REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Part 68



Sementara itu, hubungannya dengan Kiara tetap baik seperti biasanya. Vano yang kini lebih sering tinggal di rumah untuk mengedit beberapa foto dan mencetaknya, terkadang menghabiskan waktu dengan Kiara yang tengah mendesain. Ia berusaha menebus rasa bersalahnya dengan lebih sering menghabiskan waktu dengan Kiara.


Mereka bertemu di mana saja. Di taman depan rumah Kiara yang kini dipenuhi salju, di rumahnya atau rumah Kiara, atau di mana saja yang dapat membuat mereka nyaman. Belakangan, mereka sering sekali bertemu di sebuah kafe yang letaknya di sekitar xxx.


Kafe dengan nuansa Eropa dan Amerika yang kental diiringi dengan musik jazz yang mengalun hampir setiap hari. Dan kini, kafe itu mereka labeli sebagai favorit mereka.


Sering menghabiskan waktu dengan Kiara ternyata membuat Vano lebih mengenal gadis itu. Ia pikir setelah dua bulan mereka bersama, ia telah mengetahui segala hal tentang gadis itu.


Namun nyatanya belum. Dan untungnya Kiara dengan murah hati memberitahunya beberapa hal yang seharusnya dulu ia ketahui. Melihat betapa jujurnya Kiara padanya seperti ini, membuat Vano mau tak mau kembali tenggelam dalam pesona gadis itu. Dan kali ini, ia tak dapat berenang keluar dari sana.


Vano berusaha sebaik mungkn menikmati, kehidupan akhir tahun mereka bersama, ia ingin mengukir momen - momen ndah bersama dengan Kiara. Menurutnya tidak salah keputusannya untuk menetap sementara di Korea, toh mereka juga tetap bisa bekerja di sini. Karena di korea juga memiliki kantor cabang dari perusahannya.


____


Hari berganti hari, dan minggu berganti minggu hingga akhirnya mereka mendekati hari natal yang ditunggu banyak orang.


Majalah hasil jepretan Vano dan dengan desain Kiara, berhasil terbit dan sukses menjadi hit besar di kalangan majalah fashion di Indonesia. Majalah itu seperti sebuah batu lonjakan bagi Vano maupun Kiara. Mereka mendapat banyak pujian. Vano dengan hasil gambarnya, dan Kiara dengan desain bajunya.


Sehari sebelum malam natal, keluarga Alexander dan keluarga Kusuma tengah berkemas. Mereka rencananya akan berlibur bersama selama natal hingga tahun baru nanti. Dengan adanya ikatan yang telah terjalin antara dua keluarga berkat pertunangan Vano dan Kiara, anggota keluarga mereka juga tampaknya ingin mengenal satu sama lain lebih dalam lagi.


Semuanya nampak akan menjadi permulaan yang baik bagi dua keluarga itu. namun satu hal yang tidak Vano mengerti adalah pertengkaran Sean dengan kedua orang tuanya beberapa hari yang lalu. Di saat semuanya terasa sangat benar baginya, lantas mengapa hal itu tidak pada keluarganya?


Ia tak tahu apa yang mereka debatkan, bahkan tidak mengerti sedikitpun apa yang tengah mereka bicarakan hingga Sean dengan lancangnya berani menaikkan volume suaranya pada sang kepala keluarga. Satu hal yang didengarnya hanyalah Sean yang berkata,


“Jangan lakukan itu pada mereka!”


Dan Vano tak tahu siapa ‘mereka’ yang adiknya maksud.


Sore itu, di tengah kegiatannya mengemas barang-barang yang diperlukan ke kopernya—mereka akan ke Jeju nanti malam, Vano ternyata membutuhkan sebuah ransel.


Ia ingat membawa sebuah ransel dari Amerika, namun ia lupa diletakkan di mana. Karena itu ia bertanya pada ibunya yang mengatakan bahwa ranselnya mungkin masih berada di gudang dan belum di keluarkan. Karena itulah di sana Vano berada.


