REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Part 48



Sore hari di Los Angeles, USA.


Seorang gadis bertubuh ramping, berambut panjang, dengan wajah sedikit angkuh tengah duduk di sebuah meja di kafe yang terletak di pusat kota Los Angeles sembari mengangkat cangkir tehnya untuk kemudian dihirupnya dengan gerakan anggun.


Kacamata hitam yang membingkai kedua matanya juga mantel dan tas bermerek yang dibawanya menambah kesan mewah pada dirinya, sekaligus menandakan bahwa gadis itu bukanlah gadis biasa.


Tentu saja, tak mungkin gadis dengan postur tubuh dan wajah secantik itu dibiarkan berkeliaran dan terbebas dari mata jeli para produser. Setidaknya, gadis itu pasti pernah ditawari sesuatu, entah model atau aktris dan tampaknya gadis itu telah memilih salah satunya.


Setelah gadis itu meletakkan kembali cangkir tehnya di atas meja, tiba-tiba seorang gadis berambut pirang duduk di hadapannya.


“I’m sorry i’m late. You know, traffic jam is everywhere! It’s driving me crazy! (Maaf aku terlambat. Kau tahu, kemacetan terjadi di mana-mana! Aku bisa gila!)” keluh gadis itu sambil mengekspresikan kekesalannya dengan gerakan tubuh dan ekspresi wajahnya. Setelah puas mengekspresikan kekesalannya, ia memanggil seorang pelayan untuk memesan minuman.


Gadis yang duduk di hadapan gadis pirang tadi hanya tersenyum—well, ketika gadis ini tersenyum, image angkuh yang semula melekat padanya bisa dipastikan runtuh seketika itu juga. Karena sungguh, senyumnya sangat manis!


“It’s okay, Brenda. Just take your time. (Tidak apa-apa, Brenda. Nikmati saja waktumu.)” komentar gadis itu.


Gadis berambut pirang bernama Brenda itu menarik napas panjang kemudian segera meminum teh dietnya begitu teh tersebut tiba lalu mulai berbicara, “So, you really going back to Indonesia, huh? (Jadi, kau benar-benar akan pergi ke Indonesia, huh?)”


Gadis itu mengangguk. “I have something to do. Someone need to be punished for what he did to me!(Ada sesuatu yang harus kulakukan. Ada seseorang yang harus dihukum atas apa yang ia lakukan padaku!)” ujarnya berapi-api.


“So, it’s all about Vano all over again?(Jadi, lagi-lagi ini tentang Vano?)”


“Yeah,” gumam gadis itu pelan.


“But what if he already going out with another girl there? You say Indonesia is his hometown, right? Something might happen. It’s already his second months!(Tapi bagaimana jika ia telah berpacaran dengan gadis lain di sana? Kau bilang Indonesia adalah kampung halamannya, bukan? Sesuatu bisa saja terjadi. Lagipula ini sudah bulan keduanya di sana!)”


Dalam hati, gadis itu mengamini apa yang dikatakan Brenda, namun hatinya tak mau terima apa yang baru saja diasumsikan. Ia percaya Vano masih memiliki perasaan terhadapnya dan saat ini, ia siap menjawab perasaan Vano tersebut. Karena itulah ia merasa ia harus pergi ke Indonesia.


“That’s not gonna happen. Just hand me the ticket,(Itu tidak akan terjadi. Serahkan saja tiketku,)” pinta gadis itu sambil mengulurkan tangannya.


Brenda mendesah lalu merogoh tas tangannya dan mengeluarkan selembar tiket pesawat. “You know i have to cancel my date just to bring you the ticket. You should repay me later!(Kau tahu, aku harus membatalkan kencanku hanya untuk memberikanmu tiket ini. Kau harus membayarku nanti!)”


Gadis itu tersenyum begitu menerima tiket pesawat tersebut di tangannya. “Sure, i will pay you back. Just call me if you want anything,(Tentu, aku akan membayarmu. Katakan saja padaku jika kau ingin sesuatu.)”


Brenda tersenyum lebar. “Make sure you remember your promise, Windy.(Pastikan kau mengingat janjimu, Windy.)”


