
Pemotretan selesai pukul 9 malam. Kedua model itu segera membungkuk dan berterima kasih pada para kru dan staff yang telah bekerja keras bersama mereka seharian ini. Begitu pula Vano, sebagai pemimpin proyek tersebut, ia adalah orang yang membungkuk paling dalam, berterima kasih sebanyak-banyaknya atas kerja keras dan kerja sama semuanya. Brian ikut menghampiri Vano dan memberikan pelukan hangat pada pria itu.
“Akhirnya, tinggal satu lokasi lagi, bukan?” Tanya Brian begitu melepas pelukannya.
Vano mengangguk. “Ah, Brian , malam ini aku yang akan mengantarkan Windy pulang, jadi kau bisa langsung pulang,” ujarnya.
“Windy—kau mengenalnya?!”
Vano mengangguk lagi. Pria itu kemudian menepuk pundak Brian beberapa kali sekali lagi seraya berkata, “Terima kasih atas kerja kerasmu. Besok pagi kita akan berangkat bersama ke Taman Nasional Gyeryong-san.” Lalu pria itu berbalik pergi.
Sebelum Vano berjalan menjauh, Brian menahan pundaknya, membuat lelaki itu kembali berbalik menghadap Brian. “Vano… apa hubunganmu dengan Windy?” Tanya Brian.
Vano mengangkat sebelah alisnya, lalu setelah menyerap pertanyaan tersebut dengan benar, ia terkekeh dan perlahan menurunkan lengan Brian di pundaknya. “Kami teman, Brian. Dia adalah temanku di kampus yang sama dan kami berada di agensi permodelan yang sama di Amerika.”
“Hanya itu?”
“Ya, hanya… itu,” ujar Vano dengan nada yang agak ragu kali ini.
Brian terdiam sembari menatap mata Vano, berusaha menangkap sinyal kebohongan di mata pria itu yang tak didapatnya. Barulah setelah itu ia tersenyum. “Begitu… maafkan aku, pulangkan dia dengan selamat, Vano! Aku akan mengeluarkan barang-barangnya dari mobilku.”
Dan Vano hanya bisa mengangguk mendengar tawaran Brian dan kembali membereskan perlengkapannya sementara Brian berjalan menuju mobilnya. Windy yang melihat Brian berjalan menuju mobilnya, mengikuti pria itu dari belakang.
“Kau akan pulang dengan Vano malam ini.” Ujar Brian.
“Aku tahu.” Balas Windy.
Brian membuka pintu bagasi mobilnya dan mulai mengeluarkan kopernya satu persatu. “Berhati-hatilah di jalan, jangan lupa pasang sabuk pengamanmu—jangan sentuh itu! Biar Vano yang membawanya ke dalam mobilnya!—jika dia melakukan hal-hal aneh padamu, beritahu aku, oke?”
Windy tertawa mendengar perkataan Brian, membuat pria itu menatapnya bingung setelah mengeluarkan semua koper Windy dan menutup pintu bagasinya.
“Jangan khawatir, Windy, aku sudah mengenalnya lebih lama daripada aku mengenalmu. Dan aku pandai karate, kau tahu? Sejak SMP aku selalu rajin berlatih karate! Kau tidak perlu khawatir~” ujar Windy sambil tersenyum.
Brian tersenyum lalu tak bisa menahan dirinya dan mengulurkan tangannya untuk mengacak-acak rambut lurus Windy, membuat gadis itu merengut kesal sambil berusaha merapikan kembali rambutnya.
____
Windy memperhatikan Vano memasukkan perlengkapan photographer miliknya ke dalam bagasi mobilnya lalu turut memasukkan koper-kopernya. Setelah Vano menutup bagasi mobilnya, ia membukakan pintu bangku penumpang yang terletak di depan, mempersilahkan Windy untuk masuk. Dan Windy tak menolak. Ia memasuki mobil itu. Setelah menutup pintu untuk Windy, Vano pun berjalan memutari mobilnya dan memasuki bangku pengemudi tepat di sebelah Windy.
Di tengah perjalanan, Vano banyak menanyakan berbagai hal, tentang bagaimana keadaan ibu Windy di Amerika, bagaimana kuliah gadis itu—yang sebenarnya berlangsung buruk karena ia sering tidak masuk karena jadwalnya yang padat—juga bagaimana ‘gogo’ seekor kucing peliharaan mereka di Amerika yang sedang hamil.
“Kita mau makan malam di mana? Pizza atau makanan Italia? Kau yang pilih,” ujar Vano.
“Menurutmu lebih baik makan apa?” protes Windy.
“Makanan Italia? Kurasa itu ide yang bagus.”
