
Samar-samar Kiara mendengar seseorang berbisik-bisik tak jauh dari mereka. Ia mencari sumber suara dan melihat dua orang gadis muda berpakaian glamor yang tengah duduk di sofa tepat beberapa meter di belakang Kiara. Suara musik yang keras seharusnya mencegah Kiara mendengar percakapan mereka, namun entah kenapa Kiara dapat mendengarnya dengan jelas.
“Gadis yang memanfaatkan koneksinya untuk masuk ke industri ini seharusnya tidak bisa masuk bahkan hanya ke dalam nominasi sekali pun! Untunglah Habyul pemenangnya, aku tak bisa melihat gadis itu menerima trofi di atas panggung!”
“Aku juga! Gadis congkak seperti itu seharusnya tak pernah ada di muka bumi ini!”
Kiara mengepalkan sebelah tangannya yang bebas kuat-kuat. Ia berusaha untuk menjaga manner-nya untuk tidak melabrak kedua wanita itu saat ini juga. Ada kesalah pahaman yang kuat di sini. Dan ia adalah korbannya. Gadis itu pun menenggak minuman yang sedari tadi terabaikan di sebelah tangannya hingga habis lalu menyimpan gelasnya di meja terdekat demi meredam api yang berkobar di dadanya.
Semua pemenang dari masing-masing nominasi telah diumumkan, dan semuanya pun turun dari panggung bersamaan. Vano turun bersamaan dengan Windy dan Bang Himsoo. Kiara melihat ketiganya tersenyum dan seolah membicarakan sesuatu. Ada sinyal buruk yang ditangkap Kiara saat melihat ketiganya. Gadis itu memang perlahan menyadari bahwa Vano entah bagaimana dan entah kapan, memiliki hubungan khusus dengan Windy. Karena itulah Windy meminta maaf padanya tadi, atas sikap kasarnya tempo hari.
Kini, dengan mendengar rumor tentangnya, juga dengan melihat Vano dan Windy, seperti api yang disiram bensin, berbagai perasaan memenuhi hati dan perasaannya. Ia tak bisa lagi menahannya.
“Brian, aku akan ke kamar mandi sebentar.” Ujar Kiara tanpa menoleh dan langsung pergi meninggalkan area panggung.
“O-oh… hati-hati,” balas Brian seraya memperhatikan punggung Kiara yang berjalan menjauh.
____
“Mana Kiara?” tanya Vano. Ia baru saja kembali seusai berbincang-bincang dengan Bang Himsoo dan beberapa photographer lainnya setelah ia turun dari panggung.
Brian melirik jam tangannya lalu bersidekap. “Dia ke kamar mandi.”
“Oh…,” balas Vano. Namun Brian berdecak kesal mendengarnya.
“Oh? Hanya ‘oh’? Dia sudah pergi ke kamar mandi 45 menit yang lalu, Vano!”
“Apa?!”
“Sudah kukira ada yang aneh dari gadis itu,” Brian menggumam gelisah. “Bukankah sebaiknya kita susul saja?”
“Aku akan menyusul—“
“Ada apa tuan-tuan?” sapaan dari Bang Himsoo menghentikan aktivitas keduanya. Bang Himsoo datang berdampingan dengan Windy.
“Kenapa kalian terlihat panik?” tanya gadis itu.
“Aku harus pergi ke suatu tempat, permisi—“
“Di mana gadis itu?” tanya Bang Himsoo lagi. “Kiara Kusuma, maksudku.”
Ketiganya menoleh dan memusatkan perhatian mereka pada Bang Himsoo. Hal itu membuat wanita paruh baya tersebut tertawa.
Vano mengerutkan kening. “Sadar tempat?”
“Yah… seorang desainer curang sepertinya tidak pantas berada di sini, bukan? Aku pun mengundangnya hanya agar kau bisa datang ke sini. Kudengar kau tidak pernah menghadiri pesta seperti ini, tapi karena aku ingin sekali kau datang, jadi kuundang—“
“Curang? Bisa anda jelaskan bagian mana yang curang tentang Kiara, Bang Himsoo-ssi?” potong Vano.