Gudang di rumah lamanya tak begitu besar, tak seperti rumahnya di Amerika yang memiliki sebuah gudang besar di bawah tanah yang tampak seperti tempat harta karun. Banyak kardus yang ditumpuk, dan kurangnya penerangan di bawah sini mempersulit penglihatannya.


Mengabaikan suasana yang tidak mendukung, Vano melanjutkan pencariannya. Ia menelusuri satu demi satu kardus-kardus yang bertumpuk di sana, menurunkannya dari tumpukan, membukanya, mencari, kemudian meletakkannya ke tempat semula ketika ia tak mendapat apa yang ia cari.


Lalu ia sampai di kardus kesekian, ia tak lagi menghitungnya dan dengan susah payah juga dengan peluh di pelipisnya, ia menurunkan kardus tersebut dari tempatnya dan meletakkannya di atas lantai. Setelah mengambil napas sebentar, ia kemudian membuka kardus tersebut. Dan keningnya sukses berkerut dalam melihat apa yang berada di dalam kardus itu.


Benda-benda yang berada di dalam kardus itu tampak familiar, meskipun Vano yakin ia baru pertama kali melihatnya. Tapi entah mengapa, ia tahu bahwa benda-benda ini miliknya.


Terutama sebuah album foto yang cukup tebal dan tampak usang di sana. Penasaran, Vano mengambil album tersebut dan menyimpannya di pangkuannya. Ia kemudian membuka album tersebut, dan sebuah foto menghiasi halaman pertama.


Foto seorang anak laki-laki dengan mata sipit dan bibir tipis dengan rambut dipotong rapi yang sedikit aneh menurutnya. Itu adalah dirinya. Ia ingat karena saat ia di rumah sakit dulu, ibunya pernah memperlihatkannya foto-foto yang konon adalah foto masa kecilnya dan fotonya persis seperti foto yang kini ia lihat. Ia membuka lembar kedua dan foto seorang gadis kecil dengan senyum lebar dan rambut dikuncir dua menyambutnya.


Vano mengerutkan kening.


Foto ini nampak familiar. Sepertinya gadis ini adalah gadis yang ia kenal pula.


Tapi siapa? Siapa gadis dalam masa lalunya ini?


Pria itu penasaran, namun ia tak mau berada lama-lama di dalam gudang. Karena itu ia memilih membawa keluar kardus itu dan memindahkannya ke kamarnya untuk kemudian ia periksa. Setelah menyusuri album foto tersebut lebih lama, ia pun mengerti.


Gadis kecil itu adalah Kiara.


Dan pada saat itulah kepalanya mulai terasa sakit. Mulanya hanya seperti rasa pusing yang biasa ia alami karena kekurangan jam tidur atau ketika ia terlalu banyak bekerja, namun semakin lama, rasa sakit itu semakin tak terelakkan.


Saking sakitnya, ia bahkan tak dapat berteriak untuk meminta pertolongan. Hal yang dilakukannya hanyalah memegang kepalanya sembari meremas ujung tempat tidurnya, ia berada di atas lantai di samping tempat tidurnya saat itu—dan berharap rasa sakit itu akan segera berakhir.


Selagi rasa sakit itu menyerangnya, sebuah potongan-potongan gambar yang aneh pun mulai bermunculan di dalam otaknya, dan ia dapat melihat potongan - potongan gambar itu dengan matanya sendiri. Namun gambar itu tak membantunya. Hal itu membuatnya bertambah pusing sehingga ia harus memejamkan matanya.


Beberapa jam kemudian, bel di rumahnya berbunyi.


Vano tak tahu siapa yang datang, namun satu hal yang ia ketahui beberapa jam berikutnya adalah seseorang mengirimkan sebuah undangan kepadanya. Undangan untuk menghadiri sebuah pesta natal. Dan melihat siapa pengirimnya, rasanya ia harus menghadiri undangan tersebut.


...****************...