
“Di mana kotak kecil itu?” tanya Kiara ketika mereka memutuskan untuk pergi dari sekolah kecil itu. Wajah Kiara merengut begitu Vano mengabaikan permintaannya untuk membuka kotak yang tadi mereka temukan di taman.
Vano menggeleng keras. “Di suatu tempat yang aman. Yang jelas, kau tak perlu tahu dan tak perlu melihatnya.” Ujarnya santai.
Kiara mendengus kesal. “Aish… kau menyebalkan! Kau sangat berubah, Vano Alexander!” cecarnya.
Vano mendesah. “Yah… Sepertinya aku memang sudah berubah,” ujarnya. “Maaf,” sambunya lagi.
“Untuk apa minta maaf?” Kiara terkekeh kecil mendengar kata itu meluncur dari mulut Vano secara langsung.
“Sekarang… Kita ke mana lagi, ya?” gumam gadis itu sambil menatap pemandangan pantai yang berada di sebelah kanannya sembari berjalan menelusuri jalan setapak.
Jalanan di sebelah kiri mereka kini sudah mulai ramai oleh kendaraan yang lalu lalang. Hari sudah semakin siang dan jam sudah menunjukkan pukul 12 tepat. Matahari bersinar tepat di atas kepala mereka, namun mereka sama sekali tidak bisa merasakan kehangatannya.
Vano mengeluarkan sesuatu dari saku celananya lalu memasukkannya lagi. Tampak ragu-ragu. Ia teringat ketika tadi, sebelum ia pergi bersama Kiara, wanita paruh baya yang bertemu mereka pagi tadi memberikannya dua buah tiket.
“Itu adalah tiket masuk sebuah taman hiburan yang baru dibuka di kawasan dekat sini. Tadi ada beberapa orang yang memberikannya gratis sebagai promosi, tapi mereka hanya memberi 2 tiket. Aku tidak mungkin hanya mengajak salah satu dari para pengajar ataupun murid. Jadi ini untukmu saja. Ajak Kiara ke sana. Ia adalah gadis paling tegar yang pernah kutemui meskipun mungkin ia terlihat selalu ceria, kau harus menjaganya. Buat ia bahagia. Aku tidak tahu ada apa dengan kalian, tapi kurasa kau sedikit berbeda sejak terakhir kali aku melihatmu, Vano, tapi apapun itu, kau tidak boleh sampai membenci Kiara. Ia gadis yang baik.”
Tampaknya wanita paruh baya itu benar-benar bisa membaca pikirannya saat Vano mendengarkan wanita itu bicara. Kemudian, wanita itu memberikan dua buah tiket masuk ke taman hiburan itu. Jika Vano hendak mengajak Kiara, kini ia tengah mencari waktu yang tepat. Karena itu, sedari tadi ia mengeluarkan dan memasukkan kembali tiket itu ke dalam sakunya dengan ragu.
“Aku ingin ke suatu tempat di mana kita bisa menghabiskan siang ini dan sorenya, aku ingin kembali ada di pantai di belakang hotel. Kita tidak punya banyak waktu,” ujar Kiara sambil melihat lurus ke depan, tangannya bergoyang-goyang seiring kakinya melangkah.
“Tapi ke mana…? Sudah lama aku tidak jalan-jalan ke sini, apakah tempat-tempat itu masih ada?” gumamnya lagi.
“Kia,” panggil Vano. Ia menghentikan langkahnya.
Kiara menoleh. “Hm?” gumamnya sambil ikut berhenti.
Vano akhirnya mengeluarkan dua tiket yang sedari tadi berada di saku celananya. Kiara awalnya hanya menatap tiket itu dengan raut wajah bingung, namun binar-binar mulai muncul dan seulas senyum terukir di bibir Kiara.
“Kau… Dari mana kau mendapatkannya?” jemari lentik Kiara segera meraih dua tiket itu dari tangan Vano.
“Tadi wanita paruh baya itu memberikannya padaku,” jawab Vano. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana sambil memperhatikan Kiara yang tampak girang diberikan tiket gratis.
“Dia bukan wanita paruh baya, dia Ibu Desi komala,” koreksi Kiara.
“Apa bedanya? Dia kan sama-sama—“
“Dia punya nama, Vano. Kau harus membiasakan diri memanggil seseorang dengan namanya di sini. Apa kau tidak pernah seperti itu di Amerika sana?” tanya Koara setengah menyindir.
