REMEMBER ME?...

REMEMBER ME?...
Parr 24



Gadis itu bergerak ke ruang tunggu, tempat ia menyimpan tas, mantel, dan segala miliknya. Tapi barang-barangnya tak ada di sana. Lantas di mana?


“Kiara!” panggil Vano dari belakang.


“Sebentar, aku ambil barang-barangku dulu! Tadi aku menyimpannya di sekitar sini, tapi sekarang…,” balas Kiara sambil bergerak mencari barang-barangnya ke seluruh ruangan.


“Kiara,” panggil Vano lagi.


“Aish… Tunggu sebentar!”


“Kiara Kusuma!”


“Ada apa?” Kiara menghentikan aktivitasnya dan sontak menatap Vano kesal, merasa kegiatannya terganggu.


“Sudah kubilang, aku harus menemukan… Oh, bagaimana barang-barang itu bisa ada padamu?” Kiara memandang sebuah tas tangan dan mantel yang ada di tangan Kiara dan berjalan menuju pria itu.


“Aish… Pelupa dan ceroboh. Apakah ini sifatmu sejak dulu?” tanya Vano sambil menyerahkan tas dan mantel gadis itu.


Kiara terkekeh. “Sepertinya begitu,” ujarnya jujur.


“Ya, pantas saja. Pasti aku yang sering kerepotan dengan kecerobohan dan sifat pelupamu itu,”


“Benerkah! Dulu, sepertinya kau yang sering mengingat tempatku menyimpan sesuatu. Kau yang memperhatikan setiap gerak-gerikku dan mengingat-ingat jika aku meletakkan sesuatu lalu mengingatkanku atau mengambilnya sendiri dan memberikannya padaku jika aku melupakannya.” Tutur Kiara.


Vani hanya tersenyum menanggapi celotehan riang gadis itu yang sepertinya diceritakan dengan suka hati. Kaki Vano melangkah mendekati gadis itu lalu membantunya memasang mantel. Setelah selesai, ia tersenyum.


“Ayo, kita pulang.” Ujarnya.


Kiara tersenyum dan mengangguk, lalu mengikuti langkah Vano menuju basement.


Suasana rumah besar keluarga Kusuma kini sudah lebih ramai berkat kehadiran kedua orangtua dari Kiara dan Nino. Pasangan paruh baya itu akhirnya dapat meluangkan waktu mereka untuk bersama setelah sekitar 3 hari yang lalu kembali untuk menghadiri pertemuan keluarga yang dilanjutkan dengan perjalanan panjang mereka kembali yang direncanakan akan memakan waktu berbulan-bulan. Setelah pertunangan Kiara dan Vano dilaksanakan tentunya. Padahal, sebelum mereka menghadiri pertemuan keluarga dengan keluarga Alexander, mereka telah bepergian selama 2 minggu untuk urusan bisnis.


Menjalankan sebuah perusahaan memang sulit. Bukan hanya butuh otak untuk bekerja, namun kondisi tubuh yang baik pun sangat dianjurkan. Pekerjaan yang menyangkut bisnis seringkali menimbulkan stress, karena itulah pikiran yang jernih dan badan yang sehat sangat dibutuhkan. Dan Kiara tidak mengerti mengapa kedua orangtuanya masih bisa berpikiran jernih dan berbadan sehat setelah hampir setiap hari harus menjalankan perjalanan bisnis ke seluruh Asia. Oh, mungkin seharusnya ia bersyukur?


“Kiara, bagaimana hubunganmu dengan Vano? Kau tidak marah pada ibu lagi, kan, karena ibu tidak memberitahumu pasanganmu adalah Vano?” tanya ibunya lembut di sela-sela makan malam mereka.


“Tidak, aku tidak marah,” ujar Kiara mengklarifikasi. “Dan hubunganku dengan Vano pun membaik. Walaupun aku masih penasaran dengan beberapa hal dalam diri pria itu, tapi aku akan bersabar hingga waktunya cukup baik dan kami cukup dekat.”


“Baguslah, lebih baik kau terus membantunya seperti ini. Akan sempurna jika Vano pada akhirnya bisa mengingat masa lalunya. Kalian sangat dekat dulu, tak terpisahkan, dengan alasan itulah rencana perjodohan kalian kami susun,” jelas ayahnya yang sudah tahu mengenai kondisi Vano.


“Hmm…, aku akan berusaha,” ujar Kiara.


“Nino bagaimana kuliahmu?” tanya ayahnya pada Nino yang sedari tadi diam.


