mendengar penjelasan Vano sambil tersenyum senang. Tidak ada yang bisa menutupi kebahagiaannya saat ini. Dan ia sangat tidak sabar dengan pertemuan ini.


 ____


Bandara Incheon seperti biasa ramai dengan kedatangan dan kepergian orang-orang baik dari mau pun akan ke luar negeri. Brian baru sampai di sana jam 5 sore, tepat 2 jam setelah meminta izin pada Vano pada pukul 3. Pria itu segera memakai kostum penyamaran terbaiknya—topi, masker, kacamata hitam—dan berjalan memasuki bandara.


Sekitar empat jam yang lalu, saat ia hampir saja izin pada pukul 1, tiba-tiba Windy menghubunginya dan mengatakan bahwa penerbangannya sempat di delay selama dua jam sehingga ia baru tiba di Seoul sekitar pukul 5. Setelah mendengar itu, Brian bisa merasa tenang sedikit karena sebenarnya pemotretan belum selesai saat itu. Namun, ketika jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, ia mulai panik dan buru-buru minta izin lalu segera melesat ke Incheon saat itu juga. Mengabaikan rasa lelah dan pegal yang melandanya karena ia hampir belum istirahat seharian.


Ketika Brian memasuki bandara, mungkin memang karena aura selebritinya, orang-orang tetap saja mengenali dirinya dan mengambil gambar, hal itu membuatnya bingung bukan kepalang seraya memaksa otaknya memikirkan cara bagaimana menjemput Windy tanpa orang-orang mengambil gambar mereka dan menyebarkan yang tidak-tidak. Karena sungguh, Brian datang bukan karena menginginkan skandal, tapi karena ingin menjemput seorang teman. Karena sorotan itu, ia memutuskan untuk menunggu sambil berdiri di pojok ruangan, berharap semoga pesawat yang ditumpangi Windy segera mendarat.


15 menit kemudian, terdengar sebuah pengumuman bahwa pesawat dengan tujuan dari Amerika telah mendarat dengan selamat dan itu berarti sebentar lagi Windy datang akan muncul.


Awalnya Windy ingin langsung terbang ke Indonesia, tapi karena Brian bilang kalau dia sedang ada di Korea. Jadi gadis itu pun memutuskan untuk ke Korea terlebih dulu.


Brian pun bergerak mendekati kerumunan yang menunggu di dekat pintu sembari membawa beragam banner bertuliskan nama orang-orang yang akan mereka jemput. Sementara itu, Brian hanya berdiri di antara mereka tanpa membawa banner apapun. Firasatnya mengatakan bahwa tanpa membawa banner sekali pun, Windy akan segera mengenalinya. Mengapa?


Jawabannya sederhana; karena ia Brian Wijaya.


Brian melambaikan tangan panjangnya dan berkat tinggi tubuhnya yang mencolok, ia berhasil meraih perhatian gadis itu yang langsung tersenyum dan berjalan ke arahnya sembari mendorong troli berisikan dua buah kopernya—entah apa saja yang dibawa gadis itu bersamanya.


Windy memakai coat berwarna merah mencolok dengan bulu-bulu di bagian kerahnya. Gadis itu juga mengenakan sepatu boots panjang berwarna hitam, senada dengan leggingyang dikenakannya sementara itu ia mengenakan sweater biru di balik coat-nya. Rambut panjang kecoklatan miliknya terlihat bersinar dan gadis itu mengenakan kacamata hitam besar untuk menutupi matanya. Ia tersenyum.


“Kau tidak menunggu terlalu lama, bukan? Bandara itu memang keterlaluan! Tidak seharusnya mereka—”


“Sudahlah, tak apa, aku baru saja sampai, tidak sampai satu jam!” ujar Brian sembari memasang kembali maskernya yang sempat ia buka ketika menyapa Windy tadi.


“Ah begitu?” Windy tersenyum malu sambil kembali mendorong trolinya yang segera diambil alih oleh Brian. “Ah, apa kau sibuk? Tidak apa, bukan, jika kau—”


“Nanti kita bicarakan di dalam mobil. Terlalu banyak mata di sini,” ujar Brian sambil mendorong trolinya lebih cepat untuk segera sampai di mobilnya yang terparkir di bagian valet.