Gadis itu mengangkat wajahnya mendengar namanya disebut. Ia kemudian tersenyum. “You had my promise.(Kau bisa memegang janjiku.)”


____


 


9 PM at Nami Island, South Korea.


Brian baru saja keluar dari kamar mandi setelah ia berendam dengan air hangat untuk menghilangkan rasa lelah yang melingkupinya berkat kerja kerasnya berpose di tengah cuaca dingin selama lebih dari 10 jam.


Namun, beruntungnya ia adalah seorang aktor yang pandai berakting. Ia selalu berusaha terlihat seceria mungkin di luar meskipun sesungguhnya ia merasa sangat lelah. Hanya ketika ia sendiri sajalah ia bisa menjadi diri sendiri dan melepaskan kepenatannya.


Setelah berganti pakaian dengan pakaian tidur yang cukup hangat, Brian pun beringsut menuju tempat tidurnya. Ia berniat untuk tidur beberapa belas menit sebelum ia harus kembali mengendarai kapal dan kembali ke Seoul. Baru saja ia hendak membaringkan tubuhnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring dari nakas di samping tempat tidurnya. Setelah mengumpat beberapa kali, Brian pun mengurungkan niatnya untuk berbaring dan mengambil ponselnya lalu tanpa melihat siapa yang menelepon, ia langsung menempelkan ponselnya di telinga.


“Ada apa?” tanyanya ketus.


“Kak Brian!” suara seorang gadis tampak menyapanya dari sebrang.


Brian mengernyitkan kening karena merasa familiar dengan suara yang baru saja menyapa telinganya namun ia yakin orang tersebut hampir mustahil menghubunginya di saat-saat seperti ini setelah lama tak bertemu.


Untuk meyakinkan diri, ia menjauhkan ponselnya dan melirik nama kontak yang muncul di layar ponselnya. Setelah melihatnya, mata pria itu terbelalak. Ia kembali menempelkan ponselnya ke telinga.


“Windy?” tanyanya tak yakin.


“Eoh, ini aku.” Brian dapat merasakan tubuhnya seolah segar kembali begitu mendengar suara gadis itu.


“A-apa yang membuatmu meneleponku? Maksudku… Kita sudah lama sekali tidak saling berkomunikasi… apa ada sesuatu yang penting?” tanya Brian.


“Hm, sangat, sangat penting!”


“Apa itu?”


Brian terpaku sesaat. Meskipun begitu, dalam hati, ia merasa senang juga. Windy adalah partner modelnya 2 tahun lalu, untuk pemotretan sebuah galeri fashion. Kemudian mereka kembali dipertemukan di fashion show di Paris, Perancis tahun kemarin. Jujur, Brian sempat terpikat pada Windy—mungkin masih hingga saat ini—dan mendapatkan sebuah telepon dari gadis itu saja membuatnya seolah terbang ke angkasa. Kini, gadis itu memintanya menjemputnya? Tanpa diminta pun Brian akan dengan senang hati mengajukan diri.


“Tentu saja! Aku akan menjemputmu! Berapa lama kau akan tinggal?” Brian tampak bersemangat menjawab permintaan Windy.


“Baguslah! Terima kasih banyak! Mungkin sebulan? Dua bulan? Aku belum merencanakannya. Ah, dan aku akan tinggal di apartemen kakakku yang kosong di Xxx. Di sana juga ada seseorang yang kukenal.”


“Begitu. Baiklah, aku bisa menjemputmu sebelum jadwalku dimulai.”


“Terima kasih banyak, Kak, aku berhutang banyak padamu.”


“Tidak usah repot-repot, Windy. Ah… Apa boleh kupanggil saja dengan nama aslimu?”


“Mengingat aku akan ke Indonesia dan akan lebih mudah jika orang memanggilku dengan nama asliku… boleh saja.”


“Baiklah, kalau begitu sampai jumpa nanti, Widya”


“Sampai jumpa!”


 


___


Malam semakin larut dan kini, mereka telah berada di pinggir danau. Menatap gelapnya air danau dibalik kilaunya lampu-lampu taman. Mereka terdiam sesaat menikmati pemandangan danau dalam keheningan.