Windy tersenyum. Ia merasa puas mengetahui bahwa Vano masih mengingat kebiasaannya—well, pria itu baru pergi selama dua bulan, bukan waktu yang lama untuk melupakannya—lalu pandangan gadis itu mulai terarah pada sosok Vano. Ia menatap wajah pria itu dengan seksama, dari ujung rambut hingga ujung dagunya yang baru disadarinya terlihat sangat sempurna. Kemudian matanya beralih pada jemari pria itu. Jemari tangan kanannya berada di atas persneling sementara jemari tangan kirinya berada di atas kemudi. Ketika menemukan sesuatu yang janggal, Windy mengangkat salah satu ujung bibirnya, membentuk sebuah seringaian.
“Wah… lihat siapa yang berubah di sini! Kau bilang kau benci memakai aksesori di tangan selain jam tangan, tapi ternyata kau menggunakan sebuah cincin! Dae~bak!” seru Windy bersemangat.
Vano mengalihkan tatapannya sejenak pada tangan kirinya, di mana sebuah cincin yang terbuat dari perak asli tersemat di jari manisnya. Ia mendesah. “Ini bukan aksesori.”
“Hm, aku bertunangan.”
Windy terdiam.
“Bisnis keluarga… aku tak mengira papa akan melibatkan aku dan masa depanku.”
Windy masih terdiam.
“Maaf…,”
Windy mendengus setengah tertawa. “Cih… kau tidak perlu minta maaf, Vano,” ujarnya. “Kau bahkan bukan kekasihku.”
Vano menggigit bibirnya. Entah mengapa ia juga merasa bersalah—meskipun itu bukan salahnya—tapi setidaknya dulu, ia pernah mengakui bahwa dirinya akan menyukai Windy selamanya, namun kali ini ketika gadis itu datang, ia malah memberitahunya bahwa ia telah bertunangan dengan orang lain. Ia tahu ia kejam, karena itu ia minta maaf. Tapi melihat bagaimana perlakuan Windy tadi, hal tersebut malah menambah lukanya, bukan membuatnya membaik.
“Ah… sepertinya aku mau tidur saja hari ini. Tidak apa bukan, kalau kita membatalkan acara makan malamnya?” Tanya Windy.
Vano terdiam. Karena itu, Windy kembali berkata, “Kita pulang saja. Apartemen kakakku ada di Gangnam, daerah Cheondamdong.”
Lelaki itu memilih menurut dan mengangguk daripada harus berdebat lebih jauh dengan gadis itu. Jika boleh berkata jujur, Vano merasa ia masih menyukai gadis itu dan ia merasa egois karena dalam waktu yang bersamaan, ia ingin memiliki Sooji namun tak ingin melepaskan Soojung. Soojung terlalu berharga untuk dilepaskan—menurutnya.
Selama 15 menit yang terasa seperti 2 jam untuk mereka, dilalui dengan keheningan yang menyelimuti keduanya. Tak ada yang berniat membuka pembicaraan. Mereka masih sibuk menata hati masing-masing, sibuk dengan pikiran masing-masing, sehingga semua yang akan mereka bicarakan akan terdengar canggung. Karena itulah mereka memilih diam.
Akhirnya setelah berkeliling Cheondamdong, mereka pun sampai di apartemen kakak Windy, yang ternyata merupakan kompleks apartemen elit di Korea Selatan. Vano menurunkan Windy di depan pintu masuk apartemen, memanggil seorang pelayan untuk membawakan koper-koper Windy, lalu berdiri dihadapannya.
“Selamat malam, kalau begitu,” ujar Vano sambil tersenyum tipis dan melambaikan sebelah tangannya.
Windy tak menjawab dan malah menatap mata Vano tajam. “Aku ingin menanyakan satu hal.”
Vano mengangkat sebelah alisnya, mengisyaratkan Windy untuk melanjutkan kata-katanya.
“Apa kau menyukai—tidak—mencintai tunanganmu itu?” Tanya Windy.
Vano tertegun. Sebersit rasa tegang mulai menguasainya, dan ia tak tahu mengapa ia bahkan tak bisa menjawab pertanyaan sederhana itu.
“Apa aku masih memiliki kesempatan?” Tanya Windy lagi.
Tentu saja Vano tak menjawabnya lagi. Lagipula, ia tak tahu apa yang ingin ia katakan. Pertanyaan ini begitu tiba-tiba hingga ia bahkan tak mampu dan tak berani memikirkan jawaban apa pun di kepalanya. Mengetahui hal ini, Vano merasa dirinya benar-benar egois.
“Jika kau diam saja, aku akan menganggapnya sebagai ‘iya’, Vano.” Ujar Windy memperingati.
Vano tak menjawab.
Windy mengulas senyum di bibirnya. “Terima kasih, mulai sekarang, akulah yang akan mengejarmu, Vano. Jadi siapkan dirimu. Aku tak peduli siapa tunanganmu nanti. Selama kau tidak menyukainya namun tak bisa lepas darinya, aku juga tidak akan melepaskanmu.” Ujar Windy. Kemudian sebelah tangan gadis itu terangkat. “Good night!”
...****************...