REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Part 44



Vano kini duduk di hadapan seorang pria yang berumur kira-kira 50-an untuk mendengarkan sebuah penjelasan dari seseorang yang menyandang gelar dokter tersebut, yang sedang memperlihatkan sebuah scan otaknya.


Dokter Mike menopang dagu dengan sebelah tangan sembari memperhatikan hasil CT scan yang baru dilakukan Vano beberapa puluh menit yang lalu. Keningnya berkerut samar dan matanya sedikit menyipit di balik kacamata tebalnya.


“Kau berkata kau ingin mendapatkan ingatanmu kembali, Vano?” tanya Dokter Mike.


Vano mengangguk. “Apakah benar-benar tidak ada harapan? Masalahnya, ingatan-ingatan itu sering melintas di penglihatanku beberapa kali. Tapi aku masih tidak mengerti dan mengingatnya. Bagaikan sebuah film lama yang tidak pernah kau tonton sebelumnya, aku selalu tidak tahu siapa dan apa yang dimaksud dalam setiap kilasan itu.”


“Sebenarnya, Vano, kesempatanmu untuk mendapatkan kembali ingatanmu itu ada. Hanya saja, karena kau telah menghentikan terapimu sejak lama, maka akan sedikit lebih sulit.” Ujar dokter Mike.


“Sekarang coba beritahu aku apa saja yang biasanya kau lihat dalam kilasanmu itu.”


“Well, aku sering melihat seorang anak laki-laki, seorang anak perempuan, suara tawa, suara tangis, desir ombak, cahaya matahari yang bersinar terik, sesuatu yang menghantam punggungku, suara seorang pria, senyum pria itu, jabatan tangan, suara keras benda berbenturan, rasa sakit… hal-hal semacam itu,” jelas Vano.


Dokter Mike mengangguk-anggukan kepalanya. “Sebenarnya itu sudah lebih dari cukup untuk memulihkan ingatanmu. Sekarang yang perlu kau lakukan hanyalah mengembangkan kilasan ingatan itu menjadi ingatan yang utuh.”


“Aku sering mencobanya!” ujar Vano cepat. “Tapi semakin aku ingin mengingatnya, semakin aku tidak ingat.”


“Coba dekatkan dirimu dengan hal-hal yang bersangkutan dengan kilasan ingatanmu itu. Hal itu akan mengembalikan ingatanmu secara perlahan, menyatukan kilasan-kilasan itu dan menjadikannya sebuah ingatan yang utuh. Akan lebih bagus jika kau sering melihat kenangan-kenanganmu sejak kecil dulu. Apa kau masih memilikinya?”


Vano menggeleng. “Rasanya aku tidak pernah menemukan hal seperti itu di rumahku,” ujar Vano. “Tapi akan kucoba cari,”


“Atau, jika kau ingin cara yang lebih cepat, kau bisa mengikuti hipnoterapi di sini. Setiap hari Minggu,”


“Akan kuhubungi jika aku setuju,”


Dokter Mike mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. Vano pun akhirnya bangkit dari duduknya dan menjabat tangan sang dokter. “Terima kasih banyak, dokter,”


Pria bersandang gelar dokter itu mengangguk sambil tersenyum. “Jangan lupa periksakan dirimu secara rutin ke sini,”


Vano mengangguk pasti sebelum akhirnya keluar dari ruangan dokter tersebut.


 


____


 


Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang akhirnya mereka sampai di bandara incheon kini mereka melanjutkan menggunakan mobil untuk menuju ke pelabuhan, menyeberangi lautan yang cukup luas, mereka akhirnya sampai di pelabuhan pulau Nami. Ketika mereka tiba, waktu sudah hampir tengah malam, sehingga wajar saja tidak ada banyak orang di sana. Sebaliknya, suasana di sana sangat sepi, seperti kota mati. Mungkin para turis yang berada di sana pun lebih memilih tidur nyenyak dalam penginapan atau hotel-hotel mereka dan menunggu hingga matahari berada cukup tinggi untuk keluar menikmati pemandangan alam.


Karena jujur saja, jika Vano adalah mereka, ia pasti akan seperti itu.


Ketika turun dari perahu yang membawa mereka, dinginnya angin laut yang cukup kuat menerpanya dan langsung membuatnya menggigil. Sedari tadi, sepanjang perjalanan mereka menuju hotel, pria itu tak henti-hentinya bertanya; “Apakah sudah sampai? Kapan kita akan sampai? Apakah masih lama?” hingga kuping Kiara yang duduk di sebelahnya terasa panas.


