REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Part 34



Apakah begini rasanya jika kau baru saja berhadapan langsung dengan masa lalumu? Rasanya segala hal yang tak pernah kau percayai sebelumnya kini berbalik menghantammu dengan kekuatan ekstra dan membuatmu jatuh ke lubang gelap tak berujung. Dan itulah yang dirasakan Vano Alexander saat ini.


Ia bisa merasakan jemarinya bergetar dan napasnya tercekat. Menelan ludah sendiri pun rasanya sulit. Selama ini, ia masih percaya tak percaya dengan masa lalunya, Kiara, Brian, dan yang lainnya—tapi ketika ia melihat kotak ini, rasanya rasa tak percaya itu musnah dengan sendirinya.


Kotak ini adalah bukti. Bukti bahwa ia memang benar-benar pernah atau mungkin sering ke sini dulu.


Pandangan Vano masih melekat pada kotak kecil di genggamannya. Kiara yang berjongkok di sampingnya pun turut tertegun.


“Vano ini…,” Kiara mencoba merangkai kata-katanya, namun gadis itu membiarkannya menggantung di udara. Tak mengucapkannya sampai selesai.


“Ayo Kak, coba lihat, apa isinya?!” tuntut anak kecil yang masih bersama mereka.


Vano masih terdiam. Ia masih mencoba menata perasaannya yang seperti dicampur aduk.


“Kakak!” tegur anak kecil itu lagi sambil menggoyang-goyangkan lengan Vano.


Vano mengerjap, ia menatap anak kecil itu gugup sambil tersenyum dan berkata, “A–ah… Baiklah,” ujarnya. Jemarinya mulai beranjak ke ujung kotak tersebut, hendak membuka tutup yang bertuliskan namanya ketika sebuah suara kembali menginterupsi mereka.


“Anak-anak, istirahat sudah habis! Waktunya kembali belajar!” seru seorang pengajar dari depan kelas.


“Aish…,” gerutu anak kecil itu. “kakak sangat payah, bilang saja kakak tidak mau memperlihatkannya padaku!” seru anak kecil itu marah sambil menghembuskan napas dan menggembungkan kedua pipinya lalu pergi dengan kedua tangan terlipat di atas dada.


Kiara tertawa melihat tingkah anak kecil tersebut. “Aduh, dia sangat lucu. Aku akan bicara padanya, bagaimana pun, kau tidak boleh membuat image malaikatmu jadi tercoreng, Vano Alexander,” ujar Kiara sambil terkekeh.


“Image malaikat? Apa-apaan itu?” ulang Vano heran.


Alih-alih menjawab, Kiara malah mengangkat bahu. “Ah, jangan dulu buka kotakmu itu! Aku juga ingin melihatnya!” pintanya sebelum akhirnya gadis itu pergi meninggalkan Vano.


Sepeninggal Kiara, Vano berdiri, bergerak kembali menuju teras dan duduk di sana dengan kotak itu di pangkuannya. Ia tak peduli jeans yang dipakainya akan kotor dengan tanah, ia tak peduli. Tanpa buang waktu, ia kembali mengangkat kameranya dan membidik kotak di pangkuannya. Setelah memotret beberapa kali, pria itu kembali menurunkan kamera digitalnya dan membiarkannya kembali menggantung manis di lehernya.


Kedua tangannya masih berada di samping kanan dan kiri kotak tersebut, seolah takut kehilangan kotak tersebut jika ia memindahkan tangan dari kotaknya bahkan hanya satu inci. Jemarinya bergerak-gerak gelisah. Ia berbalik, menatap ke dalam kelas yang tengah berlangsung dan mendapati sosok Kiara kusuma yang tengah asyik mengobrol bersama beberapa anak kecil. Tampak benar-benar lupa dengan seorang yang berna Vano Alexander.


Vano mendengus kesal meskipun ia sendiri tidak tahu mengapa ia harus kesal, lalu kembali menunduk menatap kotaknya.