“Apa? Oh… baik-baik saja,” jawab Nino singkat.


Kiara bisa mendengar gerutuan Nino di sebelahnya. Lalu dengan cepat, pria itu segera menanggapi dengan sebuah penyetujuan. Patir terkadang merasa kasihan pada Nino. Bagaimana tidak? Karena dirinya adalah perempuan, lemah, terutama tidak tertarik pada bidang bisnis, jadilah Nino yang diwariskan menjadi penerus perusahaan keluarga mereka. Meskipun Kiara tahu bahwa Nino pun menyukai bidang bisnis, tapi mengingat ayahnya yang selalu menekankan kata ‘penerus’ pada Nino, Kiara bisa merasakan tekanan yang dihadapi pria itu.


“Ah, ibu, mengenai undangan ke acara pertunangan…,” ujar Sooji.


Ibunya menoleh menatap Sooji dan tersenyum. “Kami sudah urus semuanya, karena pertunangan itu tertutup, ibu hanya mengundang kerabat-kerabat, beberapa kolega kerja, pers, dan kau bisa mengajak beberapa temanmu atau staff di tempatmu bekerja kalau kau mau,”


Kiara mengernyitkan keningnya, berpikir siapa yang ingin ia bawa ke acara sakral pertunangannya nanti. Hei, pertunangan hampir sama sakralnya dengan pernikahan, bukan?


“Hmmm… Sepertinya aku akan membawa mereka,” ujar Kiara.


“Baiklah, besok berikan undangannya pada mereka agar mereka bisa masuk ke dalam,” titah ibunya.


Kiara hanya mengangguk menanggapinya dengan seulas senyum di bibirnya.


 ____


Berbeda dengan kediaman keluarga Kusuma yang mulai menghangat, ibaratnya kediaman keluarga Alexander masih ‘membeku’. Sungguh, tidak ada sesuatu yang hidup yang berarti di rumah itu selain beberapa pelayan rumah tangga yang selalu membereskan rumah. Adik Vano, Sean, entah berada di mana, mungkin di kamarnya, tapi ia terlalu malas memeriksanya. Dan orangtua Vano masih belum pulang ke rumah. Ayahnya mengurus urusan bisnis di China sementara ibunya tengah mengembangkan butiknya ke Jepang. Hubungannya dengan Sean tak begitu baik meskipun mereka masih tetap peduli satu sama lain. Entah karena ketika kecil Vano jarang berinteraksi dengannya sebab Sean selalu ikut ibunya ke butik atau bagaimana, pokoknya Sean tak pernah berbicara banyak pada Vano selain memperingatkan dan memberitahu sesuatu pada pria itu.


Namun bagi Vano, suasana rumahnya yang sepi layaknya tak berpenghuni ini bukanlah sesuatu yang harus diributkan. Ia terlampau biasa menjalani kehidupan seperti ini. Karena itulah ketika ia memasuki rumahnya dan mendapati keadaan rumahnya yang sepi, tanpa buang waktu ia segera naik ke lantai dua dan memasuki kamarnya.


Vano membaringkan tubuhnya pada tempat tidur besar miliknya. Ia mengeluarkan ponselnya yang sedari tadi bergetar karena pesan masuk dan panggilan masuk.


5 new messages dan 2 missed calls.


Dan semuanya dari Soojung.


Vano menghela napas lalu membuka satu persatu pesan dari gadis itu.


Vano, kau baik-baik saja? Kenapa kau tidak mengangkat teleponku dan membalas pesanku, hah? Apa kau sangat sibuk di sana? Aish… pikirkan kesehatanmu, jangan terlalu sibuk!


Vano! Bagaimana keadaanmu? Tidak bisakah kau balas pesanku dan mengangkat teleponku?


Vano, di mana kau? Sibuk?


Masih sibuk?


 Hmmm, Vano Alexander! Angkat teleponmu!


Vano menghela napasnya sekali lagi lalu mematikan ponselnya dan menghempaskannya tepat di sebelahnya. Ia memejamkan matanya dan menutupnya dengan sebelah tangan. Kepalanya terasa berputar setiap kali ia memikirkan masalah ini. Karena itu, kali ini, ia akan mulai membiarkan hatinya mengambil alih kendali dirinya. Karena bagaimana pun ia memikirkan masalah ini, ia tahu hatinya sudah lebih dulu memiliki jawaban. Karena itulah mulai besok, hatinya akan benar-benar menuntun dirinya.


...****************...