“Tentu saja ia curang. Memakai koneksinya untuk menjadi seorang desainer. Bukankah itu curang?”
“Apa?! Himsoo-ssi, Kiara tidak pernah—“
“Kiara Kusuma tidak pernah curang, Himsoo-ssi.” Vano memotong perkataan Brian. “Gadis itu berusaha dengan tenaganya sendiri. Sama sepertiku. Jika pandanganmu serendah itu, maka seharusnya aku pun sama dengannya, bukan? Aku pun sama-sama berasal dari keluarga pengusaha seperti dirinya. Kenapa kau hanya melakukan fitnah itu padanya?”
“A-ah Vano-ssi, kau kan sejak awal tidak pernah menggunakan koneksi—“
“Dari mana kau tahu aku tidak pernah menggunakan koneksiku?” Vano memotong lagi perkataan Bang Himsoo. Pria itu mengepalkan kedua lengannya erat-erat, tak mampu lagi menahan emosi yang membara pada dirinya. “Pertanyaan yang sama kutanyakan pada anda. Dari mana kau tahu Kiara menggunakan koneksinya?”
Bang Himsoo terdiam. Diam-diam, wanita itu menelan salivanya yang kini terasa pahit di kerongkongan. Skak mat.
“Terima kasih telah menunjukkan seberapa rendah pandangan anda, Himsoo-ssi. Permisi.” Pamit Vano yang langsung berlari pergi dari tempat itu.
Brengsek! Umpatnya dalam hati seraya mengarahkan kakinya menuju toilet.
____
Kiara tak dapat lagi memperkirakan sudah berapa lama ia berada di sini. Dengan gaun terbuka seperti ini adalah ajaib baginya jika penyakitnya itu belum menyerangnya hingga kini.
Buku-buku jarinya telah memutih, dan ia sudah mulai mati rasa di ujung-ujung jarinya akibat kedinginan. Tapi ia tak peduli. Hal pertama yang tadi dipikirnya setelah dari toilet adalah menuju tempat terbuka. Entah teras, loteng, apa pun. Hingga ia menemukan tempat ini. Letaknya di lantai dua, seperti sebuah loteng meskipun tidak berada di tempat tertinggi gedung itu, tapi yang jelas ini adalah tempat terbuka. Kiara sebenarnya hanya ingin menenangkan dirinya sekaligus mengeringkan air matanya yang keluar di kamar mandi tadi.
Gadis itu kembali mendesah keras. Uap putih keluar begitu saja dari mulutnya. Ia tidak tahu. Jika saja ia tidak mendatangi pesta tersebut, ia tidak akan pernah tahu pandangan orang lain terhadapnya. Ia tidak tahu bahwa hal-hal yang sering ia lihat di drama-drama yang selalu ia tonton—seperti fitnah, iri, dengki—akan terjadi padanya pula. Ia tak pernah tahu bagaimana menyeramkan dan menyakitkannya hal tersebut hingga ia merasakannya sendiri tadi.
Kepala gadis itu merendah, ia meletakkan dagunya di atas kedua tangannya yang tertelungkup di atas pagar besi. Gadis itu menatap ke depan, ke arah pemandangan perkotaan di malam natal ini. Tiba-tiba saja ia memikirkan Vano, dan mengingatnya membuat ia ingat tentang Windy pula. Tiba-tiba saja, air mata mengalir ke pipinya dan ia kembali terisak pelan.
Gadis itu tak lagi peduli. Make up-nya telah hancur tadi, ketika ia membasuhnya hingga habis di kamar mandi. Dan kini, ia akan membuat matanya kembali bengkak dengan menangis di sini. Payah. Kiara benar-benar payah dalam mengatur perasaannya sendiri.
“Kiara Kusuma!”
...****************...