
Kiara yang berjalan di depan Vano selama beberapa menit yang lalu, kini tiba-tiba berhenti, membuat Vano yang mengikutinya pun turut menghentikan langkahnya. Kiara memutar tubuhnya ke Timur, menghadap pantai yang terhampar di sana. Ia melirik jam tangannya lalu berbalik menatap Vano sembari tersenyum. Tanpa mengucapkan sepatah kata, gadis itu berdiri di samping Vano masih sambil menghadap ke Timur. Vano mengikuti arah pandang gadis itu dengan bingung. Angin laut berhembus ke arah mereka, membuat Vano harus merapatkan mantelnya, berbeda dengan Kiara yang malah santai-santai saja meskipun ujung hidung dan pipinya memerah.
“Sebentar lagi,” gumam gadis itu.
Vano menoleh cepat ke arah Kiara sambil mengernyitkan kening.
“Sepuluh… sembilan… delapan… tujuh… enam… lima…,”
Vano kembali mengalihkan pandangannya dari Kiara dan menatap hamparan laut di depan matanya. Semburat kekuningan mulai menghiasi langit di ujung lautan luas yang semula berwarna kelam.
“Empat… tiga…,”
Mata Vano terbelalak. Awan-awan hitam yang semula melingkupi langit mulai menyingkir digantikan oleh warna biru yang masih samar dan juga sinar keemasan yang berasal dari sang surya yang baru saja kembali dari peristirahatannya. Sang surya terlihat malu-malu dan dengan perlahan mengintip dari balik lautan luas.
“Dua… satu…,”
Vani menahan napas. Ia tak bisa mengungkapkan apa yang ia lihat dengan kata-kata. Indah. Hanya itu yang terpikir di benaknya. Seumur hidupnya, ia tak akan pernah melupakan fenomena alam seindah ini. Perlahan, tangannya terangkat mengambil sebuah kamera digital yang menggantung di lehernya, kamera professionalnya rusak beberapa bulan yang lalu, sehingga ia hanya bisa membawa kamera digital untuk mengabadikan sesuatu. Dengan tangan sedikit gemetar, Vano mulai membidik pemandangan di hadapannya.
“Kini kau melihatnya,” ujar Kiara menginterupsi Vano yang masih terkagum-kagum dengan pemandangan di hadapannya dan hasil jepretan kameranya.
“Pemandangan matahari terbit yang mungkin pertama kalinya kau lihat di Indonesia,” sambung gadis itu.
Vano mengalihkan tatapannya pada Kiara di sampingnya. “Apakah dulu kita juga sering melihat pemandangan matahari terbit seperti ini di sini?” tanyanya.
Kiara termenung sembari memutar kotak memori di otaknya. “Tidak, ini adalah pertama kalinya aku melihat matahari terbit bersamamu,”
Vano terdiam. Ia kembali mengalihkan pandangannya pada matahari yang telah benar-benar kembali ke angkasa dan menyinari dunia di sekitarnya. Perlahan, ujung bibirnya mengukir sebuah senyuman. “Begitu…,” gumamnya pelan. Ia tak tahu apa yang membuatnya merasa sesenang itu mendengar perkataan Kiara tadi.
“Ayo,” ajak Kiara lagi.
“Ke mana? Aku belum selesai—“
Kiara tiba-tiba menarik sebelah lengan Vano hingga membuat pria itu bergerak. “Ayo… Masih banyak hal yang harus kita lakukan!”
___
Matahari kini sudah bersinar cukup terang untuk menerangi langkah mereka berdua. Juga cukup untuk membuat penglihatan tajam Vano tertarik pada objek-objek pemandangan di sekitar mereka. Tangan Vano sudah gatal ingin memotret pemandangan- pemandangan yang baru saja ia lihat, namun ia lupa ia tak membawa kamera profesionalnya karena rusak. Dan lagi, baterai kamera digitalnya ini tidak diisi penuh semalam lantaran ia tak tahu hal seperti ini akan terjadi—berjalan-jalan menelusuri Bali di pagi hari.
Pandangan Vano kembali beralih ke depan, pada sosok Kiara kusuma yang tengah berjalan dengan bersemangat sembari bersenandung kecil. Terkadang, tubuh gadis itu bergerak aneh seperti ikut menari dengan lagu yang ia senandungkan. Vano menggeleng-gelengkan kepala, tidak menyangka bahwa gadis di hadapannya ini ternyata sepolos ini.
