REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Part 7



Karena menggertakkan giginya diam-diam . ia mendesak keras-keras lalu dengan sentakan cepat, ia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai 2 tanpa mengatakan apapun lagi.


"Aku akan menyusulnya..." ucap ibunya lalu Beliau beranjak dari kursinya , namun ditahan oleh tangan suaminya .Dengan gerakan halus, pria paruh baya itu menggeleng.


Sean yang juga ikut menatap ibunya." kakak pasti akan menerimanya,Mommy tenang saja."kata Sean yang mencoba untuk menenangkan hati ibunya.


___


Vano menghempaskan diri di atas tempat tidurnya. Ia merentangkan kedua tangannya sembari menatap langit-langit lalu mendesah keras seakan semua beban ikut keluar dalam satu hembusan nafasnya itu, namun tak kunjung menghilang. Ia merasa kacau dan asing semua, kondisi ini begitu aneh baginya, padahal belum sehari dia berada di sini. Seharusnya ia tidak pulang sejak awal.


Pria itu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, kemudian dia mengetikkan nomor telepon seseorang yang telah dihafalnya. Lalu meletakkan ponsel di sampingnya dan tak lupa mengatifkan mode loudspeaker sehingga ia tak perlu meletakkannya di dekat telinganya.


"Vano?"sapa sebuah suara lembut dari sebrang sana.


"Windy..."sahut Vano.


"Jika kamu memanggilku Windy, pasti ada sesuatu yang telah terjadi, ada apa?" tanya gadis itu.


Vano mengangkat unjung bibirnya. Gadis itu memang terlalu mengerti dirinya. "Tidak apab- apa aku hanya ingin mendengar suara mu."


"Ada apa?"


"Tidak ada apa - apa"


Terdengar suara anak-anak dari seberang sepertinya, gadis itu menyerah untuk memaksa Vano mengaku " kalau begitu mau ku nyanyikan sebuah lagu?"


____


"Kau sudah merasa lebih baik?" Tanya Nino adik Tiara yang baru saja pulang dari universitas. Ia duduk di samping gadis itu dan terlihat khawatir, karena sedari tadi kakak perempuannya yang biasanya ceria itu terlihat muram .


Kiara menyunggingkan seulas senyum lalu menggeleng. Mencoba meyakinkan orang-orang bahwa ia baik-baik saja. Padahal , sekali lihat saja semua orang pasti tahu,bahwa dia sedang tidak baik - baik saja.


Sore tadi mood Kiara sedikit membaik kembali berkat hiburan kedua sahabat SMA-nya . Namun, malam ini Marsha dan Daren sudah kembali ke rumah masing-masing ,untuk mempersiapkan diri untuk hari yang melelahkan esok . Ya Besok adalah hari Senin, awal dari minggu yang sibuk. Dan besok pun Kiara sudah harus bekerja di kantor barunya .


" Oh iya Kiara, Aku tidak tahu apakah kamu keberatan atau tidak , tapi kamu akan dijodohkan ." ujar ibunya.


"begitu ? Boleh saja ."Jawab cara singkat sambil melahap dessertnya yang berupa puding strawberry .


ibu dan ayahnya saling pandang. " benar tidak apa-apa ?" tanya ayahnya yang awalnya sedikit ragu .


Kiara mengangguk, " terserah saja, lagi pula aku tidak sedang menyukai siapa-siapa sekarang ini ."


"Apa kamu tidak mau tahu dengan siapa kamu akan dijodohkan ?" tanya ibu


A-ah... begitu..." gumam ibunya sambil sedikit mengangguk-ngangguk. Sedikit gugup karena tidak biasanya Kiara bisa dibujuk semudah ini. masih jelas diingatannya saat teman masa kecilnya harus pindah jauh dan Kiara bersikeras ingin menyusulnya . Perlu waktu yang lama untuk mencegah gadis itu untuk tidak menyusul temannya itu . Saat Gadis itu diterima di universitas di London pun sama, perlu waktu lama untuk membujuknya agar mau tinggal di kota metropolitan kelas dunia itu . Tapi untuk menentukan pasangan hidup kenapa semuda ini ?


