REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Part 39



"Ini sudah cukup hangat , Vano . Mungkin kau saja yang merasakan kedinginan , ada apa denganmu ? Apa kamu sakit ?" ujar Kiara sembari menatap Vano aneh dan mencoba meraih kening pria itu namun pria itu mengelak dengan cepat .


"Tidak."


Jawab Vano singkat . Ia kemudian berhenti mengotak-atik pemanas dan terus memfokuskan dirinya pada jalanan di hadapannya . Jemarinya terkadang bergerak-gerak gelisah di atas kemudian . Aneh, ini adalah perasaan teraneh di dalam dirinya. Ia merasa tertangkap basah dengan mengungkapkan perhatiannya pada Kiara dan kenapa ia merasa selalu ini? padahal masih banyak pertanyaan yang ingin Ia ajukan .


"Kia.." Panggil Vano setelah beberapa menit menelan keheningan . Kiara menulis sambil menggumam.


" Kurasa kau harus benar-benar mengganti bajumu dan meminum obatmu !"


" Kenapa ?"


" Tidakkah Kau tahu ,besok kita akan mulai melakukan pemotretan di luar seperti kata ku. Dan aku tidak ingin salah satu ketua tim desainer tiba-tiba jatuh sakit . Kurasa meskipun aku yang paling pengecut dan tidak tahan terhadap dingin , tapi kau yang paling lemah Kia."


Kiara mendelik tajam mendengar kata-kata Vano. Dari dulu , ia tak pernah suka dipanggil lemah . Jangan tanyakan kenapa . Ia benci menjadi perempuan lemah dan ia tidak pernah ingin menjadi seseorang yang lemah . Menjadi lemah berarti menginginkannya pada penyakitnya dan ia tak pernah ingin mengingat penyakit sialan itu .


" Berhentilah bicara , aku baik-baik saja !" ujar Kiara dingin.


" Tapi kau harus benar-benar...."


"Aku baik-baik saja." ulang Kiara dengan penekanan di setiap kata. " Urus urusanmu sendiri , karena aku baik-baik saja "


Mendengarnya , Vano hanya bisa terdiam dan kembali menyetir . Mendengar nada sinis gadis itu ,diam-diam dia kembali meretungi dirinya dalam hati.


" Kenapa pula ia harus bicara seperti itu ?" rutuknya dalam hati.


___


Vano tidak menyangka perjalanannya menuju ke Jakarta akan terasa sangat sepanjang ini . Apalagi di tengah keheningan mencentang antara dia dan Kiarah . Ia bisa merasakan dengan jelas bahwa gadis itu sedang marah . Dari situ tidak suka dengan sesuatu pada perkataannya . Dan ia bisa merasakan itu , ia tahu apa yang salah , tapi ia tak ingin terus-menerus berada dalam keadaan ini.


Tapi ya tak bisa minta maaf terlebih dahulu , tidak, itu bisa menjatuhkan harga dirinya .


Setelah mereka memasuki kawasan Jakarta dan tinggal beberapa lampu merah lagi untuk sampai menuju ke perumahannya.


Dari jauh mereka sudah melihat gapura perumahan mereka. Dengan cepat Vano melajukan mobilnya ke arah rumah mereka, lalu Vano memakirkan mobilnya di depan rumah Kiara. Beberapa menit mobilnya berhenti, tanpa banyak bicara, Kiara keluar dari mobil dan pergi meningggalkan Vano untuk masuk kedalam rumahnya.


Well, Vano Alexander, sepertinya kau benar - benar dalam masalah besar kali ini.


Melihat Kiara yang masuk sendirian, membuat Vano seept mungkin keluar dari mobil. Mengunci pintnya, lalu berlari menyusul Kiara. Tapi terlambat. Gadis itu sudah lebih dahulu masuk ke dalam kamarnya. Sebenarnya Van bisa saja masuk ke kamar it tapi, Vano tidak mau melakukan itu.


Vano mendesah, ia tahu apa yang akan terjadi jika ia tidak menyelesaikan semuanya sekarang. Tapi ia benar - benar lelah sekarang, jadi dia akan membiarkan gadis itu lebih dulu. Bagaimana pun besok ia akan menyelesaikannya. Semoga saja, mood gadis itu akan lebih baik besok.