Kiara pun menoleh menatap Vano yang sedang menyembunyikan wajahnya yang memutih di balik mantel yang dikenakannya. Melihatnya seperti itu, membuat Kiara mau tak mau tersenyum. Ia teringat Vano kecil yang berlaku persis seperti itu. Dan mengingatnya, membuat Kiara melupakan semua amarahnya terhadap pria itu beberapa jam yang lalu.


Vano mendongak menatap Kiara. Sedikit wajahnya akhirnya terlihat setelah beberapa menit tenggelam dalam mantelnya sendiri. Pria itu mengerutkan sebelah alisnya bingung.


“Hot pack. Aku mempersiapkan beberapa dari rumah. Ini dapat menghangatkanmu, kau hanya tinggal menaruhnya di tanganmu, atau di pipimu,” jelas Kiara.


Tangan Vano yang semula membeku dan gemetar, akhirnya terulur untuk mengambil hot pack yang ditawarkan Kiara. Pria itu pun menggenggamnya dengan kedua tangan sambil mendesah pelan.


“Bagaimana? Hangat, bukan?” tanya Kiara.


Vano mengangguk-anggukkan kepalanya yang masih ditenggelamkan di dalam mantelnya. Tapi Kiara bisa merasakan pria itu tersenyum.


“Seharusnya kau mempersiapkan hal-hal seperti ini dari rumah. Kenapa kau datang tanpa persiapan begini? Bukankah kau yang akan paling sibuk besok pagi?” tegur Kiara lagi.


“Aku tidak tahu ada benda seperti ini. Tak seorang pun memberitahuku,” tutur Vano lirih.


Kiara ingin tertawa, tapi ditahannya. “Sudahlah, sekarang lebih baik kau beristirahat. Aku akan membangunkanmu kalau sudah sampai di penginapan,”


 


____


 


Vano Alexander merasa bodoh. Oh, jangan lupa juga malu. Ia baru menyadari letak kesalahannya ketika keesokan paginya, ketika kondisi badannya sudah stabil, ketika penghangat ruangan di kamarnya menyala dengan energi maksimum, ketika ia baru saja menyantap sarapannya kemudian teringat dengan kejadian semalam. Ketika ia bahkan tak bisa bergerak dari tempatnya di dalam mobil yang mengantarnya dan para kru ke sini dan Kiara lah orang yang menuntunnya menuju kamarnya.


Semakin diingat, Vano semakin merasa bodoh. Seharusnya ia yang menjaga seorang wanita, bukan malah sebaliknya! Sebagai pria, ia merasa benar-benar gagal. Harga dirinya runtuh setiap ia ingat momen itu. dan kini, ia tidak tahu bagaimana harus bersikap di depan Kiara nanti.


Beruntungnya, ia pergi ke lokasi pemotretan terlebih dulu daripada tim designer dan stylist, sehingga ia tak perlu melihat Kiara untuk sementara waktu.


Vano menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan keras guna menghilangkan risau di hatinya. Ia segera bergerak menghampiri kru kamera lain yang tengah memasang setting pemotretan sembari turut mengatur segala rupanya.


Meskipun ia merasa tidak terlalu baik hari ini pada perasaannya ia tetap berusaha menampilkan yang terbaik di hadapan kru dan staff pemotretan. Ia bangun pagi-pagi sekali, membangunkan para kru dan staff yang lain, lalu ia pula yang sibuk merancang penataan kamera dan setting untuk dibicarakan pada kru kamera dan lighting. Karena ia yang memimpin proyek musim ini, setidaknya ia harus sedikit lebih banyak berkorban dari yang lain. Itu adalah caranya bertanggung jawab terhadap posisinya.


“Wah… lihat photographer kita yang satu ini! Kau pasti bangun pagi-pagi sekali!” seru seorang pria di belakang Myungsoo ketika pria itu tengah memperhatikan penataan setting oleh para kru kamera dan kreatif.


Vano terkekeh. Ia menoleh ke sebelahnya dan mendapati Brian berada di sana sambil bersidekap dan tersenyum. “Annyeong haseyo, model Brian wiliam,” sapa Vano terlebih dulu.


“Tumben sekali kau memanggilku model. Sepertinya ini juga pertama kalinya kita bekerja sama sebagai seorang teman lama, eoh?”goda Brian.


“Sepertinya begitu,” ujar Vano sambil terkekeh. “Bagaimana tidurmu semalam? Apa kau mendapatkan istirahat yang cukup?”


...****************...