
Tak sampai satu detik bibir Windy mendarat pada bibirnya, Vano langsung mendorong tubuh gadis itu menjauh, yang secara otomatis melepaskan pegangan gadis itu padanya.
Pria itu mengerutkan kening sembari menatap Windy, merasa tak mengerti mengapa gadis itu melakukan hal seperti ini padanya. Pandangan matanya pun sarat akan kekecewaan.
Dan tanpa bicara lagi, Vano pergi meninggalkan Windy.
Begitu sampai di luar ruangan Windy, Vano tak langsung pergi. Pria itu terdiam selama beberapa saat di depan pintu kamar. Termenung. Entah mengapa, meskipun ini adalah Windy yang melakukannya, namun ia merasa tidak menyukainya. Sangat tidak menyukainya.
“Oh, Vano!”
Windy terlonjak kaget mendengar namanya dipanggil. Pria itu menoleh ke sumber suara yang berasal dari sebelah kanannya, tepat di depan sebuah pintu ruangan di sebelah ruangan Windy. Pria itu kemudian tersenyum begitu melihat Brian berdiri di sana.
“Brian, bagaimana Kiara?” tanya Vano seraya berjalan menghampiri Brian.
Brian tersenyum namun Vano tampaknya tidak melihat getaran dalam manik hitam Brian, yang menandakan bahwa pria itu tengah berbohong. “Dia baik-baik saja, dia sudah sadar.” Ujarnya.
“Begitu? Apa yang terjadi padanya?”
Brian bergumam seraya menggaruk belakang kepalanya, berusaha mencari kata-kata yang tepat. “Uh… tadi, tiba-tiba saja Kiara pingsan saat ia tengah berada dekat wardrobe untuk membereskan kostum-kostum yang tidak terpakai lagi karena pemotretannya dihentikan. Rupanya pagi tadi ia lupa memakan sarapannya karena terlalu bersemangat bekerja. Ia… Akan baik-baik saja.” Tangan Brian beranjak memegang bahu Vano dan menepuknya beberapa kali.
Vano pun tersenyum dan mendesah lega mendengar penjelasan Brian. “Terima kasih… telah menjaganya.”
“Tak masalah. Sekarang giliranmu.” Brian berjalan menyisi dari depan pintu, memberikan ruang bagi Vano untuk melangkah masuk ke dalam. “Van, jagalah ia dengan baik, oke?”
Vano yang baru saja meletakkan tangannya di gagang pintu menghentikan gerakannya dan menatap Brian sesaat sebelum tersenyum dan mengangguk. Ia pun memutar gagang pintu tersebut lalu masuk dan menutup pintu di belakang punggungnya.
Sementara itu, Brian mendesah berat. Ia mengusap wajahnya dan mengacak rambutnya lalu menatap pintu yang telah tertutup di sampingnya.
“Kiara… Kau benar-benar gadis yang bodoh.” Gumamnya.
____
Kiara sendiri tidak mengerti mengapa tiba-tiba kesadarannya hilang begitu saja ketika ia tengah membereskan kostum-kostum untuk dimasukkan kembali ke kumpulan kostum-kostum lainnya di wardrobe.
Hal terakhir yang ia ingat adalah rutinitas paginya yang seolah kembali berputar dalam benaknya. Ah ya, ia melupakan sarapannya dan obat-obatan yang wajib ia makan selepas sarapan karena terlalu bersemangat untuk kembali bekerja.
Ketika ia tersadar dan menoleh ke samping, terlihat Brian berada di sampingnya. Raut wajah pria tinggi itu nampak sangat khawatir, terlihat dari alisnya yang mengerut dalam sembari menatapnya, meskipun ia juga melihat raut kelegaan dalam wajahnya.
Kiara sempat ingin mengatakan sesuatu pada Brian ketika tiba-tiba matanya terbelalak dan seketika gadis itu gelagapan dengan tangannya menggapai-gapai sekitar.
Ia tidak bisa bicara. Dan ia tak bisa bernapas.
Brian yang melihat Kiara panik dengan kondisinya yang mengais-ngais udara, turut panik pula. Pria itu bangkit dari duduknya dan mendekati Kiara, membantu gadis itu untuk duduk dan bersandar pada bantalnya dan mencoba menenangkannya.
Namun, hal itu sama sekali tidak membantu Kiara. Gadis itu masih gelagapan seolah mencari sesuatu, namun ia tak bisa mengatakan apa yang ia perlukan karena ia tak bisa bernapas. Gadis itu pun mencengkeram erat lengan Brian, membuat pria itu merasakan sakit pada pergelangan tangannya.
