
Vano memasuki restoran yang terletak di lantai bawah dengan langkah gontai. Setelah memesan segelas americano pada pelayan, ia pun duduk di sebuah kursi yang posisinya dekat dengan jendela yang mengarah ke luar. Ia menatap lurus ke arah jalanan yang dipadati oleh orang-orang yang berjalan kaki. Saking seriusnya menatap jalanan, ia tampak tak menyadari bahwa pesanannya sudah diantarkan dan telah berada di hadapannya. Ia bahkan tak mendengar sapaan pelayan yang mengantarkannya.
Ia menghela napas lalu perlahan memijat pelipisnya yang terasa sakit.
Dingin. Kerang. Sebuah kalung jatuh tepat dari atas batu karang. Terdengar suara seseorang menangis. Seorang anak kecil menangis di sampingnya. Anak kecil itu perempuan. Ia menangis sesenggukan.
“Ini salahmu…,”
Terdengar suara decit mobil dan suara keras yang dihasilkan dari tubrukan antara kendaraan besar dan kendaraan besar.
“Sebaiknya kita naik bus sekarang,”
“Tapi ada sesuatu yang harus kulakukan,”
CIIIIT!!!
“Kau ingat ulang tahunku? Yang lain tidak ingat,”
BRAKKK!!!
Vano membelalakkan matanya. Napasnya tersengal-sengal dan dadanya terasa berat. Tiba-tiba saja kilasan-kilasan itu kembali pada dirinya, padahal ia sudah tidak ingin mengingatnya lagi.
“Kau ada di sini?”
Suara itu membawa Vano kembali ke dunia nyata. Pria itu mengerjapkan matanya beberapa kali dengan napas yang masih tersengal-sengal sambil menatap seseorang di hadapannya. Lalu kemudian ia mengernyitkan kedua alisnya.
“Brian Wijaya?”
Brian tersenyum sambil duduk di depan Vano. Ia memesan secangkir kopi pada pelayan lalu kembali menatap Vano.
“Ya, kenapa kau ada di sini?” tanya Brian sambil memandang Vano dengan mata bulatnya.
“Jangan-jangan kau berpikiran sama dengan apa yang kupikirkan,” tebak pria itu.
Kening Vano berkerut dan mata Vano menyipit begitu Brian mengeluarkan sesuatu berwarna kecoklatan dan menunjukkannya pada Vano. Seketika, mata Vano terbuka lebar diikuti mulutnya, menandakan rasa kaget yang berlebihan.
“Itu… itu…,”
Brian menatap benda kotak tipis kecoklatan di tangannya dengan sampul bertuliskan sesuatu dengan tinta emas. Ia lalu menganggukkan kepalanya.
“Ini surat undangan pertunanganmu, aku tadi diberi Kiara. Semua staff diberi masing-masing satu. Dan, kenapa kau tidak memberitahuku?!”
Tidak menjawab pertanyaan Brian, Vanl segera merebut benda yang katanya adalah undangan pertunangannya itu dari tangan Brian. Ia membuka undangan tersebut dan terbelalak begitu melihat nama yang tertera di sana.
Vano Alexander dan Kiara Kusuma
Itu benar-benar undangan pertunangan mereka!
“Kapan dia memberimu ini?” tanya Vano pada Brian.
Brian yang tengah menghirup kopinya yang baru saja tiba menoleh sebentar pada Vano lalu menjawab,
Vano terdiam. Ia baru ingat bahwa acara pertunangannya diadakan besok. Saking kagetnya, ia bahkan tak menyadari undangan itu sudah kembali beralih tangan pada Brian.
“Pesta pribadi, huh? Kau serius? Kenapa kau bertunangan dengan Kiara? Bukankah kau membencinya, maksudku, sekarang?” tanya Brian sembari membulak-balik surat undangan tersebut.
“Bukan kemauanku. Hubungan keluarga, perusahaan,” ujar Vano singkat. Namun Brian mengerti.
“Kenapa bukan karena kau?” tanya Brian.
“kau tahu, kalau kau masih kau yang dulu, aku yakin pertunangan ini bukan karena keluarga atau perusahaan, tapi karena kau sendiri.”
Vano kembali menatap Brian bingung. “Apa maksudmu? Maksudmu, aku dulu—“
“Iya, kau dulu menyukainya. Sangat,” jawab Brian santai sambil menyimpan undangan itu di atas meja.