Skak mat. Vano memang tak pernah selalu memanggil seseorang dengan namanya. Ia bahkan tak mau repot-repot mengingat nama seseorang sebelum orang itu memperkenalkan dirinya sendiri. Itu karena ia tak mau terlihat terlalu ramah dan mudah diserang. Dan lambat laun hal itu ternyata menjadi kebiasaan.
“Apa? Jangan banding-bandingkan aku dengan Vano yang dulu,” potong Vano yang sudah mengira Kiara akan berkata bahwa ia telah berubah dari Vano yang dulu dan itu akan membuat telinganya panas. Ia benar-benar tidak suka dibanding-bandingkan dengan orang lain. Bahkan dengan adiknya sendiri.
Kiara hanya bisa mendesah, . “Jadi bagaimana? Kita mau ke sini?” tawarnya.
“Boleh,”
"ini sangat dekat dari sini, jadi sepertinya kita tidak harus naik bus. Kita jalan saja, ayo!” ajak Kiara bersemangat sambil memimpin jalan di depan Vano.
Sebenarnya, itu lebih baik, komentar Vano dalam hati kendati mulutnya tak sedikitpun mengeluarkan suara sementara kakinya terus mengikuti langkah Kiara dari belakang.
___
Benar kata Kiara, tempatnya ternyata lebih dekat dari dugaannya. Mereka hanya perlu berjalan beberapa belas menit hingga sampai di tempat tujuan. Kini, mereka berdua telah berdiri di depan pintu masuk taman hiburan tersebut sambil mengantri. Antrian cukup panjang dan padat. Rupanya, masyarakat pun tampaknya penasaran dengan taman hiburan yang baru dibuka ini. Promosi besar-besaran yang diadakan pun sukses menarik lebih banyak pengunjung di hari-hari pertama pembukaan taman hiburan.
Vano membiarkan Kiara mengantri di depannya sementara ia berada di belakang gadis itu. Bukan maksudnya protektif, hanya saja ia merasa ia harus melindungi gadis itu dengan berdiri di belakangnya. Siapa tahu ada yang iseng menjahili atau bahkan menggodanya, bukan? Hei, ia bukan sedang beromong kosong, Kiara memiliki paras yang cantik. Siapa pria yang tidak tertarik?
Tunggu. Apa yang barusan ia pikirkan? Apakah ia baru saja mendeklarasikan bahwa dirinya tertarik pada gadis itu?
“Vano, ayo!” seruan Kiara dari depan membuyarkan lamunan Vano.
Vano menoleh ke depan lalu mengangguk. Rupanya Kiara telah menukarkan tiket mereka dan telah leluasa masuk ke dalam taman hiburan. Vano pun ikut masuk mengikuti Kiara dari belakang. Begitu gadis itu melangkahkan kakinya lebar-lebar memasuki pelataran taman hiburan yang luas, Vano bisa melihat gadis itu mengambil napas sejenak dan tersenyum manis tunggu, manis?! Lalu menoleh menatap Vano begitu menyadari kehadiran pria itu di sekitarnya. Gadis itu segera mensejajari langkahnya dengan langkah Vano.
“Kita mau naik apa terlebih dahulu? Roller coaster? Rumah hantu?” usul Kiara sambil menunjuk pada wahana roller coaster dan rumah hantu yang terletak berseberangan.
Wah… Gadis ini benar-benar sudah gila! Vano bahkan tidak menyukai keduanya! Tentu saja ia akan menolaknya! Tapi melihat tatapan Kiara yang terlihat meremehkan, Vano menelan ludah sebelum akhirnya berseru,
“Tentu saja roller coaster!” seru Vano cepat dan spontan. Setelahnya, ia merutuki dirinya sendiri.
Kiara tersenyum lebar. Tahu betul bahwa Vano tidak menyukai wahana yang memicu adrenalin. Ia bersumpah, jika keadaan mereka tidak seperti ini; Vano melupakannya dan ia sedang dalam proses untuk masuk kembali ke dalam kehidupan pria itu, Vano pasti lebih memilih menunggu di luar wahana daripada menaikinya berdua sekalipun. Pria itu memang tampan, namun dalam masalah nyali, pria itu pasti akan berada di urutan terbawah.
“Kalau begitu ayo!” seru Kiara lagi.
“Ayo!” balas Vano dengan nada menantang. Ia berjalan mendahului Kiar menuju wahana roller coaster dan ikut mengantri bersama orang-orang.
...****************...