Kiara tiba-tiba meletakkan sendoknya di atas meja, menimbulkan sebuah suara dentingan kecil. " aku sudah selesai " ujar gadis itu sambil beranjak dan berlalu pergi ke kamarnya . Meninggalkan kedua orang tuanya dan adiknya yang saling berpandangan.


" Kakak terlihat aneh, Apa ada yang terjadi ? tanya Nino sambil menatap kedua orang tuanya .


ayahnya mengangkat bau , jelas-jelas tidak tahu apa yang terjadi, sementara ibunya berani menatap Gadis itu hingga ia menghilang dari pandangannya . di bawah meja , wanita paruh baya itu meremas Kedua telapak tangannya gugup .


___


Ketika tiba di kamarnya, gadis itu segera mengunci pintu kamar dan beralih menuju ke sebuah meja kecil di sebelah tempat tidurnya yang terdapat sebuah gelas yang penuh terisi air putih . Ia beruntung dulu dirinya selalu meminta ibunya untuk menyimpan segelas air putih di kamarnya. Dan hal masih dilakukan hingga sekarang . Jika tidak dia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya sekarang .Gadis itu membuka laci di meja itu lalu mengeluarkan sebuah tabung plastik kecil berwarna putih . Dari kemasannya saja sudah bisa dilihat bahwa itu adalah sebuah obat herbal khusus yang tidak sembarangan orang bisa meminumnya. Namun di dalam tabung tersebut obat herbal itu sudah diubah menjadi bentuk pil sehingga mudah untuk dikonsumsi.


Kiara mengeluarkan sebutir pil lalu meminumnya dengan dibantu air putih . Kemudian ia kembali memasukkan obat tersebut di laci mejanya , tepat di ujung lacinya . Lalu ia menundukkan diri di sisi tempat tidur . bmBanyak pikiran yang berkelebat di benaknya namun ia sulit untuk mengungkapkannya dengan kata-kata sehingga gadis itu hanya bisa diam dan menatap kosong ke arah jendela


Kemudian gadis itu memukul pelan kepalanya sendiri. " aku tidak boleh memikirkan hal-hal itu !aku harusnya fokus memikirkan pekerjaanku besok ! ya benar!" gue mah nggak ke situ menyemangati dirinya sendiri .


dengan pikiran itulah baru jadi gitu bisa tidur dengan nyenyak .


___


Kiara baru saja membuka mata dari tidur nyenyaknya dan mendapati ibunya telah berada di dalam kamarnya. Beliau baru saja meletakkan gelas baru berisi penuh air putih. Kiara hanya bisa menatap ibunya dengan sedikit bingung.


" Kenapa kamu bisa minta kamar?" Tanya ibu dengan lembut. " Kamu tahu sendiri , kalau sejak kejadian dulu kamu nggak seharusnya mengunci pintu kamarmu ."


Kiara menggosok-gosok matanya, lalu bangkit dari tidurnya dan duduk di samping ibunya . Ia menyambar air putih dan meminumnya untuk menjernihkan kerongkongannya yang terasa serak . Setelahnya dia baru kembali menantap ibunya sambil tersenyum kecil.


"Maaf bu, aku lupa." ucapnya sambil terkekeh.


Ibunya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala lalu berdiri dan menatap jam digital di kamarnya dan cara bergantian." Jam berapa kamu mulai kerja ?"


Kiara membelalakkan matanya ." ah bener !" gumamnya pada diri sendiri. Sementara dirinya bergegas bangun dari tempat tidur Kemudian ia kembali teringat dengan ibunya yang masih berada di sana ." Aku bekerja jam 08.00 dan sekarang sudah jam ... Astaga aku benar-benar terlambat!" dari situ segera menyerbu kamar mandi , meninggalkan ibunya yang kembali menggeleng-gelengkan kepalanya


"Sarapan dulu sebelum berangkat!"seru ibunya.


"Iya aku mengerti."balas Kiara dari dalam kamar mandi.


...****************...


Jangan lupa Like dan komennya ya guys, kalau bisa sih di vote ya kan tapi aku gak maksa kok. Gak vote juga gak apa - apa, yang penting kalian udah mau dukung karya yeoja.


Terimah kasih💜