“Ya, kau mau membawaku ke mana?” tanya Vano, memecah keheningan diantara mereka berdua.
Kiara berbalik. Baru saja mulutnya membuka, tiba-tiba sebuah suara memanggilnya dari kejauhan.
Kiara kembali berbalik membelakangi Vano dan menatap seorang wanita paruh baya yang berada di depan pintu rumahnya dan baru saja memanggil namanya. Senyum terukir di bibir merah muda Kiara. Gadis itu berbalik singkat lalu kembali menarik sebelah tangan Vano tanpa sempat menjawab pertanyaan pria itu, membuat pria itu tentu saja berontak.
“Hei, apa-apaan? Kau mau membawaku ke mana lagi?” tanyanya penuh nada curiga.
Kiara mendengus. “Diamlah,Kukira ini adalah awal yang bagus untuk memulihkan ingatanmu,”
“Apa yang—“
Sebelum Vano menyelesaikan umpatannya, Kiara telah menariknya dan membawanya menuju wanita paruh baya tadi.
Wanita paruh baya itu tersenyum lembut pada mereka begitu keduanya berada di hadapan wanita itu.
“Halo, bibi,” sapa Kiara sopan dan segera diikuti Vano meskipun ia tidak tahu mengapa ia merasa harus mengikuti tingkah Kiara terhadap wanita paruh baya itu.
“Sfuh… Sudah lama sekali, ya?” ujar wanita itu. “Kia, bagaimana di Inggris? Dan Vano, kapan kau kembali? Kenapa kau tidak memberitahuku?”
Kening Vano berkerut samar melihat pengetahuan wanita paruh baya ini terhadap mereka berdua. Ia hendak mengutarakan pertanyaan pada wanita itu, tapi segera diserobot Kiara.
“Kami kembali dalam waktu yang bersamaan, mungkin satu bulan yang lalu,” jawab gadis itu
“Inggris cukup baik, Bi, tapi tetap saja aku selalu merindukan Koraku. Oh, bagaimana dengan anak-anak? Apakah mereka belajar dengan baik ketika aku pergi? Sudah lama sekali… boleh aku mencoba mengajar mereka lagi?”
Kini Vano benar-benar bingung hingga ia tak tahan untuk bertanya, “Kau pernah mengajar di sini?” tanya Vano dengan nada yang benar-benar bingung.
Wanita paruh baya itu terkekeh melihat reaksi Vano. “Ya, dia pernah mengajar di sini beberapa kali tiga tahun lalu sebelum ia pergi ke Inggris. Lucu sekali, dulu kalian yang selalu ikut belajar di sini, sekarang kalian yang mengajar. Kau mau ikut mencobanya, Vano?" tanya wanita itu lagi.
Kiara menoleh ke arah Vano. “Anak-anak di sini sangat lucu! Mereka ramah-ramah, dan aku yakin mereka akan menyambutmu dengan baik. Ayolah… kau sudah lama tidak ke sini, bukan? Sekalian mengenang masa kecil kita di sini,” bujuk Kiara.
“Bukan begitu, tapi aku tidak punya bakat menga—“ Vano berhenti ketika ia menatap mata Kiara yang tengah menatapnya balik dengan pandangan memelas. “Baiklah,” pria itu akhirnya mengalah dan Kiara pun mengembangkan senyum penuh kemenangan di bibirnya.
Wanita paruh baya itu masih tersenyum sambil menatap mereka. “Aduh, kalian lucu sekali. Sangat serasi. Apa kalian telah berpacaran?” tanya wanita itu.
Entah kenapa, disebut seperti itu membuat pipi Vano terasa memanas. “Bukan seperti itu, kami hanya—“
“Kami telah bertunangan,” ujar Kiara santai.
Wanita itu juga Vano, segera mendelik ke arahnya secepat kilat dan dengan bola mata yang dibesarkan secara berlebihan. Sementara yang ditatap hanya tersenyum manis lalu menarik tangan Vano untuk memasuki rumah wanita paruh baya itu sembari berkata,
“Bi, sebelum kelas dimulai, apa ada yang bisa kami bantu?”
...****************...