REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Part 45



Brian tertawa mendengar pertanyaan Vano. “Cukup baik. Tapi bukankah seharusnya aku yang bertanya? Kulihat kemarin kau ke kamar diantar Kiara. Apa kondisi badanmu baik-baik saja?”


Vano menelan ludah mendengar pertanyaan Brian. Ia memalingkan pandangannya sambil berdeham. Berusaha menutupi rasa malu dan gugupnya. “Tentu saja, aku baik-baik saja,” ujarnya singkat.


“Ya! Turunkan lighting-nya sedikit! Geser sedikit property yang berada di dekat pohon itu! Ya, sedikit lagi!” seru Vano pada kru yang sedang menyiapkan setting.


Brian mendengus. “Tampaknya kau sangat sibuk.”


“Hm, aku sangat-sangat sibuk,” ujar Vano sambil memberi penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan.


“Baiklah, kalau begitu aku tidak akan mengganggumu, tuan photographer.Fighting!” seru Brian sambil menepuk pundak Vano dan berbalik. Baru saja berbalik, tiba-tiba pria itu kembali berseru—setengah berteriak,


“Hai Kiara kusuma!”


Vano menegang di tempatnya mendengar nama Kiara disebut. Ia tak berani berbalik. Ia juga hanya bisa berharap Kiara tidak akan mendekatinya atau Brian karena dua hal itu sama saja. Jika Kiara mendekati Brian, berarti Kiara mendekatinya juga karena ia berada di dekat Brian. Dan ia masih tak tahu apa yang harus dikatakannya pada Kiara jika ia bertatap muka dengan gadis itu.


“Oh, kak Brian!” seru Kiara sambil melambaikan sebelah tangannya.


Vano mendengar suara langkah kaki ke arahnya dan Brian. Sial, sepertinya gadis itu benar-benar menghampiri mereka berdua.


“Wah… kau cantik sekali pagi ini, nyonya designer!” seru Brian.


Kiara tersenyum. “Kau juga begitu, tuan model ternama kami.”


Brian tertawa. “Ya, kau semakin mahir bicara, huh?”


Selagi Kiara tengah sibuk berbincang dengan Kiara, dengan perlahan dan sangat hati-hati, Vano beranjak pergi dari sisi Brian. Berusaha berpindah ke tempat yang lebih jauh dari mereka berdua agar Kiara tak menyapanya. Namun rencananya tampaknya gagal ketika ia baru saja melangkah, dan Brian sudah bertanya,


“Dimana?” sambil menoleh menatap Vano.


Kiara pun mau tak mau turut mengikuti arah pandang Brian dan gadis itu mengangkat sebelah alisnya menatap seorang pria yang membelakanginya dan sedang berjalan menjauh.


“Ada sesuatu yang harus kukerjakan—“


“Vano Alexander!” seru Kiara memotong ucapan Vano pada Brian.


Vano terdiam di tempatnya. Dalam hati, ia merutuk dalam-dalam aksi bodohnya yang tak segera pergi dari sana sedari tadi. Dengan setengah hati, pria itu berbalik sambil menunjukkan wajah datarnya.


“apa?” gumamnya sebagai balasan sapaan Kiara.


“Apa kau baik-baik saja? Kemarin malam… kau tak terlihat baik-baik saja,” tanya Kiara.


“Ne, aku baik-baik saja. Terima kasih… atas bantuanmu kemarin malam. Aku permisi dulu,” ujar Vano sambil kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya yang tertunda menuju para kru kamera. Sebenarnya hal itu hanya alibi agar ia bisa menjauh dari gadis itu.


Kiara hanya menatap pria itu dengan pandangan aneh. Ada sesuatu yang mengganjal. Ada sesuatu yang aneh, namun Kiara sendiri tidak tahu apa. Ia hanya merasa pria itu bertingkah aneh padanya. Ia merasa pria itu sedang berusaha menjauh darinya. “Ada apa dengannya?” tanpa sadar, ia bergumam sendiri.


“Ya, ya! Ternyata benar yang kemarin kulihat adalah kalian, bukan? Kau yang mengantarkan Vano ke kamarnya, benar, kan?” ujar Brian bersemangat.


Kiara menatap Brian dengan ekspresi datar. “Benar, Memangnya kenapa?” tanyanya dingin sambil berlalu untuk kembali pada kru designer dan stylist-nya.


Brian mengernyitkan keningnya sambil menunjuk ke arah Kiara dan Vano secara bergantian. “Ah benar, mereka sekarang bertunangan! Tapi… kenapa mereka terlihat saling menghindari satu sama lain? Apa mereka bertengkar? Lagi?!” gumamnya pada dirinya sendiri.