Setelah mereka berada di dalam mobil, barulah Brian melepas masker dan kacamata hitamnya lalu memasang sabuk pengamannya diikuti Windy di sebelahnya.


“Ah… Terlalu banyak netizen. Berdoalah ini tidak akan menimbulkan skandal,” ujar Brian.


Windy juga melepas kacamata, menampilkan iris coklatnya. “Ew… Apakah wartawan di sini benar-benar semenakutkan itu? Lebih dari pada di Amerika sana?”


“Kau bisa merasakannya sendiri tadi. Apa kau tidak merasakan berbagai tatapan menghujanimu?”


Windy terdiam dan kembali mengingat momen ketika ia berjalan bersama Brian menuju mobilnya. Ya, ia merasakan semua tatapan itu. Mulai dari tatapan bingung, kaget, dan benci. Dan memikirkan itu semua membuatnya merinding.


“Aish… Aku merinding memikirkannya!” seru gadis itu ngeri sembari mengelus-elus tangannya sendiri.


“Sudah kubilang,” ujar Brian seraya menyalakan mesin mobilnya. “Ah, bagaimana perjalananmu?”


“Melelahkan! Kau tahu, aku bahkan tak ingat kapan aku berhenti untuk transit saking lelahnya. Di dalam pesawat saja aku terus tidur. Kau tidak melihat kantung mataku ini? Oh… My precious eyes…,” keluh Windy sembari berkaca pada kaca mobil di sampingnya, memperhatikan penampilan matanya yang dikelilingi sebuah kantung mata kecil.


“Tidak, aku tidak melihatnya. Kantung mata itu tak terlihat, jadi tidak usah khawatir.”


“Bagaimana mungkin kau tidak melihatnya?! See? Ini sangat jelas! Ah… Aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi!” gerutu Windy lagi sambil memakai kembali kacamata hitamnya dan bersandar pada kursi mobil sambil melipat kedua tangan di atas dada.


Melihat hal tersebut, Brian hanya bisa terkekeh. Sudah lama sekali sejak terakhir kali mereka bertemu setahun yang lalu untuk sebuah pemotretan di Jeju dan ia tidak menyadari bahwa ia ternyata sangat merindukan gadis itu—terutama tingkah kekanakannya—Brian dan Windy bertemu pertama kali tiga tahun yang lalu, saat Brian pertama kali menerima tawaran sebagai wajah baru sebuah majalah untuk satu tahun penuh. Di sana, ia melakukan pemotretan dengan bermacam-macam model perempuan termasuk Windy. Ia melakukan pemotretan dengan Windy di sebuah tempat ski di Jepang. Dan ia masih ingat dengan jelas bagaimana gadis itu terus menggerutu mengenai ini-itu—entah tentang betapa dinginnya keadaan di sana, tentang rambutnya yang masih belum ditata, make up-nya yang kurang tebal, bahkan ia menggerutu tentang salju yang tiba-tiba turun!—dan mungkin bagi sebagian orang yang mendengarnya, hal itu akan terdengar menyebalkan. Namun bagi Brian, pria itu malah tertarik. Karena Windy tidak mengucapkannya dengan cara yang menyebalkan dan tingkah menyebalkan, melainkan tingkah lucu seperti anak kecil dibalik sosok anggunnya, sehingga membuatnya ingin mencubit pipi gadis itu.


Mungkin semenjak itulah Bria. mulai tertarik dan tanpa sadar mendekati gadis itu. Hingga sekarang.


Brian sudah mulai memasuki jalur bebas hambatan ketika ia ingat bahwa ia belum memberitahu Windy bahwa ia tidak akan mengantarkannya langsung ke hotel, melainkan akan membawanya ke tempat pemotretannya.


“Widya,” panggil Brian.


“Sepertinya kita tidak bisa langsung ke Gangnam. Kau tahu aku sedang melakukan pemotretan hari ini, bukan? Sepertinya aku akan membawamu ke lokasi. Apa tidak apa?”


Windy tidak menjawab. Dan ketika Brian menoleh sekilas untuk melihat apa yang gadis itu lakukan, ia membulatkan matanya kaget.


“Widya ayu mahesha, kau tidur?!”


 


...****************...