“Di sekolah, Kiara memiliki kesulitan mengungkapkan perasaannya hingga suatu saat ia bisa tiba-tiba meledak dan marah-marah pada siapa saja. Dia kesepian, dia selalu menjadi korban bully teman-teman sekolahnya. Mereka mencari-cari alasan pada fisik gadis itu yang memang kurang umum terutama ketika ia masih di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah. Kau yang selalu membantunya. Kau adalah temannya hampir di seluruh hidupmu. Kalian selalu berdua seperti surat dan perangko. Kehadiranku bahkan tetap tak bisa mengubah hubungan kalian. Kalian dekat sekali. Dan ketika kau memasuki Sekolah Menengah, kau mengaku menyukainya. Ia adalah cinta pertamamu,” papar Brian.
Vano kembali diam. Dengan gugup, ia meminum americano-nya yang mulai dingin. “Kiara… adalah cinta pertamaku?” ulang Vano.
Brian mengangguk ringan, seolah apa yang ia katakan tadi tidak membebani pikiran Vano. “Harusnya saat ini kau senang, Vano Alexander. Tak banyak orang-orang yang bisa berakhir dengan cinta pertamanya,” tambah pria itu.
“Apa… Saat itu Kiara juga menyukaiku?” tanya Vano hati-hati. Entah kenapa, suaranya tercekat. Ia kembali merasakan perasaan aneh yang menyelubungi hatinya. Awalnya, ia kira itu adalah rasa kasihan, namun, setelah diselami, rasa itu berbeda. Lebih hangat.
Brian mengangkat bahu. “Aku tidak tahu, ia tak pernah benar-benar bercerita padaku, tapi melihat usahanya selama ini, sepertinya begitu.”
DEG.
Mendengar itu, jantung Vano tiba-tiba serasa berhenti. Pandangannya mendadak buram, dan kepalanya terasa berputar. Ia kira kilasan-kilasan yang selalu menghantuinya itu akan kembali lagi, namun ternyata tidak. Hanya hatinya saja yang mendadak terasa sakit. Kejadiannya hanya beberapa detik sehingga Brian pun tak menyadarinya. Ketika Brian sadar, Vano telah kembali normal.
___
Vano memang tidak pernah mau mengakuinya, tapi meskipun terapinya beberapa tahun lalu tidak berhasil dan malah menimbulkan trauma, ia masih tetap dihantui oleh kilasan-kilasan masa lalunya yang terkadang mendadak melintas di depan matanya. Mungkin karena ia tidak berkeinginan kuat, sehingga kilasan-kilasan itu hanya berakhir sebagai kilasan dan tidak sebagai sebuah ingatan utuh.
Dulu, ketika ia tahu bahwa terapinya tidak akan berhasil dan malah membuatnya takut dan trauma, ditambah dengan beberapa orang yang memanfaatkan amnesianya untuk memanipulasi ingatannya dan memeras keluarganya dengan mengaku-ngaku sebagai seorang kenalannya di masa lalu, Vano memilih untuk memutuskan hubungan dengan masa lalunya. Tak peduli berapa keras keluarga, teman, rekan kerjanya memintanya untuk mengingat masa lalunya dulu, ia tetap tak mau. Tak peduli beberapa temannya dulu memaksanya hingga memukulnya sekali pun, Vano tetap bergeming.
Ia ingin melindungi keluarganya. Hanya itu yang ia pikirkan saat itu.
Namun ketika ia kembali ke Korea, semua pemikirannya berubah total. Ia memang tidak menyukainya, ia bisa merasakan seseorang siap menipunya lagi di sini jika tahu statusnya. Ia mengabaikan rasa familiar di tempatnya berdiri, dan tetap bersugesti bahwa ia harus waspada, harus menutup diri.
Dan gadis itu datang. Vano hanya mencoba melindungi diri sendiri dengan mengatakan bahwa ia tidak mengingatnya dan tidak ingin mengingatnya. Ia takut tertipu lagi oleh tipuan semacam itu seperti dulu. Ia mengabaikan teguran orangtuanya bahkan adiknya yang berkata bahwa gadis itu benar-benar mengenalnya sejak dulu. Ia juga mengabaikan perasaan aneh yang masih samar ketika ia pertama kali menatap gadis itu. Ia mungkin tidak ingat, tapi hatinya mengingatnya. Dan Vano mengabaikannya saat itu karena ia berpikir ia memiliki Windy.
Sekarang, entah apa yang merasukinya, tiba-tiba saja ketika ia merasa telah mengenal Kiara, menerimanya, juga dengan kehadiran Brian, dorongan untuk mengingat masa lalunya kembali dan membuat kilasan-kilasan itu kembali menghantuinya. Bahkan lebih sering.
Apakah ini sebuah pertanda?
Bahwa ia memang harus kembali memulai semua dari awal—masa lalunya?
...****************...