Tangan pria itu pun mulai bergerak membuka tutup kotak kecil tersebut. Dan hal pertama yang ia lihat adalah foto sebuah gitar. Ternyata, kotak kecil itu berisi dengan foto-foto yang tampaknya diambilnya sendiri. Ia mengeluarkan foto-foto tersebut yang disertai dengan beberapa tulisan di belakangnya.


Ia tersenyum ketika melihat foto pertama. Sebuah gitar berwarna coklat yang modelnya tampak tua. Dari sisi angle foto, tak ada yang bermasalah. Tampaknya ia sudah berbakat menjadi fotografer sedari kecil. Memikirkannya, Vano tersenyum. Ia membalik foto tersebut dan senyumnya sirna.


Aku ingin jadi penyanyi agar selalu bisa menghibur orang. – V.A


Penyanyi? Profesi itu bahkan tak pernah terlintas di benaknya. Memang benar, dulu, sebelum ia kecelakaan, katanya ia berniat melanjutkan kuliahnya ke jurusan seni musik. Tapi karena saat itu yang ia temui hanyalah sebuah kamera usang dan itu membangkitkan jiwa fotografer amatirnya, akhirnya ia memilih menjadi seorang fotografer.


Foto selanjutnya sukses menghilangkan kerutan samar di keningnya. Foto sebuah kamera.


Aku ingin jadi seorang fotografer. Tidak harus profesional, asalkan bisa selalu memotret pemandangan indah. – V.A


Sekali lagi, Vano dibuat terenyuh. Pria macam apakah ia saat masih belia dulu? Kenapa ia bisa menulis kata-kata seperti ini di usianya yang semuda itu? Tulisan ini mengingatkannya pada tujuannya semula. Ia sebenarnya tidak pernah berpikir untuk ikut terjun ke dalam dunia permodelan. Dulu, ia adalah seorang fotografer freelancer yang bermimpi memotret berbagai pemandangan di seluruh penjuru dunia. Namun, ketika seseorang menawarinya pekerjaan ini yang dapat menghasilkan uang yang lumayan, ia tak bisa menolak. Sekali-kali, ia ingin belajar mandiri. Tapi setelah itu ia merasa nyaman dan melanjutkan pekerjaan ini. Ia tak pernah menyangka bahwa dirinya saat kecil pun mempunyai impian yang sama dengannya.


Selanjutnya hanyalah beberapa foto-foto yang sepertinya ia ambil secara random. Foto rumahnya, foto sebuah pohon besar dengan ayunan sepertinya pohon itu adalah pohon di hadapannya. Kemudian, foto pantai, foto rumah Kiara. Tunggu, rumah Kiara?


Vano menatap foto keenam lekat-lekat. Rumah yang berada di foto itu jelas-jelas berbeda. Foto itu menunjukkan pintu depan sebuah rumah bercat krem dengan pintu kayu kecoklatan yang terlihat kokoh dengan kursi taman di sebelah pintu tersebut. Rumah yang berada di foto itu jelas berbeda dengan rumah Kiara yang sekarang cat putih, pintu berwarna putih gading, bahkan kursi tamannya pun berbeda! Tapi bagaimana ia bisa tahu ini adalah rumah Kiara?


Di balik foto-foto random itu tidak ada keterangan apa pun, jadi ia hanya bisa menerka-nerka.


Tibalah ia di foto terakhir. Dan yang lebih mengejutkan, foto itu adalah foto seorang anak perempuan. Mata besar, senyum lebar, pipi chubby, rambut pendek sebahu dengan poni yang diikat ke samping, kulit putih susu, dengan sekali lihat, Vano tahu itu adalah Kiara.


Ah, berarti Kiara benar-benar masa laluku, batin Vano.


Ia membalik foto di tangannya dan tertegun.


Aku ingin selalu bersama Kiara. Aku tidak ingin membuatnya menangis. Aku akan membuatnya bahagia. – V.A


...****************...