
Suara-suara bising dari ruang tengah berhasil membuat Kiara terjaga dari tidurnya pada pukul 8 pagi. Sebenarnya ia masih lelah. Bayangkan saja, ia pulang dari pesta malam natal kemarin pukul dua belas lewat sedikit, tepat setelah ia dan Vano turun dari loteng klub tersebut.
Mereka yang tak ingin berlama-lama dan tak mau repot-repot berpamitan lantas langsung keluar dari klub tersebut dan mengendarai mobil Vano untuk melesat menuju Incheon. Dan mereka baru sampai Incheon 2 jam kemudian, setengah jam setelahnya, ia baru bertemu dengan tempat tidurnya ketika ia telah sampai di villa yang disewa keluarganya.
Dengan sedikit jengkel, gadis itu bangkit dari tempat tidurnya. Masih dengan mengenakan piyama pororo berwarna merah muda dan dengan rambut yang lebih terlihat seperti bola kusut, ia melangkah menuju pintu kamarnya.
Ketika pintu kamarnya terbuka, aroma roti panggang dan selai strawberry langsung menguar ke dalam indera penciumannya dan membuatnya keroncongan. Namun setelah perhatiannya dari aroma roti dan selai itu teralihkan kepada keluarganya yang sedang berkumpul di ruang tengah, ia terdiam.
Kamarnya yang terhubung langsung dengan ruang tengah membuat posisinya kini terlihat jelas oleh setiap orang yang sedang berada di ruang tengah tersebut; orang tuanya, adiknya, dan Vano Alexander
“Kau sudah bangun, Kiara?” sapa Vano sambil menatap tepat ke arahnya dengan senyum di wajahnya.
Kiara merasa mukanya memerah. Ia buru-buru kembali masuk ke dalam kamar sembari menutup pintu kamarnya keras-keras. Ia mengutuk dalam hati.
Kenapa pria itu datang pagi-pagi sekali?!
____
Wajah Kiara terlihat masam ketika ia tengah melahap roti panggangnya bersama dengan keluarganya dan Vano. Gadis itu tampak masih kesal akibat kejadian tadi pagi. Lebih tepatnya, ia merasa malu. Bagaimana mungkin ia membiarkan Vano melihat wajah kacaunya saat baru bangun tidur?! Ah, gadis itu bahkan tak bisa menatap matanya kini.
“Kakak, sudahlah. Habiskan makananmu cepat! Kau tahu kak Vano telah menunggumu sejak pagi-pagi sekali,” Nino menyenggol lengannya menggunakan siku sementara Kiara hanya bisa berdecak membalas perkataan adiknya tersebut.
“Tidak apa, lagi pula aku juga tidak terburu-buru. Menghabiskan hari natal bersama keluarga adalah yang terbaik, bukan?” ujar Vano.
“Tidak, tidak, kami tidak keberatan sama sekali jika kau membawa Kiara kami pergi jalan-jalan. Lagipula ia juga pasti tidak keberatan, benar bukan, Kiara?” tanya ibunya.
Butuh beberapa saat sebelum akhirnya Kiara menjawab dengan kepala yang tertunduk malu. Vano yang melihat tingkah laku Kiara hanya bisa tertawa.
Sarapan akhirnya selesai dua puluh menit kemudian setelah mereka puas mengobrol sambil melahap roti bakar dan kopi maupun susu yang dihidangkan oleh pelayan rumah tangga. Lima menit kemudian, Kiara sudah berada di luar rumahnya. Dengan menggunakan pakaian tebal, gadis itu mengikuti Vano yang berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan villa.
Sepertinya pria ini hendak membawanya ke suatu tempat yang cukup jauh mengingat tidak mungkin alasannya membawa mobil hanya karena ia mengunjungi villa keluarganya sementara villa yang disewa keluarga Alexander bersebelahan dengan villa keluarganya.
“Kita mau ke mana?” tanya Kiara sebelum masuk ke dalam mobil.
“Lihat saja nanti,” balas Vano yang membukakan pintu untuk Kiara terlebih dahulu. Setelah memastikan Kiara duduk di kursinya, pria itu berjalan cepat memutari mobilnya kemudian duduk di kursi kemudi.