Masing - masing telah menghabiskan cappucino mereka di perjalanan mereka ke sana, sehingga saat ini mereka tak lagi memegang apa pun.


Kiara memilih menggosok-gosok kedua tangannya untuk menghangatkan tangannya yang membeku sementara Vano memilih memasukkan kedua telapak tangannya ke saku mantelnya untuk menghangatkan nya meskipun menurutnya percuma.


Ada satu hal yang terus berubah setelah pengakuan Vano di jalan setapak beberapa saat yang lalu. Bukan hanya terjadi pada mereka, namun pada alam. Suhu di luar sepertinya terus merosot tajam tak terkendali. Dan itu hampir membuat Vano menggigil di balik mantelnya.


“Oh, salju!” seru Kiara tiba-tiba.


Vano melebarkan matanya. “Apa?”


“Salju, Vano! Ini salju pertama!” sekali lagi Kiara berteriak kesenangan sambil menengadahkan tangannya. Dan benar saja, sebutir salju mendarat dengan mulus di tengah telapak tangannya dan segera mencair. Tak lama setelah itu, butiran salju lainnya menyusul menghujani mereka. Membuat langit yang asalnya berwarna hitam sedikit berwarna dengan titik-titik putih dari langit.


Vano juga ikut larut dalam kebahagiaan Kiara tentang munculnya salju pertama. Ini adalah pertama kalinya ia melihat salju pertama seumur hidupnya. Bahkan di Amerika pun, ia tak pernah tahu kapan salju pertama kali turun.


Tiba-tiba saja ketika keesokan paginya, yang ia lihat adalah halaman rumahnya yang berwarna putih karena tertutup salju.


Di tengah euforia tersebut, Kiara merapatkan kedua telapak tangannya dan mengangkatnya sebatas dada sambil memejamkan mata dan mengucapkan sesuatu. Vano yang menyadari perubahan sikap Kiara hanya mampu menatap Kiara bingung. Beberapa saat kemudian, Kiara kembali membuka mata sembari tersenyum.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Vano.


Kiara melirik Vano sekilas lalu kembali menengadah menatap salju. “Berdoa. Kau tahu, katanya, ketika kau melihat salju pertama dan berdoa, maka doamu akan terkabul.”


“Benarkah?”


Kiara menganggukkan kepalanya bersemangat.


Vano mendecakkan lidahnya lalu bergumam, “Kenapa wanita selalu mempercayai mitos semacam itu?”


“Bukan hanya itu! ada lagi!” seru Kiara, masih bersemangat. “Katanya, jika ada sepasang pria dan wanita yang melihat salju pertama bersama-sama, maka mereka akan bersama selamanya…,”ujarnya sambil menatap Vano yang balik menatapnya kemudian ia terdiam.


Untuk beberapa waktu, mereka tenggelam dalam tatapan masing-masing. Kiara seolah terkunci pada mata tajam Vano dan anehnya, ia menyukainya. Ia menyukai sorot lembut yang menguar dari mata tajam pria itu. Dan ia yakin, ia tak akan pernah bosan menatap mata pria itu.


Sebaliknya, Vano pun entah mengapa seolah terkunci dan dirinyabaru sadar bahwa ia menyukai cara Kiara menatapnya dengan mata besarnya. Mata Kiara memancarkan sorot innocent yang membuat Vano ingin mengerahkan tenaganya untuk melindungi sorot itu agar tetap di sana. Dan ia juga yakin, ia tak akan pernah bosan menatap mata gadis itu.


Setelah puas menatap mata masing-masing, Vano tiba-tiba tersenyum kecil.Tangannya terulur dan menarik sebelah tangan Kiara untuk mengaitkan jemari masing-masing dan merasakan betapa tangan mereka terasa pas satu sama lain. Dan saat tangan mereka menyatu, entah mengapa mereka merasa mendapatkan kehangatan yang selama ini mereka cari.


“Aku…,” Vano mulai angkat bicara. “Sepertinya tidak keberatan jika harus bersama denganmu selamanya.”


 


...****************...