 


____


 


Pemotretan berjalan lancar. Semua berjalan persis seperti yang telah direncanakan dan Vano pun merasa puas terhadap hal itu. Namun, sepanjang pemotretan berlangsung, interaksi antara Kiara dan Vano sangat jarang terjadi. Mereka hanya bicara jika merasa ada yang perlu dibicarakan saja. Ini yang membuat para kru dan staff pemotretan, bahkan Brian merasa bahwa sedang ada masalah di antara keduanya. Percakapan antara keduanya pun sangat canggung dan sangat berbeda dengan saat mereka belum bertunangan dulu. Apakah karena mereka telah bertunangan jadi hubungan mereka pun menjadi canggung? Tidak mungkin, bukan?


Para staff dan kru pun balas menunduk sebelum kembali ke tempat mereka untuk membereskan barang-barang mereka, property, dan lain sebagainya.


Vano pun melakukan hal yang sama. Ketika para kru dan staff sudah mulai membereskan barang masing-masing, ia kembali ke meja tempatnya menyimpan laptopnya lalu memindahkan foto hasil pemotretan tadi ke dalam laptopnya untuk selanjutnya masuk proses editing dan cetak.


Baru saja Vano memindahkan foto dan membuka beberapa foto, sebuah suara sudah merusak suasana tenang yang tengah dinikmatinya. “Ya, ternyata aku benar-benar tampan, huh?”


Vano berbalik dengan kening berkerut dan memutar bola matanya melihat Brian yang telah berdiri di belakangnya. Pria yang lebih tinggi darinya itu dengan leluasa dapat melihat hasil pemotretan dari belakang punggungnya.


“Bukankah fotoku tak perlu lagi masuk proses editing?” tanya Brian penuh percaya diri.


“Aish… sepertinya aku mengenal sifat percaya dirimu ini. Apa sejak dulu kau selalu sepercaya diri ini?” tanya Vano tajam.


“Aku memang lahir dengan penuh percaya diri.”


Vano mendengus namun ia juga tertawa setelahnya. “Sudahlah, sana! Lebih baik kau istirahat! Sudah hampir malam dan kau harus mempersiapkan dirimu untuk lusa. Besok kita sudah harus kembali ke Seoul, kau ingat?”


“Aku tahu, aku ingat!” ujar Brian kesal. “Cih, padahal aku ingin menikmati jam-jam terakhir di sini,” keluh Brian kemudian.


“Kau bisa menikmatinya nanti, jika proyek ini telah selesai,” ujar Vano.


Brian mendecakkan lidahnya kesal. “Baiklah, baiklah, aku pergi duluan!” seru Brian pada akhirnya sambil menepuk pundak Vano. Tapi sebelum ia benar-benar pergi, Brian berbisik, “Kau juga, nikmati waktumu, Vano Alexander"


Ketika Brian telah pergi dan Vanl baru menyadari apa yang dikatakan pria itu, kening Vano berkerut. Ia tak mengerti apa pun yang dikatakan pria itu padanya. Tak ingin berpikir panjang, Vano meneruskan aktifitasnya semula. Beberapa belas menit kemudian, setelah selesai menyeleksi foto-foto yang sekiranya akan dicetak, Vano mematikan laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas miliknya sementara kameranya ia masukkan ke dalam tasnya untuk kemudian digantung di atas lehernya. Ketika ia mendongak, matanya membulat melihat Kiara berada di hadapannya.


“O-oh, ada apa?” tanya Vano canggung.


“Para staff bilang buku sketsaku ada padamu,” ujar Kiara.


Vano mengerutkan kening bingung. “Buku sketsa?”


Kiara mengangguk. “Hm, dari tadi aku mencarinya tapi aku tak bisa menemukannya di mana pun! Aish… kalau buku itu hilang, aku bisa gila! Di sana ada design proyek ini untuk dua bulan ke depan dan aku belum menyalinnya!”


“Benarkah?!” Vano ikut kaget mengetahui betapa pentingnya buku tersebut.


Kiara mengangguk. “Tapi… dari reaksimu, sepertinya buku itu tidak ada padamu. Kalau begitu, aku pergi dulu,” ujar Kiara sambil berbalik.


Ketika Vano melihat punggung Sooji yang menjauh, pria itu terdiam. Tiba-tiba saja ia teringat kata-kata Brian padanya tadi,


“Nikmati waktumu, Vano Alexander.”


Setelah melihat Kiara, lambat laun Vano mengerti apa maksud Brian.


“Tunggu, Kiara!” seru Vano.


Kiara yang sudah berada cukup jauh darinya berhenti melangkah kemudian berbalik menghadap Vano dengan wajah penuh tanya.


“Akan kubantu kau mencarinya!” seru Vano lagi sambil tersenyum dan berjalan mendekati Kiara.


“Apa?!” tanya Kiara setengah berteriak. Tak percaya.


Vano berjalan mendekati Kiara hingga akhirnya ia berada di samping gadis itu. “Sepertinya aku bisa menduga apa yang terjadi. Tapi untuk memastikannya, lebih baik kita ke kamarmu terlebih dulu,” ujar pria itu.


Kiara masih menatapnya tak mengerti. Namun Vano sepertinya tak ingin menjelaskan pula, jadi Kiara memilih menurut dan turut berjalan menuju kamarnya.


 


...****************...