___


Pagi - pagi sekali Vano sudah ada di depan rumah Kiara, ia rela bangun pagi agar dia tdak membuat Kiara menunggunya.


Tak lama kiara keluar , Vano menyambutnya dengan senyum terbaiknya. Namun yang di dapatkannya hanya sebuah tatapan datar. Tanpa bicara, Kiara masuk ke dalam mobil.


Sepanjang jalan tidak ada percakapan di antara mereka. Baru kali ini Vano merasa jarak rumah dari kantor terasa lebih jauh dari biasanya.


Gedun kantor mereka akhirnya terlihat dari kejauhan. Dengan cepat Vano melajukan mobilnya ke arah basement lalu memarkirkan mobilnya di sana. Beberapa menit setelah mobilnya terparkir dengan benar, tanpa banyak bicara Kiara keluar dari mobilnya dan pergi meninggalkan Vano untuk masuk ke dalam gedung kantornya.


Habislah kau Vano Alexander, kali ini gadis itu benar-benar marah padamu.


Melihat Kiara yang masuk sendirian, membuat Vano secepat mungkin keluar dari mobil. Mengunci pintunya, dan berlari menyusul Kiara. Tapi terlambat, Gadis itu telah terlebih dahulu menaiki lift dan berangkat menuju kantor mereka. Vano mendesah, ia tak tahu apa yang akan terjadi di kantornya pagi ini, tapi ia berharap kejadian itu tidak semakin rusak mood adis itu karenanya.


Ketika Kiara baru saja memasuki ruangan kantor, tiba-tiba sebuah confetti berwarna-warni tersebar di depan matanya diiringi oleh sorokan rekan-rekan kantor mereka. Bahkan, Manager Brian pun ada di sana, turut tersenyum sembari bertepuk tangan. Sementara itu, Kiara memotong di pintu masuk. Tak mengerti dengan situasi yang tengah terjadi.


Tak Berapa lama kemudian, Vano muncul di belakangnya dan ikut mematung melihat pemandangan di depannya. Ia mengutuk dalam hati, ia tahu hal seperti ini akan terjadi.


Dan sial, waktunya sangat-sangat tidak tepat.


"SELAMAT!!!"


"Selamat atas pertunangan kalian.


"Semoga hubungan kalian terus bejalan hingga ke pelaminan!"


"Aku tidak menyangka kalian tenyata sudah berhubungan seperti itu, Vano. Seharusnya kau memberitahu kami, jadi kami tidak akan berfikir yang tidak - tidak dulu."


Melihat keadaan Kiara yang terus mematung di pintu masuk, Vano mendesah keras sembari menundukkan kepala menutup matanyanya. Takut dengan apa yang akan terjadi. Takut jika adis itu tiba - tiba meledak karena Vano sungguh tidak pernah.. Dan tidak ingin gadis itu marah.


Tapi beberapa saat kemudian, sorak - sorai itu semakin ramai tedengar. Ketika Vano membuka mata, Kiara suah hilang dari haddapannya dan telahikut bersenang senang dengan para staff.


Vano terdiam, apa yang terjadi? Bukankah gadis itu sedang marah?


"Apa yang kau lakukan? kenapa masih mematung di sini dan tidak ikut bergabung dengan kami?" tiba -tiba Brian muncul dan mengalungkan tangannya di belakang leher Vano, ia bisa melakukan hal tersebut dengan mudah.


"Ah... Tidak apa - apa" balas Vano. matanya terus mengawasi gerak - gerik Kiara yang mulai mengobrol dengan beberapa staff perempuan sambil sesekali tertawa karena sesuatu." Wanita itu benar - benar makhluk ang sulit di mengerti" gumam Vano tanpa sadar.


" Ada apa? Kau sedang bertengkar dengannya?" tanya Brian tepat sasaran.


"Ti-tidak, tidak juga... Sudahlah lupakan saja. Ah, omong - omong , apa kau sudah menemukannya? kenapa kau belum menghubungiku? Bukankah aku bilang untuk segera menghubungi jika kau sudah menemukannya?" tanya Vano untuk mengalihkan pembicaraan.


"Ah, bener juga..." Brian melepaskan rangkulannya dari leher Vano. Ia menatap Vano dengan raut wajah serius. "Aku benar - benar lupa tentang hal itu."


" Hal apa?"


" Mencarinya"


"APA?"


...****************...