“Kiara, Kiara, ada apa?! Kau butuh sesuatu? Akan kupanggilkan dokter…”
Kiara segera menggeleng keras begitu mendengar kata ‘dokter’. Gadis itu memejamkan matanya frustasi sebelum mengumpulkan seluruh tenaganya dan mengatakan satu kata sebelum dadanya terasa semakin sakit.
“Tas…”
Setelah tas itu berada di pangkuannya, gadis itu segera melepaskan pegangan eratnya pada tangan Brian dan mengaduk-aduk isi tasnya. Tak lama, gadis itu mengeluarkan sebuah inhaler dan segera meletakkan alat bantu pernapasan tersebut pada mulutnya. Beberapa detik kemudian, Kiara mulai mendesah lega.
Namun ternyata tak sampai di situ. Gadis itu kembali mengaduk isi tasnya lalu mengeluarkan beberapa tabung obat-obatan. Setelah meminta air putih pada Brian, gadis itu pun menegak beberapa pil dari masing-masing tabung yang jumlahnya sekitar 4 butir tersebut.
Sementara Kiara sibuk dengan obat-obatannya, Brian memperhatikan setiap gerak-gerik gadis itu. Ketika gadis itu selesai meminum obat-obatnya dan hendak meletakkan kembali tabung-tabung tersebut ke dalam tas, Brian terlebih dulu mengambil salah satu di antaranya. Ia membaca nama obat yang tertera pada tabung pil tersebut dan keningnya berkerut.
“Kiara…”
Kiara dengan cepat mengambil tabung obatnya dari tangan Brian lalu memasukkannya ke dalam tas. Gadis itu kemudian mengalihkan pandangannya pada selimut yang menutupi kakinya. Tak kuasa menatap Brian.
“Penyakit itu bukan semacam alergi semata, bukan?” tanya Brian. Pikiran pria itu melayang pada beberapa tahun yang lalu, saat mereka masih sekolah dan terkadang Kiara sering sakit dan Vano selalu menjawab pertanyaannya dengan ‘alergi dingin’.
Brian memang tidak pernah melihat bagaimana penyakit itu menyerang Kiara secara langsung, namun tampaknya penyakit gadis itu kali ini masih sama seperti bertahun-tahun lalu. Dan itu jelas-jelas bukan semacam alergi semata.
Kiara tak menjawab. Gadis itu tetap menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“Kiara, aku tahu penyakit macam apa itu. Itu bukan penyakit itu, bukan?” tanya Brian lagi.
Kiara masih terdiam, namun kali ini ia menggigit bibirnya. Tentu saja ia tahu mengapa Brian bisa tahu tentang penyakitnya hanya dengan melihat obat-obatan miliknya.
Kakaknya adalah seorang dokter, dan lagipula pria itu pernah belajar farmasi selama dua tahun sebelum beralih ke kelas akting. Ia juga pernah bercerita tentang masalah pamannya yang memiliki penyakit yang sama dengannya dan berakhir meninggal dunia beberapa tahun lalu.
“Tapi kenapa? Kau kan tidak…”Brian mengerutkan keningnya, berpikir keras sebelum akhirnya kerutan di keningnya menghilang. “Tidak mungkin…”
Kiara akhirnya mengangkat wajahnya. Gadis itu menoleh menatap Brian, dan seolah tahu apa yang lelaki itu pikirkan, gadis itu mengangguk.
“Kiara, kalau seperti itu, kau harus segera ditangani! Kau harus dioperasi! Ini berbahaya! Apa orang-orang sudah tahu? Kau harus—“
“Jangan.”
Brian terdiam begitu mendengar Kiara yang sedari tadi diam akhirnya mengeluarkan suara.
“Jangan biarkan orang-orang tahu. Aku akan mengatasinya.” Ujar Kiara lagi.
Brian menatap Kiara prihatin. “Jadi mereka belum tahu…” gumamnya.
“Aku telah memberitahu beberapa orang yang patut mengetahuinya. Untukmu, itu karena terpaksa. Tapi aku tidak ingin Vano mengetahuinya.”
“Wah…” Brian memutar bola matanya. “Kiara Kusuma, kau benar-benar…”
“Kumohon… jangan beritahu Vano. Aku akan mengatasi penyakit ini sebentar lagi, jadi sampai saat itu, tolong jangan memberitahunya tentang apapun.” Pinta Kiara dengan wajah memelas yang membuat siapapun yang melihatnya tak akan tega.
Akhirnya, dengan ******* keras, Brian berdecak kemudian mengangguk dan berdiri. “Baiklah, aku akan merahasiakan ini, tapi jika kau tak juga mengambil operasimu, aku sendiri yang akan menyeretmu ke meja operasi kakakku, Kiara!”
Kiara tersenyum simpul. “Terima kasih, Brian.”
...****************...