Ketika mobil sudah bergerak dan mulai berjalan menyusuri jalanan Incheon yang di pinggirnya terbentang lautan yang luas, Kiara tak dapat mengalihkan perhatiannya dari jendela di sampingnya.
“Tidurmu nyenyak? Kau… Tidak sakit, kan?” tanya Vano.
Vano mengangguk lega.
Kiara yang masih tak bisa mengalihkan perhatiannya dari laut, mendesah keras. “Ah… alangkah baiknya jika kita kembali ke sini saat musim panas nanti.”
Vano sempat menoleh ke arah Kiara sesaat sebelum di sekon berikutnya kembali memusatkan fokusnya pada jalanan.
“Atau lebih baik lagi jika kita ke Jeju saat musim panas nanti. Aku ingin sekali berjalan-jalan dengan mobil terbuka atau motor dan merasakan angin musim panas di jalanan yang dekat laut seperti ini,” Kiara mulai meracau menceritakan keinginannya.
Butuh satu menit hingga Vano merespon, “Hm, ayo kita ke Jeju kapan-kapan.”
Kiara tersenyum lebar dan menatap Vano di sampingnya sambil mengangguk penuh semangat.
___
Vano membawanya ke pusat kota Incheon yang tampak cukup sepi mengingat hari masih cukup dini, terlebih hari ini adalah hari natal dan kebanyakan toko atau pusat perbelanjaan tutup. Kemudian Vano melalui beberapa belokan sehingga akhirnya berhenti di sebuah toko yang masih tutup.
Awalnya, Kiara tak mengerti mengapa Vano membawanya ke depan toko yang masih tutup tersebut. Lalu Vano memintanya untuk menunggu sebentar lantas keluar dari mobilnya dan memasuki toko tersebut yang pintunya ternyata tak dikunci.
Beberapa saat kemudian, Vano keluar dengan banyak sekali bingkisan kecil di tangannya dan ia tampak kesulitan membawanya sendirian. Melihat hal itu, Kiara bergegas turun dari mobil dan membantu Vano memasukkan semua bingkisan tersebut ke garasi.
“Untuk apa kau membeli bingkisan sebanyak ini? Dan isinya… astaga!” Kiara terbelalak begitu melihat ke dalam salah satu bingkisan dan mendapatinya berisi pakaian anak kecil, mainan, dan alat tulis. Setelah ia meletakkan bingkisan itu di dalam bagasi mobil, gadis itu segera menatap Vano tak percaya.
“Jangan bilang kau memberikannya untuk…,”
Vano tersenyum dan mengangguk. “Masih ada beberapa lagi di dalam, akan kuambilkan dulu ya,” ujarnya seraya pergi kembali ke dalam toko tersebut dan membawa beberapa bingkis makanan ringan lalu memasukkan semuanya ke dalam bagasi sementara Kiara yang masih berdiri di depan bagasi mobil hanya mampu menatapnya takjub.
“Ayo kita masuk, mereka pasti sudah menunggu.”
Kata-kata Vano membawa Kiara kembali ke dunia nyata dan gadis itu mengangguk lalu bersamaan dengan langkah Vano, ia pun kembali masuk ke dalam mobil sang pria.
____
Sesuai dugaan Kiara, pria itu membawanya ke tempat mereka melakukan pekerjaan sebagai relawan untuk mengajari anak-anak kurang mampu semasa libur musim panas dan musim dingin dulu.
Gadis itu tak mengerti ada angin apa yang membuat Vano berlaku manis seperti ini. Ia bahkan membeli berbagai bingkisan untuk anak-anak tersebut yang hari ini barangkali tengah berkumpul di dalam rumah tersebut bersama orangtua mereka, untuk merayakan natal secara sederhana.
Ketika Kiara bertanya maksud Vano membelikan berbagai bingkisan tersebut, pria itu hanya tersenyum sambil berkata bahwa ia membelikan barang-barang itu untuk sekedar berbagi kebahagiaan natal bersama orang-orang yang membutuhkan. Lagipula ini natal.
...****************...